Kamis, 28 September 2017

Tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik



FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN PENDIDIKAN PESERTA DIDIK
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik
Dosen Pengampu:

Ibu Lodya Sesriyani S.Pd., M.Pd.
NIDN: 411099101







Disusun oleh:
1. Aldy Rifa’i (2015160239)
2. Fitriani Nurul Hijati (2015160011)
3. Imam Zarkasyi (2015160355)
4. Sumiyati Ratnasari (2015160245)
5. Siti Hafsah (2015160208)
6. Venna Ayu R (2015160202)
7. Wulan Kistia (2015160088)
8. Yono (2015160233)

PRODI PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PAMULANG
2017

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam memajukan peradaban bangsa, memanusiakan manusia, dan menjadikannya memiliki kualitas pribadi yang baik baik dari segi intelektual, sosial, ataupun spiritual. Kualitas dan usaha terbaik dari lembaga pendidikan sangat berdampak bagi perkembangan peserta didik di Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa pengertian Perkembangan (Development) itu sendiri adalah suatu proses yang pasti di alami oleh setiap individu, perkembangan ini adalah proses yang bersifat kualitatif dan berhubungan dengan kematangan seorang individu yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta sistematis di dalam diri manusia.
Akhmad Sudrajat : 2008, memberikan definisi bahwa “Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.”
Untuk itu, di dalam makalah ini kami mengemukakan beberapa hal berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pendidikan peserta didik. Bagaimana pendidikan dapat berhasil menghasilkan para peserta didik yang berakhlak dan berprestasi bagi lingkungannya. Di dalam makalah ini, akan kami coba kupas tuntas penyebab intern maupun ekstern yang menghambat atau bahkan menyukseskan tujuan mulia dari pendidikan itu sendiri.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengaruh faktor nature terhadap perkembangan peserta didik?
2.      Bagaimana pengaruh faktor nurture terhadap perkembangan peserta didik?
3.      Seperti apa faktor nature dan nurture dalam perkembangan aspek psikofisik individu serta implikasinya dalam pendidikan?
C.    Tujuan
1.      Menjelaskan pengaruh faktor nature terhadap perkembangan peserta didik.
2.      Menjelaskan pengaruh faktor nurture terhadap perkembangan peserta didik.
3.      Menjelaskan bagaimana implikasi dari faktor nature dan nurture terhadap perkembangan peserta didik dalam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
A.  Pengaruh Faktor Nature Terhadap Perkembangan
1. Pengertian Nature
Istilah “nature” (alam, sifat dasar) dapat diartikan sebagai faktor-faktor alamiah, yang berhubungan dengan aspek bio-fisiologis terutama keturunan, genetis, hereditas. Dengan mengambil istilah ini, maka perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan. Sifat-sifat, karakteristik maupun kepribadian yang dimiliki oleh orang tua akan diturunkan melalui unsur gen kepada anak-anaknya. Sifat-sifat yang diturunkan bukan hanya bersifat fisiologis (berat badan, tinggi badan, warna kulit, rambut, jenis penyakit; penyakit jantung, kanker), akan tetapi juga karakteristik psikologis (tipe kepribadian, kecerdasan, bakat, kreatifitas).
Misalnya bila orang tua memiliki tinggi badan yang tinggi, maka anaknya pun memiliki tubuh yang tinggi pula. Sebaliknya jika orang tua pendek, maka anaknya pada umumnya juga pendek. Meskipun ini tidak mutlak, karena masih dapat berubah sesuai dengan pola hidup yang dilaksanakan sang anak. Apabila lebih baik maka kemungkinan untuk memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik pun akan bias dicapai sang anak begitupun sebaliknya.
Salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap perkembangan individu adalah faktor keturunan yang merupakan pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan, seperti: konstitusi dan struktur fisik, kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). Berbeda dengan faktor lingkungan, faktor keturunan pada umumnya cenderung bersifat kodrati yang sulit untuk dimodifikasi.
Faktor nature adalah faktor bawaan yang diwariskan orang tua kepada anaknya yang disebut juga dengan aliran ‘Nativisme’ yaitu perkembangan individu semata - mata tergantung pada faktor dasar atau pembawaan. Tokoh utama aliran ini yang terkenal adalah Schopenhauer. 
Faktor nature atau genetika (hereditas) merupakan totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak atau segala potensi (baik fisik maupun psikis) yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen.
Pada masa konsepsi (pembuahan ovum oleh sperma) seluruh bawaan heredinitas individu dibentuk dari 23 kromosom (pasangan xx) dari ibu dan 23 kromosom (pasangan xy) dari ayah. Dalam 46 kromosom tersebut terdapat beribu-ribu gen yang mengandung sifat-sifat fisik dan psikis individu atau yang menentukan potensi-potensi hereditasnya.
Masa dalam kandungan sebagai periode yang kritis dalam perkembangan kepribadian individu, sebab tidak hanya sebagai saat pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagai masa pembentukan kemampuan-kemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap kehidupan setelah kelahiran.
Pengaruh gen terhadap kepribadian sebenarnya tidak secara langsung, karena yang dipengaruhi gen secara langsung adalah:
(a) kualitas sistem syaraf.
(b) keseimbangan biokimia tubu.
(c) struktur tubuh.
Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa fungsi hereditas dalam kaitannya dengan perkembangan kepribadian adalah:
(a) sebagai sumber bahan mentah kepribadian seperti fisik, intelegensi dan tempramen.
(b) membatasi perkembangan kepribadian (meskipun kondisi lingkungan sangat kondusif).
(c) mempengaruhi keunikan kepribadian.

B. Pengertian dan Pengaruh Faktor Nurture Terhadap Perkembangan
Faktor nurture adalah faktor yang mempengaruhi perkembangan individu itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan /pendidikan atau disebut juga dengan aliran ‘Empirisme’ yang menjadikan faktor lingkungan/pendidikan maha kuasa dalam menentukan perkembangan seorang individu. Tokoh aliran ini adalah John Locke. Nurture mengacu pada kondisi lingkungan dan yang mendukung pengembangan. Anak-anak perlu dipupuk: mereka membutuhkan cinta dan dukungan dari orang tua, saudara, keluarga, guru, teman sebaya, dan orang lain, hal tersebut penting dalam hidup mereka. Anak-anak bisa sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang-orang membina mereka. Faktor lingkungan yang dibahas pada paparan berikut adalah lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, masyarakat dan media massa.

1.      Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga adalah sebuah basis awal kehidupan bagi setiap manusia. Lingkungan keluarga dipandang sebagai faktor penentu utama terhadap perkembangan anak. Alasan tentang pentingnya peranan keluarga bagi perkembangan anak adalah: (a) keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak, (b) keluarga merupakan lingkungan pertama yang mengenalkan  nilai-nilai kehidupan kepada anak, (c) orang tua dan anggota keluarga lainnya“Significant People” bagi perkembangan kepribadian anak, (d) keluarga sebagai institusi yang memfasilitasi kebutuhan dasar insani (manusiawi), baik yang bersifat fisik-biologis, maupun sosiopsikologis, dan (e) anak banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga.
Menurut Hammer dan Turner (Adiasri T.A., 2008:8) peranan orang tua yang sesuai dengan fase perkembangan anak adalah:
1. Pada masa bayi berperan sebagi perawat (caregiver)
2. Pada masa kanak-kanak sebagai pelindung (protector)
3. Pada usia pra-sekolah sebagai pengasuh (nurturer)                            
4. Pada masa sekolah dasar sebagai pendorong (encourager)
5. Pada masa pra-remaja dan remaja berperan sebagai konselor (counselor)

2.      Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan pelatihan dalam rangka membantu para siswa agar mampu mengembangkan potensinya secara optimal, baik yang menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, sosial maupun fisik-motoriknya.
Hurlock (1986:322) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak, baik  secara berpikir, bersikap, maupun berprilaku. Sekolah berperan sebagai subtitusi keluarga, dan guru sebagai substitusi orang tua.  

