Rabu, 19 April 2017

Sekelumit Kisah Masa Remaja

Hujan kali ini, menyiramkan rasa dingin pada sekujur tubuh. Seorang diri di sebuah tempat yang sepi. Tapi, kadang aku merasa lebih senang sendiri. Menghabiskan waktu bermain kata dan imaji dengan jiwa sendiri. Lalu, menemukan kebahagiaan dalam regukan makna hasil perenungan diri.

Hari ini, pagi-pagi setelah menyambut anak-anak di halaman depan sekolah. Aku pergi ke kantin, untuk sekedar mencari sarapan. Menyapa Emak dan Abah pemilik kantin yang baik hati. Meskipun kadang ia terkesan cerewet pada anak-anak sekolah, yang kelihatan bertingkah nakal menurutnya; misalkan tidak masuk kelas ketika jam pelajaran berlangsung, atau melihat dua orang berpacaran di depan kantin.

Maka, mereka berdua dengan tak segan menegur mereka. Menasihati agar mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Memberinya pemahaman dan kesadaran agar ingat akan pengorbanan orang tua untuk menyekolahkan mereka. Banting tulang, demi anak-anaknya bersekolah layak, mendapat pengajaran terbaik, lalu mampu menjadi anak-anak cerdas yang berakhlak karimah.

Lantas, melaporkannya kepada guru agar ditindak lebih lanjut. Yah, itulah mereka. Pemilik kantin sekolah kami, juga orang tua yang sangat care kepada anak-anaknya.

Sekolah pagi itu tampak sepi, kelas tiga SMP sedang melaksanakan ujian sekolah. Lalu, anak-anak SD dan SMA sudah memasuki kelasnya masing-masing untuk mengikuti pembelajaran hari itu.

Aku yang notabene sedang tidak ada jam mengajar, sengaja tidak terburu-buru menghabiskan sarapan yang kubeli. Sambil menikmati hidangan ala kantin sekolah, sesekali kami saling menimpali pembicaraan ringan. Atau sekedar melihat tingkah lucu kakak beradik -anaknya Emak dan Abah pemilik kantin- bertengkar riang.

"Neng Guru ... euh tau nggak itu si Lintang. Dia mah sekarang udah jarang masuk sekolah. Sibuk ngebantuin orang tuanya cari uang. Padahal mah kan, waktunya sekolah mh sekolah waktunya belajar mah belajar. Entar juga dia, nyesel kalo udah keluar lulus atau mau kuliah nggak bisa apa-apa. Nggak bisa ngapa-ngapain. Umurnya aja gede, tapi kalau di suruh kerja celingukan." Nada Emak terlihat kesal membicarakan tingkah salah satu pelanggan kantinnya itu.

"Iya Neng, apalagi itu si Ranti. Euh dia mah kagak betah di rumah kayaknya. Kerjaannya ngelayap mulu. Pulang sekolah bukannya bantuin orang tuanya di rumah. Eh, dia malah maen sama temen-temennya. Mana jauh banget lagi mainnya." Abah menimpali.

Dalam hati aku berpikir, kok mereka bisa tahu ya.

"Itu Neng, banyak tetangga sini yang sering ngobrolin mereka. Si Ranti sama temen-temennya, kerjaannya motor-motoran mulu. Kapan belajarnya coba? Kapan bantuin orang tuanya coba?"

"Oh ..." Aku yang saat itu begitu fokus mendengarkan pembicaraan tentang kerisauan mereka terhadap anak-anak zaman sekarang. Hanya menimpali sesekali, tanpa banyak bicara. Sesekali tersenyum khusuk, mengangguk lalu lebih banyak menyerap kalimatnya ke dalam hati berharap dapat menyesap banyak makna.

"Belom lagi, itu si Rayhan sama pacarnya tuh yang kelas sebelas, si anu an tuh namanye lupa lagi gue dah ah. Siapa Pak namanye? Gue lupa." Ia berusaha meminta bantuan suaminya untuk mengingat nama salah seorang siswa.

"Itu si Sophia."

"Nah itu heeh, Neng. Mereka berdua -Rayhan sama Sophia kerjaannya kalo lagi istirahat ato nggak ada guru. Pacaran mulu. Mana depan kantin gue banget lagi pacarannya. Kan nggak tahu malu banget? Udah kayak suami istri aja tuh dua bocah. Nggak sayang apa sama diri sendiri. Mau nya di deket-deketin sama cowok yang belom jadi siapa-siapa kita. Mana masih muda tuh cewek. Pegangan tangan lah. Dan sebagainya lah."

Aku kaget. Mendengar dua nama tersebut. Seingatku, dua orang tersebut terkesan lugu dan nggak neko-neko.

"Iya, Neng." Timpal Abah. "Makanye, kita mah marahin bae tuh anak berdua. Biar tahu diri. Bisa jaga diri. Nggak sembarangan mentang-mentang cinta. Kemane-mane mau aja berdua. Kagak tahu apa yang ketiganya itu syetan. Udah gue laporin ke gurunye. Udah diperingatin sama gurunya juga. Sehari dua hari doang tuh anak insyaf. Besoknya berduaan lagi. Kayak gitu lagi. Empet banget nih mata ngeliat kelakuan bocah zaman sekarang, Neng Neng."

