Senin, 13 Maret 2017

Gue Nggak Percaya Sama Yang Namanya: Cinta Pertama!

"Gue nggak percaya cinta pertama."

"Sampai kapanpun gue nggak percaya sama yang namanya cinta pertama."

"Nonsense."

"Biasa saja. Datar. Kosong. Hampa. Tak berguna. Hahahha."

Tertawa kecut, sampai puas, mendengar kata cinta pertama.

Okeh, izinkan aku bercerita tentang dua buah kalimat fenomenal  yang kata orang akan selalu terkenang dan paling berkesan. Ah, nyatanya aku nggak. Biasa aja. Entah mungkin karena sudah terlewat.

Miris banget yaaak. Hahahha

***
Masa SD, ceritanya beberapa anak cowok sepertinya lumayan tertarik sama gue. Haha pede abis. Ya gimana nggak?

Kalo nggak salah ada tiga orang cowok yang menunjukkan gelagat ketertarikan. Sampai-sampai temen sekelas bahkan sesekolah tau.  Orang pertama awalan namanya, D. Dia manis, ganteng juga lah. Terkenal seantero sekolah.

Gue tahu dia suka sama gue itu, karena temen deketnya bilang.

"Fit ... fit ... tuh si D suka sama kamu. Beneran. Kemaren dia bilang gitu."

Okeh, udah alhasil gimana lah itu cerita cinta monyet yang lari-larian kalau di kelas pas istirahat atau sok sok perhatian gimana gitu. Ini memalukan kalau diingat. Hahaha
Beberapa lama selesai.

Terus ada anak baru dateng. Aku nggak terlalu perhatian sih sama anak baru itu. Ya, biasa anak cuek.

Eh, terus temen yang sama bilang gini," Fit, katanya tuh anak baru  suka sama kamu. Dia bilang kok kamu beda- manis katanya. Dia suka."

Singkat cerita. Gimana lah kamu bisa bayangin, cerita cinta anak kecil labil. Bunga kayak bermekaran di dada. Mengiringi setiap perjalanan yang dilewati. Mata dan hati berbunga-bunga terus setiap hari kalo ketemu apalagi tiap hari.

Selesai itu gue pindah sekolah karena udah lulus. Kita beda sekolah. Dan gue denger mereka punya pacar baru. Dan lebih kaget lagi, sekarang mereka udah married dan punya anak. Wkwkwks

Barakallah aja yak, teman-teman gue yang baik dan suka menabung itu. Xixi

***
SMP

Gue termasuk pelajar yang baik. Pembelaan. Wkkwkw
Fokus belajar, organisasi, bantu orang tua, dsb. Pernah ada beberapa Kakak kelas yang katanya 'suka', pernah lumayan akrab.

Bahkan pernah ada yang sampe nge-interogasi. Pagi-pagi, ketika temen-temen lain udah masuk kelas. Eh gue ditarik ke luar kelas.

Ditanya paksa, "Kamu suka aku?" Ish gimana sih dulu. Gue disuruh ngaku sesuatu yang bikin bingung. Cowok perawakan tinggi, Kakak kelas, pun terkenal aktif.

Hahaha gue cuma bisa senyum dan berkelit. Sumpah itu amit-amit banget sampe ditanya paksa gitu.

Dan sekarang mereka udah punya pacar dan kehidupannya masing-masing. Bahkan ada yang nggak tau sama sekali kabarnya. Miris.

***
Masa SMK

Ceritanya gue masuk PMR. Eh, ketua PMR nya suka dan dia nembak. Nggak lama sih, tapi lumayan beberapa waktu. Gue sempet merasa mendapat kebahagiaan dari seorang laki-laki. Dia perhatian. Baik. Dan care. Tapi, karena gue takut ngelanggar aturan dan durhaka sama orang tua alhasil gue putusin. Syukur banget gue selamat, karena setelah beberapa hari putus eh dia langsung punya pacar baru. Jalan bareng depan mata gue lagi.

Oke finish. Nyesek nggak?

Nggak biasa aja. Padahal mah perih waktu itu mh. Haha

Dari berbagai macam cerita itu. Gue emang pernah ngalamin yang namanya jatuh cinta. Ya, wajarlah namanya remaja melewati masa puber.

Pernah ngerasain kayak jatuh cinta setengah mati. Sampe cemburu tingkat dewa. Lalu, nangis malem-malem sendirian sakit hati karena pas udah gue mutusin liat dia sama cewek lain. Nyelekit. Hahah

Sekarang semua seperti lewat begitu saja. Kayak angin terbang. Ya, namanya juga cinta yang selewat-lewat alias semu kali. Mereka udah punya cerita hidup masing-masing. Dan ... Gue termasuk orang yang susah jatuh cinta.

Tapi sekalinya bisa jatuh cinta. Berarti bukan sembarangan orang yang mampu menaklukan hati gue. Wkwkkw

Apa kali.

Jadi, gue nggak percaya sama yang namanya cinta pertama. Gue percaya sama cinta halal gue nanti aja. Karena sesungguhnya cinta pertama yang benar-benar cinta adalah saat cinta itu dibingkai dalam ikatan yang Allah ridhoi. Meski tidak bisa dipungkiri, mereka semua pernah mewarnai hari-hari gue dengan bunga-bunga harum bertebaran.

Ya, makasih aja ya. Sudah pernah singgah dan jadi bagian di hidup gue. Kita lanjutin hidup, supaya jadi orang yang lebih bahagia dan lebih baik terutama di hadapan Allah.

***

And then, tak ada yang pernah benar-benar berbekas dan benar-benar menyentuh hati gue. Hingga saat tak terduga itu datang. Ya, mungkin memang benar. Bahwa seseorang yang berarti itu akan datang saat kita sungguh-sungguh memperbaiki kualitas diri di hadapan Allah.

Yap. Seorang yang seringai mata dan senyumnya mampu menembus kedamaian di ulu hati seolah memercikan air pada bathin. Sejuk. Dan setelah itu, entah berapa banyak laki-laki yang pernah aku abaikan. Maaf sekali.

Diantara mereka mungkin ada yang pernah menyatakan keseriusan. Sangat perhatian, dsb. Namun, mohon maaf. Hati benar-benar tidak bisa dipaksa. Kita jadi temen aja yaaak. Hehe.

Karena, saat ini yang paling penting adalah menjaga - serius belajar dan memantapkan diri untuk pemilik seluruh jiwa kita. Asyiiik.

***

Okeh, itu sekilas kisah tentang cinta gue. So, gue nggak percaya sama yang namanya cinta pertama paling berkesan, susah dilupakan, paling terkenang, dsb. Meskipun mungkin awalnya iya.

Tapi, selanjutnya waktu terus bergulir. Kita akan lebih baik, terus bergerak menuju kemajuan hidup yang dinamis. Menemukan orang-orang yang lebih baik atau menjaga cinta terbaik yang sudah ada. Sambil terus berikhtiar mendapatkan cinta terbaik dunia akhirat. Asyik. Haha

***

Thanks for reading. 😉💞

#Tantangan ODOP
#CINTA PERTAMA
#Fitriani Nurul Izzati story

Rabu, 22 Februari 2017

This is Me, with my weirdness

Assalamu'alaikum, sahabat ... 😊

Semoga sehat-sehat yaa. Alhamdulillah ...

Perkenalkan nama pemilik resmi yang bertanggung jawab terhadap seluruh isi akun blog ini adalah Fitri. Ya, Fitriani Nurul Izzati. Itu tuh yang orangnya kecil, imut, manis, so cantik so pinter gitu deh. *Timpuk aja orangnya pake bantal love atau bola salju 😂

Kelahiran Ciamis, 15 Juli 1995. Mojang sunda asli. Putri ke-5 dari pasangan terr ... romantis sejagat raya. Yang meskipun raganya telah dipisahkan dua dunia, tapi tetap mengabadi dalam sanubari disaksikan lambaian angin pada serumpun padi menguning. Ibu yang hatinya seputih salju, Siti Juariah (alm) dan Bapak gagah wibawa, Ahmad Baneji. Disaksikan oleh para malaikat,  penduduk langit dan bumi. Saaaaah.

Perpaduan dari kulit putih dan coklat sehingga menghasilkan sebentuk wajah gadis berwajah imut sawo matang. Namun, akhir-akhir ini semakin menampakkan cerahnya karena keseringan dilulur lumpur lapindo. *eh

Okay, ada yang mau minta tanda tangan atau mau tanya-tanya kayak artis di instagram yang pake tag #Askme? Mana mana mana, sini! Eh, nggak ada ya, yaudah! Hehehe

Hmmm, apalagi ya perkenalannya?

Hmm... aktivitasku sekarang, kuliah, ngajar, main, makan, curhat, sholat, baca, tidur, chatting, mandi, nulis, bisnis (pengennya), dan menebar cinta pada semesta. Asyik.

Aku masih mahasiswi semester 4, Fakultas Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang, Tangerang Selatan. Semacam makhluk yang tidak betah tinggal lama di kampung halamannya. Karena, pindah-pindah terus.

Dari kecil sampai sekarang berusia mendekati 22 tahun. Berpindah-pindah dari mulai tinggal di Perancis, Singapur, Turki, dan Mekkah-Madinah Al-mukarramah. Eh, Aamiinin bareng-bareng yaaaa biar bisa keliling dunia bareng suami dan keluarga nantinya. Wkkwkwk

Percayalah, kalian! Aku ini orangnya baik kok nggak galak nggak suka makan orang, jadi nggak usah takut ataupun malu-malu kalau mau kenalan atau jadi sahabat dekat dunia akhirat yaa. Tenang, tanda tanganku masih mudah didapat kok sekarang mah. *peace ✌

Ya, intinya aku seorang perempuan muda yang tengah beranjak usia dewasa awal. Dari zaman orok, SD, SMP, dst terkenal dengan sifat sensitif dan manja. Dibanding Kakak-kakakku yang lainnya Fitri/Pipit ini adalah orang yang paling mudah ngambek dan nangis. Tapi, itu dulu. Sekarang juga masih suka sih kadang, tapi udah insyaf. Heheeee

Aku punya adik tauuuuuuuu ... Adikku manis, cantik, baik hati, rajin menabung (ehm), dan juga tidak sombong. Aku seneng sih jadi Kakak, bangga banget malah bisa jadi seorang Kakak. Tapi, tetep aja sikap kekanakan dan manjaku kalau lagi kumat nggak mau dikalahin orang lain. Hhe I want to be my father's girl forever.

"Nggak ketebak, punya dunia sendiri, nggak sembarangan cerita sama orang lain, mudah dekat, setidaknya itulah kalimat yang meluncur dari teman sekamar dan sekerjaanku. Setelah aku todong pakai pedangnya goblin. *Eh nggak ding bohong haha

Ya, intinya mungkin itulah penilaian teman paling dekat yang ketemu dari mulai bangun tidur sampai mau tidur lagi.

Betul juga sih. Aku memang merasa tidak mudah berbicara banyak hal sama sebagian orang. Tapi, juga bisa dengan mudah dekat akrab sama beberapa orang. Itu sudah sifat yang aku miliki sejak kecil.

Jadi, mohon maafkan yaaa kalau ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan sikap atau perilakuku. Hehe udah kayak gini sih orangnya. Intinya mah pilih-pilih orang, pilih-pilih kata, mana yang disimpan mana yang dikeluarkan.

Mungkin, teman seasrama ku ini kadang merasa aneh dan bingung. Karena, aku jarang terbuka. Tapi tetap ceria. Tapi, tak apa ya. Mohon dimaafkan. Aku memang seperti ini.

Dan satu lagi - I am a moody girl. Mood nya kadang kayak rollercoaster naik turun. Bikin jantung nggak karuan, hati tak tertahan, dan wajah tambah rupawan. *Eh

Kalau mengerjakan tugas atau sesuatu, semacam nunggu wangsit dulu alias mood yang semeriwing bagus baru deh lancar mengerjakannya. Tapi, kalau lagi kepepet mah bisa aja sih jurus saktinya keluar. *criiing

Suka baca, suka anak-anak, dunia pendidikan, english, ekonomi, psikologi, dan bla bla bla ...

Setiap orang memiliki karakter unik dan kepribadiannya masing-masing. So, tak usah risau dengan memperbandingkan. Sibuklah diri dengan perbaikan dan peningkatan. Karena, tugas kita adalah menjadi rahmat bagi semesta. Bukan semata kalah-menang dalam pertarungan.

