Senin, 17 April 2017

My Sweety Couple

Aku mendengar sayup suaramu dalam berbagai bahasa yang kau terjemahkan dalam irama malam, sunyi, senyap, sepi, syahdu, sendiri, dalam sebuah ruang rinai remang yang tenang.

"Fit ...."

"Iyaaa  ..."

"Sehat ...?"

"Alhamdulillah sehat ..."

....

Singkat. Waktu alam saat itu, membuka percakapan kita lewat dunia maya. Yah, kita dua dara sedarah tapi terpisah karena sedang mengukir sejarah.

Satu persatu jalanan berkelok itu kita lewati, meski dengan terseok-seok. Akhirnya engkau sampai di titian impianmu. 

Selamat berjumpa, dengan waktu yang menjadikanmu keajaiban bagi insan. Aku menyerah parah, kala disandingkan denganmu. Apalah aku, adik tak punya malu hingga belum memberikan bakti terbaik pada Kakak yang tulus nan cantik.

Sampai berjumpa, dengan jiwamu yang telah berbeda dengan masa yang lampau. Ribuan bahkan jutaan hari, aku kehilangan momen-momen bersamamu. Saat aku tertawa renyah, saat engkau menangis parah, saat alam tersenyum ramah, saat bumi teredamkan amarah.

Lupa. Atau bahkan hilang tak berbekas. Kita hanya bertemu di sisa-sisa persimpangan waktu yang masih tulus hati untuk memberi ruang kebersamaan pada kita; dua insan yang sama-sama saling merindui dalam ruang yang tersekat oksigen dan wangi tanah.

Ah, tidak. Mungkin hanya aku yang terbawa perasaan parah. Kala rapuh dan kerinduan menggerogoti kepolosan jiwa. Aku lemah, hingga kau pantas bergumam menahan amarah; melihat kelakuan adikmu tak kunjung dewasa dan mandiri dengan segala pasrah.

Aku masih ingat, segala kerling cinta yang kau titipkan pada bumi untukku. Pada untaian aksara, engkau menitipkan rindu dan harapan tak semu. Aku menemukan rasa itu tumbuh dari dalam bathin yang tidak biasa. Ia hadir dengan melewati proses terseok jalan berkelok lalu mapan menjelma pada jiwa yang tak mudah berbelok.

Aku kehilangan ribuan momen itu. Aku tak ada, saat kau merapikan kenangan pada lemari bersejarahmu. Aku tak ada saat kau berhujankan keringat, meronce peradaban. Aku tak ada, saat kau membangunkan adik menuju kemaslahatan. Aku tak ada, saat kau sakit terkapar di rumah sakit. Aku tak ada saat kau sesak menahan pedih dan jerit. Lukamu parah, tapi kau sungguh lebih egois dan parah. Tak pernah kau ingin berbagi segala gelisah dan resah.

Saat pandang kita bertemu dan bertamu, seolah semua tak pernah parah. Semua baik, semua sehat, semua lancar, semua tak perlu aku risaukan dalam resah. Kau sungguh penipu yang ulung! Bahkan aku tak pernah tahu rasa sesungguhnya yang menghujam bathinmu, merakit kehidupan dengan bertumpu pada kaki hebatmu.

Aku, tak pantaslah kau sebut adik. Entah adik macam apa, titel yang pantas kau sematkan pada orang tak tahu diri ini?

Jika engkau memberi seribu, bahkan aku baru mampu memberimu secuil dari angka satu. Jika engkau telah mampu memberi teladan dengan berlari, bahkan aku mengikutimu dengan merangkak nyeri. Ah, makhluk macam apa aku ini, Kak?!

Cinta adalah untaian yang tak sempat engkau ucapkan pada hari-hari diliputi kerinduan. Engkau ungkapkan pada kalimat damai, yang menuntunku kepada-Nya. Saat dua rakaat salam, usai kita laksanakan. Engkau disampingku, mengenakan kain putih berenda untuk sebuah ritual penuh keagungan.

Perempuan bermata teduh, bertubuh mungil nan wibawa. Dalam imajiku engkau bersayap laiknya bidadari bermata temaram. Memayungiku dengan sayapnya yang hangat, lalu membasuhku dengan nasihat indah, memberiku bekal mutiara hingga aku pergi ke ujung dunia pun. Untaian sayap dan mutiaramu, membersamai setiap perjalanan dalam keriangan.

Cinta adalah kala engkau dibuat marah, berteriak lantang tak karuan arah, saat aku sulit sekali engkau bangunkan untuk melaksanakan shalat di penghujung malam ataupun petang. Cinta adalah saat kau tersenyum ikhlas, membiarkan baju-baju barumu yang bahkan belum sempat kau pakai, aku ambil dengan riang hati tanpa memikirkan dirimu sendiri.