***

Aku teringat  tiga empat tahun lalu. Saat aku masih berstatus seorang siswi SMK. waktu itu, aku masih berstatus siswi baru. Dan mungkin kamu tahu? Di usia segitu, aku sedang memasuki masa remaja alias hormon pubertas sedang merajai tubuh dan pemikiran saat itu.

Aku dibuat jatuh cinta, sama Kakak kelas yang sekaligus aktivis di berbagai organisasi. Jago taekwondo, berperawakan tinggi, tampan, cerdas, dan baik hati pula.

Ah, saat itu aku masih begitu polos. Ternyata, gayung bersambut. Kakak kelas itu pun  menaruh perasaan yang sama. Sampai akhirnya, dia menyatakan perasaannya. Tanpa pikir panjang, aku lantas menerimanya. Setelah itu, kalau bertemu di organisasi ia akan lebih memamerkan aku sebagai pacar kesayangannya, atau sekedar memberi perhatian lewat pesan singkat.

Waktu terus berjalan, gelagatku terlihat berbeda mungkin. Ibu dan Bapak sepertinya menangkap perubahan yang terjadi padaku. Aku yang terkadang sering  tersenyum-senyum sendiri tanpa jelas alasannya. Atau berlari-lari riang seusai membuang sampah ke halaman samping. Atau lebih banyak bermain ponsel di kamar.

Hingga suatu ketika, aku dipanggil Ibu dan Bapak ke kamarnya.

"Silvi sini ..... Ibu sama Bapak mau bicara nih!"

"Ah ada apa sih, Pak. Kan aku lagi belajar buat besok."

Yap. Kebiasaan di rumahku memang seperti itu. Setelah sholat maghrib, tadarus quran, makan malam dan sholat isya berjamaah di rumah. Kami lantas ke kamar masing-masing. Aku, Kakak, dan Adik belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah masing-masing.

Ibu dan Bapak pun sama. Mereka sibuk dengan pekerjaan di kantornya.

"Sini ... nih, ada Kakakmu juga disini."

Aku pun beranjak dengan malas meninggalkan tempat tidur, buku-buku bergeletakan, dan tentunya sebuah kotak kecil berisikan ponsel kesayangan yang terus saja menyala menerima pesan-pesan dari Kakak kelas itu, menuju kamar Ibu dan Bapak.

"Sini, Bapak mau ngasih uang untuk bayaran. SPP bulan ini belum dibayar kan?"

"Iya sih, belom, Pak."

Aku tersenyum lantas menerima amplop berisi uang untuk bayaran bulan itu.

"Uang jajan bulanan masih ada kan?"

"Hmmm masih, Pak." Aku sedikit meringis menjawab itu.

"Jangan sering jajan yang nggak penting. Apalagi beli pulsa keseringan. Buat sms sama siapa sih emang, Vi?"

"Nggggg ..Nggak Pak."

"Buat sms pacarnya kali, Pak." Timpal Ibu yang notabene sedang duduk di samping Bapak di samping kasur berwarna coklat muda.

"Iyaa, jangan pacaran dulu deh anak kecil mah. Sekolah dulu yang bener. Belajar yang bener. Banyakin nabung tuh. Kan mau kuliah kan nanti?" Timpal Kakak cewekku yang sudah memasuki semester kedua kuliah. Ia tengah asyik memandangi laptop sambil mengetikkan abjad di keyboard.

Aku kikuk. Tiga orang menyerbuku dengan kalimat-kalimat yang jawabannya sungguh sangat ingin kusembunyikan. Karena, kalau ketahuan bisa habislah aku dicincangnya.

"Ngggg. .. Nggak kok, Pak, Bu, Kak. Silvi nggak pacaran. Silvi belajar dengan serius, kok!"

"Yaudah, baguslah kalau gitu. Ibu sama Bapak cuma khawatir. Silvi kebawa-bawa sama temen-temen Silvi. Kamu kan lagi masa pubertas, masa remaja, kami paham, kok. Tapi kita sebagai orang yang tahu aturan agama. Silvi harus pandai menjaga pergaulan sama lawan jenis yaa."

"Kenapa Ibu nggak izinin Silvi ikut ekskul taekwondo, PMR, aktif di OSIS, dsb. Ibu cuma ngizinin Silvi ikut IREMA aja. Karena, dari situ Silvi juga bisa belajar banyak hal. Terutama Silvi jadi punya benteng pergaulan yang baik, nggak sembarangan bisa deket sama cowok apalagi pacaran."

"Iiyaaa, Bu ..."

"Itu kok, waktu kemarin hari Sabtu Silvi pulang telat? Kan harusnya setengah hari aja belajarnya. Biasanya jam 11 juga Silvi udah pulang." Kakak menambahi pembicaraan.

Aku yang sedang duduk di kursi dekat Kakak memainkan laptopnya. Gugup sekali untuk menjawab. Lidah rasanya kelu, bibir rasanya kram untuk sekedar mengucap beberapa kata.