Jika aku sedang menjadi api, maka jadilah kau air untuk memadamkan panasku.

Jika aku sedang menjadi air, maka izinkan aku menyejukkan panas apimu. Damai di hati pun akan terasa. Hidup bersama dalam bahagia. *Asyik.

Dan satu lagi, aku adalah orang yang suka merapikan rak-rak kenangan pada bait-bait romantis dalam sanubari. Memorinya kuat melekat dan suka baper kalau ingat. Jangan heran kalau mudah cemburu lalu cepat taubat.

Tersimpan rapi  di bagian otak. Alias senang flashback dan belajar dari masa lalu yang terserak.

Udah ah ya, sekian perkenalan dari Fitri. Salam sayang bukan sekedar sayang tapi mampu membuat sayap melayang hingga ke kahyangan.

Semogaaaaa ... Aku (terutama) dan kita semua bisa menjadi kebahagiaan dan kebanggaan orang tua tidak hanya di dunia tapi juga di hadapan Allah kelak. Aamiin.

Mari saling mengenal dan memahami. Bersama satu cinta - pada Illahi ... Xixi

Kamis, 16 Februari 2017

T

Terima kasih sudah memilihku, dear.
Terima kasih sudah menjadi bagian paling berharga di hidupku.

Mendengar suaramu adalah obat bagi rindu yang menyesak dada. Lekas sembuh yah, dear. May Allah bless u 💚

Rabu, 15 Februari 2017

Sarapan dan Rincik Suatu Pagi

Pagi ini, seorang diri, aku tengah terduduk di kantin sekolah menghadap barat matahari. Menikmati sarapan dan gorengan ala kadarnya demi menegakkan tubuh menunaikan tugas laksana. Menerima seringai senyum manis diantara lalu lalang murid sekolah yang semangat menerobos basahnya bumi menjemput cahaya ilmu.

Keramaian hujan dari atap langit, tengah riang berlari-lari diantara kolong langit dan bumi. Juga, di lapangan sekolah tempat aku menghadap. Ia menceritakan tentang keangkuhan, kerakusan dan tekad mulia, kasih sayang dan ketulusan, perjuangan dan masa muda, etos kerja dan seni menikmati hidup, kikir dan syukur, disiplin dan berkejaran dengan waktu, pun tanggung jawab serta rasa damai bahagia.

Semua itu terbingkai dalam masa kejayaan yang masih tertinggal diantara bangunan-bangunan tua yang masih gagah menantang langit. Menarik elemen-elemen yang masih hidup untuk meniti kembali masa-masa gemilang diantara hiruk pikuk metropolitan; persaingan dunia pendidikan masa kini.

Hujan bak orang yang jatuh cinta katamu, hadirnya selalu di suka baik oleh yang tua ataupun muda. Ya, aku sependapat denganmu. Karena ternyata aku bukan hanya suka pada hujan, tapi hujan telah mengingatkanku - kamu itu indah, aneh, dan tenang. Dan aku rindu.

Ada ketenangan luar biasa ketika aku menuliskan rangkaian kalimat dalam note ponsel kali ini. Aku merasa telah melakukan pilihan yang baik. Seorang gadis 21 tahun. Yang masih ada sisi labil dan ragu dalam jiwanya, namun berusaha meneguhkan gegap langkah. Apapun yang terjadi, aku berhak menentukan arah hidup dan menemukan bahagia berdasar yakinku. Yang semoga - tak lepas dari pertolongan dan kasih sayang-Nya.

Untuk sebuah hal yang kusebut itu cita-cita dan mimpi. Tak sekedar mimpi, aku menaruh harapan besar pada setiap desir angin lewat tetes keringat lelah yang pernah tercurah. Semoga menjadi sebab bahagia, sejahtera, dan mulianya keluargaku dalam bingkai cahaya iman. Dalam setiap inchi jalanan yang aku lalui dengan peluh dan kaki melepuh - semoga menjadi bekal rindunya syurga bagi para generasi penerusku.

Islam dan pendidikan yang baik haruslah diperjuangkan. Betapapun kita kesulitan karena harus merangkak, tersandung, dan menderita. Oh, tidak! Percayalah kita tidak harus dan sedang menderita, kita hanya sedang dikasihi oleh penghuni langit. Mari, berjalanlah kepada-Ku dengan perjuangan tekad terbaikmu. Aku yang akan menuntunmu menuju kemuliaanku.

Percayalah, sedikit demi sedikit walau secuil demi secuil tapi itu pasti - akan membuahkan hasil bagi masa yang akan datang. Saat kau tak lagi muda dan digjaya. Mereka angin, awan, dan api akan mendatangimu dengan tunduk - atas setiap syukur dan niat yang sudah direka menjelma menjadi bahasa hidup dan mati yang membahagia.

Aku disini, masih menatap cucuran air dari genting yang memberi minum pot-pot kecil tempat tinggal bunga dan dedaunan tumbuh. Dahaga dan riang yang terpuaskan. Muda, berkarya, dan kaya raya - semoga. Jangan pernah takut, dear.

Kesuksesan dan kemapanan, berasal dari setitik demi setitik jalan yang dilewati. Pegang eratlah tanganku, aku percaya, kita bersama menatap dan memandang yakin ke depan - kita pasti bisa dan luar biasa.

Ayo, kerahkan energi terbaikmu untuk menebar positif bagi setiap detik kehidupan yang masih diberi. Merangkul setiap kebaikan untuk dijadikan bekal bagi masa depan. Merajut setiap bahagia dan damai bagi aliran denyut nadi syahdu selaras seirama. Berjalan bersama meniti kehidupan.

Bersabarlah untuk setiap proses. Semakin giatlah membangun pribadi baik. Berbagilah tanpa usah kau peduli rasa takut kehilangan dan tamak. Berjuanglah. Dan bertekadlah dengan yakin dan percaya - bahwa semua bisa kita lewati dengan baik. Setiap tantangan dan aral terjal itu akan meringkuk kesakitan dan bersorak sorai karena kita adalah pemenang.

Ya, kita adalah pemenang sejati dengan kuat dan tekad membaja di hati. Allah akan membantu kita. Aku percaya. Maka, tetaplah dengan niat yang baik dan mulia di hati. Jangan pernah menyerah, tak kenal lelah, semoga kebaikan dan rahmat-Nya senantiasa mengucur dari segala penjuru langit dan bumi bagi segenap penghuni alam.

Allah Yang Maha Rahman dan Rahiim, bersama kita.

Senin, 13 Februari 2017

NGOMIK with Taqy Malik dan Ustadz @Kamalique

Aku anak rohis ...
Selalu optimis ...
Bukannya sok narsis ...
Kami memang manis ... 😎

.....
.....
.....

Masih ingat dengan lagu itu, nggak man-teman? Yang dulu waktu di SMP/SMA/SMK-nya ikutan Rohis pasti tau ... 😚

***

Jadi, pagi tadi hujan menyerbu daerah Karang Tengah secara keroyokan, aku yang berniat akan mengikuti sebuah acara bersama teman-teman Alfaris (Alumni Forum Aktifis Rohis), sempat merasa ragu untuk hadir atau tidak, melihat cuaca sedang hujan deras.

Bergegas seperti biasa di pagi hari, akhirnya dengan kekuatan tekad dan mencari obat dahaga ilmu --- karena pekan kemarin kami tidak liqa dikarenakan guru kami yang mendadak sakit --- semoga lekas disembuhkan dan disehatkan selalu. 🙇 Aku pun pergi menuju tempat acara setelah sebelumnya melewati perjalanan yang alot, karena nggak tau lokasi tepatnya.

Alhasil, setelah bertanya ke beberapa orang yang ditemui; aku diantar oleh Bapak Ojeg yang baik hati sampai pula di tempat tujuan.

Mesjid Al-Hikmah, Perum Peruri, daerah Mencong. Ahad, 12 Februari 2017. Tepat pukul 08.00 WIB. Terlihat beberapa panitia menyambut para peserta yang hadir dengan ramah.

Desir halus itu kembali menyapa, cinta pada jalan dan ukhuwah ini. Aku kembali berada diantara barisan kalian meski dengan terbata menambal segala kekurangan diri. Namun, bersama di jalan ini, aku tengah menenun mimpi kembali --- Aku ingin lebih baik.

Setelah mengisi absen dan bersalaman dengan panitia akhwat, dengan percaya diri aku berjalan memasuki tempat acara mencari sahabat yang sudah lebih dahulu sampai.

Tampak lambaian tangan tertuju padaku, diiringi senyuman damai penuh khas ia. Mba Tri, rekan satu lingkaran. Mengambil tempat duduk, bersalam sapa melepas rindu, lalu aku segera fokus pada pembawa acara yang sudah memulai acaranya.

Tak ingin rasanya kehilangan satu momen pun, karena setiap gerik dan kegiatannya adalah pembelajaran berharga untukku. Setelah, ayat-ayat cinta syahdu dilantunkan dilanjut sambutan ketua panitia juga pembina. Kami yang berjumlah sekitar 215 orang, ikhwan dan akhwat dengan tempat duduk disekat, semakin asyik mengikuti acara.

Ice breaking dari Kak Irfan, pembawa acara yang selalu kocak namun serius mampu mencairkan suasana diantara kami, para peserta acara NGOMIK (Ngobrol Muslim Inspiratif dan Kreatif). Tertawa lepas, dan hanyut dalam suasana acara.

Beberapa menit dan hampir jam berlalu, diselingi menonton video tentang program kegiatan kece dari Alfaris dan perkenalan para pengurusnya.

Akhirnya, pemateri yang sudah ditunggu-tunggu datang juga. Sambil panitia mempersiapkan beberapa hal keperluan untuk pemateri, mataku mengekor apa yang dilakukan lelaki berperawakan sedang namun tampak penuh wibawa itu.

Ia melaksanakan sholat dhuha di dalam mesjid, di tempat yang cukup jauh dari peserta acara. Karena memang kegiatan kami di mesjid jadi lebih mudah untuk melaksanakan dhuha secara langsung.

Yes, materi pertama dari inspirator muda siap dihidangkan. Master of ceremony sudah mempersilahkannya.

Terpampang jelas lelaki berbaju kotak-kotak, baju kaos, dan celana jeans rapi, setelan anak muda gaul. Memulai dengan perkenalan.

Aku sempat berfikir, siapa anak muda ini? Setelan gaul dan kekinian. Mengisi acara training dan inspirasi untuk anak-anak yang notabene aktifis Rohis.

Hmmm ...

Sang moderator pun, menyapa dan memperkenalkan terlebih dahulu, pemateri muda kita ini. Ternyata dia adalah 'Ahmad Taqiyyudin Malik'. Biasa dipanggil Kak Taqy Malik. Kalian bisa ngepoin akun instagramnya, dengan search 'Taqy Malik'. Kelahiran Banjarmasin, 17 Juni 1997. Ia adalah salah satu santri dari pesantren Darul Qurannya Ustadz Mansyur.

Hmmm ... do u know, he is younger than me two years ago. Haha. So, aku makin penasaran dong apa sih kelebihan adik muda kece ini?

Tibalah ia, mengawali sesi materi pertama dengan ucapan syukur dan salam shalawat. Caranya menyampaikan materi kok terasa mengalir dan membius banget ya. Kita benar-benar dibuat asyik mengikuti dan mendengarkan setiap kalimat hikmah yang dilontarkan oleh Kak Taqy ini.

Taqy bilang," kita bisa berkumpul disini itu atas izin Allah, kalau Allah tidak menghendaki kita tidak akan bisa berkumpul di tempat yang mulia ini."

Then, u know?
Dia keren beud ternyata. Seorang pemuda penghafal quran, yang bisa menirukan 40 suara imam mesjid di dunia. Dan tahun depan, dia akan kuliah di Universitas Islam Madinah. Sudah mengisi berbagai sharing di berbagai tempat.

Ia memiliki motto "Bersahabatlah dengan Al-quran, maka Al-quran akan bersahabat dengan kalian di akhirat."

Masya Allah, ternyata tidak hanya di akhirat bahkan di dunia pun Allah menunjukkannya. Taqy Malik ini bisa keliling indonesia, berbagi inspirasi, tentang Al-quran, naik pesawat, kereta, dan mobil mewah -- gratiss dibayarin. Ucapnya penuh yakin.

