Sabtu, 25 Januari 2020

Bukan berarti menyerah

Yang pergi, bukan berarti ia menyerah..
Yang datang, ia yang sudah tersurah..

Aku tak ingin ada lagi yang patah karena egoku..
Yang hadir di hidupku semuanya sangat berharga..
Maka kuharap, Allah senantiasa membimbingku menjalankan peran dari-Nya dengan sebaik-baiknya..

Minggu, 24 November 2019

Memilih Niche Blog (Tantangan Pertama Non-fiksi)

Di Minggu pertama kelas nonfiksi, dimulai dengan materi "Niche" oleh Kak Rindang. Beliau memaparkan bahwa Niche adalah fokus tulisan pada blog kita.

Memilih fokus "Niche" akan sangat bermanfaat terhadap produktivitas blog kita, diantaranya blog yang kita kelola menjadi lebih expert, bisa lebih mudah dioptimasi, menjadi rujukan karena tema yang fokus tadi, dan bahkan bisa sampai menghasilkan uang dari blogger.

Sejujurnya saya bingung ketika mendapat tantangan niche ini, karena isi blog saya masih gado-gado. Hehe

Namun, saya perlu mengerjakan tugas tantangan pertama kelas nonfiksi yaitu memilih niche dalam blog.

Nah, Kak Rindang memberikan beberapa pertanyaan nih supaya bisa membantu kita menemukan niche dalam blog sesuai passion atau kesukaan dan minat kita.

1. Apa sesuatu yang mudah bagimu

Menuliskan sesuatu berdasarkan pengalaman yang terjadi, atau menuliskan topik yang kusukai baik itu berdasar pengalaman, bacaan, atau tontonan.

2. Pikirkan rutinitas keseharian, apa kegiatan yang paling kamu tunggu-tunggu? 

Bertemu dengan keluarga, orang-orang tersayang, dan sahabat terdekat yang bisa berbagi / sharing tentang hal apa saja.

3. Apa hard skill yang kamu miliki? (contoh: menulis artikel, programming, Photoshop, menggambar, Bahasa Inggris) 

Maybe, menulis blog ala diary dan sedikit kemampuan berbahasa Inggris yang harus terus saya asah.

4. Apa soft skill yang kamu miliki? (contoh: gampang berteman, bisa presentasi yang menarik, percaya diri yang tinggi) 

Saya rasa saya cukup baik dalam hal percaya diri dan presentasi.

Nah, dari empat pertanyaan yang sudah saja tuliskan jawabannya saya disana. Jujur saja, saya masih pemula dalam dunia per-bloggingan apalagi tulisan non-fiksi. Sehingga masih harus banyak belajar dan mengenali tulisan diri sendiri untuk menemukan niche yang tepat pada blog saya.

Namun, bismillah untuk saat ini saya memilih niche blog saya adalah mengenai "cerita / hikmah yang saya temukan dari kejadian sehari-hari".

Seiring berjalannya waktu, semoga saya semakin giat belajar dan berlatih mengembangkan kemampuan diri sehingga dapat menemukan niche yang lebih tepat dan spesifik untuk blog saya ini.

Mohon kritik dan sarannya juga teman-teman. Terima kasih. Hehe

Simpul Ikatan Yang Kuat

Aku bisa menjalani kehidupan seperti sekarang wasilahnya adalah karena pengorbanan, usaha, dan kebaikan Mamah dahulu. 

Darahnya mengalir dalam tubuhku, kita pernah menjadi satu nafas dalam satu tubuh, satu rasa, satu jiwa, menyatu dalam satu raga. 

Ia adalah aku. Aku bersama jiwa dan raganya kemanapun melangkah pergi.
Mamah adalah cintaku. Darah dan pengorbanannya mengalir dalam tubuhku.

Raga yang pernah bersatu. Jiwa yang saling menyatu. Menyimpulkan simpul ikatan yang kuat, detak batin yang saling bertautan. Ada apapun denganku, batinnya akan terkoneksi dengan mudah.

Maka di sudut hidup yang mana aku bisa melupa ia adalah bidadari terindahku.
Aku ingin menyatu dengannya dalam bahagia dalam suka cita di dunia dan akhirat.

Pentingnya Apresiasi

Salah satu hal yang penting sekali dimiliki seorang pimpinan selain kebijaksanaan adalah sikap apresiatif terhadap karyawannya.

Usaha mereka untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya tidak bisa dianggap sepele. Tenaga, waktu, materi dikeluarkan demi totalitas pekerjaan mereka.

Mengapresiasi, menunjukkan empati dan peduli sudah cukup menenangkan rasa lelah mereka yang sudah bekerja!