"Kata temen sekelas Silvi, si Diani itu. Silvi dibonceng sama laki-laki ya. Katanya dia Kakak kelas Silvi."

Jlebbbb ...

Aku gugup bukan main. Menundukkan kepala. Sambil tangan dan kaki terus meremas-remas jari.

"Hhhh ... itu, Bu. Dia ...."

"Yaudah, siapa pun itu. Yang penting Ibu, Bapak, sama Kakak berpesan jangan pacaran ya, Nak. Jaga rasa malu dan kehormatanmu sebagai seorang wanita. Kamu sekarang sudah semakin beranjak dewasa. Harus lebih pandai dan bisa menjaga diri. Ibadahnya tilawahnya ditingkatkan. Belajarnya yang rajin."

"Iya, Bapak percaya. Silvi nggak bakal pacaran kok, ya? Nanti aja punya pacar mah kalo udah nikah ya?"

Aku sayup-sayup mendengar suara Kakak terkekeh menahan tawa.

Aku pun mengangkat kepala dan memandangnya sinis. Lantas kembali menundukkan kepala.

"Iya, Pak, Bu. Insyaallah Silvi nggak pacaran. Silvi pasti bisa jaga diri." Aku menunggingkan seutas senyum manis pada Ibu dan Bapak. Lantas mencubit pipi Kakak yang masih saja menahan tawa.

"Apa sih Vi ... sakit tau."

"Husshhh ... yaudah, sekarang Silvi lanjutkan belajar yaaa. Jangan kemalaman tidur nya. Kan besok harus sholat malam dan shubuh berjamaah sama Ibu dan Bapak."

"Siappp, Bu."

Aku lantas segera berdiri dari tempat duduk, berlari menuju kamar yang cukup berdekatan dengan kamar Ibu dan Bapak. Dengan perasaan tak karuan.

"Duh untung nggak ketahuan, untung mereka nggak tahu cowok itu siapa." Batinku sesampai di kamar berdindingkan hijau cerah dan seprei berwarna biru tua.

Tritit ... tritit ...

Hah suara pesan masuk. Pas kulihat ternyata itu dari laki-laki yang mampu merebut hati Silvi.

"Kak, maaf sebelumnya. Kalau memang tidak apa perlu dan kepentingan. Jangan hubungi aku ya. Kita jaga jarak. Sekarang aku harus pandai jaga diri. Kita putus yah, Kak ..."
Klik pesan terkirim.

Tak lama ponselku berbunyi lagi.

"Apaaaa? Kok kamu tega gitu Silviii? Ia memasang emot sedih dan marah secara bergandengan.

Hap tak aku balas. Ah setidaknya lega ... Aku sudah memutuskan tali hubungan yang tak jelas. Dan jelas-jelas tidak Allah ridhoi. ..

Meski keadaan hatiku malam itu. Sejujurnya masih sedih dan tak karuan. Tapi, demi menaati Ibu dan Bapak sekaligus sebagai baktiku kepada Allah. Aku harus berbuat seperti itu.

Ada buliran rintik hujan yang menetes membasahi pipi dan ponselku. Tapi, hatiku sudah lebih lega rasanya dengan memutuskan hal itu.

"Silvi, jangan lupa makan malam dulu. Itu makanan kesukaan Silvi masih ada di meja makan. Makan dulu yaah."

"Iiiiyaaaa  ..., Bu..." Aku lantas mengelap basah di pipiku untuk terus keluar mendengar seruan makan dari Ibu.

***

Ini hanya sekelumit kisahku dulu, yang sangat bersyukur di kala aku sedang memasuki usia remaja. Ada orang tua dan keluarga, yang tidak pernah lengah memberikan perhatian, kepedulian, dan kasih sayang kepada anak-anaknya.

Mereka mendampingi, membimbing, mau berdiskusi dan menjadi temanku. Atau bahkan kadang menegur dan memarahi di kala aku mulai melenceng dari arah yang benar.

Mereka akan dengan sigap, langsung mengambil tindakan perhatian dan pencegahan yang tidak membuat kami trauma ataupun merasa diasingkan dengan sikap kami yang salah.

Salah satunya cerita diatas. Alhamdulillah aku kala itu bisa segera terhindar dari yang namanya pacaran dengan lawan jenis meski itu sebatas perhatian lewat pesan singkat. Tapi sesungguhnya menyita perhatian dan membuat Allah tidak suka.

Peran keluarga menciptakan keluarga yang harmonis, kasih sayang orang tua dan guru. Sejujurnya itu sangat penting untuk membentengi kita anak-anaknya dari sikap dan pergaulan yang tidak baik.

Karena berawal dari kenyamanan dan kehangatan sebuah keluarga. Kami akan enggan membuat mereka kecewa bahkan ingin senantiasa membuat mereka bangga dan bahagia dengan adanya kita, anak-anaknya.

Mungkin, adanya sikap yang kurang baik dari ketiga anak diatas adalah salah satu kesalahan kita. Abai terhadap perkembangan usia mereka yang sangat membutuhkan kasih sayang, perhatian, kepedulian, dan kehangatan dari kita sebagai orang tua, keluarga, lingkungan, ataupun pendidik.