Tidak hanya itu, ia langsung menantang dan mempraktekkan sendiri kemampuannya menirukan berbagai suara dari mulai maqam bayati, jiharkah, hijaz, nahawand, soba, dsb. Beliau bilang setiap maqam memiliki sifatnya masing-masing. Ada yang bertema kebahagiaan, kesedihan, kiamat, dsb.

Suaranya, masya Allah bikin adem dan tenang di hati. Beliau juga bilang, kalau kita menguasai minimal satu maqam aja pasti bakalan lebih senang dan betah baca Al-Qurannya. Dua jam mh nggak bakalan kerasa.

"Bersama Al-quran everytime and everywhere."

Setiap satu huruf yang kita baca dari Al-quran, Allah berikan 10 kebaikan di dalamnya.
Orang yang menghafal Al-quran (hafidz) itu adalah keluarganya Allah.
Allah akan memberikan seribu malaikat kepada orang yang berbuat kebaikan.

Taqy juga menceritakan, bagaimana ia bisa sukses berbagi seperti sekarang. Karena didikan orang tua yang cukup keras di rumah. Kedua orang tuanya yang notabene ayahnya seorang mubaligh dan Ibunya seorang pendidik lulusan IAIN. Misal, ia melakukan kesalahan ketika iqamat saat akan sholat berjamaah. Orang tuanya tak segan untuk mencubitnya.

Orang tua dan anak yang saling mendoakan, akan mendatangkan pertolongan Allah. Ia menjelaskan dengan memberikan contoh nyata dari kisah inspiratif teman-temannya.

Bagaimana, kita sebagai generasi muda islam harus siap menjadi pemenang bukan pecundang. Oleh karena itu, seorang pemenang atau The winner harus memiliki sikap kritis, rasa ingin tahu yang tinggi, pemberani, optimis, dan selalu percaya akan kebesaran Allah, memiliki target dan tidak ada waktu untuk berleha-leha.

Oh iya, di akhir materi ia juga menceritakan bahwa ia bersama dua kawannya: Muzamil Hasballah dan Ibrahim membentuk 'The bros team' yang akan melakukan beberapa proyek untuk membumikan Al-quran salah satunya akan dilaksanakan di Turki bulan depan.

Pamungkas sebelum ia mengakhiri, ia menirukan suara Ustadz Yusuf Mansur, persis mirip banget. Membuat kami yang mendengarnya tak kuat menahan tawa. Ia berpesan jadikan Al-quran adalah hobi dan kecintaan kita.

Huft, aslinya masih seru berbagi dengan Taqy Malik ini. Tapi apa daya, ia juga harus segera pergi lagi ke Bali untuk shooting.

Di selingi dengan lantunan nasyid akustik dari SMAN 12 Tangerang. Materi kedua dilanjut oleh Ustadz Abdul Malik S.E.i atau nama di media sosialnya @Kamalique.

Ustadz muda yang juga seorang pendidik ini menyampaikan kita sebagai anak muda di zaman ini nggak boleh terserang yang namanya: Kudet - Mager - Baper (negatif) pastinya. Kita harus selalu up to date, melakukan perubahan, dan gaul.

"Gaul, modis, dan tetep syar'i." Motto bekennya.

Gaul, jangan ketinggalan, modis tapi tetep syar'i. Yaitu gaul yang tetap mengikuti Al-quran dan hadits: pedoman paten kita dari Allah.

Tak kalah seru, di akhir acara sebelum duhur kita melaksanakan es krim party dan sharing asyik bersama Kakak-kakak mentor kece.

Dapat bertemu, saling mengenal dan melepas rindu, bersama teman-teman yang menularkan energi positif itu ... luar biasa ... sukses ... Allahuakbar ...

Selesai sholat dhuhur, doorprize, dan sesi foto pun. Aku bersama kawan-kawanku yang searah langsung pulang.

Eittts, hari ini aku berhasil mengurangi kecanduan sama ponsel lho! Hehe

Berniat ingin mengikuti acara dengan khidmat, aku sengaja tidak membawa ponsel dan menyimpannya di asrama. Dan hasilnya, aku tidak terganggu oleh godaan selfi dan balas chat ketika acara. Hehehe

Meskipun, akhirnya ada yang menggerutu karena seharian ponsel susah dihubungi. Karena emang nggak dibawa. Haha

Itu sekelumit ceritaku tentang Rohis, dan Ngomik.

Pokoknya Rohis berkah ... ayo mentoring ... dan gabung di komunitas-komunitas bermanfaat. Keren lho, daripada hari Ahad libur nggak kemana-mana atau malah jalan-jalan nggak jelas. Mending ikutan acara bermanfaat dan berkah kayak gini.

Alhamdulillah  ... see u ...
Wassalamu'alaikum warahmatullah ...
Izinkan saya turun podium, setelah bercerita panjang kali lebar. Kwkwk

Salam Manis Dari Gadis Manis

Aku merasa mendapat pekerjaan banyak ketika mendengar suaramu; mendengarkan dan mencintaimu tanpa tergesa.

Ya, mencintaimu adalah pekerjaan teragung, yang menyenangkan. Percayalah, seluruh sendi dan sel dari tubuhku ikut bersenang ria menyambutmu syahdu.

Hei, seseorang yang kusebut manusia penuh kharisma nan misteri.

Panah itu telak menghujam bathin terdalam tanpa sempat minta ampun. Tenggelam dalam lautan merah darah yang kusebut semangat hidup dalam rona cahaya yang tak pernah redup. Hidup dalam mutiara iman. Subur dan terus tumbuh menuju cahaya mentari.

Matahari dan penghuni langit tersenyum cerah dalam birunya yang memikat. Aku setangkai bunga yang tengah mekar merekah diantara taman-taman firdaus keanggunan; damai yang sulit digambarkan.

Salam dan selamat datang wahai manusia bersuara ikhlas. Pintu hatiku sempat terbuka dan tertutup untuk beberapa tamu yang ternyata tak betah bertahan lama berkunjung. Karena, Sang Maha Pemilik hati yang selalu menjadi tumpuan dan tempatku bergantung menunjukkan kuasa-Nya.

"Ia tak baik untukmu, hambaku sayang. Memohonlah selalu pada-Ku jangan pernah jemu. Aku tahu yang terbaik untukmu." Dialog jiwa bersama-Nya diantara sujud-sujud panjang damai merendah pada bumi, mengemis pada langit.

"Aku lemah, aku jalang, aku durjana, aku takut kau murka, aku hamba yang penuh hina dan cerca, aku pengemis yang tak tahu malu, bodoh, penuh alfa, dan masih saja tak tau diri meminta tanpa pengagungan yang sesungguhnya."

"Aku tetap meronta, Tuhan. Dalam hening-hening malam, masih saja mengetuk pintu-Mu. Tanpa memiliki pengabdian terbaik yang harusnya aku baktikan pada-Mu."

Lagi-lagi, aku ditampar oleh sebuah senyuman mesra. "Selamat, Dik. Kau lulus dan kuat! Menolak atau menerima berdasarkan petunjuk-Nya yang selama ini kau pinta dalam ronta."

Yang tak baik untukmu, ia akan tak betah sendiri hingga menunjukkan wajah asli tanpa kau minta ataupun kau paksa. Yes, are u the winner or the looser?

Dinding-dinding sukmaku, dibentengi berlapis-lapis baja. Maka, tak mudah untuk jatuh, pertahananku luruh tak mudah luluh. Jika kau mampu melewatinya, maka itu berarti kau adalah panglima sesungguhnya yang dikirimkan Pemilik langit untuk membersamai setiap perjuangan untuk ummat manusia bersama menuju negeri syurga. Istana yang ingin aku bangun bersama dalam selimut taat.

Sudah ku bilang aku jalang, maka silahkan saja kau cerca tanpa direka. Itu hakmu. Tapi, hakku juga untuk menolakmu. Aku berhak bahagia dengan pilihan-Nya. Tak nyana, kau benar-benar menunjukkan rupa tanpa sempat kuterka.

Sudahlah, aku bersyukur dan bahagia. Ikhlas untuk setiap praduga tak berdasarmu yang hanya mengikuti egoisme belaka. Semoga, manusia-manusia pilihan itu tangguh untuk menerima keputusan. Bahwa melepas atau memuliakan adalah konsekuensi dari hidup. Ayolah, kau bukan manusia cengeng dan pengecut bukan? Yang berani mencerca tanpa melihat cermin diri. Dan kau tahu aku adalah perempuan? Lemah? Tidak! Aku sang kuat! Meski tetap saja dalam sepi bathin teriris tak menyangka kau makhluk yang meninggalkan luka menghina.

Hahaha ...
Bolehkah aku tertawa dalam lekat doa semoga yang terbaik segera Allah kirimkan untukmu. Salam manis dari aku bunga yang akan tetap manis meski kau kirimkan sumpah serapah pedasmu. Karena, untuk satu hal sangat penting saja kau sudah kalah telak. Prinsip dan keyakinan yang akan menjadi pondasi kebahagiaan semesta.

Manusia-manusia yang hadir, aku ngilu. Maka, bahagia itu menjadi seperti Bunda Maryam dan Bunda Fathimah. Yang terjaga dan dicintai meski dalam diam. Tapi mewujud sampai mengguncang arsy kasih-Nya.

Mari saling mengerti dan memahami. Aku adalah perempuan yang memiliki hak untuk menerima ataupun menolak. Untuk menggunakan hak itu pun aku sangat berhati-hati. Takutnya tak membuat pemilikku senang. Maka, kau adalah makhluk yang diberi hak untuk memilih siapapun.

Tapi, mari saling berintrospeksi. Bahwa kaum kami adalah kaum yang mendambakan kemuliaan tidak hanya dengan sekedar materi. Namun, dalam kesederhaan pun selama imam kami mampu membimbing kami ke jalan yang dicintai-Nya. Kami akan selalu ada. Mendamaikan dan mencintai dalam tulus pengabdian Lillah. Maka, biarkanlah cinta yang tulus karena-Nya menjalankan tugasnya sampai tuntas.

Untukmu, seseorang yang kupilih dan selalu kugenggam erat. Menjagamu dalam doa ajaib adalah pekerjaan terbaikku. Semoga kita adalah benih yang akan menyemai cinta pada pemilik hakiki kehidupan. Menebar banyak wewangian pada asri uniknya hidup.

Dalam istikharah panjang, sekarang aku menemukan jawaban. Dalam merdunya irama suaramu, aku menenun yakin tanpa ragu.

Aku sederhana, tanpa istimewa. Namun, semoga bisa menjadi kado terindah untukmu. Mari berbahagia dan mengisi setiap waktu untuk membuat-Nya senang. Mari bimbing aku ya, Tuan. Kita belajar bersama-sama. Manusia berparas ikhlas dan mata yang meneduh tajam sanubariku. Aku memandangmu lekat dalam doa dan nyanyian sunyi, sepi, dalam khusuk pengabdian. Peningkatan kualitas diri bagi mulianya kehidupan. Salam manis dari gadis manis. Sampai bertemu merajut jari manis.

Sabtu, 04 Februari 2017

Sekat Api Cemburu

Mentari menyibakkan sinarnya pada peraduanku. Seorang gadis yang tengah berdiri seorang diri. Bersama angin sejuk yang menerpa jilbab biru langit kesayangan.

Di puncak, berkelingkan pucuk-pucuk hijau diantara dedaunan dan pepohonan yang rindang. Dengan dingin yang menusuk sampai ke ulu. Disini, di sebuah ruangan vila. Aku menerawang dari balik jendela yang bersih seolah tak ada sekat antara kaca dan dunia di luar sana. Hamparan pemandangan yang menjernihkan bathin; bentangan keindahan bumi yang sejuk.

Di sudut terpencil sebuah kota, yang jauh dari hiruk pikuk bising kota metropolitan. Aku berusaha memenangkan diri.

Kala itu, tepat pukul dua belas malam waktu indonesia bagian barat. Aku terbangun dari tidur, entah karena apa. Aku merasa pusing dan linglung. Mungkin karena kekurangan cairan atau pengaruh obat yang kuminum sebelum tidur. Aku segera meraih air minum yang terletak di meja samping tempat tidur.

"Hmmm ... pesan dari siapa itu malam-malam seperti ini?" aku yang tengah sibuk menelan air minum ke kerongkongan terhenti saat melihat ponsel menyala tanda pesan masuk.

