Senin, 30 September 2019

Sendiri Tidak Selalu Sepi

Terkadang kita harus berani berjalan sendiri, tanpa keluarga tanpa sanak saudara tanpa ada orang-orang sukarela tulus mengulurkan kebaikannya untuk kita.

Iya, tak selamanya keluarga selalu ada menjadi tempat tumpah dan pulang yang paling nyaman. Tidak selamanya kita bisa bermanja pada mereka. Ada saatnya kita jauh dan sudah dari jangkauan mereka.

Ada saatnya aku harus berani sendiri, memutuskan bersikap seperti apa tanpa sibuk bertanya harus seperti apa baiknya bersikap.

Sendiri. Sendiri. Diri sendirilah yang paling setia menemani, hanya diri sendirilah yang paling bisa diandalkan memecahkan beberapa permasalahan problematika kehidupan. Diri sendiri, cukup diri sendiri.

Kabar membahagiakan yang melapangkan hati adalah, dengan tidak usah bergantung sama manusia terus-menerus. Tidak usah bergantung pada manusia berharap terus sama mereka. Karena bisa kecewa.

Ada titik dimana sabar dan imanmu diuji. Ada titik dimana hanya ada kamu sendiri. Hanya ada aku sendiri. Dan berharap pada doa-doa yang kita panjatkan, semoga Tuhan berkenan memberikan cahaya dan pertolongan.

Minggu, 29 September 2019

Resensi Buku: Inilah Akibat Dosa-Dosa Besar di Dunia

Judul         : Inilah akibat dosa-dosa besar
Pengarang: Iqra al-firdaus
Editor         : Virsya Hany
Penerbit    : DIVA Press
Cetakan    : I, Oktober 2011
Tebal buku: 182 Halaman
Sampul     : A. Budi

Setiap kehidupan manusia pasti tidak pernah luput dari dosa dan khilaf, namun kita diberi kesempatan untuk segera bertaubat atas perbuatan salah yang kita perbuat demi keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Di dalam buku ini, diulas tuntas mengenai akibat dosa yang tidak segera ditaubati. Tidak hanya bersifat psikologis, bahkan bisa sampai pada bencana alam yang menjadi musibah bagi seluruh manusia.

"Azab sejatinya akan di alami manusia di akhirat kelak. Akan tetapi, tak jarang pula hal itu disegerakan datangnya di dunia. Misalnya saja, gempa bumi, badai, banjir, kebakaran, krisis berkepanjangan, kekeringan, menyebarkan penyakit yang mematikan, dan lain sebagainya."

Dalam buku ini, diceritakan pula kisah-kisah kaum terdahulu yang dibinasakan oleh Allah karena tidak mau mengikuti perintah-Nya dan malah sengaja melakukan keingkaran.

Setiap manusia, tentu tidak ingin mendapat azab atau siksa dari Allah. Padahal, azab itu datang karena ulah perbuatan manusia.

Dalam buku ini tertulis, "Tidaklah sakit hati, pusing, luka dsb melainkan karena perbuatan dosa manusia."

Di dalam buku ini, terdapat berbagai penjelasan seputar azab yang diturunkan kepada manusia beserta apa saja penyebabnya.

Penulis juga memaparkan hal-hal apa saja yang dapat menyebabkan diampuninya dosa dan menolak azab.

Iqra al-firdaus, penulis buku ini merupakan seorang sarjana lulusan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Menghabiskan waktu belajar di sekolah-sekolah berbasis keagamaan Sumenep dan sudah menerbitkan banyak essai di berbagai media beserta buku solo lainnya, diantaranya; Dampak emosi bagi kesehatan, Rahasia kekuatan doa dan dzikir bagi kesehatan, dan berguru pada wanita.

Harapan penulis pada buku ini, semoga pembaca semakin berhati-hati dalam berperilaku sehingga menghindari hal-hal yang dapat mengundang azab Allah. Dan bersemangat menjemput ridha dari Allah.