3.      Kelompok Teman Sebaya (Peer Group)
            Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan sosial bagi anak mempunyai peran yang cukup penting bagi perkembangan dirinya. Melalui kelompok sebaya, anak dapat memenuhi kebutuhannya untuk belajar berinteraksi sosial (berkomunikasi dan bekerjasama), belajar menyatakan pendapat dan perasaan orang lain, belajar tentang norma-norma kelompok, dan memperoleh pengakuan dan penerimaan sosial.
Anak yang bertindak langsung atau tidak langsung sebagai pemimpin, atau yang menunjukkan ciri-ciri kepemimpinan dengan sikap-sikap menguasai anak-anak lain, akan besar pengaruhnya terhadap pola-pola sikap atau pola-pola kepribadian. Di satu pihak ia ingin mempertahankan pola-pola tingkah laku yang diperoleh di rumah, sedangkan di pihak lain lingkungan menuntut si anak untuk memperlihatkan pola yang lain, yang bertentangan dengan pola yang sudah ada, atau sebaliknya.
Makin kecil kelompoknya, di mana hubungan-hubungan erat terjadi, makin besar pengaruh kelompok itu terhadap anak, bila dibandingkan dengan kelompok yang besar yang anggota-anggota kelompoknya tidak tetap. Pengaruh kelompok teman sebaya terhadap anak bisa positif atau negatif. Berpengaruh positif apabila para anggota kelompok itu memiliki sikap dan perilaku positif atau berakhlak mulia. Sementara yang negatif apabila para anggota kelompoknya berperilaku menyimpang, kurang memiliki tata krama, atau berakhlak buruk.

4.        Masyarakat
Lingkungan masyarakat dapat berperan membentuk karakter anak. Misalnya lingkungan tempat tinggal di asrama polisi atau tentara, anak-anak yang tinggal disana cenderung lebih berani karena mereka merasakan adanya label dari orangtuanya. Mereka juga besikap lebih semena-mena kepada teman-temannya yang lain. Lingkungan yang seperti ini akan membentuk karakter anak menjadi keras, pribadi yang galak, apa yang dia inginkan harus segera terlaksana. Ataupun dengan memilih tinggal di tengah-tengah kota besar, yang mana sesama tetangga tak saling mengenal satu sama lain, lingkungan yang seperti ini dapat membentuk karakter yang tidak baik juga pada anak, anak jadi terbiasa untuk tidak peka terhadap orang lain, merasa tidak memerlukan orang lain dalam hidupnya, sikap individualismenya juga akan sangat terlihat.
Lingkungan masyarakat juga dapat berpengaruh sebaliknya yaitu berpengaruh baik bagi anak. Misalnya dengan memilih tinggal di sebuah perkampungan di pinggiran kota. Yang di lingkungan tersebut terdapat masjid, para remajanya pun aktif dan antusias dalam kegiatan-kegiatan syiar agama untuk masyarakat sekitar, baik orangtua, remaja bahkan anak-anak kecil. Suasana lingkungan menjadi hidup, dinamis, agamis, harmonis serta menyenangkan hati masyarakat yang tinggal di lingkungan tersebut. Anak-anakpun terbentuk memiliki karakter yang sopan santun, mudah beradaptasi, berempati, serta dapat menjadi manusia yang berjiwa sosial. Kondisi masyarakat yang kumuh dan serba kekurangan akan sangat mempengaruhi aktifitas dan semangat belajar siswa.

5.     Media Massa
Media massa adalah faktor lingkungan yang dapat merubah atau mempengaruhi perilaku masyarakat melalui proses-proses. Media massa juga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan seseorang, dengan adanya media massa, seorang anak dapat mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan dengan pesat. Media massa dapat merubah prilaku seseorang ke arah positif dan negatif. Contoh media massa yang sangat berpengaruh adalah media massa saat ini berkembang semakin canggih. Semakin canggih suatu media massa maka akan semakin terasa dampaknya bagi kehidupan kita. Contoh elektronik antara lain televisi. Televisi sangat mudah mempengaruhi masyarakat, khususnya anak-anak yang dalam perkembangan melalui acara yang disiarkannya.
Salah satu media massa yang dewasa ini sangat menarik perhatian warga masyarakat khususnya anak-anak adalah televisi. Televisi sebagai media massa elektronik mempunyai misi untuk memberikan informasi, pendidikan dan hiburan kepada para pemirsanya. Dilihat dari sisi ini, televisi bisa memberikan dampak positif bagi warga masyarakat (termasuk anak-anak) karena melalui tayangan yang disajikan mereka memperoleh:
  Berbagai informasi yang dapat memperluas wawasan pengetahuan tentang berbagai aspek kehidupan.
  Hiburan, baik yang berupa film maupun musik.
  Pendidikan, baik yang bersifat umum maupun agama.

C. Determinasi  Faktor Nature Dalam Perkembangan Aspek Aspek Psikofisik Individu Serta Implikasinya Dalam Pendidikan
Dalam perkembangan individu, faktor nature dan nurture adalah penentu perkembangan aspek-aspek psikofisik individu. Aspek-aspek perkembangan individu meliputi fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, moral, dan agama. Perkembangan fisik meliputi pertumbuhan sebelum lahir dan pertumbuhan setelah lahir. Intelektual (kecerdasan) atau daya pikir merupakan kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. Sosial merupakan kebutuhan setiap individu untuk selalu berinteraksi dengan lingkungan dan selalu memerlukan manusia lainnya. Emosi merupakan perasaan tertentu yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Agama merupakan kepercayaan yang dianut oleh individu.
Perkembangan seseorang adalah hasil dari faktor bawaan dan lingkungan (nature vs nurture). Dalam hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan keluarga terhadap perkembangan awal anak sangat penting karena disinilah awal mula dari pendidikan anak, yang mana orang tua sebagai guru, anak akan mencontoh apa yang dilakukan.
Menurut Santlock ada 3 cara nature dan nurture.
1)    Interaksi genotipe dengan lingkungan secara aktif. Seperti orang tua yang mempunyai genetic rajin berpetualang maka anaknya juga sering diajak berpetualang ke tempat wisata. Sehingga tidak dipungkiri anak tersebut akan ikut senang berpetualangan.
2)    Interaksi genotipe dengan lingkungan secara evokatif. Seperti anak yang mempunyai sikap ramah akan mendapatkan banyak teman, berbeda dengan anak pendiam akan mendapatkan teman yang sedikit karena tidak mengalami interaksi yang banyak.
3)    Interaksi genotipe dan lingkungan secara pasif. Seperti anak yang mempunyai kesukaan berolahraga maka anak tersebut akan berada pada lingkungan yang suka berolahraga. Sehingga anak tersebut dapat menampilkan keterampilannya.
4)    Refleksi Aliran
a.    Aliran Nativisme
Perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaannya sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa.
Kaum nativisme ini berpendapat bahwa nasib anak itu sebagian besar berpusat pada pembawaannya sementara pengaruh lingkungan hidupnya hanya sedikit saja, baik-buruknya perkembangan anak sepenuhnya tergantung pada pembawaannya (“Moch. Kasiram, 1983.27”).
b.         Aliran Environmentalisme
Perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman, pendidikan, pembawaan dan bakat tidak ada pengaruh. Aliran ini menimbulkan adanya optimisme dalam bidang pendidikan dan menimbulkan keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatu yang terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh pendidikan, watak, sikap, dan tingkah laku manusia dianggapnya bisa dipengaruhi seluas-luasnya oleh pendidikan yang dipandang mempunyai pengaruh yang tidak terbatas.
c.          Aliran Konvergensi
Gabungan antara aliran enviromentalisme dengan aliran nativisme. Aliran konvergensi menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Para penganut aliran konvergensi berkeyakinan bahwa baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan andilnya sama besar dalam menentukan masa depan seseorang.
Banyak bukti yang menunjukan bahwa watak dan bakan seseorang tidak sama dengan orangtuanya setelah ditelusuri ternyata watak dan bakat orang tersebut sama dengan kakek atau ayah dan ibu kakeknya. Dengan demikian tidak semua bakat dan watak seseorang dapat diturunkan secara langsung.
5)      Implikasi Faktor Nature Dan Nurture Terhadap Pendidikan.
Dalam situasi sekolah, gen-gen mungkin dapat dilihat sebagai bagian dari dunia nyata anak-anak. Meskipun demikian, bagi seseorang yang bekerja secara dekat dengan anak-anak dan remaja, kekuatan dan kelemahan dari pengaruh genetik ini adalah penting untuk dipahami.
Seorang guru misalnya, perlu memahami sifat-sifat dan perbedaan-perbedaan individual. Di samping itu, pemahaman tentang dampak faktor-faktor lingkungan terhadap perkembangan anak, akan memberi pendidik suatu pertimbangan yang optimistis tentang potensi-potensi yang penting ditumbuhkembangkan dalam diri semua peserta didik. McDevitt dan Ormrod (2002) merekomendasikan beberapa hal penting yang perlu dilakukan guru dalam menyikapi pengaruh lingkungan bagi perkembangan anak, di antaranya:
1. Memahami dan menghargai perbedaan-perbedaan individual anak. Guru yang menghargai berbagai karakteristik fisik, tipe-tipe kepribadian dan bakat-bakat mereka, dapat membuat peserta didik menjadi senang. Anak-anak yang tinggi dan pendek, gemuk dan kurus, yang serasi dan kikuk, yang sedih dan ceria, yang kalem dan pemarah, semuanya harus mendapat tempat yang benar dalam hati guru.
2. Gen-gen mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pertumbuhan fisiologis dan pengaruh yang sedang terhadap karakteristik psikologis yang kompleks. Meskipun demikian, perkembangan dan belajar harus dipandang sebagai suatu hasil pertumbuhan biasa dari aspek biologis yang sangat berpengaruh terhadap anak. Faktor-faktor lingkungan dapat mempengaruhi anak melalui banyak cara, seperti melalui layanan pengajaran dan bimbingan. Anak-anak yang secara genetik memilki kecenderungan untuk menjadi seorang yang mudah marah atau agresif, dapat dilatih dan dibimbing menjadi seorang yang  lebih adaptif dan memperlihatkan tingkah laku prososial.
3. Mendorong siswa menentukan pilihan-pilihan sendiri untuk meningkatkan pertumbuhan. Misalnya, untuk tumbuh menjadi lebih dewasa, anak-anak harus aktif mencari lingkungan-lingkungan dan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan kemampuan naturalnya, dan guru mengambil posisi kunci untuk menolong mereka menemukan aktivitas dan sumber-sumber yang memungkinkan mereka menggunakan dan mengembangkan bakat-bakat mereka.
