Untuk menghindarkan anak-anak muda, generasi penerus kita adalah tugas kita bersama. Tidak hanya tugas yang dibebankan kepada mereka saja. Sehingga mereka dituntut untuk menjadi anak baik, anak cerdas, sholih-sholihah, sementara kita abai mendampingi setiap perkembangan mereka.

Oleh karena itu, ayo kita perhatian sama mereka. Berikan mereka tempat pulang ternyaman, sehingga mereka enggan untuk keluar dan jauh-jauh dari kita apalagi hendak mengecewakan dengan perangainya yang nakal.

Tak ada anak yang nakal, hanya mungkin saja ada salah kita dalam memberikan pendidikan dan pendampingan kepada mereka.

***

Ah, mendengarkan Emak dan Abah bercerita tadi. Sekaligus memberikan wejangan-wejangan dari mereka selaku orang yang lebih tua. Rasanya, aku rindu bercengkrama dengan Ibu dan Bapak sekeluarga di rumah. Membicarakan berbagai hal, sambil menikmati pisang goreng dan kopi hangat untuk Bapak di ruang keluarga.

Senin, 17 April 2017

My Sweety Couple

Aku mendengar sayup suaramu dalam berbagai bahasa yang kau terjemahkan dalam irama malam, sunyi, senyap, sepi, syahdu, sendiri, dalam sebuah ruang rinai remang yang tenang.

"Fit ...."

"Iyaaa  ..."

"Sehat ...?"

"Alhamdulillah sehat ..."

....

Singkat. Waktu alam saat itu, membuka percakapan kita lewat dunia maya. Yah, kita dua dara sedarah tapi terpisah karena sedang mengukir sejarah.

Satu persatu jalanan berkelok itu kita lewati, meski dengan terseok-seok. Akhirnya engkau sampai di titian impianmu. 

Selamat berjumpa, dengan waktu yang menjadikanmu keajaiban bagi insan. Aku menyerah parah, kala disandingkan denganmu. Apalah aku, adik tak punya malu hingga belum memberikan bakti terbaik pada Kakak yang tulus nan cantik.

Sampai berjumpa, dengan jiwamu yang telah berbeda dengan masa yang lampau. Ribuan bahkan jutaan hari, aku kehilangan momen-momen bersamamu. Saat aku tertawa renyah, saat engkau menangis parah, saat alam tersenyum ramah, saat bumi teredamkan amarah.

Lupa. Atau bahkan hilang tak berbekas. Kita hanya bertemu di sisa-sisa persimpangan waktu yang masih tulus hati untuk memberi ruang kebersamaan pada kita; dua insan yang sama-sama saling merindui dalam ruang yang tersekat oksigen dan wangi tanah.

Ah, tidak. Mungkin hanya aku yang terbawa perasaan parah. Kala rapuh dan kerinduan menggerogoti kepolosan jiwa. Aku lemah, hingga kau pantas bergumam menahan amarah; melihat kelakuan adikmu tak kunjung dewasa dan mandiri dengan segala pasrah.

Aku masih ingat, segala kerling cinta yang kau titipkan pada bumi untukku. Pada untaian aksara, engkau menitipkan rindu dan harapan tak semu. Aku menemukan rasa itu tumbuh dari dalam bathin yang tidak biasa. Ia hadir dengan melewati proses terseok jalan berkelok lalu mapan menjelma pada jiwa yang tak mudah berbelok.

Aku kehilangan ribuan momen itu. Aku tak ada, saat kau merapikan kenangan pada lemari bersejarahmu. Aku tak ada saat kau berhujankan keringat, meronce peradaban. Aku tak ada, saat kau membangunkan adik menuju kemaslahatan. Aku tak ada, saat kau sakit terkapar di rumah sakit. Aku tak ada saat kau sesak menahan pedih dan jerit. Lukamu parah, tapi kau sungguh lebih egois dan parah. Tak pernah kau ingin berbagi segala gelisah dan resah.

Saat pandang kita bertemu dan bertamu, seolah semua tak pernah parah. Semua baik, semua sehat, semua lancar, semua tak perlu aku risaukan dalam resah. Kau sungguh penipu yang ulung! Bahkan aku tak pernah tahu rasa sesungguhnya yang menghujam bathinmu, merakit kehidupan dengan bertumpu pada kaki hebatmu.

Aku, tak pantaslah kau sebut adik. Entah adik macam apa, titel yang pantas kau sematkan pada orang tak tahu diri ini?

Jika engkau memberi seribu, bahkan aku baru mampu memberimu secuil dari angka satu. Jika engkau telah mampu memberi teladan dengan berlari, bahkan aku mengikutimu dengan merangkak nyeri. Ah, makhluk macam apa aku ini, Kak?!

Cinta adalah untaian yang tak sempat engkau ucapkan pada hari-hari diliputi kerinduan. Engkau ungkapkan pada kalimat damai, yang menuntunku kepada-Nya. Saat dua rakaat salam, usai kita laksanakan. Engkau disampingku, mengenakan kain putih berenda untuk sebuah ritual penuh keagungan.

