Rabu, 26 Oktober 2016

Sosok itu ...

Dan Ibu adalah bahasa cinta yang Tuhan kirimkan untuk mengiringi setiap langkah hidupmu ...

Dengan binar yang akan tetap berpendar meski raga berada dalam ribuan jarak ...

Dan sosok lelaki yang kau agungkan bersemai di pribadinya jiwa seorang Bapak, adalah ia ...

Yang Allah kirimkan untuk mengokohkan kakimu berpijak di bumi yang kadang penuh dalam gelombang ...

Dua sosok syurga yang dikirimkan, untuk menyemai asa dalam warni hidup yang penuh pelangi.

Sayangi mereka selalu, Rabbi. 😇

***

Jalanan beraspal, yang sering aku lewati. Di dayangi pematang sawah yang luas di sebelah kiri dan beberapa bangunan rumah berderet rapi di sebelah kanannya.

Apa kabar udara yang sering aku hirup disana, kala pagi menyapa kubuka pintu jendela, dan gerbang. Menegur alam sekitar yang masih terasa sejuk nan asri damai.

Tanjakan dan turunan jalan, yang sering aku lewati kala menaiki angkutan desa demi menuju rumah di kampung halaman tercinta.

Apa kabar senyum tergelak tawa ponakan laki-laki kecilku yang cerdas dan penuh cerewet sama Bibi nya ini. Meskipun ia akan seketika menjadi seorang yang pendiam, ketika bermain bersama orang yang kurang ia kenal.

Dan ... hei gadis-gadis jelita dan pemuda gagahku ?

Apa kabar diskusi sore kita, yang selalu mampu mengulum senyum menegur retak pada jarak. Jadi, ada cerita apa selama di perantauan kau lama pergi ? Ilmu apa yang sudah kamu dapat ?

Apa kabar sofa ruang tengah, yang kita jadikan markas berkumpul seluruh elemen keluarga. Menajam dan mengenal rasa masing-masing anggota keluarganya.

"Hei, aku rindu ...."

Teriak batinku lantang, tertatih dalam lari mengejar benang-benang cahaya yang terus saja mengajakku mengikutinya berlari.

Sengaja, kumatikan lampu kamar asramaku sebelum tidur. Karena selain baik untuk kesehatan tentunya juga hemat listrik.

Lantas kurapikan tempat tidur berdoa, dan melepas mata untuk terpejam. Tertidur dalam ruangan yang gelap, temaram, dan damai.

Mata terpejam, pulasnya tidur mulai merajamku remuk. Gelap dan tenang dalam alam mati yang sementara.

*kriikkk ...

Suara pintu berdesis, ada sosok wanita yang masuk ke kamarku. Ku teliti dengan cermat. Ah iya, itu Ibu ...

Ia memanggilku seperti biasa ... dengan balutan gamis dan romannya yang anggun menandakan kecerdasan dan kelembutan membaur jadi satu.

Aku yang tengah memerhati dari salah satu sudut kamar. Kemudian berkelebatan sosok-sosok wajah. Ada gadis-gadis anggun nan bersahabatku, dan sosok pria berperawakan tinggi itu, menggagas langkah membuka pintu kamar asramaku lagi. Mereka  ...

Ah, iya aku tahu itu mereka  ...

Sekelompok manusia, yang menjadi bagian dari jiwaku. Jiwaku ada bersama mereka. Begitupun jiwa mereka ada bersama bagian jiwaku.

Meski jiwa dan raga kita, tengah berada di tempat yang berlainan arah.

*Allahuakbar ...
Allahuakbar ...

*Dggzzzz ... lekas aku membuka mata, mendengar suara pertanda sudah memasuki waktu subuh.

Ku tengok sebelah kananku,
"Bu Milda, ayooo bangun udah shubuh." Ucapku padanya sambil mengucek mata yang baru 50% mencapai kesadaran.

Ah, aku tergelak dalam renung. Tadi itu, oh cuma mimpi  ...

"Semoga mereka baik-baik saja, penuh dalam kasih sayang lindungan-Nya ... Hmmm."batinku

Bagian dari jiwa-jiwa yang tengah berkeliaran, mencari hidup sejatinya ...

***



Chat Random .....

A : "Karena suasana sore menuju petang hari selalu mempesona ...
Ia hadir dengan sinar kuning jingga nya menyorot penuh wibawa ...
*selamat sore dari teras depan dan pemandangan langit asrama."

Sapaku, mengawali chat sore itu.
Nada dalam bahagia, selalu berirama dalam detak hati. Hmmm pesan ceklis satu, double, dan ... berwarna biru ...

Klik ...

Bunyi pesan masuk darinya

D : "Karena Indonesia negara berdaerah tropis, ia selalu turun dengan ajaib membawa rahmat-Nya.
Selamat sore dari bagian dinginnya Jawa Barat, Garut." Balasnya.

A : "Alhamdulillah, selamat menikmati hujan.
Bahasa air yang paling jujur dan penuh romansa rindu. *eh 😅."

D : "Apakah langit sampaikan pesanku? Bahwa kurindu.

A : 😊

D : 💝

A : "Lagi nulis, dan teringat Muhammad ...
Ah, lagi lagi ...
Terkadang, desiran angin pada bumi selalu mengajakku untuk menekur syukur ...
Di takdirkan berada di belahan bumi yang jauh berbeda, but ...

Aku bahagia denganmu" Tukasku padanya.

D : "Lagi nafas, mau ikutan?

Terkadang, aku bertanya, masihkah kita berpijak di bawah langit yang sama? Masihkah kita melihat bulan yang sama?
Ya, jawab-Nya.

Alhamdulillah. Pun denganku, bahagia denganmu."

A : " Ahahha ... Udahan ah ... Mau mandi wkkwkw ... "

Suara adzan maghrib pun bergema, aku yang sedari tadi bercengkrama dengan buku, keyboard hp, dan pemandangan teras asrama.

Entah, apa yang sedang ia lakukan di belahan bumi sana. Ada bahasa-bahasa sederhana yang selalu ingin aku ungkapkan, melebur takjubku.

Aku bahagia bersamanya, tentang jarak adakah ia mampu mematahkan rasa.

