Sabtu, 20 Juni 2015

Gelap Langit Malam Memberikan Senyuman Damainya ...

Sejenak, memandang langit di gelap malam lirih itu ...
Seolah ia memberi senyuman, menyapaku kembali yang selama ini sepertinya hampir lupa untuk menyapanya ...
Langit malam, teduhnya dirimu mengingatkan daku akan kehidupan yang fana ini ...
Ya, langit malam ia tampak gelap tak terlihat apa-apa selain hamparan langit malam ...
Terbentang luas di angkasa sana ...
Malam ini, adalah malam kedua di bulan ramadhan ...
dan sekaligus ramadhan pertamaku di negeri orang ceritanya ... :D
Yaa, ramadhan kali ini adalah ramadhan pertamaku di Tangerang ...
setelah ramadhan  sebelumnya saya mengisinya di Tasikmalaya bersama Ibu, Bapak, Teteh, dan De Ikhfa ...
Setiap pengalaman pasti selalu mengisahkan kenangan, karena ia takkan berlalu sia-sia tanpa memberi makna ...
Terasa sekali, ketika memandang hamparan  langit malam ...
Dulu biasanya, kalo pulang tarowih saya suka memandangi langit sepanjang perjalanan pulang dari mesjid Engkih di Cibitung di bonceng teteh ...
Dan sekarang, kebiasaan itu masih menjadi kesukaanku ...
Hingga ketika ada peluang untuk memandanginya aku selalu ingin berlama-lama betah diri dengannya ...
langit malam ...
Dari sana terkuak banyak cerita yang kadang aku sendiri melupakannya ...
Ketika memandang hamparan langit yang begitu luasnya, pernahkan kita merasakan betapa begitu kecilnya kita di bandingkan dengan seisi bumi, dan seluruh galaksi bima sakti, dan masih banyak lagi bagian dari alam yang tidak kita ketahui ...
Betapa luas dan agungnya ciptaan Allah ...
dan kita hanya setitik noktah kecil yang bahkan mungkin tidak berarti apa-apa jika dibandingan dengan ciptaan Allah yang lainnya ...
Hamparan langit malam ... dirimu selalu memberi makna bahwa aku bukanlah siapa-siapa tanpa kasih sayang-Nya ...
aku bukanlah siapa-siapa tanpa pemberian-Nya padaku ...
karena, apalah diri ini jika tak Allah kehendaki sampai sekarang ini ...
Desiran angin, mencambuk diri untuk lebih pandai merasai diri dan berintrospeksi diri ...
aku tak punya apa-apa tanpa pemberian-Mu ...
aku lemah dan begitu kerdil tanpa kasih sayang-Mu ... Tuhan ...
Langit malam ia selalu mempunyai cerita di kala diri memandangnya dalam ...
Hei, hari ini aku kembali bertemu lagi dengan sejuta cerita teman-temanku ...
Bersama mereka selalu ada ceria, dan alasan untuk melepas sejenak beban yang menggerumut di pikiranmu ... hehe
Dari mereka saya banyak belajar tentang arti sebuah kenyamanan, perjuangan, dan rasa syukur dalam hidup ...
Ada yang cerdas, senangnya itu rapi bersih rajin pokonya ...
Ada juga yang kocak, nyeleneh, tapi aslinya ia juga cerdik ...
Ada yang masih kekanak-kanakan sehingga kadang mengingatkan diri di usia sekarang ini masihkah aku memiliki sifat seperti itu ?!
Terkadang begitu malu diri, mengingat banyak sekali yang masih harus diperbaiki ...
dan terkadang aku begitu bersyukur, diizinkan Allah untuk bertemu teman-teman yang unik dan selalu memberi warna dalam kehidupanku ...
Tiba di esok malamnya, beranjak dari tempat duduk untuk kembali melaksanakan shalat tarowih bersama lagi di mesjid al-ikhlas ...
dan seperti biasanya langit malam tak pernah lekang untuk aku pandangi dan perhatikan ...
Entahlah, dengan memandanginya selalu menyusup kedamaian dalam jiwa dan ketenangan ketika terus memandanginya ...
dan malam ini ada yang berbeda kawan, malam ini bulan malu-malu menampakkan wajahnya yang masih berbentuk sabit terang benderang ... dan disampingnya, ternyata ia sudah dikelilingi oleh 3 bintang cantik yang dapat kulihat jelas saat itu ...
Dari situ, aku jadi teringat akan keluarga, kakak, ibu-bapak guruku, serta teman-temanku di tempat tinggalku ...
Apa kabar yaa mereka ?
seperti bulan dan bintang itu, mereka saling mengelilingi dan memberikan cahayanya masing-masing sehingga menjadi sebuah perpaduan dan pemandangan yang indah untuk dilihat dan menguak makna di baliknya ...
ah, saya selalu berharap mereka sedang berbahagia dan baik-baik saja ... kita memandang langit yang sama ... dalam harapan dan asa semoga dapat bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik dari sebelumnya, mereka itu hebat ... selalu sabar mengingatkan diri jika salah dan tak patah semangat mengajakku ke arah yang lebih baik lagi ... yaa, itulah mereka ibu guru, kakak, keluarga, dan teman-teman seperjuanganku ... seperti langit bulan dan bintang itu mereka saling bersama memantulkan keunikan dan cahayanya masing-masing ...
ketika langit mempunyai cerita, dan mengingatkan kembali pada apa yang selama ini kurang kita pikirkan ...
Dan keindahan milik Allah memang tiada tara ...
Alhamdulillah ... :)
Sekalian dulu yah, pembaca blog sekalian jangan bosan yaa membaca tulisan di blog ku ... semoga bermanfaat ... see u next time ... ;)