Perempuan bermata teduh, bertubuh mungil nan wibawa. Dalam imajiku engkau bersayap laiknya bidadari bermata temaram. Memayungiku dengan sayapnya yang hangat, lalu membasuhku dengan nasihat indah, memberiku bekal mutiara hingga aku pergi ke ujung dunia pun. Untaian sayap dan mutiaramu, membersamai setiap perjalanan dalam keriangan.

Cinta adalah kala engkau dibuat marah, berteriak lantang tak karuan arah, saat aku sulit sekali engkau bangunkan untuk melaksanakan shalat di penghujung malam ataupun petang. Cinta adalah saat kau tersenyum ikhlas, membiarkan baju-baju barumu yang bahkan belum sempat kau pakai, aku ambil dengan riang hati tanpa memikirkan dirimu sendiri.

Cinta adalah saat kau dan aku berjalan di antara pematang sawah, menceritakan bunga-bunga bermekaran, lalu ada yang layu bahkan kuyup. Saat ikan-ikan tahu, engkau tersenyum melihat kepolosanku. Tapi menangis terisak saat  membelakangiku. Pikiranmu tak henti berjalan dalam deru kecepatan yang tinggi, entah bagaimanapun caranya biarkan cahaya Illahi sampai masuk memenuhi segala sendi dan ruangan rumah keluarga asri kita.

Kini, engkau dan aku sudah berbeda. Kau sudah melakukan perjalananmu dengan baik. Hingga sampai di muka gerbang dengan selamat, lalu siap membangun istana bersama pangeranmu tampanmu.

Ah, aku sangat bersyukur. Hadiah dari Tuhan untukmu, menyemai haru dan bahagiaku hingga tak terukur. Selamat menempuh hidup baru, tolong jaga Kakak terbaikku, yyaa kakak ipar.

Dan aku masih disini. Hendak meneliti dan menguliti setiap jejak yang telah kau semai. Aku ingin mengikuti setiap teladan hidupmu.
Hingga kita tak lagi akan terpisah jarak.

Hal yang membuat aku sedih adalah saat aku berfikir apakah nanti kita akan bersama di syurga kelak?!

Ah, aku sangat berharap kita akan berkumpul bahagia dan bersama-sama lagi. Keluarga adalah permataku. Tempat pulang dan harapan terbaikku. Titip aku dalam doamu.
Begitupun, kita akan tetap saling memupuk tulus sayang dalam doa di hening malam.

Selamat menempuh bahagia, kini kalian sudah resmi menjadi kekasih idaman. Yang bersabar dan bertahan melawan segala godaan, hingga sampai di penghujung penantian. Kalian, selamat melewati proses sakral tanpa ternodai pacaran sebelum halal.

Selamat menikmati hari-hari yang akan penuh nano-nano, yang membahagiakanmu, lalu membasuh setiap luka, yang pernah Tuhan titip untuk menggunungkan kesyukuranmu pada-Nya.

"Aku bahagia dan mencintai kalian, hingga kata tak sanggup mengungkapkan. Bahkan alam dan insan pun, cukup tahu dan mengangguk paham."

No one can describe how I am happy to have u, how I am proud to u. How I am be thankful have this sweety couple. 💚




Minggu, 16 April 2017

Hari ini adalah Harimu

Hari ini adalah harimu, dear.

Dua puluh satu tahun silam, engkau dilahirkan dari seorang Ibu yang penyayang luar biasa. Aku membayangkan, betapa raut bahagia dan haru memenuhi wajahnya saat dengan pertama kalinya beliau melihat tubuh mungil sehatmu.

Hari ini adalah harimu, dear. Hari yang semoga menjadi anugerah bagi sesama makhluk semesta. Saat suara adzan ayahmu, untuk pertama kalinya menjadi pengantar hidupmu ke alam dunia.

Saat Kakak-Kakakmu turut berbahagia, karena bertambah lagi lah personil pejuang di keluarganya. Akan ada canda ceria tawa bertengkar parah lalu berbaikan tanpa sungkan di rumah syurgamu itu.

Tak ada kado dan surprise yang membuatmu takjub. Tak ada sikap ataupun kata yang membuatmu tersenyum sumringah. Tak ada ucapan lembut yang akan membuatmu terngiang sepanjang malam. Hanya doa dan harapan sederhana dari perempuan sederhanamu ini.

Aku hanya perempuan sederhana. Begini adanya. Tak lebih cantik dari perempuan-perempuan yang kau temui di luar sana. Tak lebih cerdas dan menyenangkan dari cerianya tawa perempuan karib yang lebih sering kau temui di luar sana. Tak lebih pandai membahagiakan pun menenangkan dibanding perempuan-perempuan yang kau temui di belahan bumi luas sana.

Aku hanyalah perempuan sederhana. Tak memiliki apa-apa. Hingga aku pernah berujar, "Carilah perempuan lain di luar sana. Aku tak sebaik perempuan lain. Semoga engkau menemukan idaman dan perempuan terbaik untuk mendampingi suka duka di hidupmu. Aku ikhlas dan rela. Jika itu memang lebih membuatmu bahagia."