Ia adalah sosok yang penuh damai, lembut, rela berkorban dan selalu mampu membuatku damai nyaman di dekatnya. Seolah, ia berkata. Tetaplah hidup di bumi, aku ada disini. Untuk memastikan bahwa kamu bahagia. Karena bahagiamu adalah bagian dari bahagiaku.

Seperti bersatunya detak jantung pada tubuh. Ia adalah seperti detaknya. Ada, tersimpan rapi di dalam tubuhku mengikuti kemanapun aku pergi.

Entah, meskipun jarak dan ribuan rimba selat sedang memanja resah kami.

Kami adalah tetap dalam satu detak di bumi-Nya yang terhampar luas.

Tangan kami tetap bergenggaman satu sama lain, dalam dimensi yang bahkan kami pun menakjub gagah.

Terkadang, chat random adalah bahasa sederhana dari cara kami menebas rindu yang menyesak telak pada sumsum sel-sel tubuh kami.

Selamat pagi menjelang siang,
Sehat selalu,
Semoga Allah selalu melindungi-Mu dear ... 💝

Dari belahan bumi Tangerang kota, di sela-sela istirahat sekolah tercinta. Di iringi musik awan mendung dan menangis rindu.

WHO AM I ??????!

Gaul aja gak cukup !

WHO AM I ?????

**Hening krik krik ...

Kenali dan Upgrade dirimu ...

***

Bruukk. ..

"Nih, Bu."

"Apa itu ?" Tanyaku sambil mulai membolak-balik buku penuh warna itu.

Hmmm ...

"Ini bu, buku psikologi."

"Beli dimana, Bil ?" Tanyaku padanya lagi.

"Beli di Toko Agung di CBD, Bu kemarin."

"Jalan-jalan, sekalian lihat-lihat. Alhasil, dapatlah dua buku kece ini."

" Who am I nya @PsikologiId sama Nasihat Berharga Untuk Kaum Perempuan."

"Kece Bil, bukunya."Sambutku.

"Yaudah, Ibu pinjam yang who am I, ya ?"

"Ambil aja, Bu."

"Hehe, Thank u sholehah." Ucapku padanya sembari menyunggingkan senyum termanis hehehe.

Nabila, begitu aku biasa memanggil gadis kelas X SMA berkulit putih, tinggi, dan memiliki wajah yang cukup manis dan anggun dengan balutan hujan putih serta seragam putih abu nya itu.

Hari ini, adalah jadwalku untuk mengajar di kelasnya. Yap, pelajaran sejarah. Kami terbiasa berdiskusi tentang apa saja selepas materi pelajaran selesai.

Seperti hari ini, ia menyodorkan sebuah buku yang cukup mungil.

Bagai anak ayam hilang menemukan Induknya. Aku yang selalu haus akan buku bacaan. Ketika di sodori dua buku kece oleh Nabila, sangat antusias.

Setelah memilah-milah, akhirnya aku lebih memilih buku yang penuh warni yang berjudul who am I.

Selain karena aku memang sangat tertarik dengan dunia psikologi, aku juga ingin tahu seperti apa sih kepribadianku ini.

Denting jam berlari cukup membuat kami bergegas. Waktu menunjukkan pukul 11.45 WIB menandakan jam istirahat sholat dhuhur sudah tiba.

Anak-anak pun segera membereskan bukunya, keluar kelas berjalan menuju mesjid.

Sama halnya denganku, aku sudahi pelajaran dengan hamdalah dan salam. Berjalan ke luar kelas dengan membawa tas berisikan beberapa buku menuju ruang guru.

Hari ini, adalah hari Rabu. Hari dimana jadwal pulang mengajarku hanya sampai dhuhur saja.

Dan karena sedang berhalangan sholat, aku segera saja bebenah dan siap pulang menuju asrama. Tak sabar rasanya ingin segera melahap buku yang baru saja aku pinjam dari murid sholehahku.

Setelah berpamitan kepada rekan-rekan guru, aku berjalan kembali menuju asramaku. Melewati beberapa anak yang tengah asyik dengan aktivitasnya masing-masing.

Ada yang sedang bersiap wudhu menunggu antrian di tempat wudhu sekolah, ada yang sekedar berbincang riang dengan teman-teman mereka, ada pula yang segera menyapa dan menyalami guru yang tengah lewat.

Kaki berjalan dengan cukup cepat, mengikuti gegas semangat di hati. Hehehe

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Segera kurapikan peralatanku. Dan take a book ...

"Hai."

Seolah buku itu tersenyum  riang saat tanganku meraihnya.

Perlahan kubuka lembar demi lembar halaman buku tes kepribadian ini.

Ada sebanyak 27 tes kepribadian yang di dalamnya berisi pertanyaan, dan pembahasan langsung yang akan menunjukkan seperti apa diri kita.

Di cover depan, kalimat kemilau ini sudah mengajak jiwaku berdialog.

"Personality Test. Kenali dan Upgrade dirimu."

Pernah ga sih, kita mengalami kebingungan pas ada yang meminta untuk menjelaskan seperti apa sih diri kita sendiri ini.

Dan itulah, yang menjadi semangatku untuk segera mengisi tes di buku ini agar aku bisa mengenali diriku sendiri seperti apa.

Dari sekian banyaknya tes, ada yang tentang kepribadian, persahabatan, percintaan, sampai karir apa yang paling cocok buat buat kita.

Dan yang paling membuatku tertarik adalah beberapa tes ini, :

* Temperamen apa yang kita miliki ?
* Tes kecerdasan majemuk.

Setelah menjawab beberapa pertanyaan di tiap tesnya serta menjumlahkan skornya.

Alhasil di dapatlah, aku adalah seorang Sanguinis.

Di bukunya di jelaskan kalau orang sanguinis adalah orang yang sangat bersemangat dalam hidup. Hal ini disebabkan karena orang sanguinis memiliki sifat yang mudah menerima kesan-kesan dari luar dapat dengan mudah masuk ke dalam hati. Intinya orang sanguinis adalah pribadi yang sangat menyukai kesenangan, suka bicara, semangat, rame orangnya, ramah, nampak percaya diri, dan jarang sekali membiarkan hatinya bersedih berlama-lama.

Setelah kupikir dan cocokkan dengan diriku.
" Hmmm sepertinya cocok." Setujuku dalam hati

Selanjutnya adalah tes kecerdasan majemuk. Dari jawaban yang aku pilih, menunjukkan bahwa aku memiliki dua kecerdasan dominan.