Tolong ingatkan aku, teman "")

Zaman semakin berubah, mempermudah seseorang untuk berani bersuara. Entah muda ataupun tua, entah pelajar atau pendidik. Semua tak ada beda, berhak bersuara.

Ruang berpikir semakin logis semakin kritis. Berkat kemajuan teknologi yang canggih hingga tidak ada sekat antar ilmu pengetahuan. Memungkinkan manusia dengan mudah mengetahui segalanya, siapapun kamu siapapun itu.

Yang muda mengkritik yang tua, pelajar menganggap angin lalu perkataan pendidik karena merasa lebih pintar lebih tahu segalanya.

"Saya cerdas, logic, dan kritis. Saya berhak menuntut ini itu."

Namun tahukah teman, di sudut hati terdalam aku begitu miris sampai ingin menangis. Dimanakah adab-adab mulia yang sudah diajarkan para pendahulu kita? Bahkan Imam Syafi'i untuk belajar adab menghabiskan waktu selama 20 tahun sebelum mempelajari ilmu lainnya.
Bahkan mereka-mereka yang lebih berilmu, sangat santun dan indah dalam bersikap dan menyampaikan.

Sedangkan aku? Begitu sombongnya aku memiliki sedikit ilmu dan kritis sedikit saja, sudah merasa yang paling pandai. Sudah merasa paling logic sudah merasa paling wibawa. Dimanakah adabku dimanakah adab-adab yang mulia itu, kawan?

Aku merasa malu pada diriku sendiri. Belajar berbelas-belas tahun, namun adabku masih sangat jauh dari kata beradab.

Seseorang yang senang memberikan ilmunya padaku berkata,

"Bahkan kita para murid harus menutupi seluruh aib guru-guru kita demi mendapatkan keberkahan ilmu dari mereka. Keberkahan itu tidak hanya berupa kecerdasan. Namun, ilmu yang sedikitpun bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari itu sungguh sudah merupakan sebuah berkah. Tidak ada guru yang sempurna. Guru kita pun juga manusia. Biarpun sedikit ilmu yang mereka berikan apalagi banyak. Kita harus tetap memuliakan mereka."

Semakin hari mungkin kita akan semakin cerdas, semakin pandai berargumen dan menggunakan kecanggihan teknologi, semakin kritis menyikapi perkembangan perubahan zaman, namun semoga kita tidak lupa bahwa adab adalah hal paling utama diatas segalanya itu. Agar Allah Ridha, agar Allah berkenan memberikan keberkahan ilmu lewat para guru yang sudah berkorban memberikan ilmunya pada kita.

Tolong ajarkan padaku adab yang baik teman, jangan sungkan menegurku kala kata tingkah dan lakuku tak sesuai tuntutan. 😭

Tolong ajarkan padaku adab teman, adab yang dahulu Imam Syafi'i pelajari bahkan sampai 20 tahun lamanya sebelum ilmu-ilmu lainnya.

Jumat, 27 September 2019

Pada Laki-laki Kami Percayakan Kepemimpinan

Berkali aku berujar pada murid-murid tampanku tersayang, "Nak, kalian laki-laki. Laki-laki itu diberikan kelebihan dan kekuatan yang tak kami -kaum perempuan miliki. Kalian adalah pimpinan."

Berkali aku berujar pada murid-murid tampanku tersayang, "Nak, kalian calon pemimpin peradaban. Allah karuniakan kecerdasan yang istimewa untuk kalian yang berbeda dengan yang diberikan pada kami -kaum perempuan."

Berkali aku berujar pada murid-murid tampanku tersayang, "Nak, perempuan-perempuan yang kau sayangi itu kelak akan menjadi tanggung jawab dipundakmu yang lapang."

"Perempuan-perempuan yang kau hormati di keluargamu kelak akan tersenyum percaya bahwa kau dapat melindungi dan menjaga mereka. Kehormatan, kebahagiaan, kecukupan, dan kemuliaan mereka adalah sebab ketangguhan dan sikap muliamu."