Lama kau tak berujar menjawabku.

Lalu, dengan tenang dan singkatnya engkau menjawab.

"Aku sudah menemukanmu. Perempuan yang mampu membuat aliran darah mengalir hangat, serta senyum yang mampu menenangkan sanubari terdalam," Ucapmu sambil tersenyum syahdu.

Tak ada kata luar biasa, tak ada kado sekaliber brand ternama,  tak ada ramai halo menyampaikan ucapan dan asa, tak ada riuh nano-nano perayaan suasana.

Namun, aku ada. Disini menantimu. Perempuan sederhana ini, dengan tulus akan mengabdikan diri padamu. Saat engkau sudah siap mengucapkan ikrar yang membuat arasy berguncang. Lalu, dengan sigapnya aku akan datang menyambutmu, meramaikan setiap sepi yang sempat menyelimuti, menenangkan setiap riuh yang membuat kau kalut dalam deru.

Melemparkan senyum pada setiap sudut hari-harimu. Aku ada, dalam asa dan penuh menjaga. Semoga tak sia-sia segala rasa di hadapan-Nya. Karena kini dan kelak hanya ridha dan cinta dari-Nya yang kita anggap permata.

Dariku, perempuan sederhanamu. Bersama aroma harum tanah dari air yang turun ke bumi. Aku dan kamu memadu rindu dalam ruang yang tak mampu kusentuh. Karena cukup, aku dan engkau saling menjaga. Lalu, belajar memantapkan jiwa, demi menempuh masa yang akan dirasa.

Maka, wangi petrichor adalah saksi. Kau dan aku adalah dua insan yang tenang dan saling menenangkan.

Maka, saat aku menyuruhmu mencari perempuan lain untuk engkau berlabuh. Saat itu pula, aku sedang tak percaya diri.

Dan kau tahu, tak percaya diri hanya dilakukan oleh orang yang sedang cemburu?!
Aku harap kau mengerti.

Bumi, 16 April 2017.
Di sebuah sudut sekolah, di sela-sela istirahat menemani riuh suara ramai anak-anak berbincang ria.

Serasi

Pakaian dan sepatu berwarna peach udah rapi  aku kenakan. Kerudung merah marun manis tak kalah ketinggalan, melindungi kepala. Tas, buku, dan seperangkat peralatan kuliah lainnya sudah kurumahkan di tas kulit coklatku.

Yap, waktu sudah menunjukkan pukul 06.45. Aku sudah siap, diawali bismillah dan doa memohon keberkahan serta keselamatan. Kulangkahkan kaki keluar asrama menuju gerbang depan rumah, yang berpapasan dengan jalan raya ramai tempatku menunggu jemputan teman.

Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Kakiku sudah mulai ajaran.

Jumat, 14 April 2017

Pertemuan matkul

Waktu
1. Time series (runtun waktu, banyak waktu, satu objek) ex. Kinerja PT. Telkom 2010-2016

2. Cross section (banyak objek, satu periode) ex. Kinerja perusahan" otomotif 2016

3. Pooling (gabungan TS+CS) banyak objek dan banyak periode. Ex. Perusahaan" otomotif 2010-2016.

2.Kualitatif  (non angka) kuantitatif (angka)
3. Data Primer atau Sekunder
-Kuesioner (kuantitatif) responden
*populasi diketahui -megang datanya. -total unit responden. Rumus slovin : n= N/1+ N e2

E= tingkat kesalahan kuadrat
1% = eksak (obat, makanan)
5%, = sosial (perilaku, persepsi, budaya) dinamis
10% = makro, moneter, suku bunga, inflasi. Fluktuatif, pertimbangan efisiensi biaya dan efisiensi waktu.

Uji peramalan dan uji pendugaan
*Tidak diketahui (sample di kali 10 indikator kuesioner) smkn banyak sample yg dibuat semakin

- Wawancara (kualitatif) narasumber

Primer: langsung interaksi objek penelitian
Kuantitatif
Kualitatif - Wawancara 1-5 orang (Narasumber : Pejabat, direktur, tokoh masyarakat) siapkan amplop dn terima kasih.
Sekunder: Sudah disediakan oleh instansi/pihak memiliki data, gratis. Hanya menampilkan data yg sudah dibuat.

Karakteristik sampling penelitian kita:
1. Purposive sampling: sudah ditentukan karakteristiknya. Contohnya penelitian tentang variable kesetiaan konsumen: berawal dari kualitas layanan - kepuasan konsumen - kesetiaan konsumen. Yang namanya setia itu dia sudah dr 2 kali beli/berkunjung. Terwujud dengan rekomendasi positif, balik lagi, frekuensi beli meningkat, harga naik nggak jadi masalah.

2. Snowball sampling (bola salju) : telekomunikasi. Biasanya utk hal" yg sensitif. Sample berdasarkan rekomendasi dari sample utama.

Setelah 2 jam belajar,  kita harus
2.

Rabu, 12 April 2017

Permata Bumi di Era Modernisasi

Hari ini aku tertegun lara. Duduk di sebuah pelataran mesjid, dengan kipas angin yang menyala. Menyegarkan ruang otak yang sempat sesak, lalu terbuka bersama kulit yang berderak; riang bernafas ria.