1. Kecerdasan linguistik, kemampuan ini adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa untuk mendeskripsikan kejadian, membangun kepercayaan dan kedekatan, mengembangkan argumen logika dan retorika, atau mengungkapkan ekspresi dan metafora.

Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan linguistik adalah wartawan dan reporter, tenaga penjual, penyair, copywriter, penulis, dan pengacara.

Dan yang kedua adalah kecerdasan interpersonal, di kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mengorganisasikan orang lain dan mengkomunikasikan secara jelas apa yang perlu di lakukan, berempati kepada orang lain, membedakan dan menginterpretasikan berbagai jenis komunikasi dengan orang lain, dan memahami intensi, hasrat, dan motivasi orang lain. Beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan kecerdasan interpersonal adalah manajer, politisi, pekerja sosial, pemimpin, psikolog, guru, atau konsultan.
Aku kutip dari buku who am I, hal 24-27.

Dari hasil yang kuperoleh, aku sangat puas dan bersyukur.

Karena, Alhamdulillah aku dapat bekerja sesuai dengan passion dan kecerdasan yang menonjol pada diriku. Itu berarti, aku menyalurkan kemampuanku pada tempat yang seharusnya.

Ada suatu hadits yang mengatakan, "Barang siapa yang mengenali dirinya, maka ia telah mengenal Allah." (Al-hadits)

Mungkin, ini hanya sebagian dari cara kita mengenali diri kita sendiri sebagai upaya memaksimalkan potensi yang Allah berikan.

Kata Ayah Edy, dalam sebuah tulisannya yang pernah aku baca. Bahwa setiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing dan tidak ada anak yang bodoh.

Asalkan kita tidak memaksa, katak untuk terbang, burung untuk berenang, ular untuk melompat, ataupun ikan untuk berlari.

Yah, semuanya memiliki kecerdasan dan potensi nya masing-masing.

Mengasahnya, menyalurkan, dan mengajari diri kita sesuai potensi alami dari diri. Menurutku adalah bentuk penghargaan terbaik bagi diri kita sebagai bentuk rasa syukur terbaik pada Allah.

Barangkali, kita pernah tau atau ada yang mengalami secara langsung. Ada yang bekerja uring-uringan karena merasa tidak cocok di bidang itu.

Barangkali itu bisa terjadi karena kita belum mengenali apa sesungguhnya potensi diri kita sendiri.

Alhamdulillah, aku dapat bekerja sesuai dengan potensi yang telah Allah berikan padaku. Dan itu sangat nyaman pun nikmat terasa. I am so enjoy in my passion.

So, sudahkan kita mengenali kepribadian dan potensi diri kita sendiri ?

Kalau belum, ayo kita kenali dengan belajar dari buku ini. "Who am I ?"

"Bu, buku apaan sih tuh ? Liat dong, eh pinjam dong." Pinta teman asramaku yang baru saja datang.

***

Kuy, kita terus belajar dan kenali diri kita sendiri dengan lebih baik. �

Senin, 24 Oktober 2016

Ah, terkadang kita memang terlalu sibuk

Sementara kita sibuk dengan keramaian dunia maya kita, tetangga kamar kita sudah melewati berbagai cerita penuh hangat dalam kebersamaan ...

Sementara kita sibuk memikirkan dan mencari perhatian si dia, ada mereka yang sudah lebih jauh berjalan menemukan ilmu-ilmu baru bak mutiara yang di temukan di dasar lautan 'begitu berharga' ...

Kala kita sibuk dengan urusan kita, mereka sudah sampai menjelajah alam Indonesia ... rihlah dan mentadaburinya   

Ah, kadang kita terlalu sibuk dengan sibuknya kita sampai hal-hal kecil kebersamaan dengan mereka teman dekat kita pun terlewatkan ...

Ah, kadang kita terlalu sibuk memikirkan urusan perasaan 'baper' sampai-sampai kita lupa bahwa masih banyak hal yang harus kita pelajari ...

Bahwa ilmu Allah itu begitu luas, bukan hanya tentang urusan perasaan saja ...

Ah, kadang kita terlalu sibuk mengurusi urusan duniawi kita saja sampai-sampai kita lupa bahwa itu semua fana ...

Bahwa, hanya sekejap rupanya kita di dunia ...

Membacalah ...
Belajarlah ...
Bersosialisasilah ...
Menjelajahlah ...
Berfikir luaslah ...

Temukan dan dapatkan apa yang sesungguhnya harus kamu dapatkan ...

Hei, diri !

#Reminderforme

Sabtu, 22 Oktober 2016

Aku benar-benar ... sepi ...

Aku benar-benar sepi ...
Sesepi nya galau kala menerpa ...
Bak batu es yang meleleh ketika terkena sengatan surya

Menyengat ...
Bak sengatan kalajengking ...
Pedih sepedih-pedihnya
Luka darah yang kau sirami air jeruk nipis

Aku, memang bukanlah matahari
Yang Allah anugerahi kemampuan menyinari

Aku bukanlah matahari
Yang akan tetap mampu menyinari
Dan berwajah berseri
Setiap tugasnya telah tiba

Aku kadang lelah
Aku sepi
Aku bosan
Aku cemburu
Aku merasa sendiri

Dan kamu dimana ?
Dan apa kabar hatimu ?
Apa kabar kedekatanmu pada Tuhan ?
Hingga aku masih begitu gundah gulana seperti ini ...

Aku benci
Aku sendiri
Aku sepi
Aku merasa tersaingi
Tanpa ada siapapun mendampingi

Aku bukanlah matahari
Yang akan tetap selalu ceria
Menyinari tanpa hirau apa kata bumi

Bagaikan perihnya menanti
Pada jarak yang tercipta
Kapan aku bertemu ?
Kapan aku membahagiamu ?
Kapan aku tidak ragu ?

Aku hanya butuh penguatan dan jawaban
Bahwa aku kuat dan bisa ...
Dear, I am here

Please, come to me
And keep beside me

Rabu, 19 Oktober 2016

Di publish ataupun tidak kita tetap bahagia ...

Terkadang sesuatu yang terpublish indah, tidak semuanya seindah yang dilihatnya

Dan terkadang sesuatu yang tidak terpublish ramai, lebih indah dari apa yang begitu sering di publish ....