Berkali aku berujar pada murid-murid tampanku tersayang, "Nak, kalian kuat. Kalian tangguh. Kalian cemerlang, penuh ide-ide brilian. Kalian pimpinan. Kalian memberikan perlindungan. Kalian harapan. Di pundak kalian kami percayakan keteladanan. Sikap peduli, mau berjuang dan berkorban untuk kebaikan keluarga adalah sekeren-kerennya perjuangan."

Aku pernah mendengar seorang psikolog berkata, "Seorang anak yang dekat dengan ayahnya, dengan sosok laki-laki di keluarganya akan memiliki ketangguhan pribadi yang lebih kuat. Jiwa-jiwa mereka akan tangguh menghadapi berbagai ujian. Karena pengaruh keteladanan dan wibawa kharismatik sang laki-laki pimpinan."

"Nak, kalian adalah seorang anak yang akan menjaga dan melindungi Ibu serta saudara perempuan kalian. Nak, kalian adalah laki-laki pilihan yang akan menjadi suami dan pimpinan bagi keluarga. Tonggak peradaban bangsa, sosok hebat sebagai rahmat bagi kehidupan."

Harga Mati Tanah Air Yang Kami Cintai

Gerakan terpelajar, lahir untuk kebaikan
Apakah kebaikan segelintir kaum elit?
Kami menentang dengan lantang! Tidak!

Kau makan enak, rakyatmu kelaparan
Kau tidur nyenyak, rakyatmu dirundung kecemasan
Kau hidup mewah, rakyatmu mengemis serpihan keberkahan

Ketika kaum terpelajar berbicara
Kau seenaknya membuang muka
Merendahkan dengan wajah durjana
Untuk siapa kau bekerja disana?
Untuk rakyatkah atau kepentingan pribadimu sendiri

Kami kecewa! Ya!
Banyak korban berjatuhan, ditembak dada tanpa nurani
Kami geram! Ya!
Aktivis dermawan ditangkap dengan alasan kau amankan

Mereka hanya bersuara, menyuarakan keresahan yang mewakili keresahan jutaan masyarakat Indonesia
Kami ingin keadilan bukan tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas
Kami ingin keadilan dan jaminan keamanan juga kesejahteraan bukannya hak kami kau korbankan demi kesenanganmu sendiri

Kau rakyat! Kami juga rakyat!
Kau penyelenggara negara! Kau pemimpin bangsa!
Kau yang mengatur dan mengelola peraturan negara!
Jutaan jiwa menaruh harapannya padamu

Mereka ingin kehidupan yang lebih baik
Mereka ingin keadilan yang lebih baik
Mereka ingin kebaikan dan keberkahan menyertai seluruh bangsa Indonesia
Dipimpin oleh para penyelenggara yang amanah dan penuh rahmah pada rakyatnya

Tidakkah hati nuranimu terketuk? Melihat tumpahan darah, mendengar seorang ayah kehilangan putra kebanggaannya karena kau tembak dadanya yang penuh kobaran semangat bagi kebaikan negara

Tidakkah hati nuranimu terketuk? Melihat jutaan mahasiswa ribuan pelajar dan tak terhitung dukungan seluruh lapisan masyarakat menyuarakan dengan lantang ketidaksetujuan atas perbuatanmu yang menggores luka pada demokrasi bangsa

Tidakkah hati nuranimu terketuk?
Mereka mahasiswa muda nan cerdas, mereka pelajar muda nan semangat membara, kaum-kaum cendekiawan pun turut andil menyuarakan kepedulian bagi bangsa dan negara

Akankah kau tega melihat bangsamu sendiri terpecah belah rusak moralnya karena kedzaliman pimpinan?

Kami mahasiswa, kami kaum perempuan, kami kaum pelajar, kami dan seluruh masyarakat bagian dari bangsa tidak akan tinggal diam menyaksikan kedzaliman merenggut kebaikan masa depan bangsa kami!

Hidup perjuangan! Hidup pergerakan!
Lanjutkan kepedulian untuk kebaikan generasi keturunan!
Indonesia kami, tanah air yang kami cintai sampai mati!

Rabu, 25 September 2019

Lalu apa yang membuatmu tetap bertahan?