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Pendidikan adalah hal yang paling utama dalam perkembangan anak untuk kedepannya. Kemudian anak-anak disekolahkan dilembaga pendidikan formal yang berfungsi sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan kepribadian dan mengembangkan bakat serta potensi yang ada pada diri anak tersebut.
Dalam perkembangan individu anak, faktor Nature adalah penentu perkembangan aspek-aspek psikofisik individu. Karena aspek-aspek perkembangannya meliputi fisik dan inetelektual. Perkembangan fisik meliputi pertumbuhan sebelum lahir dan pertembuhan setelah lahir sesuai dengan pengertian faktor  nature. Intelektual (kecerdasan) merupakan kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau lingkungan yang baru.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan seseorang adalah hasil dari faktor bawaan dan lingkungan (nature vs nurture). Dalam hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan keluarga terhadap perkembangan diri anak, karena lingkungan keluarga adalah awal mula pendidikan seorang anak. Baik orang tua, guru, ataupun masyarakat di lingkungan harus memahami factor-faktor perkembangan peserta didik ini agar dapat berempati serta memberikan pendidikan terbaik bagi mereka, sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan yang serba modern dan global di era sekarang ini. Bijak dalam berkomunikasi, serta senantiasa mengupgrade keilmuan sehingga tidak ketinggalan zaman dalam memberikan teladan sikap maupun intelektual bagi sang anak. Dengan saling bekerja sama dengan baik antara semua pihak, Insya Allah pendidikan yang baik bagi anak-anak dapat kita wujudkan.







DAFTAR PUSTAKA
Baharudin H. 2009. Psikologi Pendidikan Refleksi Teoritis
Makmum, Abin Syamsudin. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT  Rosdakarya.
terhadap Fenomena.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Grup.
http://kangbahauddin.blogspot.co.id/2015/10/faktor-nature-dan-nurture-pada.html
https://perkuliahanpgsd.blogspot.co.id/2015/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar.html







Jumat, 22 September 2017

Karena Sejatinya Bukan Sekedar Tuntutan Pekerjaan!

Tatapan ini kadang begitu tajam menusuk penglihatan tulus sembari menunduk patuh, kala aku melihat mereka melakukan kesalahan. Sudut-sudut sekolah yang asalnya riuh oleh suara mereka, kini seketika senyap. Kala suara sepatuku terdengar di telinga mereka. Aku hendak memasuki ruangan kelas bersejarah itu.

"Ssssst ... sssttt ... ssstttt ... ada bu guru datang."

Kadang aku menemukan mereka tengah berdebat hebat dengan sesama teman. Kadang aku menemukan mereka diam-diam menyiapkan kejutan kecil untukku. Ataupun kadang aku menemukan mereka tengah khusuk mengerjakan tugas yang kuberikan. Bahkan pernah mereka kutemukan sedang bercanda riang tertawa lepas hingga tak sadar bahwa aku sudah ada di meja depan.

Kala melaksanakan pembelajaran. Disiplin yang tinggi, lebih sering aku terapkan. Karena sungguh ekspektasiku sangat tinggi pada mereka. Aku ingin mereka menjadi generasi hebat, cerdas, dan berkualitas baik dari segala sisi.

Kesibukan dengan segala macam materi dan strategi macam apa yang harus aku suguhkan pada mereka. Agar apa yang aku sampaikan mampu mereka tangkap dengan baik. Mereka paham dan apa yang aku sampaikan dapat bermanfaat selalu di kehidupan mereka kini dan nanti.

Ribuan menit hingga bilangan jam kita bersama. Sungguh, ada gelayut takut dalam hati kala aku menyampaikan pelajaran. Apatah aku sudah menyampaikannya dengan baik sehingga mereka paham tanpa merasa terdiskriminasi. Sungguh ada gelayut sendu pada bathin kala aku melihat mereka berjuang keras menaklukan sulitnya materi yang kuberikan. Ah, semoga hati dan pikiranku senang belajar memecahkan masalah dan kesulitan dari setiap pelajaran yang kuberikan, Nak.

Sungguh ada gelayut sepi. Kala kini, mereka sudah beranjak pulang. Di sebuah ruang tersendiri, aku menahan malu. Maafkan Ibu, Nak. Ibu sangat keras memaksa kalian agar paham dan mampu mengikuti apa yang kuberikan. Maafkan Ibu, Nak. Ibu terkadang sedikit abai mendengarkan celoteh riang kalian kala waktu mutiara itu sedang berlangsung.

Ya, waktu sekolah -belajar dan mengajar-. Bahkan, ketika bermain kadang aku hanya sesekali menemani kalian menikmati riangnya berayun diatas angin. Bahkan, sedikit waktu yang kesempatan untuk menemani riangnya kalian membuat pesawat dari kertas lantas menerbangkannya di angkasa dengan gembira.

Aku senang memandang kalian dari kejauhan. Kalian bahagia dan bebas merdeka. Bermainlah sesukamu, Nak. Namun, tak lupa tetaplah taat pada ajaran baik yang diberikan. Semoga tanpa ada terpaksa kalian senang mengikuti ajaran yang kami berikan -yang sesungguhnya kami sangat berharap di dalamnya terdapat banyak kebaikan sebagai bekal kalian di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Aku berkontemplasi. Ternyata menjadi seorang guru bukan hanya perjalanan akademik yang didapatkan kala aku sudah lulus mengikuti jam perkuliahan dan target kompetensi mata kuliah hingga sekian tahun lamanya. Lalu, dengan girang aku mengajari kalian ini dan itu. Memberikan kalian perintah ini dan itu. Melarang dan memarahi kalian ini dan itu.

Ah, aku merasa sungguh menjadi manusia yang kasar. Kala aku memarahi kalian tersebar sebuah kesalahan. Di sudut sebuah ruang hati, aku menjerit. "Haruskah aku memarahi kalian, Nak?"

Padahal sungguh sudah banyak kebaikan dan prestasi yang kalian berikan. Kalian rajin berangkat sekolah dengan riangnya tanpa merasa beban bertemu denganku. Seorang guru amatiran yang senang sekali memerintah kalian ini dan itu. Menjejali kalian dengan ini dan itu. Mengharuskan kalian mengerjakan ini dan itu.

Kala kalian mengeluh, "Bu, susah! Bu, nggak bisa!" Dan keluhan lain-lainnya. Sungguh, saat itu aku akan langsung menegur kalian. "Jangan biasakan menyerah sebelum berperang! Jangan biasakan mengatakan, "Aku tidak bisa! Susah!" Dan beragam keluhan kalian lainnya supaya aku meringankan tugas kalian.

Sungguh, aku sangat ingin kalian menjadi pejuang yang tangguh menaklukan tantangan. Kesulitan dalam belajar ini adalah simulasi perjalanan kehidupan. Agar kala nanti kalian beranjak dewasa lalu menemukan sebuah permasalahan hidup yang kompleks kalian tak mudah menyerah dengan memiliki jiwa pengecut yang gampang mengeluh bahkan menyerah. Tapi, bangkitlah dan taklukan tantangan yang hadir itu sehebat kalian mampu! Tunjukkan pada dunia bahwa kalian adalah hebat dan mampu! Aku ingin kalian menjadi juara menaklukan sisi lemah jiwa kalian! Seperti itu, sesederhana tidak mengatakan, "Aku tidak bisa! Ah, Ibu susah!"