Minggu, 24 Mei 2015

Allah menguji kita dengan kelapangan dan kesempitan



Allah menguji kita dengan dua keadaan kesempitan dan kelapangan. Jangan pernah kita mengira kalau orang yang kaya itu tidak diuji oleh Allah, ataupun orang yang dalam kesempitan itu tidak di sayang Allah. Justru, Allah Maha Menyayangi hamba-hambanya. Dengan ujian itu, Allah ingin melihat seberapa kuat keimanan kita. Seberapa kuat dan tangguh kita menghadapi terjangan yang menimpa, ataupun seberapa sabar dan bersyukurnya kita dalam menghadapi segala nikmat Allah itu.
 “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (Al Hadid: 22-23 )
Ada pula ayat Al-Quran yang artinya, “apakah kamu mengira bahwa kamu sudah beriman ? padahal kamu belum diuji ? (Al-Ayat)
Nah, itu menunjukkan bahwa ujian itu merupakan sunnatullah. Agar Allah mengetahui siapa diantara kita yang lebih kuat keimanannya dan siapakah yang berhak naik tingkat atau derajat dan martabatnya di hadapan Allah.
Sering kita dapati, orang-orang terdahulu yang sekarang tengah menikmati kesuksesannya pun dahulunya harus melewati berbagai perjuangan dahulu.
Ada yang diuji dengan kelapangan, kebahagiaan, harta dan anak yang banyak ataupun ada yang sebaliknya.
Nah itu semua merupakan bentuk ujian kepada kita. Orang mukmin itu sangat beruntung dalam segala hal. Ketika dia diuji dia bersabar, ketika di beri nikmat dia bersyukur.
Tidak ada hal yang sia-sia di hidup di dunia ini, asalkan kita mau untuk membaca, memahami, dan menyelami ayat-ayat cinta-Nya dalam kehidupan ini.
Kepedihan selama berpuluh tahun kerena harus berpisah dengan anak tercinta –Nabi Yusuf- bukanlah tanda kemarahan Allah kepada Nabi Ya’qub. Sakit selama belasan tahun yang diderita Nabi Ayyub tidaklah pertanda bencinya Allah kepada beliau. Penderitaan dan kesedihan yang silih berganti tanpa henti yang diderita Rasulullah tidaklah karena kegeraman Allah kepada baginda. Begitu juga sebaliknya, kekayaan yang tiada tandingan, yang kunci gudangnya saja harus dipikul sekian banyak orang-orang bertubuh kuat, bukanlah alamat cintanya Allah kepada Qarun. Kekuasaan yang tiada tandingan bukan tanda sayang Allah kepada Fir’aun. Semua itu hanyalah ujian untuk membuktikan siapa yang terbaik amalannya.
Allah berfirman dalam surat al Mulk ayat 2: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Kerana ujian hidup adalah bukti kasih sayang Allah kepada kita maka jangan pernah kita berprasangka tidak baik terhadap-Nya. Allah adalah Maha Baik dan senantiasa memberikan yang terbaik bagi para hamba-Nya.
Allah yang menciptakan kita, dan Allah juga lah yang lebih tau tentang keadaan dan apa yang dibutuhkan oleh kita saat ini.