Cinta adalah saat kau dan aku berjalan di antara pematang sawah, menceritakan bunga-bunga bermekaran, lalu ada yang layu bahkan kuyup. Saat ikan-ikan tahu, engkau tersenyum melihat kepolosanku. Tapi menangis terisak saat  membelakangiku. Pikiranmu tak henti berjalan dalam deru kecepatan yang tinggi, entah bagaimanapun caranya biarkan cahaya Illahi sampai masuk memenuhi segala sendi dan ruangan rumah keluarga asri kita.

Kini, engkau dan aku sudah berbeda. Kau sudah melakukan perjalananmu dengan baik. Hingga sampai di muka gerbang dengan selamat, lalu siap membangun istana bersama pangeranmu tampanmu.

Ah, aku sangat bersyukur. Hadiah dari Tuhan untukmu, menyemai haru dan bahagiaku hingga tak terukur. Selamat menempuh hidup baru, tolong jaga Kakak terbaikku, yyaa kakak ipar.

Dan aku masih disini. Hendak meneliti dan menguliti setiap jejak yang telah kau semai. Aku ingin mengikuti setiap teladan hidupmu.
Hingga kita tak lagi akan terpisah jarak.

Hal yang membuat aku sedih adalah saat aku berfikir apakah nanti kita akan bersama di syurga kelak?!

Ah, aku sangat berharap kita akan berkumpul bahagia dan bersama-sama lagi. Keluarga adalah permataku. Tempat pulang dan harapan terbaikku. Titip aku dalam doamu.
Begitupun, kita akan tetap saling memupuk tulus sayang dalam doa di hening malam.

Selamat menempuh bahagia, kini kalian sudah resmi menjadi kekasih idaman. Yang bersabar dan bertahan melawan segala godaan, hingga sampai di penghujung penantian. Kalian, selamat melewati proses sakral tanpa ternodai pacaran sebelum halal.

Selamat menikmati hari-hari yang akan penuh nano-nano, yang membahagiakanmu, lalu membasuh setiap luka, yang pernah Tuhan titip untuk menggunungkan kesyukuranmu pada-Nya.

"Aku bahagia dan mencintai kalian, hingga kata tak sanggup mengungkapkan. Bahkan alam dan insan pun, cukup tahu dan mengangguk paham."

No one can describe how I am happy to have u, how I am proud to u. How I am be thankful have this sweety couple. 💚




20 komentar:

  1. Waah... diam2 kaya diksi nih dek fitri, kalo sy pnya adik beginian mah udah nangis bombay dikasih ucapan sprti ini, huhu terhura...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi Kak ...

      Kak Karhien juga Kakak kece datarku πŸ˜™πŸ˜‡

      Hapus
  2. Waah... diam2 kaya diksi nih dek fitri, kalo sy pnya adik beginian mah udah nangis bombay dikasih ucapan sprti ini, huhu terhura...

    BalasHapus
  3. Ih keren pisan teh... Diksinya asik, tadi dikirain fiksi yang kakaknya meninggal :)
    Cepet nyusul kakak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi bunda Mae ...

      Aku juga suka tulisan-tulisannya bunda.

      Aamiin ... 😁

      Hapus
  4. Mbak fiit, mataku berkaca-kaca membaca ini 😭

    Semua isinya mewakili perasaanku. Kita mmiliki kebiasaan yang sama, memakai baju baru kakakku tanpa memikirkan perasaannya. Kakakk itu seperti ibu kedua yang kecerewetennya menyiratkan perhatian yg sering aku sepelekan. Dia sosok yang aku rindukan diam-diam.

    Tempat keduaku berkeluh kesah saat aku tidak berani berkisah pada Ibu. Thanks mbak fit udah nulis ini. Aku terharu 😭

    BalasHapus
  5. Sama-sama Mbak Anik ... *πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™

    BalasHapus
  6. Wikwik ka... mantab eee ... mantab ngeets tulisannya ...

    BalasHapus
  7. Kereen... Sudah lama tahu orang Sunda romantis-romantis. Secara, hampir menikahi gadis Sunda dulu.

    Tapi, baru tahu lebih romantis kalau di tulisan... Hehehe

    BalasHapus
  8. Kereen... Sudah lama tahu orang Sunda romantis-romantis. Secara, hampir menikahi gadis Sunda dulu.

    Tapi, baru tahu lebih romantis kalau di tulisan... Hehehe

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Senangnya punya saudara yang saling menyayangi ^^

    BalasHapus
  11. Masya Allah...Kaak fitri keceh diksinya...tumpah2 euyyy^^

    Maniiss...kloo gitu saya si kakak yg dikasih tulisan ini, huahh tambah sayaangg hihihih^^

    BalasHapus

Silahkan berkomentar dan mari berdiskusi sehat. Terima kasih ... :)