Dalam lingkup pekerjaan, beberapa kasus kutemui. Ada pimpinan yang tak cakap mengapresiasi hasil pekerjaan karyawannya. Padahal mereka sudah bekerja keras, memberikan waktu tenaga dan pengorbanannya demi totalitas dalam pekerjaan.

Tak jarang, hal ini menimbulkan hubungan yang tak harmonis antara pimpinan dan bawahan. Hak-hak mendapat apresiasi yang layak yang tidak tertunaikan, akan menyebabkan menurunnya semangat dan totalitas dalam bekerja dalam lingkungan pekerjaan.

Menurutku, ketika lingkungan kerja sudah baik, pimpinannya pandai mengapresiasi maka karyawan akan lebih semangat dalam bekerja. Karyawan akan merasa bahwa kerja keras yang mereka berikan benar-benar dihargai sehingga semakin tercipta iklim kerja yang baik dan kondusif.

Sabtu, 23 November 2019

Sebuah Sikap; Tegas.

Laki-laki perlu sekali memiliki ketegasan, sikap mandiri, dan sikap bertanggung jawab. Hal itulah yang membuat laki-laki terhormat dan dipandang berharga.

Perempuan pun sama, terkenal dengan sifat perasa dan lemah lembutnya. Namun, camkan baik-baik, jauhi sikap tidak tegas dan mudah dimanfaatkan orang lain. 

Perempuan juga harus tegas, mandiri, dan mampu menunjukkan sikap atas pilihannya. Perempuan harus tegas, jangan lembek sehingga mudah diombang-ambing oleh perasaan dan kekurangajaran sikap laki-laki yang tidak bertanggung jawab.

Laki-laki dan perempuan keduanya diciptakan dengan segala keunikannya. Untuk saling menyempurnakan, saling melengkapi, dan berkolaborasi. Bukan untuk saling menyakiti, saling mendzalimi.

Maka, cerdas tegas dan pintar dalam bersikap menjadi keharusan. Jadilah tegas dan cerdas. Namun, tak lupa halus dan welas asih. Tegas, bertanggung jawab, mandiri, jujur, dan jangan sampai menyakiti orang lain adalah sikap yang harus dimiliki oleh laki-laki perempuan. Sekali tidak ada sikap itu, kau bisa dzalim terhadap dirimu sendiri ataupun bahkan orang lain.

Kata-kata Positif

Apa yang kita katakan, apa yang kita pikirkan, akan berdampak terhadap diri kita sendiri.

Kata-kata positif seperti kata-kata penyemangat yang dilontarkan terhadap seseorang akan mampu mengembangkan senyum di wajah dan jiwa mereka.

Di kala sedih, mendapat ujian kehidupan, dukungan dan kata-kata positif, kata-kata sayang dan dukungan dari orang-orang terdekat kita akan sangat menguatkan batin kita melewati ujian tersebut.

Di kala bahagia, di kala bercanda, usahakan untuk selalu berkata-kata positif. Menghindari kata-kata negatif, semacam merendahkan yang bisa menyebabkan mereka tersinggung, sakit hati, dan gundah gulana.

Maka, kata-kata positif, kata-kata penyemangat, dukungan, sangat penting sekali menjadi keseharian lisan kita dalam berbicara. Selain bermanfaat bagi orang lain, juga menimbulkan banyak efek positif bagi diri sendiri. Karena tubuh mampu merespon kata-kata yang kita ucapkan sengaja atau tidak sengaja.

Senin, 18 November 2019

Teman Diskusi

Setiap orang pasti membutuhkan teman diskusi, entah ia berkepribadian introvert ataupun ekstrovert. Memiliki tempat untuk kita berbagi cerita sedih, bahagia, keluhan, atau sekedar bercandaan renyah dan curhatan apa saja menjadi kebutuhan psikologis kita.

Memiliki teman-teman yang mengerti dan bisa menjadi tempat tumpah dan berbagi, terbukti bisa menjadi salah satu sarana menyehatkan jiwa atau bisa disebut healing.

Bagi orang-orang introvert sepertiku, mungkin tidak mudah untuk percaya dan mau berbagi cerita. Biasanya orang-orang introvert, pemilih sekali dalam memilih teman diskusi dan bicara apa saja. Namun, jika ia sudah menemukan tempat yang dipercaya, nyaman dan menenangkan untuk berbagi cerita ia tidak akan segan-segan untuk terbuka.

Berbeda dengan orang-orang berkepribadian dominan ekstrovert, biasanya mereka lebih mudah berbagi cerita dan uneg-uneg di hati pada siapa saja. Itulah kelebihan mereka orang-orang ekstrovert, sangat easy going dan mudah dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Terlepas apapun kepribadianmu, kebutuhan jiwa kita tetaplah harus dipenuhi. Jauhi memendam masalah dan segala kepusingan kita sendiri. Hal itu, selain membuat kita tidak menemukan pencerahan dari pandangan orang lain juga bisa membuat kita lebih rentan terkena stress.

