"Tapi kurasa aku tidak perhatian."
Kupikir kamu menghilang.
Apa yang kamu pikirkan?
Apa yang ada di benakmu?
Kenapa membuatku gelisah?
*Terdengar klise namun nyata adanya. Tanpa komunikasi yang baik, banyak tercipta prasangka.
Entah benar atau tidak prasangka itu, tanpa dikomunikasikan akan menjadi penyebab kegelisahan. Ajari dan mari bersamaku belajar lebih terbuka, berkomunikasi yang baik dan efektif, Tuan. Demi menenangkan bagi kita pun bahkan banyak pihak.
Perempuan memang tercipta begitu perasa. Ia mudah terluka. Ia adalah setia dan juga pandai menjaga. Namun, maukah mengerti lebih dalam tentang hatinya, Tuan?
Jauh di lubuk hatinya, ia rindu. Namun, ia tahan dengan sabar dalam jarak yang entah.
Ia bertanya, kapankah kita bisa bertemu?
Untuk sekedar melepas rindu. Atau sekadar menenangkan sendu. Mengetahui kabarmu saja sudah menjadi pelipur lara luar biasa baginya. Salahkah jika ia menganggapmu begitu penting di hidupnya, Tuan?
***
Sederhana. Aku hanya ingin bertemu. Tidak lebih. Apakah begitu sulit untuk mengusahakan temu?
Ada hari-hari yang aku lewati, dan ingin kubagi ceritanya denganmu. Ada bahagia dan suka, dan ingin kulihat senyummu. Senyum yang menenangkan dan meneduhkan.
Tak bisakah kita mengusahakan temu?
Atau salahkah aku berharap akan sambut rindu?
Atau harus seperti apa aku menanggapi kalbu yang merindu? Beritahu aku, Tuan. ::
Sekedar ingin melepas penat pada jarak. Berbincang biasa selayaknya dua manusia yang saling terikat -agungnya rasa.
Atau apakah aku salah jika merindu dan ingin bertemu sekadar bertemu kekasih kalbu, Tuan?
Ah, iya. Aku masih harus belajar tentang rasamu. Makhluk bernama laki-laki yang berbeda alam rasa dan logika dengan perempuan. Aku sangat bodoh memahami perihal pikir dan rindumu. Apalagi ditambah jarak yang jauh pada temu.
Beritahu aku, ajari aku, untuk bisa lebih memahami dan mengerti dirimu, Tuan.
Jangan siksa aku pada hilangnya kabar dan lamanya temu, jangan siksa aku dengan perihnya rasa tak ujung bersua.
Dirimu berharga bagiku, Tuan. Bolehkah sekadar berbincang sederhana sembari menikmati secangkir rasa yang ingin kubagi denganmu di pelataran senja? :)
Ia yang mencintamu, tidak akan betah berlama-lama dalam keadaan marah terhadapmu.
Sedetik ia marah, sedetik ia berbalik, penyesalan karena marah itu cepat sekali datangnya.
Temuilah, tersenyumlah, bicaralah. Kadangkala itu hanya efek lelah akan kesibukan sehari-hari. 😊
Ego tidak harus dituruti. Hubungan kalian yang sakral lebih berharga. Berkomunikasilah dengan efektif. Ceritakan lelahmu. Dengarkanlah keluhnya. Ia hanya meminta perhatianmu. Ia mencintaimu 💙
![]() |
| Sumber : Dokumen Pribadi |
"Gapapa kamu gak ranking satu, yang penting kamu punya semangat hidup! Gapapa kamu gak lulus tepat waktu, yang penting kamu gak pernah berhenti berjuang meskipun dengan keadaan tertatih."
Kemampuan menghadapi tantangan, kekuatan jiwa untuk bangkit dari kegagalan itu sungguh merupakan anugerah yang luar biasa dari Allah.
Banyak kita temukan, diantara teman-teman kita yang begitu mudah dan dilancarkan kuliah selesai tepat waktu bahkan bisa lebih cepat. Kita pun begitu bangga padanya. Bersyukur akan keberuntungannya. Menganggap mereka begitu hebat hingga mampu menyelesaikan pendidikan dengan cepat. Mereka orang-orang rajin dan beruntung.