Ini cerita sederhana, dulu aku pernah senang sekali mempublish foto-foto kebersamaanku dengan teman-teman ketika kita lagi ada acara dan sebagainya.

Dengan berbagai cara, angel, pencahayaan, kami mengaturnya sedemikian rupa agar hasil fotonya terlihat bagus dan genic.

Senang ya senang, karena kami senang berfoto ria menunjukkan gaya sebebas kami. Mengekspresikan kebahagiaan dan kebersamaan.
Atau menunjukkan keindahan diri dan alam sekitar sebagai bentuk rasa syukur atas keindahan yang Allah berikan kepada kita.

Tapi ternyata, tidak semua yang kita lihat tampak menawan dari foto itu sesuai dengan keadaaan aslinya.

Ketika di foto, nampak sekali kebersamaan kebahagiaan kekeluargaannya. Pada nyatanya, perjalanan hubungan kami tidak semulus itu ada kalanya kami saling bergesekan ataupun sedang merasakan hal yang kurang enak.

Dan itu sama sekali tidak terlihat dari gambar yang kami unggah di media sosial.

Sampai teman medsos saya pernah ada yang bilang, ih Fitri kayaknya bahagia banget sekarang mah eksis terus. Hehehe
Dalam hati aku jawab aja, gatau aja gejolak hati yang tidak kami ungkapkan disitu. Hahaha

Namun, sekarang aku menemukan sebuah keluarga yang penuh persahabatan. Dan hal yang pasti kami sangat jarang sekali berfoto-foto ataupun mengunggah kebersamaan kami di media sosial dan sebagainya.

Kami begitu saling memiliki satu sama lain, ketika yang satu membutuhkan pertolongan kami dengan senang dan tulus hati saling membantu, saling berempati, serta saling menyayangi satu sama lain. Tanpa memperdulikan perbedaan usia diantara kami.

Karena yang kami junjung adalah perjuangan dan persahabatan untuk mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya. Saling bertanggung jawab dan saling bersinergi satu sama lain.

Istilah nya mh, "ringan sama di jinjing, berat sama di pikul."

Bersama mereka aku bahagia, damai, bersahabat, nyaman, dan tenang. Tanpa ada yang merasa tertekan satu sama lain ataupun ada yang saling iri. Tidak sama sekali.

Justru, ketika ada diantara kami yang salah. Kami akan saling mengingatkan tanpa ragu dan kaku.

Ahahha, sampai-sampai ada rekan kerja lain yang bilang.

"Ih, kalau lihat kalian mah akur-akur banget kayaknya."

Hihi, kami semua berpandangan dan saling mengiyakan.

"Iyalah, kan kita mah pada akur." Jawab kami serempak.

Lalu, aku nyeletuk bilang. Kan cinta dalam ukhuwah bu. Hehehe

Yah, begitulah kami. Dan satu hal. Ketika kami sedang jalan-jalan bersama, makan-makan, ataupun lagi ada acara kumpul-kumpul apa, kita jarang sekali yang namanya ingat dengan foto-foto apalagi mengunggahnya ke media sosial.

Ya engga tau lah, tapi bukan berarti yang tidak terpublish itu tidak bahagia kan ya.

Justru, karena sesungguhnya bahagia dan rasa cukup satu sama lain itu dirasakannya di hati kami masing-masing.

So, tanpa perlu meributkan dengan menguploadnya di medsos kita tetap bisa bahagia.

Ya, bahagia atau tidak bahagia tidak menjadi ukuran melihatnya dari foto.

Tapi dari kelapangan hati kita masing-masing.

Dan bukan berarti ketika kita mempubhlisnya itu kurang baik, jika itu dirasa ada manfaat yang bisa diambil oleh orang lain yang melihatnya. Kenapa enggak ?

So, tanyakan pada hatimu. Sudahkah kamu bahagia dan bersyukur hari ini ? Hehehe 😊

#Rabu
#19 Oktober 2016
#Tangerang kota
#Pukul 23.04
#ODOP
#Happiness 💚

Selasa, 18 Oktober 2016

Kebahagiaan itu ...

Hari ini cukup melelahkan, tapi juga menyenangkan.

Ada rasa puas, ketika telah mengajar, melihat anak-anak bersemangat dan antusias mengikuti pelajaran.

Juga dengan senang dan kerelaan hatinya, menerima dan mengerjakan tugas tanpa terlihat terpaksa. Uhhh

Guru mh gausah muluk-muluk di kasihnya

Di kasih mereka jadi anak sholeh-sholehah aja udah bahagia 😄

Senin, 17 Oktober 2016

Adalah kau ..... Angkuh

Roda kehidupan senantiasa terus berputar ...
Ada kalanya, kamu berada di puncak ...
Namun, terkadang tanpa kita sadari ...
Kita berada di puncak yang benar-benar fatamorgana ...
Se fatamorgana nya mengelabui fana ...
Hingga kamu, lupa
Angkuh
Sombong
Dan tak berdaya dalam kungkungan kesenangan sesat ...

Kamu, benar-benar berada dalam sakit yang sesungguhnya ...
Sedang di kecam celaka namun menolak untuk menyadari ...

Hufffft ...

Berhentilah ...
Sadarlah, Nak ...
Ada saatnya kamu terpuruk dalam keadaan yang sungguh tak menentu
Mengecam badai
Menarik ari-ari seluruh bathin ...
Dan mereka yang kau banggakan
Yang kau puja-puja
Yang bahkan mampu membuatmu
Mengabaikan dan menyakiti mereka
Yang kau anggap hina

Kau cerca mereka
Sekehendak yang kau mau ...
Perih, terhina, dan pedih sesakit-sakitnya pedih
Yang kau torehkan pada nama dan hati yang bahkan rela kau suudzoni
Padahal dirimu baru mengenalnya sebentar

Kau rela mencercanya
Demi menuruti perkataan penuh dengki mereka yang kau sebut leluhurmu ...

Namun kini, ketika aku telah pergi ...
Kau perlukan aku bukan ?
Kau merendah dan mengemis bantuanku bukan ?

Hei, sadarkah kau
Luka yang kau torehkan dulu
Dengan semena tanpa kau ayak itu ...

Kemanakah kini, orang yang kau bangga-banggakan
Yang bahkan sampai rela membuatmy
Berbuat dzolim pada orang lain ...