Jumat, 24 April 2015

Kunci Ajaib Itu Bernama Ikhlas



Ayuuuuk belajar menemukan kunci ajaib itu ... :D



Ikhlas itu bening embun yang selalu hadir di setiap pagi, ia memberi kesejukkan di kala hati gersang … ia memberi makna di kala hati mulai putus asa…
Ya, Ikhlas. Satu kata yang mudah diucapkan tapi tidak terlalu mudah untuk diamalkan. Ia merupakan intisari dari setiap amal perbuatan kita. Tanpa ada ikhlas yang menyertai amal kita hanya bagaikan abu yang beterbangan. Seperti dalam ayat Allah berikut ini :
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16).
Dalam kehidupan sehari-hari, pasti banyak sekali hal pekerjaan yang kita lakukan. Dari mulai bangun tidur sampai dengan bangun lagi. Begitu indahnya jika semuanya kita niatkan karena ingin mendapat keridhoan Allah, dan semuanya akan menjadi berkah. Tapi, jika pekerjaan kita ibadah kita atau amal kita hanya sebatas ingin mendapatkan pujian atau hanya ingin mendapat pujian dari manusia saja seperti ayat diatas kita tidak akan mendapat apa-apa di akhirat kecuali ketidakridhoan Allah kepada kita.
Karena yang membedakan suatu amal itu baik atau tidak adalah dilihat dari ikhlasnya kita melakukannya.
Ia memang tak mudah, tapi seiring waktu dengan kita rajin menuntut ilmu agama dan tekad kita kuat untuk mendapatkan kebahagiaan dan keridhoan Allah dunia akhirat niscaya kita dapat mempraktekan apa itu ikhlas dengan baik. Ikhlas adalah pembelajaran sepanjang masa, ia membutuhkan latihan dan kesabaran yang panjang untuk dapat mengamalkannya. Sungguh beruntung sekali, orang yang beramal disertai ikhlas. Karena ikhlas adalah keindahan yang sesungguhnya. Seindah-indahnya mutiara yang ada dalam hati yang mengantarkan seorang hamba kepada Tuhannya. Kita tidak mau bukan, kalau kita sudah cape bekerja keras, beramal, beribadah, segalanya dikorbankan dari mulai waktu, tenaga, jiwa dan raga tapi semua itu hasilnya sia-sia di hadapan Allah hanya bagaikan debu yang terbang saja tidak ada bekasnya ???! Kalau tidak mau, yuk sama-sama kita belajar ikhlas yaa …
Di bawah ini ada beberapa pengertian ikhlas dan tingkatan-tingkatannya yang saya kutip dari salah satu sumber :
Dari segi bahasa, ikhlas itu mengandung makna memurnikan dari kotoran, membebaskan diri dari segala yang merusak niat dan tujuan kita dalam melakukan suatu amalan.

Ikhlas juga mengandung arti meniadakan segala penyakit hati, seperti syirik, riya, munafik, dan takabur dalam ibadah. Ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

Ungkapan “semata-mata karena Allah SWT” setidaknya mengandung tiga dimensi penghambaan, yaitu niatnya benar karena Allah (shalih al-niyyat), sesuai tata caranya (shalih al-kaifiyyat), dan tujuannya untuk mencari rida Allah SWT (shalih al-ghayat), bukan karena mengharap pujian, sanjungan, apresiasi, dan balasan dari selain Allah SWT.