Bangkitlah, Nak. Kita belajar bersama. Ibu sangat senang kala kalian dengan riangnya belajar, bereksperimen, berinovasi dengan ide-ide cemerlang kalian. Bekerja sama, bernyanyi lantang, lantas semakin merdu dengan cerahnya panorama di wajah kalian yang senang menggeluti berbagai macam pelajaran dengan semangat, "Aku bisa! Aku senang belajar! Tidak takut kalah ataupun salah! Aku akan belajar dari kesalahan itu! Hingga akhirnya kalian benar-benar mengatakan, "Yeaayyy, Ibu ini selesai dan aku bisa mengerjakannya dengan baik"

Great, my children! Kalian adalah syurga Ibu di Sekolah. Semangat kalian, senyum kalian, tawa, dan perubahan-perubahan kecil ke arah lebih baik itu ... Thats really my heaven. :)

Semakin kesini aku semakin menyadari. Bahwa menjadi seorang guru adalah sebuah perjalanan panjang. Bagaimana kami menaklukan tantangan kehidupan di tengah semakin kerasnya tuntutan zaman. Bagaimana kami tetap survive komitmen berusaha sebaik mungkin mencerdaskan anak-anak bangsa. Bagaimana kami terus berusaha, belajar belajar dan memperbaharui kemampuan agar tak ketinggalan zaman. Karena, kelak kalian akan hidup di zaman yang berbeda dengan kami.

Saat belajar tentang mata kuliah perkembangan peserta didik minggu lalu, aku sangat ingat. Ada pelajaran yang menyebutkan," bahwa ketika seorang guru mengajar harus melibatkan dan memperhatikan berbagai hal dalam dirinya. Ingatan, kepribadian, kemampuan, bahkan perasaan."

Kita tak boleh semena-mena mencekoki kalian dengan berbagai muatan pelajaran. Tapi kami  abai pada perasaan dan kondisi hati maupun kepribadian kalian.

Mulai saat ini, aku ingin lebih menyelami kedalaman laut hati kalian. Aku tahu kadang ada getir yang tersembunyi, malu-malu terungkap. Ada gerah yang terperangkap, takut-takut aku marah berderap. Aku tahu, kadang ada mata-mata yang sembunyi-sembunyi mengharapkan hadirku lebih membersamainya menuliskan tinta-tinta masa yang tengah menjeratnya.

Bermainlah bersamaku, Nak. Belajarlah dengan riang. Semoga aku mampu menjadi guru yang sesungguhnya seorang guru. Bukan sekadar gelar akademik. Bukan sekedar title sebuah jabatan. Bukan sekedar topeng dibalik berbagai tuntutan.

Karena sesungguhnya menjadi seorang guru adalah sebuah perjalanan panjang dari hati yang belajar ikhlas menenunkan sabar dalam rumah jiwanya. Karena sesungguhnya menjadi seorang guru adalah perjalanan panjang bagaimana aku tak pernah jemu menengadahkan pinta dan doa untuk kalian. Karena sesungguhnya menjadi seorang guru adalah perkara berjuang keras menghebatkan diri agar mampu menghebatkan kalian, generasi harapan.

"Semoga kalian adalah penyejuk qalbu bagi Bapak dan Ibu. Semoga kalian adalah jundi-jundi harapan yang banyak menyemai kebaikan dan kedamaian. Bagi masa dan bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Kita sama-sama belajar saling menghebatkan ya, Nak."

Terima kasih. :)

Kamis, 21 September 2017

Dipeluk Renjana

Aku termasuk orang yang senang berfoto, take some selfi, dan menguploadnya ke media sosial yang kupunya.

Tanpa ada maksud negatif sih, ya terkadang ingin mengabadikan momen, menyimpan kenangan, ataupun sekedar seru-seruan bareng temen.

Dan sudah beberapa kali pula, aku diingatkan oleh Afuh. He is my love. Agar tidak sering-sering mengupload foto selfi ke media sosial.

Yap, bukan hanya sekali dua kali beliau mengingatkanku. Tapi sudah beberapa kali. Namun, aku masih tetap saja tak menurut. Kadang masih suka bersuka ria seenaknya mengupload foto.

"Kamu nggak dilarang untuk berfoto selfi sampai beberapa kali pun. Tapi, untuk mengunggahnya ke media sosial. Janganlah  sering-sering!."

"Orang-orang akan  tetap diakui keanggunanmu, kecantikanmu meskipun kamu tidak sering-sering mengunggahnya ke media sosial."

Sungguh, perkataannya memang benar. Aku mengakuinya. Untuk apa aku sering-sering mengunggah gambar pribadi dan memamerkan segala hal yang aku lakukan pada masyarakat dunia maya. Apa faedahnya bagiku? Apakah dengan melakukan itu aku mendapatkan banyak manfaat?

Ah, sungguh aku membenarkan perkataanmu sayang. Tapi, terkadang setelah berapa lama. Aku pun terlupa lagi.

Hingga ia tak bosan-bosan mengingatkanku lagi.
"Dear, aku tak suka kamu sering-sering mengunggah foto. Aku lebih suka membaca unggahan tulisan-tulisanmu. Percayalah, itu lebih banyak mudharatnya."

Hiks. .. Aku malu sudah beberapa kali diingatkan tapi masih saja melanggar. Maaf ... dan terima kasih sudah sabar mengingatkan.

Kata-katanya yang masih sangat terngiang adalah, "Iya, aku nggak suka Fitri sering-sering unggah foto. Aku lebih senang membaca tulisan-tulisanmu."

Hiks, Iya, dear.

Mungkin itu hal sepele. Tapi sebetulnya menunjukkan banyak hal. Dengan aku lebih sering memposting tulisan itu berarti aku lebih rajin belajar dan menggunakan waktuku untuk hal-hal produktif dan berfaedah dibandingkan dengan sering-sering berselfi ria lalu mengunggahnya tanpa manfaat baik yang nyata entah hanya sekedar ria belaka.

Hari ini, aku merindukan ia. Ia, lelaki yang hadir bahkan sekedar suaranya pun mampu membuatku tenang. Beliau sekarang sedang di perjalanan menuju Jakarta setelah sebelumnya pulang bersilaturahmi bersama keluarganya di Tasik dan sekitarnya.

Kita sedang sama-sama berjuang menyelesaikan studi kami yang sebentar lagi mendekati detik-detik ke semester akhir. Sehingga kesibukan dan tugas pun tak bisa dielakkan. Ditambah aku yang bekerja sambil kuliah. Dan beliau adalah aktivis di kampusnya.

Kami harus pandai-pandai memenej diri dan waktu agar mampu mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya sebaik mungkin.

Ah, semoga kamu tak lelah dan senantiasa sabar mengingatkan dan mendampingiku, dear. Aku yang kadang susah diingatkan lalu keras kepala menghadapi titahmu.

Hari ini, aku merindukannya. Sangat ... tapi biarlah aku menjagamu dan menumpahkan kerinduan pada sudut hati yang merona dan terjaga bersama kesyahduan-Nya.

Hari ini aku merindukannya. Lelaki yang kusebut kekasihku. Dan calon imamku yang semoga Allah mudahkan segala langkah kita menuju keridhoan-Nya.

Hari ini aku merindukannya. Lelaki bijak yang sungguh bahunya adalah sekekar-kekar kehidupan dan senyaman-jualannya tempat pulang dan aku berkeluh kesah.

Ini tentang sisi wanitaku yang senantiasa membutuhkan ia sebagai pendamping dan tempat pulang. Tempat tumpah segala kalut, lelah, manja, dan risauku. Ini tentang sisi wanitaku yang merindu dan membutuhkannya.

Ini adalah tulisan random dan curhat, berawal dari mengingat dan mengenangnya yang selalu mampu membuatku terkenang syukur dan senyum. My, dear ... may Allah protect u always everywhere u are ... mengingat bijak bestari dan nyaman kasihmu mampu membuatku syahdu  tenang terkenang dalam bathin.

Sebetulnya sudah sedari tadi, aku memikirkan harus menulis apa hari ini. Ada beberapa ide yang ingin kutumpahkan dalam tulisan yang akan kusajikan sebaik sebagus mungkin agar layak aku post di grup share Link One Day One Post.

But, entah ... ide-ide itu meluap. Lalu, aku hanya sedang merindukanmu. Maka lahirlah tulisan ini sebagai koleksi pribadi dan tidak aku share di grup link.

I miss u, take care everywhere u are. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dimanapun berada serta terjauhkan dari segala bahaya.