Kecantikan, ketampanan, kekayaan, kekuatan, akan berubah seiring waktu.

Lalu saat semua itu berubah masih adakah yg membuat kita tetap tinggal dan saling menggenggam satu sama lain?

Maka tenangku, perlu sekali mempertimbangkan; penerimaan dan ketenangan hati ketika memilihnya.

Ia, yang bersamanya membuat kita merasa tenang meski sedang dirundung ujian.

Ia, yang bersamanya membuat kita merasa berharga dengan penerimaan tanpa perlu sibuk memikirkan pembicaraan.

Kita begitu nyaman, lalu saling menenangkan. Keduanya bisa saling berbagi tawa dan kebahagiaan meski sedang diuji kekurangan. Tidak saling jumawa ketika sedang diuji kelebihan, namun tetap saling mengingatkan agar tetap mengutamakan keimanan.

Senin, 23 September 2019

Penelitian Ilmuwan Mengenai Perbedaan Otak Laki-Laki dan Perempuan

Laki-laki dan perempuan Allah karuniai perbedaan sebagai kelebihan satu sama lain untuk saling menyempurnakan. Dari kajian ilmiah Rumah Ilmu bersama dr. Aisyah Dahlan ini dikupas mengenai perbedaan kedua makhluk unik itu, diantaranya:

1. Laki-laki mengeluarkan kata dalam satu hari sebanyak kurang dari atau sama dengan 7000, sedangkan perempuan mengeluarkan kata dalam satu hari bisa mencapai 20.000

Perbedaan yang sangat signifikan, maka tidak heran kalau laki-laki cenderung irit berbicara. Sedangkan perempuan lebih aktif alias cerewet karena kebutuhan kata hariannya berbeda. 😂

2. Otak kanan laki-laki lebih dahulu berkembang dibanding otak kirinya pada usia sebelum 18 tahun. Otak kanan ini berkaitan dengan imajinasi, kreativitas, ide, hikmah, dan bersikap santai, fleksibel dsb. Setelah 18 tahun otak kiri laki-laki berkembang bersamaan dengan otak kanannya. Otak kiri berkaitan dengan analisa, perhitungan, dsb.

Berbeda dengan perempuan, otak kiri dan kanannya berkembang bersamaan. Namun, otak kanan perempuan kalah dominan dengan otak kanan laki-laki. Kenapa seperti itu? dr. Aisyah menuturkan, karena laki-laki memiliki tanggung jawab besar sehingga membutuhkan banyak ide untuk memecahkan masalah dan memberikan solusi untuk keluarga dan lingkungannya.

3. Otak kiri dan kanan laki-laki tersambung sedikit sehingga lebih mudah fokus terhadap satu pekerjaan setelah 10 menit awal. Namun, memiliki kesulitan dalam hal multitasking. Berbeda dengan perempuan yang otak kiri dan kanannya tersambung dengan lebih banyak, bisa mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Misal, sambil nyetrika sambil curhat sambil nonton televisi dsb 😂

4. Perempuan lebih dominan hormon estrogen dibanding hormon testosteron. Sehingga perasaan lebih dominan dibanding logika berpikirnya. Berbeda dengan laki-laki yang lebih dominan hormon testosteron sehingga lebih dominan logika dibanding perasaaan.

5. Perempuan berharap mendapat laki-laki yang berbahu lebar, kekar, gagah tapi juga penuh perhatian, lembut, peka terhadap kebutuhan wanita, dan pandai berkomunikasi. Namun, perempuan tidak bisa sepenuhnya menuntut mereka agar sepenuhnya penuh perhatian, peka terhadap wanita, dan pandai berkomunikasi seperti kita. Kata beliau, ada ilmunya harus dipelajari dulu. Wkkwkw

6. Perempuan kalau sedang kesal tidak suka berterung terang. Misal ditanya, "kamu marah ya?" Nah, jawaban perempuan itu biasannya, "nggak." Padahal masih harus ditanya sampai mau berterus terang. Berbeda dengan laki-laki kalau sedang kesal ia bisa berterus terang. Betul nggak nih kamu hawa dan kaum Adam? 😆