Kemanakah ?
Berhentilah bermuka manis padahal hatimu mendusta
Berhentilah bersikap selezat es krim
Melenakan  ...
Namun, mematikan ...

Kau adalah racun yang berbungkus madu
Kau adalah kafan yang terbungkus pernik indah batik ...

Kau ...
Sudah keterlaluan ...
Menyebut diri sebagai pembawa risalah kebaikan ...

Tapi, sikap dan brutalmu melebihi mereka ...
Yang kau sebut penjahat  ...

Insyaflah hei manusia ...
Kau adalah makhluk Tuhan ...
Tercipta dari bumi dan tanah yang sama ...

Berasal dari sesuatu yang bahkan kau pun menganggapnya menjijikan ...

Hei kau manusia
Jangan kau renggut lagi bahagia dan lugu suci mereka ...
Jangan kau nodai lagi
Cerdas tulus putih niat mereka ...

Kau, pasti tak akan terima ketika aku menyebutmu jalang ...

Kau adalah topeng tertampan yang pernah ada
Kau adalah lebur
Gila dalam pemujaan sukmamu sendiri ..

Hei kau yang sangat angkuh
Hei kau yang sangat sombong
Hei kau yang merasa digjaya ...

Semua itu milik Tuhanmu  ...

Mereka adalah damai dan penuh bahagia kini sekarang atau pun nanti
Tanpa kau nodai kembali
Jangan sekali-kali kau berani menorehkan bisa racunmu ...

Kau .... adalah amarah ...
Pergilah ....
Enyahlah ....

Adalah kau larik-larik ...
Yang tak pernah aku maui untuk kembali lagi ...
Trauma sedih nistanya kehidupan ...

Karena persahabatan itu ...

Karena terkadang,

Persahabatan dan persaudaraan  ...

Lebih mahal dari apapun,

So, jaga erat mereka ...

Bunga penyemarak kehidupan 😘

Minggu, 16 Oktober 2016

M ....

Aku senang mendengar suaranya.
Karena, meskipun aku sedang lelah.
Mendengar suaranya, adalah damai dan obat tenang kembali.

Sekelumit tentang Aa ...

🍧

Hari ini Aa random, tumben sekali nelponnya jam 02.30 dini hari.
Jelas saya belum bangun. 😆

Mungkin, beliau khawatir atau kepikiran atau rindu adiknya ini. Entah, ... haa

Dan nelpon kembali barusan, sebelum ia tidur beristirahat dari kerjanya.

Sederhana, berbincang ini itu tentang kuliah tentang apa yang aku lakukan tentang keluarga. Ah, sederhana.

Namun, dari kata-kata Aa yang to the point dan terjaga. Aku selalu menerka. Ia sedang berjuang untuk keluarganya. Lelah mungkin, tapi tak pernah ia tunjukkan.

Tidak banyak kata nasihat, tapi darinya aku belajar tentang kekuatan, ketulusan, dan kedewasaan.

Aa itu sahabat ...
How I do love him 💚

#Ini ceritaku about him I called Aa haaa ✌🏻

Bersamaku, genggam tanganku, menuju jalan-Nya ...

♡ Aku hanya ingin menjadi yang tercantik di matamu ...
Kini ataupun nanti ...
Hingga tak perlu ada cemburu  ...

~ Asma Nadia

♡ Allah telah menakdirkan makhluk-Nya berpasang-pasangan, memberikan alur dan koridor-Nya untuk memenuhi fitrahnya ...

♡ Semuanya telah lengkap, memberikan arahan jalan dan penerang bagi kita harus seperti apa kita berbuat untuk melaksanakan perintah-Nya ...

♡ Semoga Allah senantiasa menjaga kita, meridhoi orang tua kita, melancarkan segala urusan kita, membimbing bintang-bintang yang Allah titipkan pada kami ...

♡ Agar ia senantiasa terjaga, dan bercahaya, semakin bercahaya dan menebar suci ...

T - w - e - n - t - y - o - n - e

Ah, bersyukur sekali ...
Semoga Allah selalu menyayangi kedua orang tuaku ...
Melindungi kakak dan adik ...
Memberikan karunia dan penjagaan terbaik untuk mereka ...
Yang telah sangat berjasa bagi diri ...

Meskipun di usia ini juga kadang riuh dengan resah dengan pertanyaan ...

Di usia sampai sekarang ini, manfaat apa yang telah ku berikan pada keluarga dan sekitarku ?

Apa yang sudah kulakukan untuk kemandirian dan kesuksesanku menggapai citaku ?

Apa yang sudah kuberikan untuk mereka kedua orang tua dan keluargaku ?

Lagi-lagi, aku mencerca diri.
Ayoo ... belajar dan bekerja lebih giat lagi 😊

Lima ...

Well, usiaku sekarang adalah twenty one. Sudah seperti tempat nonton paling asyik kan. Buat nonton film-film terbaru and limited edition. Wkkkkk

Ada rasa haru campur biru, ada rasa syukur dan tafakur, ada rasa galau gundah gulana, ada rasa coklat manis asem gula jawa ...

Okeh, begitulah pokoknya rasanya ...
Nano-nano kalo bahasa dia mah ...

Aku sedang berada di usia yang menyenangkan pun menakjubkan juga penuh dengan tantangan.

Menyenangkan dan bersyukur sekali Alhamdulillah karena bisa melewati usia muda, menikmatinya dan mengisi hari-harinya dengan belajar banyak hal, bekerja di tempat yang tenang dan penuh persahabatan, pun melakukan hobi-hobi ku, mengeksplor apa saja yang ingin aku lakukan.

Menakjubkan dan penuh tantangan, karena di usia ini banyak peristiwa besar dan berandil besar bagi lembaran kehidupan selanjutnya.

Empat ...

Yah, itulah ia. Ia adalah diaku. Yang tidak banyak bicara, untuk menghadapi kerandoman dan kekanakanku. Tapi, sikapnya selalu mampu membuat gunung es yang tadinya begitu beku. Menghangat kembali dalam cerianya hari.

Bicaraku mungkin akan menghasilkan seratus kata untuk menimpali celotehnya. Tapi, ketika ia memenuhi pintaku. Cukup dengan aku merajuk padanya. Dan ia menjawab dengan beberapa kata.  Action.