Perlahan, aku menyelesaikan minumku. Demi memastikan seluruh rongga di kerongkongan terisi air, agar tak kekeringan. Kau tahu lah, baru-baru ini aku habis diserang sakit sebulan lamanya. Hanya gara-gara hal kecil menurutku, telat makan dan kurang minum.

Untuk itu aku harus menjaga dan memastikan, tubuhku tak kurang suatu apapun. Agar ia bisa bekerja dengan prima dan sehat tanpa kalah terserang sakit lagi. Aku harus begitu konsen, menjaga setiap asupan energi pada tubuh agar ia seimbang menjalankan fungsi-fungsinya. Ya, salah satunya dengan minum air yang cukup ini.

Aku tak mau kecolongan lagi. Karena sakit, aku kehilangan momen-momen berharga bersama rekan kerja, keluarga, dan kawan-kawan kampus. Karena sakit, aku harus menghabiskan banyak biaya untuk proses pengobatan. Dan karena sakit pula, aku malah merepotkan keluarga karena harus mengurusiku sampai sembuh. Kau tahulah sakitku lumayan parah, hingga hanya terbaring di tempat tidur dan hanya mampu sedikit melakukan gerakan. Dan aku tak mau kecolongan lagi.

Meskipun, aku bersyukur dan menyadari bahwa dari sakit aku diajarkan untuk lebih bersyukur dan tidak lagi mendzolimi diri sendiri. Karena  bersyukur atas pemberian Allah, maka aku harus menjaga pemberian-Nya itu dengan sebaik mungkin saat ini. Pikirku penuh semangat kala itu.

Selesai memastikan tubuhku tak kekurangan cairan sedikitpun. Lantas, aku meraih ponsel dan membuka pesan yang diterima beberapa menit lalu.

Prrrkkk ...

Ponselku jatuh tak berdaya. Aku limbung. Menjaga keseimbangan tubuh agar tak ikut terjatuh. Aku melipir ke sisi tempat tidur. Menahan gemeretak jari, mengepal mencoba menetralkan sakit pada bathin, pilu.

Aku tak percaya terhadap apa yang barusan kulihat. Seorang teman karib pacarku, mengirimkan sebuah foto berdua; seorang gadis dan dia, ia dia pacarku.

"Hei, Ra. Nih gue kirimin foto pacar lo lagi asyik maen sama cewek barunya." Pesan singkat disertai gambar bagai petir yang menyambar atap bathinku.

Di gambar itu nampak ia tersenyum bahagia tanpa merasa dosa. Di sebuah perkumpulan acara, dan mereka hanya berfoto berdua --- dengan gadis itu.

"Hhh ... dasar gadis kecentilan, ataukah kamu yang tega, dear?" Bathinku sedih.

Bahkan ia tak menjaga jarak, begitu santai saja tersenyum manis tanpa merasa dosa bahwa ada aku perempuannya yang akan merasa sakit kala melihat kalian seperti itu.

Coba kamu jadi aku? Gimana rasanya melihat orang yang kita sayangi, lebih dekat dengan perempuan lain saat aku tak ada disampingnya. Saat aku sedang berjuang seorang diri di kota orang, menjaga perasaan dan hubungan kita, menepiskan semua pria yang datang hanya demi kamu.

Kita adalah sepasang kekasih yang berada diantara sekat jarak. Ya, aku memang jauh darinya. Ia punya kesibukan dan urusan sendiri di tempat tinggalnya sekarang.

Pun aku, berada jauh dari jangkauan bahkan untuk sekedar bertemu.

Lalu? Apakah dengan alasan itu. Kamu bisa begitu tega, membiarkan gadismu ini tersayat-sayat menahan tangis dan perih melihat perempuan lain lebih akrab dan lebih dekat denganmu.

Bahkan kamu tak bercerita apapun tentang perempuan itu. Sebuah gambar yang menceritakan banyak hal, dear!

Perempuan macam apa kau ini? Tega berdekatan dengan pacarku tanpa merasa risih.
Hei, kau! Laki-laki apa kau ini? Tega membiarkan aku tersayat cemburu, melihat kedekatanmu dengan perempuan lain. Bahkan untuk sekedar menjaga hati perempuanmu saja kau tak becus!

Aku limbung. Ingin sekali teriak memaki tingkah mereka berdua.

Ternyata, tak hanya satu gambar. Aku segera membuka media sosial si cewek kurang ajar itu. Beberapa jam yang lalu, ia baru saja mengupload foto-foto kebersamaannya dengan lelakiku.

Tak hanya satu, dan bahkan di banyak acara pun mereka sering tampil berdua. Aku semakin geram akibat rasa penasaranku menelusuri setiap jengkal gambar yang ia upload di media sosial.

"Oh, Tuhan. Tak hanya satu. Ini banyak. Lalu? Selama ini? Kamu bilang lagi banyak acara di tempat kerjamu itu, ini buktinya. Iya?! banyak acara sama cewek nggak jelas dan beraninya merebut perhatianmu dariku." Aku menggerutu sendiri dan benar-benar menahan sesak panas cemburu.

Kalau saja ini bukan tengah malam, sudah kucabik-cabik perempuan di foto itu. Akan kucari dan kucaci maki ia. Supaya dia kapok, tak lagi kegenitan mengganggu pria orang.

"Kamu tega, dear. Kamu tega. Bahkan ia lebih mengenali dan lebih membuatmu bahagia dibanding aku, perempuan yang sudah merelakan sekeping hatinya hanya untuk menjagamu. Sosok laki-laki yang meluruhkan pesona manis, hingga aku bertekuk lutut tanpa daya atas satu kata: setia hingga bertahun lamanya."

Aku menangis sejadi-jadinya. Berteriak sekuat tenaga seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Terisak di tengah malam. Sepi. Sendiri. Menahan perih tak terperi.

***

Klik. Suara pintu terbuka dari seberang sana.

"Sayang, kamu disini toh? Aku cari-cari di rumah kok nggak ada?"

Aku tergagap. Beringsut, mengelap air mata yang menetes tak terasa. Menyembunyikan isak tangis yang spontan kulakukan kala mengingat hal itu.

"Eeeehhh ... Iya. Maafin Adek, Mas. Tadi nggak bilang, kalau lagi pengen ngadem di vila sini. Mas udah pulang? Kok nggak sms aku dulu kalau mau pulang lebih awal. Aku kan jadi belum nyiapin makan untukmu, Mas."

"Tak apa, sayang. Lagian Mas kan mau kasih surprise buat, Adek. Dengan pulang lebih awal tanpa bilang-bilang. Hee ..."

Ia berjalan ke arahku. Sesosok pria berperawakan tinggi sedang. Penuh wibawa, lembut, dan keshalihannya mampu melumpuhkan akal tertinggiku. Dengan kemeja merah hati dan jas hitamnya ia nampak begitu gagah.

Mendekat dan mencium keningku.
Aku pun mengulurkan tangan, mencium tangannya penuh takzim. Mata kami berpandangan. Dari sorot matanya yang sejuk dan tenang aku tak menemukan alasan untuk tidak hormat dan mencintainya. Ia adalah keindahan dunia yang Allah hadiahkan untuk membersamaiku hingga ke syurga-Nya.

Aku mengalihkan pandangan.

"Eh, Mas. Coba lihat deh, dari atas sini. Lewat kaca jendela, kita bisa melihat hamparan hijau perkebunan warga sekitar. Sejuk dan tenang." Ucapku manja.

"Iya, Dek. Nanti kita bikin rumah yang dekat sini aja, ya. Biar Adek dan anak-anak kita kelak bisa setiap hari menikmati keindahan pemandangan hijaunya."

Aku tersenyum tanpa kata. Ia memelukku dari belakang sambil berbisik.

"How I do love u, my dear. May Allah blessing u always."

"Terima kasih banyak, Mas. Untuk segala apapun kebaikanmu."

"Oh iya, happy first anniversary, my love. Now, 15 Jully is our anniv."

"Waaaah ... Iya, kok aku sampai lupa, Mas."

Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Sebuah mawar merah cantik dengan rona di wajahku yang terus memerah.

"Semoga pernikahan kita berkah dan segera dikaruniai jagoan-jagoan kecil pejuang kebaikan ..."

"Aamiin ...." Aku menerima mawar merah dari tangannya lantas kupeluk erat ia.

"Terima kasih banyak, Mas."

"Sama-sama, Dek. Semoga kamu bahagia."

***
Yah. Mas Khoirul adalah lelakiku kini. Lelaki sholih yang dengan keberanian dan niat baiknya, mendatangi kedua orang tuaku satu tahun yang lalu. Meminta agar aku menjadi penyempurna agamanya.

Tak ada alasan bagi kami untuk menolaknya, ia adalah lelaki baik, penyayang, dan penuh tanggung jawab.

Hingga tak berselang lama.

Kami saling mengenal lewat orang tua kami. Dilangsungkanlah pernikahan sederhana namun semoga penuh berkah.

Jika aku teringat dahulu, tentang kisahku dengan seorang laki-laki itu. Aku ingin tertawa dengan kekonyolanku menangisinya karena api cemburu. Sekaligus juga bersedih, betapa dahulu aku begitu lemah hingga terpedaya cinta yang belum halal.

Barangkali saat itu, Allah cemburu. Hingga aku merasa terpuruk begitu kejam. Aku begitu jahat, hingga lebih mencintai makhluk-Nya dari pada Allah. Aku begitu jahat hingga lebih mendahulukan mencintai lelaki itu, dibanding sibuk mencari perhatian dan mengemis kasih sayang-Nya. Hingga aku lebih sering merasa gundah gulana karena kehilangan kabar darinya daripada gelisah karena dosa maksiat dan kurang  khusuk beribadah.

Yang harusnya, sibuk belajar, memperbaiki pun meningkatkan kualitas diri sebagai seorang perempuan muslim. Aku malah lebih sibuk berdandan ria mempercantik diri untuk seorang yang kusebut; pacar.

Alangkah baiknya Allah, yang masih memberiku hadiah pasangan seperti Mas Khairul. Semoga cinta kami sehidup sesyurga.

Senja merona dari ufuk barat, menghiasi kebersamaan kami sore ini. Di hari ulang tahun  pertama pernikahan kami.

"Semoga tak ada cemburu lagi diantara kita; karena kita sama-sama saling menjaga dan saling percaya. Semoga Allah senang terhadap kita; karena kita adalah sama-sama pengemis yang mencari keridhoan-Nya. Untuk cemburu bodoh yang pernah kita lakukan, semoga Allah mengampuni kita." Doaku dalam bathin yang menghangat dalam pelukan.

Selasa, 31 Januari 2017

Misik Pada Bumi

Dia adalah sekat diantara nafas yang memburu. Terengah-engah berlalu tak karuan arah. Ia adalah kompas penunjuk jalan, kala logika buntu dimakan kalap tanpa gelap.

Dia adalah semerbak wangi kesturi pada duri diantara necisnya mawar yang tengah mekar. Kau akan tahu, dia akan rela tertusuk duri demi menyelamatkan mawar dari sengatan yang membuatnya layu.

Ya, ia adalah sosok misterius. Susah ditemukan. Sangat mahal pula harganya.

Kamu tahu?

Ia adalah emas langka yang sangat sulit kudapatkan di tengah-tengah kumpulan makhluk di zaman ini.

Kala diri, hanya sibuk dan asyik dengan dunianya sendiri. Lalu, ia hadir meruntuhkan paradigma berpikir: bahwa ternyata sosok itu masih ada.

Ya, ia adalah sosok --- rela berkorban --- tanpa hirau ia peluh ataupun lelah yang menjelma dan merasuk pada diri manusia. Ia makhluk penerjang pasrah.

Lalu? Dengan kedalaman rasa yang sakti menghujam pada bathinku dengan sosok itu. Mampukah kau sosok yang baru hadir menawarkan aroma yang lebih semerbak wangi diantara misik duniawi yang ada.

Ataukah hanya sebatas penghilang penat dan dahaga saja?

Kau: Sikap Rela berkorban. Sangat dibutuhkan, mendamaikan bumi manusia, dan melangitkan harapan pada semesta.

Izinkan aku menebar benih ajaibmu, menyemai asa pada hati yang mencari. Semoga kau, ikhlas dan bahagia tertanam kuat dalam jiwaku.

Hei sosok rela berkorban ...