Beribadah secara ikhlas merupakan dambaan setiap Mukmin yang saleh karena ikhlas mengantarkannya untuk benar-benar hanya menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, tidak menyekutukan atau menuhankan selain- Nya. “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS An-Nisa’ [4]: 36).

Jika ikhlas sudah menjadi karakter hati dalam beramal ibadah, niscaya keberagamaan kita menjadi lurus, benar, dan istiqamah (konsisten). (QS Al-Bayyinah [98]: 5). Selain kunci diterima tidaknya amal ibadah kita oleh Allah SWT, ikhlas juga membuat “kinerja” kita bermakna dan tidak sia-sia. Kinerja yang bermakna adalah kinerja yang berangkat dari hati yang ikhlas.

Menurut Imam Al-Ghazali, peringkat ikhlas itu ada tiga.
1.       ikhlas awam yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.

2.  ikhlash khawas,ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.

3. ikhlash khawas al-khawas adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dia-lah Tuhan yang Mahasegala-galanya.

Ikhlas merupakan komitmen ter ting gi yang seharusnya ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya: sebuah komitmen tulus ikhlas yang sering dinyatakan dalam doa iftitah. (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Tuhan semesta alam). (QS Al-An’am [6]: 162).

Sifat dan perbuatan hati yang ikhlas itu merupakan perisai moral yang dapat menjauhkan diri dari godaan setan (Iblis). Menurut At-Thabari, hamba yang mukhlis adalah orang-orang Mukmin yang benar-benar tulus sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, sehingga hati yang murni dan benar-benar tulus itu menjadi tidak mempan dibujuk rayu dan diprovokasi setan.

Ikhlas sejatinya juga merupakan “benteng pertahanan” mental spiritual Mukmin dari kebinasaan atau kesia-siaan dalam menjalani kehidupan. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah berujar, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang meng isi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat.”

Nah, pembaca sekalian yuk belajar ikhlas dari hati yang tulus dan dari sekarang… :D Jangan sampai ada pemberian kita kepada orang lain yang diungkit-ungkit bahkan sampai kita menyakiti hati orang yang kita beri itu …
Belajar ikhlas itu setiap saat dan setiap waktu, setiap kondisi, dan situasi ….
Semoga Allah senantiasa memudahkan hati kita untuk beramal dengan ikhlas semata mengharap kecintaan-Nya pada kita … Aamiin …


Referensi : http://www.republika.co.id/

Selasa, 24 Maret 2015

Sepenggal Kisah Warna Pelangi Meniti Teduh Kehidupan


Sepenggal Kisah sederhana tentang perjuangan hidup seorang gadis yang sederhana dan belum sempurna …



Tuhan pasti terdapat kisah yang luar biasa lainnya di luar sana


Dan baru hanya sebagian yang aku ketahui dan alami sendiri


Tuhan pasti masih banyak terdapat sepenggal kisah perjuangan lainnya


Yang tentunya luar biasa dan patut di teladani


Pastinya masih banyak orang-orang yang lebih cerdas dan lebih beruntung dibandingkan saya


Teman-teman sebaya yang lebih tangguh dan kuat menantang masa menghadapi segala terjangan tantangan demi menggapai harap dan cita kebaikan hidupnya …


Ataupun masih banyak teman-teman yang hidup dengan curahan penuh perhatian kasih sayang orang tua untuk dapat memenuhi keindahan perjuangan episode setiap kehidupannya …


Engkau memang adil Tuhan …


Semuanya terjadi dengan keMaha sempurnaan-Mu


Dengan rencana-Mu yang unik dan indah dan tak tercapai oleh nalar kami yang lemah ini …


Yah, berbagai kisah berbagai cerita …


Yang mesti dilalui masing-masing orang …


Dan Tuhan aku begitu bersyukur atas setiap episode kehidupan yang telah Engkau berikan padaku


Andai dapat kuucap syukur atas semua nikmat-Mu


Tapi aku takkan mampu Tuhan karena begitu banyaknya nikmat yang Engkau berikan …



















Setiap manusia dilahirkan dengan memiliki keunikan dan jalan hidup masing-masing. Ada yang di lahirkan dari orang tua polisi, dokter, guru, pejabat, negarawan, ustadz, kayarawan, dsb masih banyak lagi.