Tidak banyak kata yang ia ucapkan untukku. Katanya yang sedikit namun syarat akan makna. Meskipun kadang nyeleneh, tapi mampu membuat detak lebih dari biasanya. Membuat senyum merekah lebih spontan dari biasanya.

Meskipun, orang yang melihatku ketika tersenyum muka memerah jambu sendiri pasti akan mengira aneh. Haaa tapi ya itulah ia adanya.

Tiga ...

Hiks. Aku sama temen-temen emang suka becanda sih. Kocak konyol dan gaada yang ditutup-tutupin. Saling terbuka udah kayak keluarga pokoknya.

Tapi, sreggg ...
Pas ada yang bilang gini.
Aku juga ikut nyesek sih.

Dan hati pun ikut mengiyakan.

Waktu itu, aku sedikit tersungging 😅 dengan pernyataan itu. Tapi itu dulu, saat pikiranku masih seperti anak kecil.

Pun saat aku merajuk padanya tentang hal ini. Ia malah menjawabnya dengan senyum.
"Huh kesel ga sih ya jawabnya gitu doang. Bukannya, bilang apa kek gitu buat meredam emosiku yang lagi baper wkkwk." Gerutuku dalam hati.

Dua ...

Oke, balik lagi.

Komunikasi ya ga sering-sering banget. Nanyain kabar ya semaunya. Ketemu ya sebentar banget seabad sekali kali. Itu juga kalo kita lagi libur kerja atau kuliah dan semacamnya dan sebagainya.

Selebihnya, kita adalah dua orang yang sama-sama saling menunggu untuk waktu kembali mempertemukan kita.

Selebihnya kita adalah dua orang yang saling menjaga dalam sucinya jarak satu sama lain.

Aku pernah merajuk dan protes kepadanya.
"Temen kuliah aku, masa bilang gini dear. Katanya aku mah ketemuannya lewat HP doang."

Satu ...

Hari ini entah, aku sedang tidak ingin menghubunginya. Bukan karena aku membencinya. Bukan juga karena ingin menjauh darinya. Entahlah, aku hanya sedang ingin seperti ini. Tidak menghubunginya, bukan berarti aku tidak cinta bukan. Bahkan, ia tetap selalu ada tinggal di salah satu bagian hati, terjaga dan akan tetap selalu seperti itu.

Tapi ya itu,

Pernah ga sih kamu merasa, jatuh cinta sama orang yang jauh dari kita itu aneh banget. Kamu ada dimana, dia ada dimana. Ketemu juga seberapa abad sekali *cieelah lebay haaa

Dan itulah yang lagi aku rasain sekarang.
Aku ngerasa aneh, kita adalah dua orang yang terlalu santai kali ya. Bahkan buat komunikasi pun kita mah seadanya. Ga pernah di ada-ada. *lah emang apa yang mau diada-ada in. Acara kali.

Mereka mutiara berhargaku ({})

Robbi ...
Mohon jaga kami dengan penjagaan terbaik-Mu ...
Kami adalah lemah tanpa Engkau kuatkan ...
Kami adalah keluh tanpa Engkau penuhi dengan rahmat-Mu ...

Robbi ...
Kemampuan kami terbatas
Namun perlindungan-Mu menyeluruh ...
Jarak dan alur kehidupan menjadikan kami tidak bisa dekat dan bersama setiap waktu ...
Titip mereka Ya Robbi ...
Titip mereka ...
Engkau lah sebaik-baik pelindung ...

Mereka adalah mutiara berharga ...
Dan semoga terjaga selalu seperti itu ...
Aamiin ... 💝

Kamis, 13 Oktober 2016

...

2 tahun adlh waktu yang cukup untuk menjadikan kita keluarga tanpa ikatan darah. Sahabat dengan ikatan kuat. Bersama saling menerima, menambah semarak kekompakan, dan melengkapi. Seperti dalam satu sanubari. Jika ada satu yang sakit ataupun bahagia maka semua pun ikut merasakan.
Kalian adalah keluargaku. Ikatan terkuat bersama kalian adalah sahabat.

Ada namun tanpa suara

Ada dunia tanpa suara. Bukan karena benar-benar tidak ada suara. Namun karena diantara kami enggan dan segan untuk mengeluarkan suara. Ada rasa takut di dalamnya, malu bercampur menjaga, atau entahlah apa itu angkuh yang mencoba membumbui. Yang jelas, aku pernah hidup dalam dunia seperti itu. Ketika tak semua kata kita akan mudah meluncur keluar dari mulut kita. Ada kalimat-kalimat tertahan. Mengendap dan menjadi angin ribut riuh dalam alam pikiran. Yah, terkadang kalimat dan kata itu hanya akan berdiam dalam pikiran tidak keluar untuk bersuara dan berlalu begitu saja, dan berulang itu setiap hari.

Meski ada kalanya juga, kata dan bahagia itu hangat dalam komunikasi yang melancar ria itu ada.

Ada kalanya kita bercerita tanpa sekat dan dinding.

Rabu, 12 Oktober 2016

Malam ramai detik ini

Jalanan kota meramai remang
Lampu-lampu mobil menyorot tajam
Pada pemandangan yang masih semu untuk diterjemahkan ...

Selamat bertemu dengan sosok yang tak pernah disangka sebelumnya

Dan ini menjadi sejarah bagi pengalaman pertama

Entah, jatuh itu sakit ataupun tidak ...

Tapi, jatuh selalu memberi arti bahwa terbangun kembali
Menunjukkan bahwa kita cukup kuat dan mampu ...

Aku belum menemukan kembali
Obat termujarab yang membuat hidup kita mewarna dan penuh seri

Ia adalah rasa syukur yang tak pernah berhenti
Terpatri ... dalam jiwa dalam
Dan tertanam kuat ...
Dalam setiap kondisi dan sendi

360 sendimu adalah ladang syukur tak terhingga

Dan ia penuh mampu membahagiamu
Dalam wahana alam yang tak terputus sampai disini ...

Hari ini dan seterusnya aku bersyukur

Karena bersaudara itu tak hanya dalam lingkup sederet dan severtikal keturunan saja

Aku selalu menemukan bahwa ia luas dan penuh makna ...

Selamat bersyukur dan berbahagia
Selamat penuh sahabat dan senang bersaudara ...

*tring perjalanan malam menuju sekolah Kaffah Unggul 2

Senin, 10 Oktober 2016

Ia adalah lelaki aneh bin ajaib menurutku.