Semoga kita bisa menjadi teman diskusi yang menenangkan, teman bicara yang menyenangkan, dan teman yang mendengarkan dengan tulus serta empati. Mendengarkan, kata yang sederhana namun dampaknya bagi kesehatan mental sangat luar biasa.

Dan dalam hal ini, aku ingin mengucapkan terima kasih dan sangat bersyukur sekali kepada Kakak laki-laki dan kakak perempuan terhebatku. Kepada mereka aku senang berbagi cerita apa saja, kepada mereka aku senang berdiskusi berbagai macam hal yang kualami, aku senang menemukan pandangan dan wawasan mereka yang mencerahkan dan menenangkan.

Terima kasih Aa, terima kasih Teteh, terima kasih untuk pendengar yang menjadi perantara bahagia dan sehatnya mental kita. 


Minggu, 03 November 2019

Ragam Indonesiaku

Dari batik hingga khas tarian
Indonesia punya keragaman
Kaya akan kebersamaan
Toleransi dan penuh kehangatan

Indonesiaku yang damai
Elok nan permai
Jiwa-jiwa muda perisai
Orang-orang dewasa membersamai

Permadani hijau membentang
Gemericik air bersuara tenang
Menenangkan segala tentang
Mencerahkan pikiran dengan riang

Adat budaya yang kaya
Unik menambah pesona
Indonesiaku yang bercahaya
Damailah selalu dan jaya

Puluhan menteri telah dilantik
Dari yang kaya hingga yang nyentrik
Cerdas dan kreatif untuk mendidik
Anak-anak bangsa yang baik

Jayalah Indonesiaku
Ragam kaya budaya bangsaku
Aku bangga padamu
Beribu syukurku tinggal diatas tanahmu

Anak yang dibuang orang tuanya

Anak-anak remaja itu bukan nakal. Mereka berbuat onar barangkali hanya karena orang tua yang kurang perhatian bahkan menafikan kehadirannya sebagai makhluk di bumi.

Kamu tak percaya ada orang tua yang membuang anaknya di bumi ini?

Orang tua yang seharusnya mencintai dan menyayangi anak-anaknya dengan sepenuh hati. Menjadi tempat mendapat pelukan dan kehangatannya di bumi. 

Namun ada yang tega membuangnya, meninggalkannya bersama kakek dan neneknya demi bisa hidup bebas bersama kehidupan pilihannya sendiri yang hedonis dan egois?

Kujawab dengan pasti, hal itu ada terjadi dan nyata!

Baru beberapa hari lalu kuajak bicara anak-anak yang terkenal sering berbuat onar itu. Usut punya usut ternyata mereka bahkan tidak mendapat pulang yang nyaman di rumah dari kedua orang tuanya.

***

Fagfirlii Ya Robbi ....
Semoga Allah kuatkan hati dan pundak orang tua kita dimanapun berada. Untuk menjadi orang tua yang penyayang dan amanah.

Semoga Allah mampukan juga, kita sebagai anak-anak untuk menjadi anak-anak penyejuk hati orang tuanya.

Aamiin YRA.

Semangatlah

Sendirian bukan berarti tidak punya teman. Hanya saja ia sedang berusaha mandiri tidak ingin merepotkan teman-teman yang mempunyai kesibukan.

Sendirian bukan berarti tidak mampu bersosialisasi dengan banyak teman, hanya saja baginya ia lebih nyaman bertan dengan ketenangan.

Tidak suka terlalu berbasa-basi. Barangkali itulah alasannya. Ada kalanya, ia sendirian. Dan itu bukanlah suatu kehinaan.

Bukankah kita tidak pernah benar-benar sendirian?
Ada malaikat-malaikat, ada Tuhan yang senantiasa bersama kita.

Sendiri ataupun berdua yang mana saja yang membuatmu tenang dan bahagia. Berfokus pada tujuan. Maka, pilihlah pilihanmu. Kamu berhak bahagia. Saatnya nanti, sedih dan perihmu akan diganti.

Bersabarlah, Allah bersamamu. Akan ia kirimkan banyak keberkahan dihidupmu. Tersenyumlah, semangatlah .... :)

Pahamilah

Cerbung Part V: Paijo, Tukiem, dan Surti.

"Halo, Paijo ..... Besok jangan lupa datang ke wisuda aku yaaa." Teriak Surti begitu sumringah lewat saluran telepon.

"Hah yang betul kamu, Sur. Sudah selesai kuliahnya?" Jawab Paijo tak kalah senang.

"Betul, Jo. Aku jadi wisudawati tercepat dan terbaik lulusan."