Ada juga kita temukan teman-teman kita yang terkendala dalam hal waktu, pernah cuti kendala biaya dan lain sebagainya. Sehingga mereka terkendala untuk bisa selesai kuliah dengan tepat waktu dan lebih cepat. Namun dibalik tantangannya itu, sungguh merekapun berjiwa besar. Menyaksikan teman-teman satu angkatannya bahkan sebayanya sudah lulus satu persatu. Sedangkan ia, masih saja harus berkutat dengan remidial dan revisian skripsian.
Maka diawal, aku membuka tulisan ini tentang kemampuan bertahan, berjuang dan bangkit meski sempat gagal dengan berbagai kendala, dan punya semangat hidup adalah hal rezeki luar biasa. Karena memang menjalaninya tidak mudah. Ia butuh kekuatan ekstra, kelapangan jiwa untuk menerima bahwa ia harus terus bangkit semangat dan berjuang meski sudah tertinggal.
Ya, diantara kisah di atas adalah aku salah satunya. Aku, perempuan dengan usia yang akan menginjak 24 tahun tanggal 15 Juli 2019 nanti. Jika tidak cuti dan sempat menunggu satu semester juga tidak mendapat nilai C di salah satu mata kuliah prasyarat. Barangkali aku sudah lulus sejak awal Januari 2019 ini.
Namun, ternyata kenyataan hidup tak selalu sesuai dengan keinginan dan ekspektasi kita. Mungkin, aku termasuk orang yang lamban menyadari betapa pentingnya sungguh-sungguh dalam kuliah. Serius belajar sabar berkorban waktu, tenaga, dan materi hingga berjuang mati-matian untuk bisa segera lulus. Awal-awal semester aku merasa begitu santai dalam berkuliah, haha hihi bersama teman-teman mengerjakan tugas ya biasa saja tanpa ekspektasi lebih, senang mengikuti fashion menghabiskan uang bulanan untuk memenuhi egoku dalam berbelanja baju dan lain sebagainya.
Hingga tamparan itu tiba, di akhir semester tiga aku benar-benar mengalami pergulatan batin luar biasa. Di titik ini, aku benar-benar sadar sudah bukan lagi waktunya bersantai main-main kuliah seadanya saja. Aku harus bersungguh-sungguh dalam belajar, kuliah, menuntut ilmu dan meningkatkan kapasitas diri, menaikkan kecepatan berpikirku yang terkadang lamban dalam memahami materi perkuliahan.
Ya, di semester empat dengan sangat terpaksa aku harus cuti kuliah dulu karena kendala biaya. Jumlah bayaran yang harus aku bayarkan untuk bisa lanjut kuliah saat itu cukup besar, sedangkan gajiku saat itu belumlah seberapa karena baru saja aku pindah kerjaan ke sekolah baru. Ya, guru baru namanya honorer di sekolah swasta pula. Harus siap berhemat demi biaya hidup yang cukup gila. Dan dengan sangat terpaksa aku menunda kuliahku dulu satu semester sambil mengumpulkan uang untuk bisa membayar uang kuliah kembali. Hal itu terjadi di tahun 2016.
Alhamdulillah, sekarang sudah 2019 awal aku sudah menginjak semester delapan dan sedang menyusun skripsi. Ternyata menyusun skripsi ini, cukup menguras pengorbanan juga ya. Kadang aku ingin menangis dibuatnya. Ya padahal belum seberapa jika dibandingkan perjuangan teman-teman lainnya barangkali. Tapi tetap saja aku kadang merasa ada di titik putus asa melewati tantangan skripsi ini.
Allaah ... Mohon dimudahkan dilancarkan skripsiku juga hal-hal lainnya agar aku bisa segera lulus. Aa dan keluarga di kampung sudah sering sekali menanyakan kapan fifit selesai kuliah dan wisuda. Cukup mengiris batin mendapat pertanyaan itu, di tengah bab skripsiku yang kadang ditempa bab putus asa.