Ini tulisan asli curhat. Jangan dibaca. Aku malu. Tapi rindu.

Tangerang, 20 September 2017.
Malam sebelum tidur dan dipeluk rindu ditemani tugas kampus yang baru setengah aku kerjakan.

Mangatsee pejuang rindu eh pejuang shubuh dimanapun berada. ♡

Senin, 18 September 2017

Pecahkan Saja Aku!

Pecahkan saja aku!
Aku adalah makhluk kuat di tengah badai sekalipun.

Pecahkan saja aku!
Aku adalah makhluk penyabar di tengah dera riak riuh absurdnya kehidupan.

Pecahkan saja aku!
Kepala berakar, tubuh berderai, hati melerai ...

Pecahkan saja aku!
Dengan ujimu. Yang nyatanya ia adalah sebentuk bukti cinta hakiki.

Melebur kelam. Menempa raga. Membakar hati. Menyiram nurani. Mendekatkan pada Illahi.

***

Rasulullah SAW bersabda : ”Jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah berikan cobaan baginya. Dan jika Allah mencintainya dengan kecintaan yang sangat maka Allah akan mengujinya.”

Tulisan ini sungguh sebentuk hiburanku pada diri. Seberapa banyak pun tanggung jawab dan ujian yang diberikan, semoga kita sabar dan ridha. Karena, jika kita ridha dengan ujian yang Allah berikan pada kita. Allah pun akan ridha kepada kita.

Ujian adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. Positif thinking, be grateful, and be better everyday ... Alhamdulillah  ...

#Selfreminder

Minggu, 17 September 2017

Nanya Kapan Nikah Sama Gue? Dorrr!

Ok guys, dini hari ini gue mau posting hal yang lumayan rada-rada bikin baper. Idenya tercetus ketika akhir-akhir ini gue sering banget nerima pertanyaan yang namanya, "kapan nikah?"

Its oke. No problem... realita hidup mah kayak gitu. Kalau ada yang nanya gitu artinya mereka peduli dan mau membantu persiapan gue ke arah sana be lyke. Lol

"Bu, lu udah keduluan lagi tuh!"

"Keduluan apa gitu emangnya?" Jawab gue selow dan santai gaes.

"Noh temen lu udah pada mau nikah!"

"Alhamdulillah ya ada orang yang mau nikah itu, kita ikut seneng. Mereka bakalan menyempurnakan separuh agama mereka serta bisa lebih menjaga diri dari pergaulan yang tidak baik." Tukas gue seorang Fitriani Nurul Izzati yang sok bijak. *plakk

"Lu kapan, Bu? Masa keduluan terus?" *ebuceh ...  tiba-tiba tenggorokan serasa lagi nelen garpu.*

Dengan ekspresi datar gue jawab, "Ya, mohon doanya aja ya. Mudah-mudahan disegerakan dalam kebaikan." *sok bijak gue kumat lagi.*

Padahal hati mah ngedumel  kepanasan wkwkkwkwk becanda gaesss tetap keep calm stay cool dan jangan lupa menabung yaaa 😂

Okey, jadi kali ini gue akan membahas tentang beberapa faktor yang menyebabkan seseorang cepat menikah.

U know Taqy Malik, Muzzamil Hasballah, siapa lagi yaaa ... ya itu lah mereka yang sudah berkesempatan menikah muda. Alhamdulillah. Atau teman-teman sekolah, dan kuliahmu ada yang sudah menimang bayi mungil lucu nan menggemaskan. Yups, mereka bisa dikatakan beruntung bisa -menikah muda- yang saat ini lagi jadi trend kekinian sehingga membuat mupeng para jomblowan. *uhukkks

But, jangan mentang-mentang beliau yang usianya dibawah gue dan udah duluan nikah sementara gue belum. Penduduk bumi berhak ngecap gue dengan berbagai macam pertanyaan yang kadang seolah cuma menanyakan tapi padahal memojokkan wkkwkw

Karena ternyata, setiap orang itu punya cerita dan perjalanan hidup yang berbeda dalam mencapai gapaian-gapaian hidupnya. Faktor-Faktor itu diantaranya:

1. Dukungan keluarga

Ada keluarga yang ketika anaknya sudah punya KTP dan lulus sekolah menengah atas serta dari segi ekonomi dan calon sudah dicarikan, mampu menikahkan anak-anak mereka di usia muda. Pun ada juga yang berpandangan berbeda. Ada yang berprinsip bahwa menikah itu harus sudah siap segalanya, sudah dewasa, sudah lulus kuliah S2, sudah punya pekerjaan tetap, dan lain sebagainya.

Ya, nggak apa-apa. Kan setiap keluarga, setiap orang berhak memilih pilihan dalam hidup mereka. Jadi, kalo kamu lihat ada yang nikah muda terus liat gue yang usianya udah kepala dua lebih dua ini malah keduluan. Ya, kalem aja sih gaes. Mereka ya mereka. Gue ya gue.

2. Faktor kedua yang mempengaruhi seseorang menikah muda adalah kesiapan mental serta ekonomi dari orang itu sendiri.

Gue pernah ngikuti talkshow nya 'Taqy Malik' di acara FORNUSA Tangerang. Dan beliau, jadi narasumbernya. Dari yang gue liat, meskipun dia usianya tiga tahun di bawah gue. Tapi, dari sisi kedewasaan, keilmuan, kematangan visi dan misi beliau memang sudah siap. Diundangnya kemana-mana. Hafalannya keren. Siapp deh.

Beuh, kalo dia lagi baca quran sama lagi talkshow nya nggak keliatan dia masih usia dua puluh tahun pun kurang. Mantab banget lah. Dari segi prinsip, dia juga salah satu pemuda yang mendukung menikah muda daripada berlama-lama pacaran apalagi berzina. Na'udzubillah kan.

Kesiapan mental setiap orang itu beda-beda gaesss. Kan latar belakang hidup mereka juga beda-beda. Ya, nggak usah disamakan lah!

Oke, point pertama dan kedua udah klop. Dari sisi keluarga sudah mendukung, dari sisi pribadinya sendiri juga sudah siap, ekonomi juga udah siap. Calon mempelai laki-lakinya setidaknya sudah punya pekerjaan yang menghasilkan supaya bisa ngasih makan anak orang beserta endebres-endebresnyaa. Tinggal point ke tiga.

3. Faktor yang menyebabkan seseorang menikah muda adalah sudah menemukan pasangan yang cocok untuk menggenapkan separuh agama hingga mau berjuang sama-sama hingga ke syurga. *Tsaah

Nah ini yang paling penting. Betapa banyak diantara kita, yang usianya sudah lebih kepala dua. Bahkan sudah ada yang berniat melamar tapi tak kunjung juga menikah.

Ya, tak masalah. Mungkin saja beliau belum menemukan keyakinan hati dalam menemukan pasangannya.

Jalan dan ujian hidup setiap orang berbeda-beda. Jangan menyamaratakan. Apalagi membanding-bandingkan dengan tujuan sekedar becandaan apalagi seriusan yang akhirnya malah menyakitkan. Hiks hahahha

Keep calm gaes, setiap orang sudah punya takdirnya masing-masing. Tidak usah khawatir apalagi risau. Apalagi mengumbar-ngumbar tanya ke para single berlabel (julukan dosen gue buat para manusia yang belum menikah)  kapan nikah? Kapan ngundang? Kapan wisuda terus ijabsaaahh?

Mau bantuin gue, menyelesaikan tanggung jawab-tanggung jawab hidup gue ya sehingga cita-cita gue untuk segera menikah bisa terlaksana? Hahahha

Tapi, by the way terima kasih loh yang udah rajin nanyain ke gue kapan nikah dsb. Kalian peduli dan perhatian banget. Wkwkwk

Jadi, intinya jangan menyamaratakan, membanding-bandingkan, lalu melontarkan pertanyaan yang tujuannya becandaan tapi terselip udang di balik rempeyek tersebut yaaa.

Hati-hati sama lisan kita, takutnya menyakiti hati orang ataupun sekedar menyinggung perasaannya. *nunjukdirisendirisuruhintrospeksi T_T*

Karena setiap orang punya cerita, target, perjalanan hidup, dan ... takdir terbaiknya masing-masing.

Untuk para single berlabel, yang masih tetap setia menunggu pasangan turun dari kahyangan. Semoga tetap istiqamah menjaga dan memperbaiki diri agar Allah makin cinta sama kita ya. Makin semangat belajar dan meningkatkan kualitas dirinya supaya banyak bermanfaat bagi sesama.