Senin, 30 Januari 2017

Memar Pada Rongga Dada

Hari ini aku ditampar telak oleh seorang lelaki dengan usia dibawahku. Jujur saja, aku sering meremehkannya. Tak mempedulikannya. Menganggapnya nakal dan tak cocok berbicara denganku yang cenderung idealis dalam segala hal.

Gila! Manusia macam apa aku ini. Sombong dan tak punya hati kok nggak ketulungan!

Samar-samar aku dengar telpon berdering dengan nada yang cukup asing. Karena tak biasanya, ada yang menghubungi ke nomor ini. Sehubungan nomor ponsel ada dua, dan yang satu ini memang jarang digunakan.

Hmmm ...

Kutengok ponsel dan tertera nama kontaknya memanggil.

"Ah dia, untuk apa dia menelponku. Tak biasanya," Gumamku dalam bathin.

"Halo ... Assalamu'alaikum ..."

Terdengar sapa dari seberang. Lama aku tak mengeluarkan suara. Meneliti apa yang akan dia ucapkan.

"Wa'alaikumsalam ... Iya, ada apa?!" Jawabku ketus.

Nadanya terdengar bijak. Suara berbalut wibawa itu menggema di telinga.

"Hmm ... ada apa nih anak?! Kagak biasa begini, nelpon. Sok perhatian banget. Biasanya juga cuek aja." Aku masih terheran-heran sambil berdiri  memegang ponsel yang masih menunggu kelanjutan pembicaraan.

"Sehat toh? Gimana Mas Rifai sudah ada telpon belum?"

"Sehat, kok. Hm emang ada apa Mas Rifai?"

"Itu kan dia. Udah gue suruh buat anterin Lu, Mbak. Lu mau berangkat kuliah ke Yogya kan. Gua nggak tega lah biarin lu pergi sendirian. Berhubung gue nggak bisa nganterin, karena lagi sibuk kerja. Gue minta tolong dia, buat nganterin lu sampe ke pintu kos dan memastikan kalau lu baik-baik aja nggak kurang suatu apapun."

"Hhhh ... " Aku melongo.

Seingatku, aku tak pernah bercerita padanya tentang rencana keberangkatanku ke Yogya kali ini. Dari mana dia tahu?

"Oh iya, itu udah gue transfer uang buat kuliah. Kalau masih kurang bilang, jangan diem aja!"

Hah ... Darimana dia tahu, kalau masih ada kekurangan biaya transport dan kuliahku.

"Eh iya iya, makasih. Emang kamu sekarang kerja dimana?" Kali pertama aku melontarkan pertanyaan entah sebagai wujud perhatian atau penasaran.

"Sekarang gue kerja di perusahaan tambang di Malaysia. Lu yang semangat kuliahnya. Jangan sampe putus. Kalau butuh apa-apa bilang. Dengerin nih! Jangan dipendem sendiri aja! Awas, jaga diri. Belajar yang bener disana."

" Ehhh ... Iya iya ... kamu juga hati-hati disana. Jaga kesehatan. Jangan lupa sholat. Tenang, gue pasti bilang kok kalo ada apa-apa."

" Okay, take care lo disana. Kalau udah nyampe yogya nya bilang yaa ..."

"Okay ..."

" Yaudah, Assalamu'alaikum ..."

" hhh Waalaikum salam ..." Aku tergagap menjawab salam dengan pikiran yang masih terheran-heran.

Ponsel ditutup. Selesai.

Segera ku cek riwayat pesan.

Seminggu lalu, aku menghubungi ayahku yang masih kerja di Lampung. Untuk segera pulang, dan meminta bantuannya pindahan dan meminta kekurangan uang biaya kuliah yang cukup tinggi awal semester ini.

Tapi, aku cek lagi. Ternyata tak ada balasan sama sekali.

Sedih, kecewa telak memenuhi rongga dadaku. Ingin menangis, tak ada sama sekali wujud perhatian dan rela berkorban untukku sebagai anaknya yang tengah berjuang menggapai cita-cita. Berkuliah di universitas ternama di yogya.

Sementara dia, adik lelakiku yang sudah lama tak ku hubungi, aku asingkan dari  sudut hati. Dia sosok gunung es, beku. Dingin. Anak nakal. Tak cukup egoku meruntuhkan kalimat sekedar sapa padanya. Ia telah aku abaikan ribuan waktu lamanya.

Dan ia hadir, seolah memberi harapan dan lautan emas empati siap menyumbangkan pertolongan terbaik untuk mewujudkan cita-cita yang sudah sangat lama aku impikan.

Yah, ia lebih muda dariku beberapa tahun. Namun, rupanya otak dewasanya lebih baja menghancurkan rintangan hingga ia sampai pada pekerjaannya sekarang.

Huh ... Ternyata dewasa bukanlah soalan usia. Bukanlah soalan pendidikan tinggi. Bahkan ia yang hanya kuliah strata satu pun tak sampai lulus namun mampu membuktikan hebat dan empatinya.

Aku tak tahu bagaimana ia sampai di kemapanannya sekarang, bagaimana perjuangannya, karena yang aku ingat terakhir kali bertemu adalah dia sosok pembangkang dan tak punya belas kasih.

"Kau sudah berubah, Dik! Aku yang buta!

Minggu, 29 Januari 2017

Selasar Makna

Aku menerima tetesan merah darah, pada gurat nadi yang berdetak setiap detik. Mengeluarkan semburat jingga, pada semarak senja yang merona; cinta.

Cinta, aku tanpamu adalah lembu yang kehilangan arah. Limbung dan hampa. Aku nanar, lunglai, tanpa daya. Tanpa asupan nutrisi bergizi dari nurani yang tak pernah ingin menang sendiri.

Berhari-hari. Ribuan detik. Ratusan jam. Aku melewati waktu, dalam balutan kain indah yang dibungkus dalam kertas suci dan merasuk jauh dalam memori sukmaku. Itu berasal dari satu ikatan yang tak ada ujungnya. Lisan dan pelukan yang menenangkan. Mendendangkan lagu penuh irama. Menampar aku dari mimpi panjangku.

Hari ini, aku bertemu kau kembali; cinta yang terpancar dalam rona tenang mata air, berdiri,  membungkukkan badan dalam kesyahduan yang tiada kira menusuk bathinku. Aku dan engkau, cinta. Tersungkur dalam sujud panjang penuh isak. Dalam.

Aku tak tau, kedalaman bathin yang kau miliki. Namun, dari rona wajahmu aku menerka; kau bukan cinta biasa. Selasar makna itu menggunung himalaya. Mencabik-cabik logikaku terhunus pedang ketajaman hati yang kau tunjukkan lewat perjalananmu yang tidak biasa. Akar-akar tajam yang merintangi jalanmu mencapai tujuan itu, kekar kau taklukan. Hingga mereka bertekuk lutut tanpa daya; tekadmu membelah samudera mutiara lebih kuat dari aral yang menghadangmu.

Cinta, kau hadir membawa mimpi baru pada musim liburanku kali ini. Menyamai benih yakin, bahwa rasa yang hadir di dalam dada itu harus diperjuangkan dengan mengikuti perjuangan terbaik mendapatkan pertolongan dari Sang Maha Pemilik langit.

Aku menggumam pilu. Kau meresah syahdu, dalam hutan matamu yang menumbuhkan berbagai macam prasangka. Aku kalut, kau begitu raja membunuh kelemahanku.

Sampaikan salamku, pada riak malam yang telah mengantarkan diri ke tempat peristirahatan disambut senyuman mesra penuh pesona.

Aku selalu menanti hari-hari dimana kita akan bertemu. Bertemu dalam balutan yang tidak biasa.

Suatu sore dalam lingkaran penuh makna. Dalam senyum dan tatapan mata perantara cahaya Illahi.

Kau adalah lautan cinta dalam sosok-sosok jiwa yang mencabik-cabik kedalaman makna tidak biasa.

Sampai bertemu kembali.
Aku selalu menunggu, hari itu akan tiba kembali.
Kita berkumpul dalam lingkaran cinta.

Jumat, 20 Januari 2017

Sini, kembalilah! Renjana tengah memasungku, karenamu, Nak!

"Ada apa?" Tanyaku lekat dalam hati

"Kenapa mukamu manis durja? Tak kutemukan seringkali senyum mendamaikan seperti biasanya aku temui di wajahmu?"

"Ada apa?" Aku benar-benar membanting

Raut muka dan tatapan penuh benci itu, benar-benar menusuk, meremuk-remuk tiang-tiang kedamaian yang sedang susah payah aku bangun dalam istana --- hati.

Remuk redam. Aku ditusuk. Sembilu penuh ngilu. Memar, rasa dipukul telak tajam sampai ke ulu terdalam. Sesak.

"Ada apa?" Aku menatapnya kembali dengan tatapan memelas.

"Kenapa kamu tega berbuat seperti itu, Nak? Salah apakah yang telah kuperbuat? Hingga dirimu tak rela menyingsingkan senyum barang sedikitpun?"

Aku pilu. Dadaku sesak. Hingga aku berusaha mencari celah, menghangatkan suasana. Aku kembali riang ceria meski dalam bathin betul-betul sesak menangis menahan irisan pisau tajam yang sudah kau hujamkan pada sukmaku.

Aku mengoceh kesana kemari, mengundang gelak tawa si muka-muka polos nan manis. Tak hanya itu, tak hanya tertawa yang aku jadikan tujuan. Aku ingin sekali memupuk ketauhidan dan aqidah yang akan menancap kuat dalam bathin keimanan kalian. Kalian harus jadi generasi yang kuat. Kalian harus jadi generasi yang bermanfaat. Kalian harus jadi generasi yang penuh dengan cahaya; haus untuk selalu menuntut ilmu. Kalian harus jadi generasi pejuang; yang memperjuangkan kebaikan dan kesejahteraan orang banyak. Kalian harus jadi generasi yang penuh dengan rahmat dan sayang Allah.

Banyak sekali pikiran yang menyelubungi kepalaku. Kala berhadapan dengan kalian. Di pundakku, tanggung jawab itu terhujam. Aku mempunyai tugas menyampaikan, meluruskan, dan memberikan seberkas cahaya yang aku punya kepada kalian. Agar kalian kelak bisa menebarkan cahaya lebih banyak dari yang aku punya.

Mereka tertawa riang, bercanda ria, ramai dengan persahabatan dan cinta ala mereka yang membuatku gemas untuk memeluk erat mereka. Jadi, anak sholeh-sholehah ya, Nak. Semoga Allah selalu ridho terhadap kalian. Ah, rasanya sayang dan cinta kami ingin sekali kami luapkan semuanya padamu. Namun, kami harus bersabar melewati setiap tahap yang harus diikuti. Agar yang kami berikan tak hanya asal-asalan. Tapi berbekas lama dan abadi. Yang akan menuntun kalian, pada kebaikan dan kebahagiaan hakiki.

Selamat menikmati hidup kalian dan masanya yang tak akan terulang. Semoga kalian berjiwa iman kuat dan bahagia selalu.

Ah, mulutku sudah berbusa menerangkan ini itu. Mengajakmu tertawa dan bahagia dalam lingkaran penuh canda dan hangat roma.

"Ada apa? Kenapa mukamu tak lemas-lemas menurunkan durja?"

Jika aku bersalah, mohon maafkanlah. Tapi tolong jangan hukum aku dengan muram muka dan ketus ucapanmu, Nak.

Aku sakit dan sungguh sesak. Sungguh tiada banding. Serasa gelap dunia luruh pada seluruh sinaps di otakku. Serasa malam akan terus berlanjut dalam pekatnya, tanpa kembali melihat sang mentari cerah tersenyum padaku.

"Ada apa, Nak? Bicaralah padaku dengan baik? Tak ada niatku berburuk ucap. Kau tahu sayangku tak terkira untukmu."

Berhentilah bermurah durja, Ibu rindu senyum hangat dan celoteh cerdasmu. Sini, kembali ke pelukan hangatku. Aku Ibumu. Jangan kau siksa aku dengan gelap dan tajam delik matamu; membenci. Sini, bersamaku. Kita belajar banyak hal lagi. Tanpa perlu merasa risih ataupun risau. Aku akan selalu ada untukmu, menyayangimu dan berusaha yang terbaik untuk kebahagiaanmu. Semoga kebahagiaan hakiki itu kelak engkau dapatkan, Nak. Semoga kebahagiaan hakiki itu kelak kau dapatkan, Nak.