Begitupun saya dilahirkan di tengah keluarga petani. Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa yang sangat luar biasa bagi saya. Ia adalah seorang ibu yang penyabar, kuat, dan tegar mengahadapi tajamnya arus deras kehidupan.  Pun bapak saya adalah seorang petani yang rajin bekerja.


Saya adalah anak ke-5 dari 6 bersaudara. kakak saya hampir  semuanya perempuan, adik saya perempuan, dan hanya satu-satunya kakak laki-laki saya. Ia adalah kakak paling ganteng diantara kami… :D


Saya sangat bersyukur memiliki keluarga sederhana dan saudara seperti mereka. Semuanya memiliki karakter yang berbeda-beda dan menjadikan kami begitu lengkap. Masa kecil dilalui dengan indahnya kebersamaan bersama keluarga. Alhamdulillah, perbedaan usia antara saya dan kakak saya tidak terpaut terlalu jauh. Jadi ketika saya tk kakak saya baru sd kelas 2, 6, ada juga yang smp dst.


Bermain bersama, hujan-hujanan, dan yang paling saya ingat kalau pagi-pagi atau sore hari kami suka berkumpul di dapur demi menunggui mamah selesai memasak untuk kami. Mungkin, namanya juga anak kecil yaa kita suka nyuruh mamah cepat-cepat masaknya dalihnya kami sudah lapar mah. Dan jawaban mamah selalu mendamaikan kami,” Ia nak sebentar lagi nasinya matang … sabar nak.  Alhasil, kami ikut memasak  bersama ada yang membantu menyiapkan nasinya, menunggui tungku nya agar apinya tetap menyala dengan baik. Terkadang karena sudah lapar kita makan nasinya panas-panas.


Tuhan, entah dimanakah lagi saya menemukan sesosok wanita sesabar mamah. Merawat anak-anaknya dengan penuh cinta. Kami semua begitu mencintai mamah. Sering kita membuat getuk kalo dalam istilah sunda nya. Jadi nasi di campur kerupuk khas sunda dan dikasih ulekan bawang, kencur, dan garam. Dan itu begitu nikmat kami makan.


Kemana-mana saya suka ikut mamah, mamah pergi kemana pasti tak pernah terlewat dengan saya. Pernah suatu ketika, shubuh-shubuh mamah dan bapak sudah berangkat ke sawah sedangkan saya tidak ikut karena belum bangun. Dan ketika terbangun melihat tidak ada mamah di rumah. Saya menangis kata kakak  mamah sudah berangkat, saya langsung berlari pagi-pagi menelusuri jalan-jalan di hutan, tanjakan dan turunan berbatu menuju sawah yang di tuju seorang diri. Dan alangkah bahagianya saya ketika sudah sampai melihat mamah sedang menunggui padi agar tidak dimakan burung-burung nakal.


Ada kerinduan mendalam pada hati …


Mamah adalah sosok luar  biasa bagi kami, ia mengajarkan arti kesabaran, keshalehahan seorang wanita, dan ketaatan terhadap bapak sebagai suaminya.


Ketika mamah ataupun bapak sedang sholat, saya suka memandanginya dan ketika selesai saya mendatanginya disambut uluran tangan kasih mereka untuk duduk di pangkuannya bersama dzikir-dzikir syahdu, doa-doa qalbu setelah sholat. Dan itu begitu damai terasa hingga sekarang saya  begitu merindukan kembali suasana seperti itu.


Sebelum shubuh, adalah waktu dimana mamah sudah terbangun untuk sholat dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Sedangkan yang lainnya masih tertidur pulas. Saya masih ingat waktu kecil, saya bangun di sepertiga malam dan turun dari tempat tidur mencari mamah dan beliau muncul dari dapur menyambut saya dengan pelukan hangat kasih sayangnya.


Takdir tak bisa dipungkiri, kebersamaan kami begitu singkat. Sampai Allah memanggil mamah lebih dulu ke pangkuan-Nya. Waktu itu, usia saya 5 tahun dan adik baru 14 hari.