Tapi, aku tak boleh lemah tak boleh pesimis tak boleh putus asa. Bismillaah ... Ya Allah dengan pertolongan-Mu. Aku pasti bisa mengerjakannya dengan baik, cepat selesai, dan segera lulus. Insyaallah mudah-mudahan.
Kadang aku malu, teman-teman sebayaku yang lain bahkan sudah melanjutkan ke tingkat S-2 sedangkan aku masih berkutat di tingkat akhir perkuliahan. Hehe tapi tak apa, aku selalu menenangkan diriku dengan mengatakan, "setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, waktunya masing-masing, ada yang lulus di usia lebih muda dariku, ada pula bahkan yang sudah menikah dan punya anak di usia yang bahkan sangat lebih muda dariku. Tidak apa, aku pun punya waktuku sendiri nantinya. Allah akan memberikannya du waktu yang tepat."
Untuk sekarang, aku harus sangat bersyukur kepada Allah masih diberikan kesempatan hidup, bisa bernafas, diberikan kesehatan sehingga bisa leluasa beraktivitas mengajar belajar dan keaktifan lainnya. Mengingat salah satu alasan aku cuti dulu juga selain biaya adalah sakit yang lama. Sampai-sampai tak bisa bergerak jauh dari tempat tidur. Makan pun hampir selalu disuapin, karena kendala fisik yang sakit. Kalau ingat waktu itu, Masya Allah ... Bersyukur sekali aku hari ini bisa sehat dan berkuliah kembali menyelesaikan pendidikanku semoga bisa cepat-cepat lulus dan dapat ilmu yang barakah. Inginku tak muluk-muluk, aku hanya memohon sekali kepada Allah mudah-mudahan Allah memberiku dan keluargaku rahmat dan ampunan-Nya, mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing memberi petunjuk langkah kami agar senantiasa ada dalam keridhoan-Nya. Karena tak ada yang lebih berharga hidup di dunia ini selain mencari ampunan dan keridhoan Allah di setiap langkah kita.
Usia 24 tahun juga adalah usia yang sangat rentang dengan pertanyaan kapan menikah. Huhu suka sedih kalau sudah ada pertanyaan ini. Teman-teman yang lain satu persatu sudah menikah bahkan ada yang sudah punya dua anak. Sedangkan aku kuliah saja belum lulus, tabungan belumlah banyak sehingga cukup untuk biaya nikah, dan lain sebagainya. Jujur saja di sanubari terdalam kadang aku juga iri, melihat teman sebayaku yang sudah dan akan menikah dengan kekasih hatinya. Lah aku masih saja belum jelas bagaimana kepastian tanggalnya. Wkkwkw
Tapi, itu hal wajar pemikiran itu kumaklumi sebagai ungkapan kedewasaanku yang belum sempurna.
Justru, jujur saja di satu sisi aku juga ingin segera lulus kuliah punya tabungan banyak bahkan punya tabungan untuk rumah sendiri dan bisa segera menikah. Namun, di sisi lain aku percaya Allah sudah menyiapkan yang terbaik untukku.
Aku masih ingin banyak belajar, masih banyak hal yang harus kupersiapkan baik itu dari segi kesiapan mental, kesiapan agama, ilmu, kesiapan materi, dan kedekatanku kepada Allah yang harus selalu aku tingkatkan. Agar bahagia, selamat, sejahtera, dan berkah lah hidupku.
Karena ketika aku memutuskan untuk menikah itu berarti aku juga harus siap dengan berbagai macam konsekuensi diantaranya akan menjadi bagian dari keluarga suamiku kelak, aku juga harus siap menjadi Ibu, yang kita tahu bahwa menjadi Ibu itu adalah suatu hal yang sangat mulia dan berat sekali tanggung jawabnya di hadapan Allah, dan aku juga harus siap banyak-banyak belajar bagaimana supaya bisa menjadi istri yang dicintai dan diridhai suami. Aku masih harus banyak belajar untuk itu, belajar menjadi perempuan yang dicintai dan mencintai, istri yang sabar dan penuh cinta kepada suaminya, Ibu yang penyayang dan tulus ikhlas merawat mengasihi mendidik anaknya, dan bagian dari umat yang mampu berkontribusi untuk kemaslahatan orang banyak.