Hmm  ... Ibu? Mamah? Bunda?
Sebuah kata yang menunjuk pada sosok tak biasa. Tempat bermain kata dan mengangkasa, dalam ruang hangat bernama  "Ibu".

***
Senang sekali berdiskusi dengan mereka, setidaknya menurutku entah menurut mereka, hehe. Dalam sosok yang terbalut jilbab anggun nan rapi, aku sering menumpahkan kata, memuaskan hasrat bicara, hasrat penasaran, dan rasa ingin tahuku yang tinggi. Alhasil, akan banyak tanya terungkap, banyak diskusi bahkan berdebat sehat. Aku selalu suka momen itu, saat kita mengerahkan intelegensi, mengumpulkan fakta dan cerita inspirasi, lalu membuat kesimpulan yang tak terprediksi; sebuah hikmah yang bernilai tinggi.

Yah, Ibu. Sosok anggun nan cerdas dalam bingkai seorang istri yang patut diteladani.
Yah, Ia adalah sosok Mamah. Berperawakan tinggi, cantik, penuh estetis, berbalut kelembutan nan kesabaran tingkat tinggi.
Yah, mereka sosok-sosok perempuan berjiwa luhur. Bahkan semut pun tak pernah mau kabur, bila berdekatan dengan mereka yang berbudi luhur. Mereka permata dalam krisis modernisasi dan globalisasi. Mereka, penyangga bagi arwah yang masih ada dan bersama.

Beberapa puluh tahun silam, aku adalah sosok yang tak mengerti apa itu Ibu, apa itu anak, apa itu ayah, apa itu istri, apa itu Kakak, apa itu adik, apa itu saudara. Aku tenggelam dalam makna yang belum terlaksana. Karena yang kutahu hanya, rumah adalah tempat paling indah untuk pulang selepas main dan melepas lelah setelah seharian berkeliling tamasya diantara sawah-sawah dan udara hijau yang berhamburan. Dan, disana ada mereka. Tempat berkeluh kesah, bermanja ria, bertengkar parah, tertawa sumringah, lalu menangis mastah.

Hingga satu persatu jiwa itu tumbuh, ada yang pergi dan tak kembali. Ada yang datang dan menemukan pengganti. Atau mengisi kekosongan pada sanubari. Hanya satu, hati tak pernah memilih pergi dan lupa diri. Ia senantiasa ingat setiap momen yang sudah terpatri dalam ruang hati yang tertata rapi.

Aku, menjelma menjadi sosok dewasa yang kelimpungan mencari selasar makna dan jati diri. Tak usah kau tahu, bagaimana aku kalap dibuat marah! Tak usah kau tahu aku tertawa gila menahan kata terserah! Tak usah kau tahu bagaimana aku berlari terengah-engah menemukan sosok berhati peri pada jiwa-jiwa asing yang baru ditemui!

***
Di sudut kota, di sebuah ruang tersendiri. Aku menemukan senyum itu. Ia, seolah hadir untuk membasuh luka yang pernah ada, mengobatinya, lalu menggantikannya dengan hati yang baru, yang sudah diperbaharui. Aku menemukan sosok-sosok berjiwa peri itu, di pelosok-pelosok bumi perjuangan.

Tak ada lagi takut. Karena mereka menantang berani. Tak ada lagi kalut, karena mereka adalah hangat yang berselimut. Selamat datang, penghuni bumi! Kami masih ada untuk diri yang belum ditemui, meski sempat terasing karena tertutup diri yang berkawan besi; terkungkung dalam sendiri dan menyepi. Padahal kami ada, dan akan ikhlas senantiasa menemani. Tak usah kau risaukan diri, manusia berjiwa peri masih ada meski sempat menghilang pergi. Kembali bereinkarnasi, pada manusia berjiwa misteri.

Mah, engkau adalah permata. Darimu aku mengenal hidup. Ibu, engkau adalah lembut diantara kasarnya kerikil-kerikil bumi. Bunda, engkau adalah api yang menempa diriku menjadi baja dan mutiara bermahar tinggi.

Untuk jiwa yang sudah pergi, Ia hilang dari bumi namun akan kembali kutemui. Di sebuah istana berlautkan sungai-sungai seri. Batita, balita, remaja, dewasa, lalu menua. Sepenggalan kisah hidup, memaksaku mengikuti alur angin yang sudah tertulis di alam suci.

Aku menemukan sosok-sosok itu, perempuan berhati peri. Pada senyum tulus yang diberi, pada pengorbanan wanita yang tak terperi. Pada sosok kecil yang menawarkan bantuan.

"Kakak, sini aku bantu bawa barang-barangnya. Kasihan Kakak." Lelaki kecil itu menawarkan tulus bantuannya dengan senang hati.

Dan aku tahu, itu pasti jelmaan dari sikap dan didikan mewah darimu, Ibu Peri.