Anak kecil itu dulu tak mengerti apa-apa. Ia masih suci dan mungil ketika beliau dipanggil. Mungkin itulah cara Allah menyayangi beliau. Allah lebih sayang pada mamah dengan mengambilnya lebih cepat dari kami.


 Sewaktu kecil saya sering ikut bapak mengantarkan mamah untuk berobat. Waktu itu saya belum mengerti, entah apa penyakitnya. Yang jelas sampai detik-detik beliau dipanggil ia lebih sering terbaring karena sakit dan saya paling sering di dekat beliau karena kakak yang lainnya sudah bersekolah.


Banyak kisah yang terkenang sampai sekarang, meskipun kebersamaan saya dengannya tak lama.


Ya Rabb … tidak ada kebahagiaan terindah selain mamah berbahagia di syurga-Mu dan kami anak-anaknya bisa menjadi anak-anak yang sholeh-sholehah berbakti serta membahagiakannya di dunia dan akhirat.  Jaga ia dalam cahaya ampunan dan pangkuan damai-Mu.. Ya Rabb …


Mohon maaf  yaa pembaca sekalian, jika tulisan saya kali ini lebih ke cerita pribadi.  Tapi, saya merasa harus mengungkapkan bahwa saya begitu bersyukur pernah hidup bersama mamah walau hanya sebentar.


Setelah mamah meninggal, kami berenam tercerai berai bapak menikah lagi dan membawa adik bersama istri barunya. Saya ikut bibi saya dan disekolahkan disana, serta kakak yang lainnya satu sudah berkeluarga, dan yang 3 nya ikut ua di tempat dan daerah yang berbeda-beda.


Dan itu menjadikan kami sangat sulit untuk berkumpul bersama lagi. Ketika ada liburan sekolah itu waktu emas bagi kami untuk berkumpul dan markasnya di rumah kakak saya yang sudah berkeluarga … Alhamdulillah, kebersamaan yang begitu mahal bagi kami.


Cita-cita mungkin itu hal yang terbersit dalam dada ketika saya sekolah. Sedari SD semangat saya untuk selalu belajar  begitu baik. Dari kelas satu SD sampai kelas 3 SMP Alhamdulillah  saya selalu meraih peringkat pertama.


Terbersit pemikiran, aku ingin menjadi seorang psikolog, menjadi seorang guru, menjadi seorang penulis hebat, pengusaha, dan menjadi seorang perempuan, istri, dan ibu yang hebat untuk keluarga serta memberikan sebanyak-banyaknya kebaikan  dan manfaat bagi sesama.


Melihat keadaan di lingkungan sekitar saya sangat ingin sekali menjadi seorang guru yang mampu menginspirasi anak didiknya, memberikan ilmu dan semangat, dan memberi bekal cerah bagi masa depan anak didiknya  juga masyarakat sekitar.


Saya suka guru dan ingin menjadi seorang guru. Saya juga senang mengamati karakter orang yang unik dan berbeda-beda.


Selalu ada cara Allah untuk mengasihi hamba-hamba-Nya. Waktu itu tahun 2011, pas tahun kelulusan saya dari SMP. Bisa dibayangkan bagaimana kebingungan saya, antara ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan melihat keadaan keluarga. Apalagi di lingkungan saya dulu yang masih pedesaan belum terlalu banyak yang melanjutkan ke SMA/SMK ada yang memutuskan untuk menikah setelah keluar SMP ada juga yang memutuskan untuk bekerja.


Tapi hati saya selalu menangis ketika melihat realita kalau saya harus seperti itu. Karena saya ingin sekolah ingin melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Saya merasa masih banyak sekali yang harus saya pelajari, dalami, dan alami untuk bekal kehidupan  yang lebih baik.


Waktu itu, Alhamdulillah kakak saya yang ke-4 sudah bersekolah di Madrasah Aliyah (MA) dengan beasiswa dari sekolahnya.


Lagi-lagi karunia Allah selalu menghampiriku. Lewat ibu guru idolaku di SMP saya  dipertemukan dengan kepala sekolah baru di SMP ku dan ia bersedia menyekolahkan saya asalkan bersedia tinggal bersama beliau di Tasik.