Hari ini, seperti biasanya. Kami berangkat sekolah dengan menggunakan angkot. Naik dari depan rumah turun di kaum nyebrang dan naik angkot lagi. Tap. Jalan beberapa meter sampai di gerbang sekolah kami tercinta.

Hari ini, aku tidak bertemu dengannya. Padahal, sangat kuharap bertemu dengannya meski hanya sebatas melihatnya dari kejauhan.

Yah, terlalu berlebihan sebetulnya. Tapi, itu betul adanya. Melihatnya dirinya nyata dengan mata kepala sendiri seolah memproklamirkan pada duniaku sendiri bahwa ia benar-benar ada menjadi salah satu penghuni di bumi ini.

Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa bertemu dengannya adalah hal yang mampu membuatku bahagia. Seperti re-charge energi untukku untuk beberapa waktu kemudian. Kebahagiaan sungguh menyala.

Apalagi, kalo kami sudah bertegur sapa dengan gaya kami. Yah, kubilang itu gaya kami. Karena memang cara kami bertegur sapa kurasa sedikit aneh.

Orang aneh, dalihku dalam hati.

Tapi, aku suka dan bahagia dengannya.

Ia adalah energi untuk membuatku bersemangat dan terus ceria sepanjang hari di kelas. Meskipun hari itu, aku harus melewati mata pelajaran yang lumayan menguras otak.
Tapi, ketika bumi mengizinkan ia untuk bertemu tersenyum dan bercanda denganku kala pagi itu. Adalah kurasan energi luar biasa pada otak. Hormon dopamine ku naik drastis.

Kau tahulah, aku kala itu adalah seorang gadis SMK dengan usia masih remaja. Labil dan pastinya penuh khayalan dan mimpi.

Aku mampu menjelma menjadi seorang yang sangat berambusius untuk belajar dan melakukan yang terbaik untuk pendidikanku.

Tapi, di saat yang bersamaan juga aku mampu menjadi orang yang temperamen tenggelam lantah dalam keputusasaan, tak bersemangat, frustasi akan keadaan tapi juga orang paling egois bahkan untuk dirinya sendiri.

Melihat teman-temanku yang lain rasanya mereka adalah orang yang lebih mampu mengatur emosi dan kestabilan dirinya.

Berbeda dengan diriku, yang kadang masih meledak-ledak. Kadang begitu semangat dan ceria kadang juga muram asa dan sulit sekali ditanya.

Aku pun terkadang bingung, dan ingin keluar dari zonaku yang seperti itu.

Namun, hadirnya seperti mampu memberikan suntikan semangat untukku. Dia hadir di balik seringai senyumnya yang khas. Ia unik bagiku. Ia juga adalah damaiku.

Bagaimana tidak, ketika di kelas aku harus menghadapi seorang laki-laki cerdas sih tapi begitu sombong dan angkuh. Tak mampu memahami kami kaum perempuan. Nyebelin pokoknya.

Namun, ia hadir memberikan kesegaran baru bagi hidupku. Tentang pandanganku tentang seorang yang bernama kaum laki-laki.
Ia begitu lembut, penyayang, humoris, penyabar, dan baik hati.

Entah sejak kapan awalnya kami bisa saling mengenal dan mulai mencari tahu tentang satu sama lain.

Tapi sejak saat itu, pertemuan kami di beberapa pintu kelas. Tangga-tangga sekolah yang sengaja kami rancang untuk bisa bertemu. Parkiran-parkiran cinta. Haha dan lapangan sekolah yang menjadi saksi bisu kami adalah dua insan yang saling mencintai dalam diam.

Ia adalah sekelumit cerita, yang mampu menetralisir sepenuhnya rasa sepi dan labil yang kadang masih hadir pada bagian diriku.

Ia adalah lelaki aneh tapi ajaib menurutku.

Jumat, 07 Oktober 2016

Pohon kipas, setidaknya itulah yang aku ingat. Pohon yang aku ingat ada dan menjadi bagian masa kecilku.

Letaknya berderet laiknya petani yang menanam sayuran dengan berbaris rapi. Persis,
di depan rumahku.

Rumah sederhana dengan pekarangan yang cukup luas, berisikan pohon pisang, aneka rerumputan dan bunga-bunga melati aneka warni.

Ah, aku senang bermain-main disana. Berlari-lari riang sambil bernyanyi suara khas anak kecil. 😆

"Mah, aku mau ngambil daun kipas yah buat main."seruku pada Mamah.

"Iya, boleh. Ambil sana anakku sayang."Sahut Mamah seraya keluar dari dapur menuju putri kecilnya yang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di ruangan tengah rumahnya.

"Horreeeee, kita boleh ambil dan memetik daun kipasnya."

"Boleh yang banyak ya, Mah. Kan teman-temanku banyak. Nanti kita biar bisa jadi putri kipas. Punya banyak daun kipas. Kita bisa bermain sepuasnya. Horreeee ...." Sambutan riangnya lagi.

"Ayo, Izza Icha kita ambil daun kipasnya sekarang."

"Ayooo .... "Teriak mereka kegirangan.

Pohon kipas tingginya setinggi orang dewasa, di batangnya yang mungil terdapat seperti kulit halus yang membungkus berwarna hitam jarang.

"Nak, mainnya tidak jauh-jauh ya. Di taman pekarangan rumah saja. Itu main kipas sama tumbuk daun pacar boleh."Seru Mamahnya Ufit dari dalam dapur.

Ufit, begitulah ia biasa dipanggil. Putri bungsu dari pasangan Mamah Neng  dan Bapak Ahmad Baneji. 😆

Rupanya, Mamahnya sedang memasak untuk makan sore keluarganya. Beliau sedang berjibaku dengan tungku api dan pernak-pernik dapur sederhana lainnya.

"Iya, Mah. Ufit ga jauh-jauh ko mainnya disini."Jawab Ufit, anak bungsu Mamah yang sedang manja-manjanya di usianya yang masih kurang lima tahun.

Mamah Ufit sambil memandang riang anak-anaknya bermain di taman pekarangan rumah dari bilik dapur yang sudah mulai menghitam akibat asap dari tungku api.

Ah, senangnya melihat mereka bermain dan bahagia seperti itu.