"Alhamdulillaah .... Oke, oke besok gue datang, Sur. Kebetulan gue lagi di Indo ngurusin nikahan gue sebulan lagi."

"Loh, loh .... Lu udah mau nikah aja, Jo. Ngeduluin gue sama si Tukiyem dong Lo. Curang nih. Etapi gue ikut seng, Jo. Serius. Lancar ya nikahannya."

"Iya, Sur. Makasih ya. Syukurnya gue juga udah keterima di perusahaan minyak di Jerman nih. Jadi nanti mau tinggal di Jerman aja sama anak istri."

"Wah, Lu keren banget dah, Jo. Selamat ya. Terus terus istri Lo mau ngapain ikut Lo disana?" Tanya Surti makin penasaran.

"Istri gue ya nemenin gue lah. Dia kan juga pinter ngajarin anak-anak tuh sama punya online shop  gitu. Ya, dia ngurusin gue sama anak gue nantinya. Terus jalanin hobinya itu deh. Yang penting dia seneng." Jelas Paijo mantap. Eh eh gimana itu si Tukiem dia bisa lanjut kuliah lagi?"

"Setahu gue sih bisa bahkan dia sekarang lagi pusing nyusun skripsi katanya hahaha. Nggak nyangka yah dia tukang molor di kelas akhirnya bisa sampai mau selesai juga kuliahnya." Ucap Surti sambil tertawa.

"Eh lu jangan salah, gitu-gitu dia juga cerdas otaknya. Punya bakat itu dia."

"Bakat apa, Jo?"

"Bakat molor tapi tetep pinter hahaha."

"Lu ada-ada aja, Jo. Yaudah besok datang yah ke wisuda gue. Tukiem juga gue suru datang. Nanti kita reunian." Seru Surti.

"Oke-oke, sekalian kita lunasin janji kita. Meskipun jauh tetap jaga persahabatan dan sukses bareng-bareng."

"Eh bentar-bentar ada WhatsApp masuk nih dari si Tukiem. Katanya dia Minggu depan bakalan sidang skripsi." Ucap Surti sambil membaca pesan di ponselnya.

"Alhamdulillaah ....  Kita bisa sukses bareng-bareng, Sur. Yaudah besok kita ketemu yah. See u. Dandan yang cantik yah besok, Sur. Ntar gue bawain bunga, bunga bangkai." Tukas Paijo.

"Sialan Lo, Jo."

***

Begitulah percakapan mereka beberapa tahun kemudian setelah melewati perjuangan dan didikan keras dari orang tuanya. Akhirnya, meskipun kepayahan mereka bisa sampai ke cita-cita dan tujuannya masing-masing. Jaga persahabatan dan sukses di masa depan.

Paijo, Tukiem, dan Surti.

~ The End.






Cerbung Part IV: Paijo, Tukiem, dan Surti.

Sekarang cerita Surti, di awal sudah kukasih tahu kalau Surti adalah seorang anak gadis dari keluarga sederhana namun memiliki ayah yang sangat sayang dan mendidiknya dengan tegas.

Rupanya, di kota yang berbeda dengan Tukiem dan Paijo. Ia pun sudah berkuliah sambil bekerja. Namun ternyata, di kerjaannya itu mengharuskan bekerja full dari pagi pukul 08.00 sampai dengan pukul 21.00 malam. Ia keteteran membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Ditambah badannya yang ringkih dan mudah sakit-sakitan.

"Pak, Surti mau berhenti kerja aja. Surti mau pulang kampung. Surti capek kerja disini, Pak." Curhatnya di telepon sambil menangis kepada Bapaknya.

"Mau jadi apa kamu kalau pulang kampung, Nduk. Disini kamu nggak bisa kuliah. Bapak nggak bisa biayai kamu. Yang sabar ya, Nduk. Kamu harus kuat. Bapak nggak akan izinin kamu pulang kampung sampai kamu bisa lulus kuliah." Bapak Surti menanggapi dengan lembut namun tegas.

"Surti nggak mau, Pak. Surti sering sakit gara-gara capek bekerja dan kuliah. Surti nggak usah kerja disini aja."

"Loh loh ... Kerja disana kan udah enak, Nduk. Bosnya baik-baik sudah seperti orang tuamu sendiri."

"Bapak nggak tahu, aku disini kerja keras pagi sampai malam. Sampai waktu istirahatpun masih saja suka dihantui kerjaan."

"Yang kuat, Nduk. Demi kuliah dan masa depanmu. Kamu kan anak Bapak yang kuat, tangguh. Sudah dulu ya. Assalamualaikum." Tutup Bapak Surti.

"Yah, Bapak ....." Surti kecewa kemudian berteriak sekencang-kencangnya meluapkan kekecewaannya.