Aku masih ingin belajar banyak hal untuk itu, aku tak ingin main-main. Jujur saja, sebetulnya aku tidak tergesa-gesa ingin menikah. Aku hanya mendidik diriku lebih keras untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik. Semoga Allah Ridha, Allah bimbing setiap langkahku, Allah sayangi dan lindungi semua keluargaku dimanapun mereka berada.
Keluarga adalah cinta kasih pertama yang akan menebarkan keharuman pada penghuni di dalam rumahnya. Sehingga ketika kemanapun anggota keluarganya pergi, mereka siap menebarkan cinta kasih pada sesama. Menebarkan manfaat, kedamaian, dan kebaikan untuk penghuni bumi lainnya.
Untuk orang tua dan keluargaku, support dan doa dari kalian sangat berharga buatku. Kasih sayang, perhatian, dan pengorbanan kalian untukku semoga Allah balas dengan kebaikan dan Rahmat dari Allah yang berlipat ganda.
Untuk kekasihku tersayang, semoga Allah ridha akan setiap langkahmu setiap usahamu, mudah-mudahan Allah mudahkan menuju jalan yang diridhai dan diberkahi-Nya.
Dengan siapapun aku nantinya, atau masih hidup atau tidakkah aku nantinya, Allah Maha Tahu yang terbaik untuk kita hamba-hamba-Nya. Hanya kepada Allah kita bergantung, berharap, dan memohon pertolongan.
"Kita tidak tahu kapan ajal kita akan tiba, namun semoga saat waktu itu tiba Allah memanggil kita dalam keadaan yang Khusnul khatimah. Dan meninggalkan keluarga yang kuat akidahnya, kuat ibadahnya, kuat kedekatannya kepada Allaah. Aamiin YRA."
Salam sayang, salam rinduuu sekali dari fifit, salam bahagia, hayu sasarengan diajar berjalan menuju jalan yang diridhai Allah. fifit perempuan yang sangat tidak sempurna, banyak kekurangan, jangan sungkan-sungkan mengingatkanku ya :)
![]() |
| Sumber : Dok. Pribadi |
Skripsi, kata yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat apalagi bagi para mahasiswa yang tengah menempuh tingkat akhir perkuliahannya. Ia merupakan syarat utama bagi kelulusan seorang mahasiswa dari perguruan tinggi strata satu (S1).
Skripsi itu tahapan utama bagi seorang insan cendekia / akademisi pemula (Zein Permana, IGTV). Jika seorang mahasiswa ingin lulus, maka ia harus mampu menyelesaikan skripsi berikut penelitiannya dengan baik.
Dalam mengerjakan skripsi, mahasiswa akan dituntut untuk bekerja dan belajar lebih keras dari biasanya. Yang tadinya selama perkuliahan ia hanya mengerjakan tugas-tugas kuliah baik di dalam kelas secara individu atau berkelompok, dalam skripsi mahasiswa dituntut untuk mampu melakukan penelitian dari permasalahan yang ada di dunia nyata dan mencari pemecahan atau solusi dari masalahnya tersebut.
Mahasiswa akan dituntut untuk mandiri, berpikir kritis dan ilmiah, agar penelitiannya benar-benar mampu memberikan hasil yang akurat. Sehingga hasilnya nanti dapat memberikan manfaat bagi orang banyak.
Dosen ekonomi saya Pak Edi seorang doctor di bidang ekonomi bilang, "S1 itu kebanyakan mempelajari teori. S2 itu membantah teori. S3 itu menciptakan teori. Nah, mumpung kamu masih di strata satu. Manfaatkanlah kesempatan ini dengan baik untuk mempelajari banyak teori ilmiah, agar pijakanmu dalam berpikir kritis itu kuat sesuai dengan keilmuan yang teruji secara ilmiah."
Ya, seperti teman-teman ketahui bahwa mengerjakan skripsi itu ya diibaratkan tahapan yang harus mampu dilewati untuk seorang peneliti pemula. Teman-teman akan diajarkan bagaimana meneliti sebuah masalah yang ada, dengan data-data akurat, teori-teori dari para pakar, dengan sumber bacaan dari berbagai macam referensi, sehingga bisa ditemukan hasilnya.