"Tumbuhlah menjadi anak sholehah ya, Nak. Ufit yang cerdas dan penuh riang."Gumam Mamahnya dalam hati.

Menualah bersamaku. Menyaksikan padi-padi tumbuh matang di pesawahan, menguning, dan menyiapkan masa panen bersama.

Menualah bersamaku, tentang menyaksikan bagaimana aku mendewasa bersamamu.

Menyaksikan bagaimana aku menyayangimu, dengan segenap kuat yang aku punya.

Menualah bersamaku,  saling menggenggam tangan menyalakan api rasa yang tidak biasa. Menghangat dalam dingin. Dan menyejuk dalam bara.

Kita bersama.
Menyaksikan bagaimana perubahan diri masing-masing dan itu lucu. Haha

Kamu, adalah alasan senyum dan semangatku menyala di pagi hari saat bangun dari sepertiganya malam ajaib.

Menualah bersamaku, saling menyaksikan dan membimbing bagaimana aku menjadi perempuan yang berusaha menjadi yang terbaik untukmu.

Bagaimana aku, mengabdi dan membersamaimu menjadi pria hebat yang bersedia menyumbangkan sebagian hidupnya demi menjadi pemimpin terbaikku.

Tentang setia dan percaya, aku tak perlu menduga.

Biar aku menyerahkannya pada pemilik hakiki hati. Aku percaya.

Bersamaku, menaiki satu demi satu tangga kehidupan itu.

Menyambut pagi sejuk hangat nan penuh kebersamaan.

Menikmati cerah siang hari, dengan masakan penuh cinta dariku.

Menyemarakkan petang, menyaksikan langit megah berubah memerah rona. Menceritakan segala asa dan kelu mu padaku.

Duduklah disini, disampingku. Menatap wajahmu adalah salah satu alasan bahagiaku. Hei, cinta.

Menutup malam dalam damai nya suara kalam-kalam suci. Menemani mereka buah hati belajar dan mengenal arti kehidupan demi menyongsong hari.

Hari berganti, dan waktu terus bergulir. Aku disini. Menualah bersamaku, dalam irama alunan suci senja.

Dear, ...

And thanks ...

Sampai bertemu di suatu masa yang ketika tak ada lagi jarak antara kita. Karena kita adalah satu. Itu kita. 💚💚💚

~ from ur girl 😊

Edisi Mid Test ... Yuhuuu ...

Sosok-Sosok itu terus saja menghampiriku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap hari ketika kita bertemu selama seminggu ini.

Ah, entah mereka memang begitu penasaran dengan angka-angka merah di deretan daftar itu ataukah mereka hanya senang berbincang dekat saja dengan kami.

Pagi-pagi.
Sejuk.
Dan hawa semangat kebahagiaan menerpa mengingatkan kembali memoar beberapa tahun silam.
Saat aku, masih berada di posisi mereka.

Semangat itu begitu menyala. Terlihat dari seberapa sigap mereka mempersiapkan semuanya untuk pertarungan selama seminggu ini.

Pagi-pagi. Ketika aku baru saja selesai dari kamar mandi, satu dua diantara mereka bintang-bintang kehidupan sudah mulai berdatangan dengan wajah sayup semangatnya.

Ah, kalo aku sih nyantri saja. Wong jarak dari rumah ke tempat laga siap dimulai hanya beberapa langkah saja.

Namun, berbeda dengan mereka. Kulihat ada kelompok-kelompok kecil mereka mendiskusikan beberapa amunisi materi.

Dan ketika melihat kami, aku ataupun rekan-temanku mulai berdatangan ke ruangan tugas. Mereka langsung menyerbu bersalaman dan menyapa dengan pertanyaan,"Bu, gimana nilai UTS saya remed yah bu ? Ah, Ibu soalnya susah-susah sih ? Bu, ?."

Dan aku atau kami, malah menjawabnya dengan nada bercanda hahaha ketika mereka bertanya dengan penuh serius tanda penasaran.

"Hmm ... lumayan, ada yang remid ada yang engga."

Atau ... "yah, pokoknya liat nanti aja deh ya nilainya Ibu pajang di papan pengumuman."

Atau ... "Soalnya, baru sebagian yang diperiksa. Sabar yaaa ... hehehe

Hari ini dan beberapa hari kemarin. Edisi UTS  Di sekolah anak-anak.

Ada wajah puas dan gembira di wajahnya, di waktu pelajaran UTS terakhir hari ini.
"Yeah, Ibu beresss UTS nya ..."

Alhamdulillah, semoga hasilnya memuaskan ya, Nak. Aamiin ... 😊😘😘

Selasa, 04 Oktober 2016

Yang terus berputar tanpa bisa siaran tunda

Sore menyapa, dengan awan yang masih bergelayut basah. Kita sudah sampai disini saja ya. Rasanya baru tadi pagi beranjak, duduk sejenak. Namun, awan tak pernah lupa berganti rupa.

Ah, iya. Waktu memang tak pernah mau diajak kompromi sama kita. Untuk berhenti melambat sebentar saja.

Hari ini, tepat dua tahun yang lalu. Aku adalah seorang siswi fresh graduate dari sebuah SMK di kota santri. Dan ...

Sekarang sudah jadi mahasiswi tingkat 2 saja.
Bukan untuk merutuk waktu.
Tapi, rasanya waktu begitu berteman setia dengan kita.

Dulu, tidak pernah terpikir akan merantau kemana. Karena yang aku tau adalah kemanapun, kapanpun, dan dimanapun, aku harus memperjuangkan diriku tentang cita-cita dan kemandirian hidup.

Ah, sang waktu ...

Ia memang paling setia ...
Tidak pernah protes ketika kita melewatkannya dengan gurauan semata ...

Tidak pernah protes ketika kita tak mensyukuri setiap jengkal detik detaknya ...

Tapi, ia hanya tajam dan tegas untuk mengatakan,"waktu tak dapat kembali dan tak dapat diperbaharui. Adakah dari kita yang bisa berhutang waktu ?"

Demi masa.
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal shalih.
Saling menasihati dalam menaati kebaikan, saling nasihat-menasihati dalam menetapi kesabaran.

Kalam Allah menegur kita dengan halus.

Ah, sang pemilik waktu
Semoga kami adalah termasuk kaum yang beruntung
Dengan mampu menjadikan waktu yang diberi menjadi aset berharga mencari bekal bagi keabadian.