Dan buat para single yang sudah menikah, Alhamdulillah kita doakan semoga pernikahan mereka berkah, sakinah, mawaddah, warahmah, dikaruniai anak-anak yang sholeh-sholehah, setia berjuang bareng-bareng hingga ke Jannah.

Sesimple itu kok. Daripada sibuk banget ngurusin hidup orang mendingan kita banyak-banyakin baca buku, dzikir, dan bersyukur yuuuk! Sungguh itu lebih berfaedah.

Jadi, mau nikah muda atau nikah di usia dewasa?
Alhamdulillah di syukuri saja. Asalkan tetap istiqamah beribadah mencari ridha Allah, tempat segala lelah berpasrah.

Keep calm, stay grateful, be better everyday gaesss ... Uhibbukumfillah ...❤💛💚

Senin, 18 September 2017. Dari kolong asrama di bawah langit. Ditemani nyamuk dan suara-suara mimpi yang menggema hingga ke langit.

#Fitriani Nurul Izzati
#Blogger

Cinta Untuk Rohingya, Konser Amal Tangerang Kota

Hari ini, Ahad 17 September 2017. Alhamdulillah aku dan teman-teman bisa menghadiri konser amal untuk Rohingga yang diadakan di Lapangan Ahmad Yani, Alun-alun kota Tangerang.

Acara ini dimeriahkan oleh grup Nasyid legendaris idola kami; Izzatul Islam, ada Kang Hedy Yunus, dan Bunda Melly Goeslaw juga.

Gema takbir sudah menyeruak memenuhi lapangan yang cukup luas disesaki para pengunjung yang datang, baik itu yang sengaja datang untuk mengikuti konser amal ataupun yang berolahraga di sekitar lapangan Ahmad Yani.

Rohingya, sebuah etnis yang termarjinalkan di Belahan Myanmar sana. Bukan hanya solidaritas sesama agama yang terusik. Lebih dari itu, tragedi Rohingya sesungguhnya adalah tragedi kemanusiaan. Tak perlu menjadi orang yang beragama tertentu untuk ikut berempati dan peduli terhadap musibah yang menimpa mereka. Kita cukup menjadi manusia. Lalu, membuka mata dan telinga atas kezaliman yang tengah terjadi.

Gelora semangat yang terus dikibarkan oleh para pembawa acara, beserta sambutan dari perwakilan pemerintah Provinsi Banten, nasyid-Nasyid menggugah iman dari Izzatul Islam, serta lagu-lagu religi yang menyentuh nurani, mampu menyulut gema takbir, kibar bendera dengan tangan terkepal, serta bulir air yang tanpa kami paksa turun melintasi pipi.

Rohingya, 2400 orang lebih diusir paksa dari tempat tinggalnya, 400 rumah dibakar habis, perempuan-perempuan diperkosa secara paksa, anak-anak tak berdosa kehilangan rumah, bahkan orang tua dan keluarganya. Bom dan kekejaman pun sudah seperti makanan tak berupa.

Bagaimanakah bila kondisi kita seperti mereka? Sungguh, kita adalah makhluk-makhluk yang beruntung -bisa bangun pagi di rumah dengan aman. Menghirup nafas dari udara segar tanpa bau mesiu dan darah. Sarapan dengan makanan sehat nan lezat, sedangkan mereka tengah menahan lapar dahaga dan perih luka.

Selamatkan, kuatkan, dan bebaskan mereka saudara-saudari kami, Ya Rabbi ... dari kekejaman manusia yang tak berperikemanusiaan. T_T

***

Ada beberapa poin penting yang menjadi tujuan diadakannya konser amal untuk Rohingya ini, yang aku kutip dari sambutan salah seorang pejabat pemerintahan kota Tangerang:

1. Mengedukasi masyarakat agar memiliki kepedulian dan empati kepada sesama

Dari berita yang aku baca dari post terbaru sebuah fanpage terpercaya. 1100 anak Rohingya tiba di pengungsian Bangladesh tanpa orang tua dan keluarga. T_T

Banyak diantara mereka yang menyaksikan sendiri  anggota keluarga mereka tewas dibunuh secara kejam di negeri Rakhine oleh tentara Myanmar dan warga Budha sebagai upaya 'membersihkan etnis secara tidak terstruktur' dan tidak berperikemanusiaan.

"Semakin banyak kekerasan yang terjadi di tempat tinggal mereka, hingga mereka harus pergi menyeberangi sungai dan mengungsi. Sampai saya hanya makan daun dan air untuk menahan lapar." Ucap Muhammad Ramzi  (12) dikutip dari salah satu artikel di facebook. Ia juga mengatakan keadaan semakin berbahaya dan terancam setelah mereka melarikan diri.

Rohingya adalah panggilan untuk jiwa kemanusiaan kita.

2. Entertainment Spiritual
Begitulah aku menyebutnya. Dalam konser amal ini, kita disuguhkan oleh lantunan Nasyid mengetuk hati, lagu-lagu religi, serta gema takbir dan semangat yang bersumber dari jiwa-jiwa pembaharu.

Tersayat. Kata yang pas untuk menggambarkan bagaimana tadi aku mengikuti konser amal di Lapangan Ahmad Yani. Ayat-ayat dan seruan Allah terngiang di kepala.

Hari tadi, kita tinggal berdiri tenang berdonasi semampu kita dengan terik matahari yang cukup bersahabat dan lingkungan yang tenang. Sementara, warga Rohingya entah seperti apa keadaan bathin mereka berjuang perih. Entah sekuat apa jiwa mereka menerima kebiadaban penduduk bumi.  Sungguh ...

"Barang siapa yang menolong agama Allah. Maka Allah akan menolongnya."

Hiburan untuk ruhani yang lelah dengan rutinitas hedonis dan duniawi menyelami tangis bathin akan jauhnya dari rasa syukur dan ketaatan. T_T

3. Poin ke tiga yang paling penting adalah untuk mengumpulkan donasi yang selanjutkan akan disalurkan oleh Aliansi Peduli Rohingya kepada mereka saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Alhamdulillah, panitia tim sunduq yang bertugas mengumpulkan donasi dari para hadirin yang datang, tampak bersemangat melaksanakan tugasnya meskipun harus berlelah berpanas dan berjalan-jalan ria menepis terik demi mengumpulkan donasi untuk Rohingya.

Oleh Tim Izzatul Islam pun dilakukan lelang hingga terkumpul sebanyak 25 orang yang berdonasi masing-masing Rp. 2.000.000,- untuk disalurkan. Mereka terdiri dari remaja, dewasa, orang tua bahkan anak-anak pun ikut berdonasi.

Antusiasme para panitia yang luar biasa, serta semangat kepedulian para hadirin yang tidak diragukan lagi sehingga konser amal pun berlangsung secara khidmat dan  berkesan pada bathin kemanusiaan kita.

Meski tidak mengikuti acara sampai selesai, tapi semoga donasi yang terkumpul beserta panjat doa sampai untuk saudara-saudara kami disana.

Mereka adalah bagian dari kita. Manusia-manusia bumi yang memiliki hak yang sama untuk hidup, melangsungkan kehidupan, mendapatkan perlindungan dan keamanan, serta hidup dengan layak dan sejahtera.

Salam dari kami, Rohingya. Doa kami menyertaimu. Allah Maha Melihat setiap sakit dan perjuanganmu. Rohingya, kami cinta padamu. Kalian tidak sendiri!

Rohingya ...
Selamatkan, bebaskan! Allahuakbar!

Bersama pekik takbir yang bergema. Dan jiwa-jiwa yang teriris. Semoga Allah meridhoi usaha kami, mencintai Rohingya mencintai sesama manusia.

***

Yakin dengan janji Allah pada surat cinta-Nya.

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.”(Qs. Al Hadid: 18)

Jumat, 15 September 2017

Hari Ini Ia Menangis. Dan Sudahlah Cukup!

Hari ini aku tertawa lepas bersamanya. Bahkan tawa itu sungguh lepas, sebebas melepaskan segala kegelisahan yang menumpuk pada dada. Aku tertawa melihatnya, melihat mereka. Ah, indahnya nikmat kehidupan ketika aku diberi kesempatan membersamai mereka.

Melihat senyum teduh di paras mereka, candaan renyah tanpa beban yang terlontar dari mulut mungil yang menebarkan keceriaan pada setiap penjuru dan sudut lalu lalang hidup kami. Ah, melihat kalian rukun dan rajin, bekerja sama dan saling menolong, bahkan saling menjahili satu sama lain tanpa ada yang merasa terdiskriminasi. Sungguh itu kebahagiaanku yang hakiki.