Hal ini, sebagai latihan awal bagi pemula untuk terbiasa meneliti ke depannya. Karena seperti kita ketahui, bahwa ternyata masih banyak sekali orang yang tidak terbiasa dengan sikap meneliti ini. Alhasil, mereka mudah menyebarkan suatu berita atau ilmu tanpa landasannya yang kuat. Dan ini akan sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup kita sebagai makhluk sosial yang dikaruniai kemampuan berpikir.
"Skripsi itu seharusnya menyenangkan lho temen-temen, karena kita akan diajak untuk menjelajahi dunia penelitian yang sebelumnya belum pernah teman-teman lakukan." Ucap Kang Zein dalam Instagram pribadinya.
Dengan kita menyenangi penelitian, skripsi kita akan lebih mudah dikerjakan. Dan jangan lupa, jaga selalu adab sopan santun kita terhadap pembimbing kita ya. Beliau adalah partner yang akan menuntun jalan kita sampai ke tepian.
Jadi, buat teman-teman yang akan memulai bimbingan skripsi atau malah sudah setengah jalan. Se ... Ma ... Ngaat yaa, ... Kerjakan skripsi dengan antusias, menyenangkan, dan konsisten. Karena ini adalah awal pembelajaran kita menjadi seorang peneliti yang ulung. :) :) :)
Kadang hadirnya begitu dirindu
Sampai menusuk qalbu.
Kadang pula ia begitu menimbulkan ragu, tak lagi ingin berpadu
Terpisah jarak, terhalang ego, bahkan untuk sekedar menyapa kabar
Fluktuasi rasa, aku benci ragu yang kadang begitu mengganggu
Ia hanya mengusik kalbu
Datanglah dengan baik indah dan sabarmu
Jangan sampai raguku semakin menggebu
Bagaimanapun hari begitu sibuk, pekerjaan begitu numpuk
Tapi tetap saja rinduku tak pernah lapuk
Merindumu, adalah rutinitas pikiran dan batinku khusuk
Lekaslah bertemu dan bertamu
Aku rindu ...
Inginku sederhana.
Bisa membersamai dan dibersamaimu dalam ikatan yang diridhoi Tuhan.
Cintaku mungkin tak lagi sederhana, perlahan ia menuntut kesungguhanmu membuktikan.
Ah, terkadang aku ingin sekali bisa bebas bercengkerama denganmu. Pergi kemana saja dengan bebas berdua denganmu saja. Sungguh, letupan bahagia ketika bersamamu itu nyata.
Namun, kuingat lagi. Tuhan tak meridhoi hal itu. Tuhan lebih suka kita saling menjaga kehormatan dan kemuliaan masing-masing. Saling menjaga dalam ketaatan dan peningkatan kualitas diri masing-masing. Saling menjaga dan mencintai dalam doa-doa yang lirih terdengar angin sebagai peringkas jarak dan obat bagi rindu.
Terkadang, aku ingin sekali bisa memperkenalkanmu pada dunia. Kaulah -kamuku. Teramat istimewa, hingga menjadi sekat bagi yang lain untuk mendekati. Namun, kuingat lagi. Saat ini kita masih belumlah jadi siapa-siapa. Kita masih dua orang yang belum terikat apa-apa. Jangankan secara agama, diakui secara negara pun masih belum nyata.
Terkadang, aku ingin sekali dengan bebas menghubungimu. Mengirimkan chat random, dengan berbagai cerita dan curhatanku tentang hari-hari yang dilalui, mimpi-mimpi, makanan kesukaan, kejadian menyenangkan dan tidak menyenangkan, anak-anak kecil yang lucu, guru-guru yang senang sekali berkelakar, atau cerita pedih di balik kuliahku, atau pertanyaan-pertanyaan mbrudulku untukmu.
"Hai, bagaimana harimu hari ini? Kemana saja? Atau melakukan pekerjaan apa saja hari ini? Hhmm atau kabar ikan di kolam rumahmu baik-baik saja?"