Dari situ, saya belajar banyak hal.  Mengenal keluarga baru, ada ibu yang cerdas dan begitu profesionalnya menjadi seorang guru. Ada bapak yang penyayang dan kepala sekolah yang hebat dan selalu berprestasi. Ada teteh yang rajin dan gigih belajar demi menggapai cita-citanya. Ada adik laki-laki yang gagah lagi lucu-lucunya masa remaja.


Tinggal bersama mereka di lingkungan baru dan melanjutkan sekolah di SMK.


Adalah nikmat Allah yang tak terhingga saya tinggal bersama keluarga yang penuh kasih sayang, pun di sekolah bertemu teman-teman yang luar biasa. Ada kelas Akuntansi 4, Pelangiku “Rohis Al-Jadid”, dan keluarga besar SMK N RAJAPOLAH.


Dari sana dan dari mereka saya belajar banyak hal tentang kehidupan, kebersamaan, kekeluargaan, dan keindahan ukhuwah.


Sampai ketika kami mau lulus. Itu adalah perjuangan dan sepenggal kisah terindah bersama mereka menggapai harapan diri. Kami berjanji ketika kami bertemu lagi nanti, kami akan membawa warna indah pelangi masing-masing serta memancarkan sinar dan cahyanya untuk alam sekitar.


Dan ketika saya ingin melanjutkan kuliah, tercontreng lagi dari deretan mimpi bahwa saya di pertemukan dengan Yayasan Bait Al-Hasan  lewat tetangga saya di Tasik A Hafidz namanya, bertemu ayah bunda dan teman-teman yang baik serta  unik.


Hijrah kembali dari tempat tinggal asal demi menuntut ilmu meskipun itu sangat jauh dari keluarga.  Bersama ayah bunda dan teman-teman adalah mutiara kehidupan.


Ingin sekali kusampaikan terima kasih yang begitu mendalam untuk mamah dan bapak, keluarga, saudara, Adik dan kakak-kakak  saya, semua Guru-guru saya yang hebat-hebat, Ibu dan Bapak sekeluarga yang telah mau menerima saya menjadi keluarganya, Ayah bunda yang tak kenal lelah mendidik, membimbing, dan menyekolahkan kami hingga sukses, teman-teman SMK, Rohis Al-Jadid, dan masih banyak lagi …


Terima kasih kalian adalah pelangi terindah …


Titipan Allah yang begitu berharga


Tak terbalas kebaikan dengan apapun


Tak ternilai keindahan mutiara dan berlian semahal apapun …


Kalian adalah keluarga


Bersama alam kalian adalah karunia Allah yang luar biasa bagi saya


Terima kasih yaa atas segala kebaikannya


Dan mohon maaf atas segala kekurangan dan ketidaktahuan diri …


Hanya doa-doa, iringan kagum, dan mutiara-mutiara syukur dan terima kasih


Semoga rahmat Allah senantiasa mengiringi kita dimanapun berada …


Alhamdulillah Ya Rabb …


Kini saya sedang melanjutkan pendidikan S1 saya di Universitas Pamulang Fakultas Pendidikan Ekonomi, melanjutkan kembali merajut mimpi  di Yayasan Bait Al-Hasan …


Dari sebuah desa kecil yang jauh dari kota di Ciamis, merantau ke Tasik kota santri, dan sekarang Hijrah ke negeri Tangerang …


It’s all always have fun …


Terima kasih Ya Rabb …


Terima kasih Ibu dan Bapak …


Terima kasih Ayah bunda …


Terima kasih  untuk inspirator-inspirator kehidupan saya yang mungkin tak diketahui orang tapi selalu ada dalam hati …


Kalian adalah idola bagi kebaikan …


Kalian adalah pelangi bagi indah kehidupan …


Satu yang pasti  “ Menuntut Ilmu itu wajib bagi mukmin laki-laki dan perempuan dari dalam kandungan hingga liang lahat”


And There is a will, there is a way ..


You must need to believe …


Bersama jarak yang tercipta berharap kita saling mendoakan selalu ‘agar jalan-jalan setapak yang dilalui dimudahkan menuju tujuan cita dan cahyanya.


Wassalamu’alaikum WR.WB ;)