Bolehlah kau marah padaku. Bolehlah kau benci padaku. Tapi, itu berarti kau sedang mengulurkan pedang api tepat sasaran pada batinku. Merusak seluruh tulang penyangga tubuh; lumpuh. Aku lumpuh, lemah, remuk tiada daya.

Senyummu mampu mengalihkan duniaku, Nak. Tak usah kau muluk-muluk memberi berbagai macam rupa kesukaanku. Cukup. Senyummu mampu mengalihkan duniaku, Nak. Padahal sebelumnya angin ribut di kepalaku tak kunjung usai diterpa badai dan tsunami yang menerjang. Tersenyumlah, merajuklah. Senyummu mampu mengalihkan duniaku, Nak. Sini, kembali ke pelukanku, habibi.

Kamis, 19 Januari 2017

Belum Selesaikah, Tugasku!

Hari ini aku berhadapan dengan matahari. Menantang akar-akar yang berseliweran, kerikil, bebatuan tajam, yang besar-besar dan menyebabkan waspada dalam kehati-hatian. Aku menuruni jalanan yang curam, pun menaiki jalan bak tebing dengan kemiringan 270`.

Pergi! Kataku, pergi! Pergi! Ucapmu dengan nada amarah penuh kebencian.
Aku menurut saja. Meski sebenarnya, sungguh susah bukan kepalang melangkahkan kaki. Jika mengingat, jalanan terjal yang akan mengantarkanku pada tujuan.

Pergi! Kataku, pergi! Pergi!
Untuk apa kau disini, membelai lembut dan mesra diriku. Membuatku bahagia tiada tara. Sampai-sampai lupa bahwa kau lebih berhak untuk pergi dan berbahagia di tempat tujuanmu.

Pergi! Kataku, pergi! Pergi!

Aku mematung gagah penuh wibawa. Seorang gadis berbatik dan jilbab orange berhadapan dengan matahari, saat ini. Seringai senyum jahat aku tebarkan, pada pesona yang sudah kutinggalkan di tempat pemberangkatan.

Rasakan kau! Tak ada lagi yang akan melirik dan menina bobokan dirimu mulai sekarang! Hahaha
Aku rasa menang, digjaya jiwa bukan kepalang.

Langit biru megah, dihiasi awan cerah yang indah. Eksotis! Kataku masih mematung, memandang gerbang perkasa yang menjadi sekat antara aku dan sebagian bola matahari yang tengah bersinar memancarkan bias pelangi pada pagi hari. Bersahabatkan angin dan lambaian tangan si hijau yang bekerja sama memenuhi bumi.

Tinggi, pendek, semua membentuk bangunan sejuk  bak karya arsitektur tak terjamah dunia. Ia terkenal bahkan sampai pada dunia yang kasat mata.  Pemandangan yang kudapat saat terbang beberapa waktu lalu.

Terbang, saat ini aku tengah terbang. Kembali. Memerhati bumi. Megah. Bangunan menjulang. Dan aku yang menggagahkannya. Apa daya ia tanpa sinarku? Hah, kau akan redup!

Bangunan megah, embun menyelimuti gunung-gunung menghembuskan aura kesejukan, tiada banding. Dingin menusuk! Tapi tenang, ada aku yang akan setia kembali menghangatkan pagimu melewati jalan menuju sawah dan kebun di hutan rimba sana, Pak Tani! Ada aku yang akan mengaliri seluruh tubuhmu, tanpa risau tulangmu akan kembali remuk dan patah karena pekerjaan bertani yang cukup menguras seluruh sendi. Aku memperbaiki seluruh sumsum tulang dan melancarkan aliran darahmu! Meski aku juga kadang memanggangmu dalam panas terik di tengah sawah, menahan lapar dan membuat topi sawah kau kenakan meleleh di jidatmu yang menghitam. Gosong olehku! Ucap matahari.

Langit menjadikan bumi hidup dengan segala peralatan yang tersedia di alamnya. Aku, sang kuning yang kaya dengan segala manfaat. Bulan, bintang, langit yang kadang pekat kadang terang, dan awan yang eksotis menampilkan atraksi yang tak terduga seperti apa kelanjutan kejutan menawannya.

Ah, tunggu-tunggu. Bumiku rupanya tak berbahagia. Kenapa mereka bersedih, padahal langit dan aku setiap hari bekerja sama mempergantikan siang dan malam; agar mereka senang dan tenang.

Kenapa diantara mereka ada yang meringis, kesakitan. Memegang perut dan kepalan tangan yang melemah. Menguruti kepala yang pening, menahan dahaga.

Ah, rupanya kerjaku belum sempurna. Di awal pagi sudah ku usir kau dengan tamparan keras hingga kau berlari terbirit-birit. Hei, lemas malas yang memberangus isi kepala dan badan. Sudah kunetralisir semua virus dengan badanku yang semakin terang muncul ke permukaan bumi.

Tapi ...
Rupanya cahayaku, belum tuntas memberangus rasa lapar dan mengetuk nurani manusia untuk membagi bahagia; bahkan hanya sekedar roti penegak tubuh.

Kemanakah ia? Yang tadi kulihat berseliweran dengan mobil mewah, dan kendaraan-kendaraan waaah, memanen setiap rupiah.

Ah, tak apa. Aku hanya sedang mendekat pada Rabb-ku dengan perut yang hampa dari lezat dan sedap makanan dunia. Katamu, saat aku mengiba pada sakitmu.

Ah, Iya. Rupa takkan kembali digjaya. Untuk akhirat jangan sampai melupa. Biarkan ragamu terlatih memasuki alam kekosongan. Sampai kosong dan benar-benar kosong. Dan temukan kenikmatan ruhani yang tiada banding rasa. Digjaya aku digjaya! Matahari menatap bangga dan luka! Kenapa aku tak sampai menerka, kau sungguh rupawan hei pemuda dunia!

Karang Tengah, 19 Januari 2017

#ODOP_3
#Prosa Liris

Senin, 16 Januari 2017

~ Riak Harapan ~

"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Selama hidup denganmu 18 tahun lamanya, tak pernah sekalipun aku merasa bahagia. Kamu tak becus membuatku senang. Ceraikan aku sekarang juga, Mas," Teriak seorang wanita

Raungan tangis seorang gadis kecil terdengar, suaranya pelan.

Hening.

Ia kembali terisak, seolah sesak dan trauma mendengar teriakan di dalam rumahnya.

Di sudut pintu, nampak seorang lelaki perawakan sedang dan penuh wibawa tengah berdiri. Diam. Tak ada yang ia lakukan. Mematung dengan tatapan mata nanar. Tangannya berkacak pinggang sesekali mengurut kepala dan kulit wajah coklatnya.

Di sofa, nampak seorang wanita. Yang geram menahan kesal amarah. Ruangan berantakan. Piring pecah, letak kursi-kursi tak beraturan.

"Ceraikan aku, Mas. Ini peringatan terakhirku."

***

Suara jangkrik kembali bertalu dari kebun belakang rumah yang ramai oleh anak-anak bermain sepak bola.

"Ramai nian ... ah, mengganggu sekali aku yang mau tidur ini. Lebih baik aku berlindung ke jendela rumah itu." Keluh sang jangkrik menghibur diri

Kemudian ia melipir ke dinding jendela belakang rumah sang Tuan.

"Sulis ... balikin bukunyaaaaaa," Teriak Zahra dari dalam rumah.

"Nggak mauuuu"

"Balikin nggaaaaak???!
Balikin ... Sulis ... itu punya aku. Kamu nggak boleh baca. Suliiiissssss." Kesal Zahra semakin memuncak. Mukanya cemberut, merah padam. Sambil tangan berkacak pinggang.

Sementara, Sulis terus berlari mengitari halaman rumah sambil cekikikan melihat Zahra marah dan kesal karena kelakuan jailnya.

"Sulis, siniin bukunya, Hiks." Suaranya semakin memelas.

"Ye ye ye ye, nggak mau." Sulis malah semakin jail meledek Zahra sambil mengipas-ngipaskan buku merah jambu berpita hijau bertuliskan 'Zahra's diary'.

Entah berapa rahasia isi buku itu. Zahra, benar-benar tak mau buku itu diambil bahkan sampai dibaca orang. Termasuk Sulis adik bungsunya.

Ah, tak ada yang tak mungkin bagi cewek periang dan jail semacam Sulis. Ia bahkan dengan riang senang tanpa wajah berdosa mengambil buku diary Zahra, dan sempat membaca satu halaman di diary sebelum Zahra berteriak keras meminta kembali miliknya.

Zahra, adalah Kakak Sulis. Usianya 20 tahun dan masih kuliah semester 4 di jurusan akuntansi di UPI Bandung.

Sementara Sulis, masih berusia 16 Tahun dan tengah duduk di kelas 2 Aliyah. Berbeda dengan Zahra yang dulu mengambil sekolah umum, Sulis lebih memilih mondok di sebuah pesantren quran di Ciamis.

Pertengkaran lucu antara dua bersaudara ini tak bisa dielakkan ketika mereka berkumpul di rumah tatkala liburan sekolah tiba.

"Nih, aku balikin! Gitu aja kok nangis sih, Kak. Tenang, aku nggak baca semua kok. Cuma dikit," sapanya setelah lelah berlari dan mengganggu Kakaknya yang tengah terduduk di teras depan sambil menikmati pemandangan depan rumah dibelai angin nan sejuk.

"Huh dasar, adik paling baik dan gemesin alias ngeselin," Ketus Zahra

Kini mereka berdua duduk berdampingan. Dua gadis berjilbab manis lengkap dengan bros bunga hasil buatan mereka sendiri.

***

Halaman rumah yang cukup luas dan asri berlantaikan rumput negeri yang hijau, berhunikan macam-macam bunga; anggrek, mawar dan melati.

Ada juga dua buah pohon naga yang mulai berbunga dan berbuah. Konon bunganya mekar ketika malam tiba.

Teras depan dengan ubin putih berseri adalah tempat nongkrong favorit mereka, menikmati pemandangan depan rumah.

Zahra masih terlihat sendu. Dengan buku merah jambu di pelukan. Tatapan ke depan, ia asyik menikmati dunia pemikirannya sendiri.

~
Jika waktu mampu ku ulang
Maka, ribuan detik masa akan kuredam
Demi memberi kesadaran dan bahagiakan diri
Bahwa kamu tak perlu hadir membawa mimpi

Jahat.
Kamu hadir dan memberikan harapan
Melihatmu seolah menyadarkanku
Bahwa dunia itu penuh damai dan menyimpan; kebahagiaan yang tak semu

Bahagia itu tak semu
Karena dari senyuman dan matamu
Menjanjikan, ketenangan dan klimaks bahagia yang hakiki.

Hingga aku terjerat dalam mimpi --- yang tak pasti
Kidung asmara yang kini membara
Harus kuhapus tandus
Biarkan ia kembali sepi; mengiba pada Sang pencipta

Sampai bertemu, semoga kamu kembali.
Ah, salah.
Sampai berbahagia, semoga kita semakin rela
Pada takdir yang sudah direka

Dari desa di ujung embun, 13 Juli 2014.
~

"Aku membaca puisimu, Kak. Di halaman pertama diarymu. Tak lebih dan hanya itu. Maaf." Senyuman jail Sulis yang mulai insyaf itu mampu meluluhkan puncak amarah Zahra .

Senyuman gadis itu mengembang, ia menghambur ke pelukan sang adik.

"Jangan lagi-lagi ya. Aku bukan bermaksud tertutup sama kamu, Lis. Cuma ya Kakak belum siap aja buat terbuka banyak hal sama kamu, tentang isi diary itu. Kakak sayang kamu ko, Lis." Zahra merajuk

"Idih, Kakak gitu yah. Nggak mau terbuka. Puisimu itu bikin aku tambah penasaran tau, Kak. Ah, tapi sudahlah. Nanti kalau sudah mau cerita, pintuku terbuka lebar untukmu, Kakak cengeng. *eh hehe peace."

"Dasar adik jail dan ngeselin tapi baik hati dan ngangenin huh," Sergah Zahra

Mereka saling berpandangan dan kembali tertawa bersama.

"Ha ha ha .... "

Suasana rumah yang hangat dan nyaman, selalu menjadi tempat yang paling syurga buat mereka melepaskan rindu.

Kriiikkk ... kriiikkk ...
Suara jangkrik sang pendengar setia dari balik jendela.