Hahaha
Terkadang aku ingin sebebas itu, semanja dan seterbuka itu bercerita, selaiknya orang-orang yang sudah ingin menggenapkan orang lain menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Namun, kuingat-ingat lagi. Memperjuangkanku dan 'kita' agar bisa segera ada dalam ikatan yang diridhoi Tuhan itu agak sedikit tak mudah. Karena ternyata banyak hal yang harus diperjuangkan terlebih dahulu untuk mencapai hal itu.
Lalu, kutahan inginku. Ku pupuk sabar dan syukurku agar menerima dan berbahagia dengan keadaan sekarang ini. Sekarang ini hal terbaik yang harus kita lakukan adalah; berjuang dan kerja keras. Supaya dapat memenuhi apa-apa saja untuk keperluan kita menikah dan hidup bersama nanti.
Sekarang ini hal terbaik yang harus kita -aku lakukan adalah, tidak boleh manja, kurangi kekanak-kanakan, childish, lembek, mental tempe, pemalas, kurang antusias, tidak produktif, tidak senang membaca, dan mudah sekali baper pada hal-hal negatif.
Untuk membangun peradaban yang baik, atas bersatunya kita -dua insan yang melebur menjadi satu semoga menjadi kebermanfaatan dan berkah yang luar biasa bagi keluarga, sesama, dan masyarakat sekitar. Maka hal pertama yang harus aku bangun adalah mental. Mentalku harus kuat, sikap pembelajarku harus gigih kulatih, pikiran cerdas dan kritisku harus terus kuasah, sabar dan penuh sayangku harus penuh kuisi ke dalam jiwa, dan tak lupa memupuk rasa syukur dan menerima atas setiap keadaan yang Allah beri sebagai keindahan tiada tara.
"Bahwa Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya Maha Penyayang hamba-hamba-Nya, sudah memberikan begitu banyak nikmat pada kita. Selayaknya yang kita lakukan adalah berusaha senantiasa lebih baik dari hari ke hari dalam ketaatan dan mencari keridhoan-Nya."
Maka, tak apa jika saat ini kita berjarak. Maka, tak apa jika saat ini kita bahkan jarang berkomunikasi. Maka, tak apa jika saat ini kita harus memendam rasa -rindu sayang cinta dlsb.
Karena sekarang yang terbaik bagi kita adalah bersabar dan menjaga. Berikhtiar bersyukur dan berdoa. Semoga yang terbaik dari harapan-harapan kita bisa segera terlaksana dan mendatangkan banyak kebaikan dan penuh keberkahan bagi keselamatan kebahagiaan kebaikan dunia akhirat kita.
Tak apa sekarang kita tak bersua, asal kelak kita bisa selalu bersama dalam setia dan bahagia.
Tak apa sekarang kita tak banyak kata panjang bercerita. Asal nanti saat kita bersama, cerita dari kita adalah hal yang selalu dinanti selepas pulang bekerja.
Tak apa sekarang kita bahkan tak bisa saling menggenggam tangan ataupun dengan bebas memandang, asalkan kelak jiwa-jiwa dan fisik kita adalah dua yang menjadi satu. Tak terpisahkan, saling terpaut dalam ikatan yang kuat dan takkan terlepaskan hingga bersama ke syurga-Nya yang abadi.
Tak apa, aku akan sabar menanti. Tak apa, aku akan sabar menerima. Tak apa, aku akan sabar mencintai dan tabah dalam setia.
Asal kelak, kita bisa bersama dalam sebenar-benarnya bahagia. Bahagia -sebagai kado dari Tuhan atas kesabaran-kesabaran kita dalam menjaga.
Selamat menjaga, selamat bersabar, selamat berjuang bersama, selamat dalam penuh kesyukuran setiap harinya. Selamat mempercantik, mempercerdas, nan memperindah diri. Semoga segera disatukan dalam ikatan yang diridhai dan diberkahi Tuhan Pemilik Seluruh Semesta Alam.
`Dari aku, gadismu.
Ahad, 27 Januari 2019. Pukul 01:53 dini hari, perempuan yang tengah merinduimu. Semoga Allah selalu menjagamu, menjagaku, keluargamu, keluargaku, dan seluruh manusia di alam semesta. ***