Melihat kalian, bahagia. Dengan senyuman lalu candaan. Dengan perhatian lalu kecintaan. Hingga suatu hari, aku sungguh terharu. Mereka sedang bercerita tentang pelajaran yang beberapa waktu kemarin kusampaikan.

Sebagai sesama teman, mereka menceritakannya dengan asyik lalu tersenyum bangga. "Kata Ibu guru, kemarin begini ... begini ... dan begitu. Kenapa ini seperti ini dan itu seperti itu ..." lalu senyum sumringah tampil mempesona di wajah mereka.

Allah ... terima kasih. Ternyata mereka mendengarkanku dengan baik. Menyerap apa yang aku sampaikan dengan sangat senang dan detail.

Pernah suatu waktu aku bertanya, "nanti kalau kalian sudah besar mau jadi apa?"

"Ah, aku mah mau jadi kayak Ibu aja. Ibu begini dan begini."

Allahu ... terima kasih. Bahkan di tengah gelapnya aku sedang merasa kerdil pada dunia. Mereka bahkan mau menjadi sepertiku. Perempuan yang sesungguhnya masih harus sangat banyak belajar. Sungguh, terkadang aku merasa menjadi perempuan yang tidak berguna. Hanya sedikit yang baru aku beri. Namun, aku sudah menerima kebaikan yang sangat banyak. Lalu, bagaimana aku tidak harus banyak bersyukur dan bermuhasabah diri?

Merasa kerdil dan makhluk tak tahu diri macam apakah aku ini?

Kebahagiaan mereka yang terpancar kala mengeluarkan kalimat-kalimat manis, ceria, dan tanpa dosa itu ... Sungguh membuatku haru.

Allahu ... terima kasih. Semoga aku bisa bersyukur dan memberi lebih banyak mulai dari sekarang. Ya, memberi kebahagiaan, kebaikan, kecintaan, dan segala hal yang mendatangkan keridhaan dan ketenangan.

Hari ini, aku melewati tangga sambil memegang ponsel. Di seberang sana suara yang membuat aku selalu tenang dan rindu tengah berbicara. Ah, bait-bait bicaranya adalah cinta dan sabar yang tak terperi.

Hingga, gadis itu berteriak dan terus mendesakku.

"Ibu ... ayo ... telpon Mama aku, bu!"

"Iya, Nak. Sebentar. Ibu sedang menggunakan ponselnya."

"Ayooo, Ibu. Cepetan," mukanya semakin memaksa semakin sendu.

"Iya, Nak. Ibu telpon Mama ya."

Beberapa kali aku chat dan telpon. Tak kunjung juga ada jawaban. Namun, gadis yang kini sudah duduk di sampingku di pelataran sekolah itu sudah terisak tak tertahan.

"Aku mau ketemu Mama, Bu. Aku mau ketemu Mama. Ayo, telpon Mama terus, Bu."

"Iya, Nak. Ibu sudah berkali-kali telpon dari tadi tapi tak juga ada jawaban. Sudah Ibu infokan sejak sebelum pulang dan beliau sudah konfirmasi mau jemput kamu."

"Aku mau Mama, Bu. Ayooo ... nanti kalau aku sudah pulang ke rumah nggak bisa ketemu Mama lagi, Bu," Ia mengusap air matanya yang semakin deras dengan mata yang semakin memerah. Ujung jilbab putihnya kini sudah basah dikucuri air yang turun dengan tulus itu.

Ya, belakangan ku ketahui kalau Mama dan Bapaknya sudah tak serumah. Ia beserta adik-adiknya ikut bersama Bapak mereka dan tidak diperbolehkan bertemu Mamanya. Entah sebab apa, aku tak tahu.

Yang aku tahu, gadis itu tulus dengan rengekan dan kerinduannya. Yang aku tahu, ia adalah masih seorang gadis kecil yang sungguh rindu menikmati setiap hari dijemput dan disambut oleh Mamanya kala pulang sekolah ataupun bercanda renyah di rumah.

Yang aku tahu, senyum di bibirnya kini menahan kegetiran. Orang tua mereka kini, sudah tak menyatu lagi. Tak utuh dan rapuh. Dan ia belum sanggup untuk luluh, ia tetap saja seorang gadis kecil yang rindu akan belai dan peluk lembut tangan halus seorang Ibu.

"Bu, aku pengen ketemu Mama, Bu," Isak tangis dan rengekan polosnya sungguh tajam menghujam bathinku dalam.

Oh Allah ... sebegitu rumitkah menjadi orang dewasa. Hingga aku masih tak habis pikir bagaimana tega seorang Ibu harus pisahkan  paksa dari anak kesayangannya.

Oh Allah ... sebegitu rumitkah menjadi orang dewasa ... Hingga pelangi-pelangi kecil yang selalu mampu membuat hidup jadi lebih hidup dan berwarna itu harus dikorbankan. Bahkan mereka tak berdosa. Mereka hanya anak-anak yang memiliki hak untuk selalu disayangi, diperhatikan, diberikan kehidupan dan pendidikan terbaik dari orang tua dan sekeliling kehidupannya.

Oh ... Allah ... hati teriris mendengar isak tangis harapnya. Bagaimanakah cinta yang asalnya bisa menyatukan lalu dengan nista memisahkan?

Segala cinta ada pada genggaman-Mu. Maka genggamlah hati kami dalam pengabdian dan cinta kepada-Mu,  Ya Rabbi  ...

Gadis-gadis dan lelaki-lelaki polos nan lucu itu adalah pelangiku. Aku percaya mereka adalah pelangi masa depan yang cerah. Mereka makhluk-makhluk optimis, tulus, penyayang, dan berkemauan keras dalam belajar.

Peluk cinta dari aku yang aku sebut, Ibu di sekolahmu, Nak. Semoga aku bisa lebih banyak memberi untuk semesta hingga pemilik semesta meridhai dan suka akan saat kembaliku kelak.

*Tulisan di gambar adalah hasil tulis tangan mereka beberapa waktu lalu. They said, "I love U." ❤ "I love u too, Nak." 💙

Rabu, 30 Agustus 2017

Perempuan Yang Berdialog Dengan Tuhan

Sembilu pagi mengantarkanku pada pertemuan sunyi
Apa kabarmu?
Eh iya, aku sudah mengenal namamu tapi tak satupun petunjuk darimu yang mampu menuntunku mengenal lebih jauh di sudut jiwa

Selamat pagi sembilu
Aku nanar dan remang tak berarah
Kakiku kaku melangkah derap
Lidahku kelu mengucap irama

Hingga, perempuan itu hadir
Menarik palung jiwa hingga ke dasar
Kemudian dihempaskan sekuatnya

Ia ...
Perempuan yang tak jemu berdialog dengan Tuhannya
Aku memandangi dari balik udara bersekatkan nafas penasaran

Khusyuk ...
Sesuatu yang tak mampu kugambarkan
Namun, dinginnya mampu menusuk bathin
Wajahnya sayup namun bercahaya

Ia, perempuan yang pandai mengeja doa
Dalam setiap pinta yang lirih ia dengungkan
Di setiap sujud dan ruku pada pemilik alam

Aku serasa ditampar hingga darah tak bersisa
Cahaya yang ia tebarkan kala berdialog dengan Tuhannya
Kenapa begitu membuatku sesak

Kapan terakhir kali aku merenda waktu bersama kekhusyukan mendekati-Nya?
Kapan terakhir kali aku menenun tengadah tangan bersama tunduk seorang abdi yang mencintai-Nya?
Kapan terakhir kali aku setenang itu duduk bercengkrama dengan Tuhan?
Kapan terakhir kali aku begitu asyik berbincang riang dengan-Nya?
Kapan terakhir kali aku berdialog dengan Tuhan?

Ah, perempuan itu begitu indah dan tenang bersahaja dalam balutan jilbabnya yang sederhana
Cantik, terpancar dari wajah hatinya yang bercahaya
Hingga mampu menyentuh sisi batinku
Ia mempesona dalam balutan senyum keanggunannya

Ia, perempuan yang berdialog dengan Tuhan
Saban hari tak pernah jemu
Ah, entah berapa cahaya yang sudah ia raup selama kebersamaannya yang tak terganggu dengan kasih sayang Pemilik Sang hamba ...

Ia, perempuan yang berdialog dengan Tuhan
Saban hari tak pernah jemu
Ia cantik dengan pancaran cahaya teduhnya yang tak biasa ...

Aku iri padamu, hei yang dicemburui para bidadari ...
Alam kelembutanmu menyentuh sisi nuraniku, dalam ...

Rabu, 09 Agustus 2017

Dia cinta pertamaku.