"Hihihi ... adik kakak yang aneh," tukas jangkrik meledek

***

Tak tik tuk.

Suara sepatu kuda yang hendak mengantarkan penumpang ke tujuan ramai terdengar dari jalan aspal depan rumah,  mengiringi cengkrama mereka di teras di bawah rindang pohon rambutan yang tengah berbuah lebat.

"Liburanku udah selesai, Kak. Besok aku pulang lagi ke pondok. Sebenarnya di pondok itu cape sih, Kak. Aku harus bangun pagi banget sebelum shubuh.

Mandi ngantri, nyuci baju sendiri, terus harus setoran hafalan quran juga habis sholat shubuh. Kan itu lagi enak-enaknya buat tidur Kak, ngantuk. Hoaamzzz. Kalau di rumah kan enak tidur." Manja Sulis.

"Ya itu kan udah jadi pilihan kamu, Lis. Buat sekolah di Aliyah sambil mondok. Ya risikonya begitu. Tapi, kamu senang kan tinggal disana?"

"Yaaa, senang banget dong Kak. Seneeeng banget. Ya, meskipun kadang suka sambil ngantuk-ngantuk atau masih suka ngeluh dikit. Aku bahagia kok, Kak. Soalnya dengan begitu, cita- citaku buat jadi penghafal quran bisa tercapai."

"Heem, Kakak doain lancar tercapai cita-citanya."

"Aamiin, thank u Kak." Peluk manja Sulis pada Zahra.

"Hmmm, btw Kakak gimana kuliahnya?"

"Kuliah Kakak ... Alhamdulillah seru banget. Ketemu dosen sama temen-temen tiap hari. Berjibaku sama tugas-tugas yang bejibun. Kadang harus begadang, kurang tidur. Tapi, senang karena bergaul sama ilmu dan dunia pendidikan."

Dua tahun lagi, semoga Kakak lulus kuliah. Dapet kerjaan yang mapan. Lanjutin S2, terus nikah deh. Hehe"

"Ihh, masya Allah. Sukses ya Kak. Eh iya, Kakak emang masih deket sama siapa deh Hmmm ... Kak Ramdan itu ya ?"

"Ihh, apa deh. Nggak." Zahra salah tingkah  mukanya memerah.

"Apa jangan-jangan puisi manis itu tentang Kak Ramdan itu ya, Kak ? Hayooooo ... ngaku. Ntar aku bilangin sama Bang Irham lho! Biar Kakak cepet-cepet dinikahin sama pria idaman Kakak yang tampan, sholeh, baik hati, dan cerdas itu. Hayoooo, Kakak ngaku," Seru Sulis masih saja usil pada Zahra.

"Udah deh Sulis ah. Eh istri Bang Irham udah hamil yaa. Pasti beliau seneng banget. Apalagi dengar-dengar bayi di kandungannya kembar, Lis." Alih Zahra.

"Ihh kakak ngalihin pembicaraan. Eh tapi iya ya. Yeeee aku bakalan punya keponakan kembar. Uhhh seruuuu. Pengantin baru, bahagia banget. Pasangan serasi dan menginspirasi. Mereka menikah tanpa pacaran sama sekali. Nggak kayak Kakak tuh pacaran mulu?" Delik mata adiknya meledek Zahra.

"Ihh apaan sih, Lis. Nggak juga," bantah Zahra dengan keras. Meski jauh di lubuk hati, ia memang sedang berbahagia dengan mencintai seorang laki-laki yang sangat ia harapkan kelak menjadi imam terbaik di hidupnya.

"Benar-benar terjaga sekali ya. Eh, tau-tau Kak Ishita hamil kembar. Kapan kita jenguk mereka, Kak?" Mata Sulis berbinar-binar membicarakan tentang Abangnya.

Bang Irham, adalah Abang kesayangan mereka. Ia berusia 30 tahun. Sudah lulus S2 dengan predikat cum laude, dari sebuah universitas ternama di Australia.

Setelah Irham menyelesaikan pendidikan S2, ia bekerja sebagai dosen di salah satu Kampus  Negeri di Jakarta. And then,  ia mendapat jodoh orang Jakarta. Kak Ishita, wanita lemah lembut, cantik, nan berperangai baik.

Kini mereka berdua tinggal di Jakarta,  di sebuah perumahan yang tak jauh dari tempat kerja Bang Irham. Sambil merintis usaha makanan dan properti yang tengah digelutinya.

Pulang ke rumah orang tua yang di Sumedang ini, ya paling kalau lagi libur panjang saja.

"Nanti setelah sholat ashar kita telpon Abang ya, Sulis."

"Ayo, Kak."

Kumandang adzan ashar syahdu terdengar dari mesjid di kampung mereka. Bersama burung-burung camar yang  berlarian di langit biru dan cerah seperti keadaan hati mereka berdua.

***

Ada kemelut yang ia sembunyikan dalam semburat senyum dan gelak tawa bersama adiknya. Zahra memang benar-benar orang yang mampu bermuka dua

"Usia kamu udah cukup, Ra. Kamu udah seharusnya berfikir untuk menikah. Ibu sama Bapak sudah punya calon yang baik buat kamu. Dia sudah lulus kuliah, baik, dan punya kerjaan mapan," Seru Mamahnya di dapur sambil memasak opor.

Dan Zahra mendengarkan disana, sambil membuat adonan cilok makanan kesukaan sekeluarga.

"Iya, Ra. Gimana kamu tuh. Menikah muda di seusia kamu itu lebih baik dan terjaga. Apalagi kamu kuliah jauh dari Papa sama Mamah. Merantau nge-kos di Bandung. Apa kamu udah punya calon sendiri heh?"

"Ih apaan sih Mah Pa, ntar dulu dong. Aku kan masih mau fokus kuliah sama bebas menikmati masa mudaku."

"Ah, kayaknya Zahra udah punya calonnya Pah." Selidik Nadya; Ibu berwatak tegas tapi penyayang milik mereka

"Ih, Mama ... tuh opor ayamnya awas kematangan." Zahra masih saja selalu mengelak, jika membicarakan tentang hal itu. Ia masih belum mau terbuka tentang seseorang yang masih sangat ia harapkan.

***

Liburan sekolah sudah berlalu. Sulis sudah kembali ke pondok.

Sementara, Zahra masih ada jatah libur dari kampus dua minggu lagi.

Beberapa saat setelah Sulis pergi. Zahra iseng pergi ke kamar Sulis. Terlihat ia coba mengobati rindu yang masih basah pada adiknya.

Greekkkk ...

"Apa ini?" Buku usang berwarna biru berlukiskan dua gadis manis yang tengah tertawa riang.

S & Z

"Ah, Sulis." Mata Zahra berkaca membaca dua huruf manis bertengger di buku.

Bahasa lain dari cinta di bumi yang harus aku ungkapkan adalah pada adanya dirimu. Meskipun, kamu emang kadang ngeselin manja iseng nggak ketulungan. But u are love and mine, sista. Semoga aku masih punya waktu banyak membersamai dan melihatmu sebahagia itu," Angin membelai lembut wajah Zahra yang tengah bergumam penasaran untuk membuka buku berwarna biru itu.

Halaman acak ia buka.

"Hah." Ia menemukan kata menggelikan sampai membuatnya mual tapi bahagia.

"Tuhan, semoga Kak Zahra cepat nikah ya sama Kak Irham. Aku ingin melihatnya bahagia dengan seseorang yang sangat ia harapkan. Jangan cuma mengharapkan dalam doa dan diam aja kayak sekarang. Eh, lulus dulu kuliahnya ding. Eh, tapi nggak papa deh. Haha

Tulisan  polos dan semrawut yang sepertinya ditulis Sulis iseng tapi tulus.

"Suliiiisssss, awas yaaaaa kalau pulang aku ulek jadi sambal terasi pedas kamu," Gerutu Zahra menahan gelak kesal.

"Hmmmh ... harapan dan Irham. Adalah dua mata pedang yang terus menggerus nadiku hingga di titik ngilu. Aku gerah geram pada harapanku sendiri, hingga ia membuat mataku nanar. Penglihatanku kabur. Hatiku teriris, pada ketidakpastian. Ataukah aku harus menerima calon pilihan papa.

Papa dan mama, memang bukanlah orang tua kandungku.
Tapi, mereka adalah permata berharga dalam hidup yang Allah anugerahkan. Takkan pernah terbersit bahkan sampai terjadi --- hal yang membuat mereka sakit hati.

"Zahraaaaa itu bukan anakmu, Pah. Buat apa kau urusi dia. Di suruh nikah sama orang mapan dan tampan aja nggak mau."
Teriakan mama bagaikan kilat menyambar relung terdalam jiwa Zahra

"Jika ia tak mau kita jodohkan, tak usah kau biayai lagi itu kuliahnya. Biar ia cari makan sama biaya kuliah sendiri. Usah kau peduli. Dengar nggak mama bicara, Pah." Mama terdengar sangat murka membicarakan perihal Zahra

"Sudahlah, Ma. Besok juga nurut dia apa kata kita. Sabar saja lah." Papa berbicara tenang tanpa reka

"Mah, Pa aku memang bukan anak kandung kalian. Tapi, aku tak bisa menentukan pilihan begitu saja. Aku pun punya hak."  Lirih Zahra ia meradang, memar-memar pedih terasa semakin menusuk di sumbu batin.

Ia tersiksa menahan isak sendiri di kamar berdinding hijau dan merah muda itu.

"Tuhan, ini berat. Hatiku selalu saja sesak berat ketika mengingat hal itu. Badanku kurus kering kerontang, bagai kekeringan yang melanda hebat pekarangan dan halaman di terik panas raja matahari.

Sampai kapan aku harus berharap? Sementara ia belumlah siap dan mapan!

Haruskah menerima sedang hati masih dilanda kecelakaan; keraguan hebat melanda. Jika menuruti pilihan Mama. Hhhhhhh." Zahra melepaskan nafas berat tanpa aral seolah beban berat dipundak begitu menghujam.

Berkelebat wajah mama, papa, Zahra, Bang Irham, Ramdan, dan ... kedua orang tua kandung Zahra yang entah tak pernah peduli lagi keadaannya. Satu persatu seolah menari di alam pikiran.

Zahra merasa sempit di tengah harapan yang menyesakkan pada Ramdan. Ia adalah keturunan keluarga terpandang. Namun, kerendahan hati dan ketulusan yang terpancar dari manis perhatian juga tingkahnya sudah menanamkan asa yang dalam pada sanubari Zahra. Mengakar kuat, hingga seolah takkan pernah bisa dicabut bahkan dihancurkan sekalipun.

Mustahil!

Irham memiliki keshalihan yang mempesona. Gelagat wibawa dan lembut perangainya pada wanita bahkan mampu membuat Zahra luluh tanpa daya.

"Aaaaaaaaakkkksssss. Aku memang bukan siapa-siapa mama papa. Tapi 20 tahun berlalu, tidakkah menjadi bukti bahwa kalian dan aku adalah manusia yang memiliki ikatan takdir untuk saling menyayangi dan merasa saling memiliki sebagai keluarga tanpa sekat dan jeda. Mah, Pa. Dengan tak menuruti permintaan yang ini tegakah kalian melihatku akan menjadi gelandangan di tengah susah manusia mencari penghidupan apalagi aku masih berstatus mahasiswi dan belum punya penghasilan yang memadai. Bagaimana kuliahku Mah, Pa. Orang tua asliku pun sudah tak peduli padaku. Hiks

Beri aku waktu untuk menenangkan hati agar mampu memilih dengan jernih dan tak ada sesal di kemudian hari. Ah, bagaimanapun aku pasti akan mampu menentang arang dunia. Bukankah rezeki sudah terpatri dalam suratan lauhul mahfudz bagi setiap hamba yang bernyawa dan mau berusaha. Bahwa jalan keluar pasti akan terbentang bagi jiwa yang bertakwa. Hiks ... hiks ...." Sedu sedan batinnya mengoyak sesiapa yang tahu.

Namun nyatanya tak ada seorangpun yang tahu. Karena gerutu batin dan protes hanya ia gertakkan dalam percakapan dengan air mata dan jiwanya sendiri.