7. Perempuan ketika tertekan butuh bicara, maka ketika tertekan perempuan tidak boleh ditinggalkan ia butuh didengarkan. Berbeda dengan laki-laki, ketika tertekan ia tidak mau bicara. Laki-laki butuh dipahami, bahwa ketika ia lelah atau sedang mendapatkan masalah tidak mau ditanya-tanya. Biarkan ia, agar bisa terfokus berpikir pada penyelesaian masalahnya. Karena laki-laki, adalah pahlawan dalam problem solving. Berbeda dengan perempuan, bahkan sampai hal kecil pun ingin ia ceritakan, karena memang seperti itu kebutuhan dan fitrahnya.

8. Perempuan ketika curhat hanya ingin disimak, sementara laki-laki ketika ada yang curhat ia langsung terfokus pada menawarkan solusi. Perempuan ingin banyak didengarkan, laki-laki sebagai pemimpin karena fitrah tanggung jawabnya mereka adalah pahlawan yang mendamaikan dan melindungi.

Sesudah bercerita perempuan biasanya akan mudah segar lagi. Ketika curhat, mereka sebetulnya hanya ingin dimengerti dan lebih diperhatikan katanya. wkwkw 😆

9. Ketika berbicara, perempuan menyukai kontak mata. Berbeda dengan laki-laki, mereka kurang menyukai kontak mata. Secara anatomi sudah seperti itu.

10. Laki-laki sudut pandang matanya memanjang lurus ke depan, perempuan sudut pandang matanya bisa melebar ke samping arah. "Sehingga ketika mencari sesuatu perempuan lebih mudah menemukan bukan?" Kata dr Aisyah nya. 😂

11. Perempuan mendapat kesulitan membaca peta atau petunjuk jalan. Laki-laki tahu arah dengan pasti. Karena ketebalan otak tengahnya yang berbeda berdampak pada kemampuannya dalam membaca petunjuk arah.

12. Berbelanja bagi perempuan merupakan kebahagiaan. Sedangkan bagi laki-laki berbelanja adalah teror. 😆
Laki-laki hanya sanggup 20 menit pertama untuk berbelanja, setelah itu bosan pusinh dsb. Apalagi perempuan bisa berkeliling sampai berjam-jam. Kwkwkw 😆

13. Wanita menonton acara dengan tekun, pria suka mengganti saluran Televisi.

14. Letak emosi dalam otak. Laki-laki otak emosinya dua lubang dan besar di otak kanan. Perempuan otak emosinya lubangnya di kedua otak. Sehingga ketika perempuan sedih, ia tidak pandai menyembunyikan kesedihannya. Berbeda dengan laki-laki, karena otak emosinya di otak kanan maka ketika ia sedih yang terganggu adalah otak kanannya. Sementara otak kiri tidak terganggu, sehingga ketika ia sedih tidak terlalu tampak dalam wajahnya.

Berbeda ketika marah, apabila perempuan marah sekali maka ia akan diam dan sulit ditanya. Laki-laki ketika marah sekali bisa sampai berteriak.

Nah, barangkali sekian dulu pembahasan mengenai perbedaan otak laki-laki dan perempuan. Bagaimana Ibu-ibu, Kakak-kakak, sudah merasakan dan menemukan perbedaannya kah dalam kehidupan sehari-hari? Terutama yang punya ayah, pasangan laki-laki, anak laki-laki atau murid laki-laki, sudah pahamkah sekarang kenapa mereka begitu? 😆

Pada akhirnya, keduanya diciptakan dengan keunikan dan kelebihannya masing-masing. Tugas kita belajar memahami satu sama lain, menerima adanya, dan mempelajari ilmunya demi terciptanya dinamisasi hubungan yang harmonis antara makhluk dari Venus vs Mars ini 😄

Lisan oh lisan

Lisan seringkali ingin mengucapkan banyak keburukan yang dilihat dan tak sedap dipandang mata. Meluapkannya dalam bentuk kemarahan atau bahkan gibahan di tempat yang berlainan.