Hari ini adalah hari pernikahanku. Hari bahagia yang sangat kunantikan sampai detak jantung pun tak karuan. Tepat di sebelahku, tengah berdiri seorang lelaki gagah nan penuh wibawa memakai setelan pengantin laki-laki dengan tubuh yang tinggi semampai serta bahu kekar. Dada bidang dan senyum damainya tengah ia tebarkan dengan tulus pada setiap tamu yang datang.

Sesekali senyum kami bertemu menahan haru dan malu.

Dan kau tahu? Aku adalah perempuan paling bahagia di dunia. Bagaimana tidak? Ia adalah lelaki sempurna yang berani meminangku tanpa mengajak pacaran berlama-lama. Dengan kesiapan dan keseriusannya, ia memintaku pada bapak dan Ibu agar bersedia menjadi istrinya tak hanya sebatas di dunia tapi juga di hari yang dijanjikan nanti. Sungguh saat itu tak ada alasan untuk aku menolak pinangannya.

Aduhai, perempuan manakah yang tak melayang hatinya. Mendapati laki-laki pemberani dan berkharisma datang dengan segenap kesungguhan hati menanggung hidup dan berjanji akan membahagiakanku. Dengan segala kemapanan materi dan kehebatannya sebagai seorang laki-laki.

Ya, itu adalah aku. Nuri Jannatul Firdaus, perempuan paling bahagia, istri dari seorang pria berperawakan cukup atletis, berlesung pipit, dan pemilik senyum manis nan mendamaikan.

Kata-kata sampai tak cukup mampu untuk mengungkapkan betapa bahagianya aku saat itu. Ia seorang laki-laki yang sungguh mampu membuatku berdebar tergila-gila kagum dan damai pada saat yang bersamaan.

***

Semua bermula saat aku telah lulus kuliah dan menjadi mahasiswi terbaik dari sebuah fakultas ekonomi perguruan tinggi negeri dengan predikat cum laude. Lelaki itu datang, memintaku pada Ibu dan Bapak. Dan aku, dengan senang hati tanpa ada satu alasan pun untuk menolak pinangannya.

Ya, ia adalah lelaki beruntung itu. Mendapatkan penerimaanku dengan mudah. Ia adalah cinta pertamaku.

Waktu berlalu memberikan kesegaran pada alur hidupku yang baru. Bunga-bunga indah itu seolah sedang bermekaran di dalam rumah tanggaku yang baru seumur jagung.

Ah, hidup begitu luar biasa memberiku hadiah tak terkira. Aku perempuan paling bahagia di dunia. Di lahirkan dari keluarga penuh kasih sayang dan berada. Semua keinginan dan kebutuhanku terpenuhi dengan baik. Ditambah lagi, sekarang aku telah menikah dengan Mas Firman. Cinta terbaik yang pernah ada. Dan keluarganya pun sangat menyayangiku. Aku adalah menantu kesayangan mereka.

Coba kamu jadi aku? Hidupku sungguh nyaris sempurna dan membahagiakan.

***

Selang satu tahun pernikahan, Alhamdulillah kami sudah dikaruniai seorang bayi mungil nan cantik. Humaira namanya. Ia menjadi perekat cinta antara aku dan Mas Firman.

Kami yang sama-sama bekerja di sebuah perusahaan besar. Hanya bisa menemani Maira sepenuhnya pada hari libur, Sabtu dan Minggu. Selebihnya orang tua dan mertua kami dengan senang hati menjaga Humaira untuk kami.

Aku dan Mas Firman terkadang berangkat dan pulang kerja bersama. Sebentar namun menjadi momen berharga melepas kerinduan dan cintaku padanya. Sepanjang jam kerja di kantor, pikiranku tak lepas dari Mas Firman dan Humaira. Mereka benar-benar energi hidupku. Terlebih Mas Firman ia adalah cinta terbaik yang aku miliki.

Meski, aku seorang istri yang manja senang merajuk dan cenderung bawel saat bersamanya. Ia adalah lelaki paling sabar dan berkharisma yang pernah ada. Sandaran hidup dan cinta pertamaku.

Hingga suatu hari, saat istirahat jam makan siang. Aku tak sengaja melihatnya sedang bergandengan mesra dengan seorang wanita cantik berperawakan tinggi semampai.

Ah, tak mungkin itu suamiku. Hiburku dalam hati.

Jarak kantor kami memang lumayan dekat. Jadi, saat jam istirahat kami kadang janjian untuk sekedar makan siang bersama.

Tapi, tidak hari itu. Mas bahkan tidak memberiku kabar atau ucapan manis lewat sebuah pesan sebelum kerja dimulai. Atau ungkapan rindu saat jam istirahat siang mulai menjelang.

Aku pun berniat memberinya surprise, dengan datang ke tempat makan biasa kami. Namun, tak sesuai harapan. Ia tak juga kunjung datang. Di detik-detik akhir aku akan kembali ke kantor, justru aku melihatnya bersama seorang perempuan.

***

"Mas Firman!" Aku berlari menghampirinya.

Ia terlihat kaget dan melepas gandengan tangan sang perempuan.

"Ini sama siapa, Mas?"

Dia masih membisu dan seperti kalang kabut.

"Aku pacar sekaligus calon istrinya, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?"

Duarrr ... petir besar seolah menyambar hatiku. Aku tak kuasa menahan isak. Tanpa kata tanpa sapa. Mereka berdua berjalan meninggalkanku.

Sepulang kerja. Aku langsung menyambutnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.

"Mas tadi itu siapa? Nggak benar kan yang dia katakan Mas?"

"Huh ..." Ia tampak mengatur nafas untuk bicara.

"Ya, dia benar. Dia adalah pacar dan sekaligus calon isteriku. Berhentilah bersikap manis dan manja. Aku tak tertarik denganmu lagi."

"Lalu, apa salahku Mas? Kita sudah punya anak! Kurang apa aku Mas? Bukankah rumah tangga kita bahagia?"

"Nggak ada ... kamu nggak kurang apa-apa. Aku cuma sudah nggak mau sama kamu lagi." Ucapnya sembari bersiap membersihkan diri.

***

Semenjak saat itu. Duniaku terasa gelap. Bumi runtuh seketika. Pertengkaran demi pertengkaran selalu saja terjadi. Tak ada kekerasan fisik yang dia lakukan padaku.

Tapi kata-kata dan tatapan tajamnya seringkali membuatku merasa terhina dan tak lagi berharga sebagai seorang perempuan.

Pernah, bahkan berkali-kali aku sampai berniat untuk bunuh diri. Seperti wanita yang hidup tapi linglung tak jelas arah. Bahkan bayiku pun sampai berkali-kali masuk rumah sakit gara-gara bawaan sang Ibu yang stress tak berkesudahan.

Coba kamu jadi aku? Gimana rasanya diperlakukan hina dan dikhianati oleh lelaki yang sekaligus cinta pertamamu. Aku tak pernah berpacaran dengan siapapun sebelumnya. Seratus persen cintaku, sandaranku adalah dirinya. Aku benar-benar melabuhkan hati sejatuh-jatuhnya pada dia. Bahkan tak sempat memiliki pegangan lain. Aku sudah terlalu percaya padanya.

***

Berbulan lamanya aku di dera konflik bathin. Hingga kami resmi bercerai. Dan perasaan sayang itu masih saja ada untuknya.

Kini, ia sudah pergi entah kemana. Membawa sekeping hati yang sempat ia lukis begitu indah sehingga membentuk bahagia begitu indah. Dan olehnya pulalah, sekeping hati itu dihancurkan tak tersisa.

Perlahan keadaan jiwaku mulai membaik. Aku mulai mau bersosialisasi lagi dengan lingkungan dan keluarga setelah sebelumnya mengurung diri. Mengasingkan diri dari hiruk pikuk bumi.

Ditambah, sekarang aku mulai aktif di pengajian bersama teman-teman muslimah seperjuangan. Bersama mereka aku menemukan kembali kepingan bahagia yang sempat hancur. Sedikit demi sedikit aku mulai menyadari, bahwa mencintai tak boleh berlebihan meski itu pada pasangan kita.

Dulu, aku benar-benar menyandarkan segala cinta dan cita, percaya dan setia hanya padanya.

Cukup, mencintai sekadarnya. Dan menyiapkan ruang di hati untuk ditinggalkan entah itu karena kematian ataupun hal lain yang sungguh sebetulnya tidak kita inginkan.

Namun, itulah hidup. Ingin bahagia dan tenang? Sandarkanlah cinta terbaikmu pada Allah.

Ya, sepertinya Allah cemburu padaku. Dan menginginkanku menyadarinya sebelum terlalu jauh dan terlambat.

Tangerang, 13 Agustus 2017.