"Sebentar lagi kuliah masuk di semester baru, sementara biaya kuliah yang berjuta-juta harus dibayarkan sebelum liburan berakhir. Mama papa tak ada sama sekali menyinggung hal itu. Aku pun tak memiliki uang lebih. Kemana akan kucari? Sementara kuliahku bagaimanapun caranya harus terus berlanjut!" Zahra semakin tak karuan

"Ah, cengeng sekali kau Zahra. Baru masalah sekecil ini saja sudah membuat kau risau bukan kepalang. Dimana nurani dan imanmu hah?! Marah ia pada diri sendiri

Isak tangis bathin yang dalam membuat matanya sembab dan merah. Tisu putih menjadi saksi tak surut-surut air sungai yang keluar dari matanya.

"Kapan kau datang kesini, menemui mama papa dan meyakinkan mereka bahwa kau mampu membahagianku, Irham. Tidak adakah nurani lelakimu melindungi dan membawaku pergi bersama hingga tak ada sekat dan jarak antara kita saling memiliki dan memberi cap sah pada rasa yang sudah tajam dititipi."

"Kapan kau akan datang dan memberiku kepastian? Kapan kau tak hanya pandai berkata dan membuatku terpana namun juga mampu membuktikan pengorbanan cintamu, Irham? Atau kau tak usah kembali? Atau aku yang harus mengikhlaskan? Atau dustakah cinta yang selalu kau sesumbarkan?!" Kemelut batin Zahra menimbulkan ribuan teriakan.

***

Di belahan bumi lain, Irham sang sedang sibuk menyelesaikan target menguasai ilmu yang sangat disukainya. Ia sedang berusaha keras, untuk bisa mahir memahami ilmu takhassus dan filsafat secara bersamaan. Bukan hanya itu, Irham juga telah memiliki rencana meski tak pernah ia utarakan pada Zahra; bahwa setelah selesai ia belajar, akan segera datang pada keluarga Zahra untuk meminangnya.

Meskipun, ia belum bekerja dan memiliki penghasilan tetap. Ia tetap berkeyakinan dan optimis bahwa ia mampu bertanggung jawab pada Zahra. Selama ia bekerja keras dan mau berusaha."

Jarak antara lombok dan Jakarta. Dekat namun memiliki dinding yang tinggi luar biasa diantara mereka berdua; Zahra dan Irham.

Keduanya sama-sama saling mencinta. Sama-sama saling mengharapkan dan menaruh harapan. Namun, tak bisa saling berbagi kabar karena tuntutan keadaan.

Ponsel pun sudah seperti rumah sepi tak berpenghuni; mereka sangat jarang berkirim asa dan kabar. Hanya pada doa yang terselip pada waktu-waktu syahdu di setiap helaan nafas yang masih ada.

"Aku akan fokus pada belajar dan targetku, dan tunggu aku menjemputmu; Zahra," Gumam Irham menguatkan tekad menghibur kerinduan yang menyesakkan pada gadis berparas ayu nan manis lugu.

Wanita yang akan menjadi sangat periang dan memabukkan cinta bukan kepalang saat berada disampingnya.

Pun akan menjadi wanita yang sangat lugu, cerdas, bijak, dewasa, berwibawa dan dapat diandalkan saat bekerja sama.

Nyaman dan tenang bahagia luar biasa saat Irham berada di dekat Zahra.

Dua tahun bekerja sama dalam satu wadah organisasi semasa SMA-nya dahulu, telah menimbulkan harapan dan kenangan yang membekas dan sulit dihilangkan.

Tak banyak mereka bercakap bersama, hanya sesekali ketika kesempatan ada itu pun saat ada keperluan organisasi.

Kelebat senyum ceria Zahra, tetap saja masih sering mengganggu otak Irham meski mereka sudah lama tidak bertemu dan tidak berkomunikasi via apapun.

Kriiikkkk ... kriiikkk

"Ah, aku lelah melihat dan melihat kisah cinta kalian berdua. Hei Zahra, Irham!" Cemberut jangkrik di sisi pintu kamar rapi Irham.

***

Zahra berusaha mengakhiri tangis heningnya, saat satu pesan masuk di ponselnya.

Klik.

"Kak, aku mimisan terus udah dua hari ini. Kepala juga kleyengan sampai nggak ikut ujian sekolah. Aku belum bilang papa mama soal ini takut mereka sedih dan khawatir. Aku mesti gimana, Kak? Sakit di tubuhku entah kenapa makin menjadi." Zahra kaget bukan kepalang

Satu pesan berhasil ia baca di tengah jeda dan isak.

"Innalillah, Dik. Aku segera beritahu papa mama ya," jawab Zahra tanpa pikir panjang

"Pah, Mah ... " Zahra berteriak memanggil penghuni rumah. Ia berlari meninggalkan kamar berdinding hijau dan buku biru yang tergeletak rapi kembali

Belum sempat ia bicara. Ponsel Mamah berisik sekali menandakan telpon masuk berkali-kali dari tadi.

Kring ... kring ............

"Mah, ada telpon," Teriak Papa dari kamar.

Telpon Mamah berbunyi di kamar, sementara Mamahnya sedang mencuci piring di dapur.

"Iya, Pah. Bentar."

Bergegas Mamah mengambil ponsel, dering khas lagu kesukaan Mamah 'Muhasabah Cinta' berhenti saat telpon diangkat.

"Hallo, Assalamualaikum ..."

"Mah, Adek sakit. Pusing sama keluar mimisan terus. Udah periksa ke dokter katanya kurang hemoglobin. Tapi, kata dokternya suruh periksa lagi aja ke rumah sakit di Bandung. Jemput Adek ya, Mah." Kata Sulis tanpa basa-basi.

"Innalillah ... Dek, Syafakillah. Iya, Mama sama Papa  kesana sekarang."

Perjalanan Sumedang-Ciamis terasa semakin lama, selain jalanan padat merayap. Keadaan hati tak karuan pun menjadikan semakin sesak perjalanan yang ditempuh.

5 Jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di pondok, menemui Sulis dan akan membawanya ke rumah sakit di Bandung.

Di perjalanan dari mobil ke asrama putri. Teriak histeris putri-putri terdengar.

Mamahnya segera melihat kejadian.

"Sulis pingsan, Mah. Darahnya keluar terus. Tadi juga, setelah selesai sholat ashar dan setoran hafalan quran. Ia mengeluh sakit sampai-sampai tak sadarkan diri." Sambut seorang guru dengan sigap.

Mengetahui mobil Bapaknya sudah datang, Sulis yang lemah menahan sakit segera dibopong teman-temannya menuju mobil.

Tanpa ba bi bu. Teman-teman pun guru-guru, dengan segera menyiapkan Sulis untuk di bawa ke rumah sakit.

Kembali. Perjalanan Ciamis - Bandung.

Seorang supir, Mamah dan Bapaknya dengan ditemani seorang guru. Sulis di bawa menuju Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Darah terus keluar dari hidung. Papa yang duduk di sampingnya terus mengusap dan membersihkan darah dengan kain khusus. Kain sepanjang tiga meter dan lebar setengah meter itu, hampir penuh dipenuhi darah mimisannya.

Sulis sadarkan diri.

Sementara Mama, tak tega melihat Sulis yang  tegar menahan sakit  luar biasa. Sambil terus merafal doa dengan lembut terucap dari bibir Mama.

"Bu, Pak. Sebenarnya Sulis mengidap leukimia stadium 4. Dan baru kami ketahui kemarin, saat periksa ke dokter." Ujar gurunya memberi tahu dengan halus hati-hati

Padahal sebelumnya, ia tak pernah terlihat memiliki sakit yang parah. Kepribadian yang periang, dan sangat semangat belajar. Menyenangkan dan tak pernah memiliki masalah dengan teman-temannya.

"Innalillah, Nak. Kuat ya, Nak. Kita akan obati penyakitmu, Nak."

"Mah, nanti kalau ketemu teman-teman sampaikan maaf Sulis ya. Kalau Sulis punya salah." Suara Sulis memelas, dan setelah itu ia mengerang kesakitan luar biasa."

"Mah, Pah. Sakit." Ia berusaha meredam sakit sambil terus menenangkan diri.

"Pah, biar Sulis aja yang bersihin darahnya. Jangan Papah

Papahnya tak kuasa mengelak. Ia biarkan tangan mungil Sulis mengusap darah yang terus mengucur.

Hening, Sulis tak bersuara. Rupanya itu usapan terakhir pada darah mimisan di hidung yang terus keluar.

Mamah, Bapak, dan gurunya tak kuasa menahan tangis.

Gurunya segera memberi perintah pada Pak supir untuk pulang ke rumah di Sumedang.

***

Zahra, ia begitu tegar. Tampak matanya sembab dan merah. Saat melihat adik kesayangannya tengah tak bernyawa. Ia ikut memandikan, mengafani, menyolati, dan bahkan begitu kuat mengantarkan adiknya hingga ke peristirahatan terakhir.

Para petugas pemakaman, sudah usai menggali dan jenazah Sulis pun hendak dikebumikan.

Dipimpin oleh seorang Ustadz dan sesepuh di desa itu, doa-doa dipanjatkan semoga kebahagiaan syurga di dapatkan Sulis di alami keabadian.

Tiba-tiba ponsel Zahra berbunyi. Nomor tak di kenal.

"Halo, Mbak. Saya Firman temannya Bang Chandra. Istrinya, Ishita. Meninggal dunia, saat mengalami pendarahan di rumah sakit."

"Innalillahi ..... Mah, Pak ... "

Zahra lemas, dan tak kuasa menahan tangis. Air matanya meleleh, ia meluncur ke pelukan Mamahnya.

Remang-remang ia tatap layar ponsel di tangan, lemas bukan kepalang ia bersandar di pelukan mama yang sama tengah menguatkan diri menerima takdir kehidupan.

***

Sulis telah pergi, Abangnya telah kehilangan istri. Kepada siapa lagi aku akan bercerita keluh kesah? Sulis ... semoga kau tenang di alam sana, Dik.

***

Sementara di kampung kelahirannya, Banjar. Ibunya masih saja belum berdamai dengan Bapaknya. Mereka telah resmi bercerai, karena sosok mantan pacar Ibunya waktu masih sekolah kembali hadir dan menarik ia kembali.

"Berikan hak asuh Zahra padaku, dia sekarang sudah besar biarkan dia tinggal denganku. Mana bisa dia hidup bahagia dengan lelaki tak berpenghasilan dan tak punya tanggung jawab sepertimu?"

"Tak akan kubiarkan ia tinggal denganmu. Aku lebih rela, Zahra bersama Ua-nya daripada denganmu. Perempuan macam apa kau? Kerjanya selingkuh dan hura-hura. Mau kau apakan anakku yang cantik dan baik itu hah?"

Assalamualaikum ...

Salam teriring doa, semoga berkenan. Insyaallah, besok aku akan datang ke rumahmu mengutarakan niat suci yang selama ini aku pendam dan harapkan; melamar dan akan meminangmu.

Wass ...

Ramdan.

Pesan singkat dan padat. Namun, badannya sudah tak berdaya untuk mengungkapkan jawaban.

Entah rafal doa apa yang keluar dari mulut Zahra.

***

Satu persatu para pelayat pergi meninggalkan pekuburan. Semoga Sulis tenang di alam keabadian dalam rahmat dan ampunan. Harapan semua insan.

Meski berat, Zahra mama dan papanya pun beranjak meninggalkan peristirahatan terakhir Sulis. Setelah menaburkan bunga dan mencium nisan.

Dengan langkah gontai, mata sembab, mereka saling bergandengan satu sama lain. Mama terlihat sangat tegar, pun papa kembali menunjukkan wibawa dan iman. Bahwa semua pasti akan kembali kepada-Nya.

Sementara Abangnya Ramdan, masih di perjalanan dari Jakarta.

Tak apa asalkan doa tak pernah putus dipanjatkan untuk kebahagiaan mereka berdua; Ishita dan Sulis.

Klik dering pesan di ponsel Zahra kembali berbunyi. Kali ini dari nomor yang tak di kenal.

Ia buka perlahan.

"Salam ... kami dari  Fakultas Ekonomi --- Akuntansi memberitahukan bahwa : Ananda Zahra telah lolos tes beasiswa cerdas, dan berhak menerima beasiswa full selama kuliah sampai dengan selesai. Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi prodi fakultas anda.

Terima kasih.

***

Hidup, mati, jodoh, dan rezeki sudah Allah aturkan.

Mari gantungan harapan, hanya pada pemilik harapan hakiki yang tiada pernah berikan kebohongan pada setiap kalam-Nya.