Lisan seringkali ingin mengungkapkan berbagai kegondokan karena keburukan yang dilihat dan tak sedap dipandang mata. Tak hanya tak sedap dipandang tapi juga mengganggu pikiran. Kita punya ekspektasi dan idealisme sendiri-sendiri berbenturan dengan kebiasaan dan prinsip hidup orang lain yang berbeda-beda.

Lisan seringkali ingin mengucapkan keburukan-keburukan. Kebiasaan jelek orang lain, perkataan orang lain yang tidak mengenakan hati, karakter yang tidak baik menurut kita, prinsip dan kebiasaan hidup yang berbeda-beda.

Lisan oh lisan ....

Karena ulahmu bisa terjadi banyak bahagia ....

Lisan oh lisan ....

Karena ulahmu pula bisa terjadi banyak bencana

"Tutupilah aib saudaramu. Maka aibmu akan ditutupi." Begitu dalam sebuah hadits.

Kita satu sama lain ibarat pakaian. Saling melindungi memperbaiki dan menjaga kehormatan mereka. Aib mereka bukan untuk diumbar ke sembarang orang memuaskan dahaga nafsu gibah belaka. Ketidakbaikkan mereka bukan untuk diumbar ke teman terdekat sekalipun berkedok curhat.

Jika sekedar membuang sampah dari jiwa, jika sekedar melegakan pikir dan resah di dada, coba dipikir-pikir lagi betulkah dengan berbicara dan mengumbar bisa menyelesaikan masalah yang berkobar?

Barangkali komunikasimu yang kurang baik. Barangkali komunikasimu yang kurang lancar, dan komunikatif. Kelola egomu, buang nafsu jahatmu untuk mengumbar ketidakbaikkan orang lain. Kamu dan mereka ibarat pakaian, saling melindungi saling menjaga kehormatan. Mengumbar aib mereka sama saja sedang mengumbar keburukanmu sendiri.

"Tutupilah aib saudaramu. Maka Allah akan tutupi aib dan keburukanmu." Begitu kata sebuah hadits.

Minggu, 22 September 2019

Menulis Meliarkan Imajinasi

Menulis itu meliarkan imajinasi. Imaji-imaji yang berkelindan bersama kejadian sehari-hari.

Menulis itu menangkap makna tak kasat mata, merangkumnya menjadi sebuah pembelajaran.

Menulis itu, melegakan pikiran menuangkan pemikiran katarsis bagi jiwa-jiwa yang duka luka maupun menuangkan bahagia.

Tulisanku masih belum jelas mau ke arah mana, aku suka fiksi juga suka menuliskan nonfiksi.

Fiksi bermain dengan imajinasi, menciptakan plot twist yang tak terprediksi. Aku suka membacanya, mendebarkan kepenasaranku kala membaca.

Aku suka non-fiksi, banyak hal yang bisa dituliskan dari kejadian sehari-hari. Menjadikannya pembelajaran, menghubungkannya dengan penelitian-penelitian, membagikannya dengan harapan memberikan kebermanfaatan untuk kebaikan hidup melewati hari.

Cenderung kemanakah tulisanku?
Hmm ....

Setelah cukup lama kupikirkan. 😅
Fiksi aku suka, namun ternyata beluk cukup mahir membuatnya. Non-fiksi juga aku suka banyak hal yang bisa dituangkannya. Memancingku membaca lebih banyak, untuk menghasilkan tulisan yang lebih berilmu pengetahuan.

Sepertinya, kebanyakan isi blogku adalah non-fiksi. Meski sebagian ada juga yang fiksi namun masih bisa dihitung jari.

Baiklah, aku memilih non-fiksi menjadi branding diri. Xixi semoga bisa belajar lebih dengan semangat dan kesungguhan agar tulisan yang tercipta diramu hingga menghasilkan tulisan yang berkualitas, memberikan kemanfaatan, dan inspirasi. Utamanya untuk diri sendiri, harapannya juga untuk orang lain pembaca blog ini.

"Semangat sungguh-sungguh belajar. Man Jadda wa Jadda." #Pengingat diri.

Sabtu, 21 September 2019

Prasangka Baik

Bukan beban hidupnya yang berkurang, namun cintanya yang bertambah. Bukan tidak ada masalah hidup yang menyerang, namun kelapangan hatinya yang semakin kuat.


Sehingga ia menjadi semakin kuat dan ringan menjalankan tugas-tugas kehidupannya.


Kita tidak tahu yang terjadi adalah rahmat atau musibah. Tugas kita hanyalah selalu berprasangka baik pada Allah.


Sedih dan bahagia. Dua rasa dalam kehidupan yang nyata adanya. Kita tidak tahu itu rahmat atau musibah tugas kita hanyalah berprasangka baik pada Allah.


Karena berprasangka baik adalah sikap paling mulia pada Dzat Yang Maha Mulia.


Oleh-oleh

Ada yang lebih bermakna, dari oleh-oleh yang ia bawa. Selain senyum dan ketulusannya, ialah perhatian dan kesediannya berkorban.

Oleh-olehnya mungkin sederhana, namun tidak sederhana karena dibawa dengan perjuangan dan berlelah-lelah.

Senang sekali rasanya, jika ada yang memberi oleh-oleh. Namun, bukan berarti membudayakan meminta-minta.

Ada yang lebih bermakna dari oleh-oleh yang ia bawa, yakni ingatan dan kebaikan yang ia tunjukkan.

Ada yang lebih bermakna dari oleh-oleh yang ia bawa. Mencukupkan diri tidak meminta, berterima kasih atas segala niat baik dan cinta.

Merantaulah, Nak!

Merantaulah akan kau temukan orang-orang yang awalnya tak kau kenali menyayangimu.

Mereka bahkan tidak sedarah berbeda suku dan bahasa, namun merantaulah. Bertebaran Rahmat Allah di belahan bumi yang lain.

Merantau demi menuntut ilmu, melatih kemandirian dan memupuk rasa rindu, merantau demi mencari keberkahan di bumi Illahi.

Banyak rezeki-rezeki yang kau dapatkan secara tak terduga, banyak teman dan kenalan yang menjadi saudara. Mereka ada membantu, menyayangi, dan menganggapmu sudah seperti keluarganya sendiri.

Merantau itu ajaib. Kau datang dari belahan bumi bagian mana tanpa tau akan bertemu siapa, lalu di ujung sana sudah Allah siapkan hadiah kejutan-kejutan yang akan menyambutmu tanpa pernah kau duga.

Jangan pernah ragu dan takut untuk mencari rahmat Allah di bagian bumi yang lain. Rahmat Allah terbentang luas dimana-mana.

Rabu, 18 September 2019

Sahabat :")

Ia paling peka menerka raut wajahku yang berubah. Terbiasa ceria banyak bicara, lalu kututupi sedemikian rupa duka yang menyesakkan dada. Aku coba pergi dari keramaian, demi selamat dari tanya dan canda.

Namun, ia tetaplah ia. Sahabatku ....
Di hadapannya aku bisa menunjukkan sisi paling rapuh. Di sampingnya, aku bisa menangis dengan sangat kekanak-kanakkan. Lalu apa yang ia lakukan?
Ia sudah paham aku dengan segala lebih dan kurangku. Ia menertawakan kerapuhanku, mencerca tangisku. Tapi, ia juga yang paling pertama membasuh lukaku. Membantu laraku agar segera ceria. Ia tak pernah berat untuk mengulurkan tangan.

Aku menangis sambil tertawa. Aku tertawa sambil menangis. Sahabatku yang selalu ada, tidak pernah meninggalkan meski aku beribu kekurangan. Meski aku berkali merepotkan. Bahkan selalu paling peka menanyakan bantuan. "Apa yang bisa aku bantu? Segitu aja nangis hayolah jangan cengeng." Ucapnya.

Aku terharu juga bahagia. Terima kasih sahabat selalu ada.
Terima kasih teladan, tetap jadi sahabat meski nanti jarak dan alam memisahkan ya. :)