Atau aku menemukanmu pada siswa-siswi yang rajin mengaji, belajar bela diri, bahkan berwirausaha sedari dini. Engkau pasti sedang mengajarkan kemandirian pada prajurit-prajurit kecil, penerus kehidupan dan pemulia diri.

Ternyata, aku tak sendiri mencarimu. Ada tangan-tangan Tuhan yang menuntunku kepadamu. Bertemu reinkarnasi jiwa hidupmu. Lalu bertemu, mencumbu kisah hidup baru yang penuh dinamika seru.

Ada tangan-tangan Tuhan yang menuntunku, Mah. Engkau permata, akan selalu kucari serpihan-serpihan indahmu yang terserak pada jiwa-jiwa di muka bumi. Lalu, nanti aku akan menemuimu. Menghantarkan senyumku padamu.

Dengan tenang engkau akan berkata, "Aku berbahagia telah dan pernah berjuang melahirkanmu, Nak."

*Dari anakmu, gadis yang akan berusia 22 tahun beberapa waktu lagi.
*Semoga engkau berbahagia atas kehadiranku di penjuru bumi.

Senin, 10 April 2017

F

Fasilitas apa, buat anak tertarik, dan mau dikemanakan lulusan kita.

Foto itu kbm, hubungan kerja dg industri, hubungan antara guru dan murid, mou, ekskul, kegiatan-kegiatan. Jual proruk

Jalin kerja sama dg dunia industri

Diskusi Rasa

Akan ada masa, terulang kembali. Saat hati tak lagi kelimpungan resah. Saat bathin tak lagi merasakan sesak penantian. Saat bibir tak lagi kelu dan malu-malu mengucap rasa. Saat aku tak usah bebal menahan cemburu dan tanya yang memburu.

Ya, aku percaya dan yakin akan ada masa, saat hal itu akan terulang kembali. Disampingmu. Menemuimu kembali. Menatap wajah sayupmu. Dan bersandar di bahu nyamanmu.

Kamu tahu? Aku pernah kelimpungan luar biasa mencarimu diantara sesak manusia yang masuk ke bis kota itu.

Kamu dimana? Kenapa tak kunjung kulihat muka?

Aku meraih ponsel hendak menghubungi nomor ajaibmu. Setelah beberapa menit berlalu saat engkau menghubungiku, dan berjanji akan menaiki bis yang sama sambil menanyakan nomor flat bis yang kududuki.

Hatiku berdebar tak karuan saat itu. Piluku hilang sejenak berganti bunga harapan yang mekar diantara rimbun mawar merekah. Ah, andai saja kamu melihat?

Niscaya senyumku tak akan terungkap. Merah merona pada pipi, akan kusembunyikan rapat-rapat, bahkan pada angin saja tak akan kuungkap. Bibir yang tak henti merapal syukur dan senyum bahagia tak terkira. Aku bagai anak kecil berlari kegirangan mendapat kebahagiaan luar biasa.

Dear, ini adalah waktumu untuk kembali. Lama nian kita tak jumpa. Lama nian kita tak bersua. Lama nian aku berteka-teki rasa. Aku menyangka kau pun sama denganku. Sama-sama menanti, lalu saling merindui. Dan bercakap dalam bahasa diam paling ajaib. Cuma angin dan aku yang tahu. Bahkan cuma kau dan langit yang tahu.

Aku tak tahu menahu tentangmu. Aku kehilangan berita. Aku kehilangan arah dan nakhoda. Kau seolah menjauh. Aku merasa berdarah. Padahal mungkin tidak?!

Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Di belahan bumi sana, mungkin kau tetap sama. Sama-sama menjaga satu nama, dan mencinta dalam diam yang tak biasa.

Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku merasa kau jauh dan asing. Aku merasa tidak mengenalimu, kecuali setetes air celupan tangan diantara lautan megah. Semenjak kau memutuskan melanjutkan mimpimu di tempat baru.

Entahlah, jangan kau hiraukan daku. Mungkin ini hanya perasaan lemahku saja. Usah kau hiraukan. Meski aku berharap, akan ada waktu dimana kita tak usah berteka-teki lagi. Engkau mengenaliku seutuh tulus yang kau tenun dalam senyum yang mengusap jiwaku.

Dear, kapan terakhir kali kita berdiskusi berbagai macam tema dan problema sambil tertawa renyah menikmati kehangatan hadirnya jiwa satu sama lain. Aku menyerbumu dengan berbagai curahan kata. Kemanjaanku buat kau pusing tujuh keliling. Hingga kau tak sadar sedang ada dalam pelukan sang angin. Saking merasa ringannya jiwamu berada didekatku.

Dear, kapan terakhir kali kau memburuku cepat-cepat agar aku tak ketinggalan bis tua kesayangan, sebelum Bapak kondektur memarahiku lebih tajam. Ah, paling-paling kita akan saling berpaling lalu kembali saling bertatap lalu tertawa ... Hahahha

Setelah, Bapak kondektur itu pergi dan usai menunaikan amarahnya karena keleletanku beberapa menit memasuki pintu. Itu adalah momen, saat aku merasa kita tak ada beda. Kau dan aku benar-benar sama dan satu asa. Saling berkaitan jiwa, hingga tak lagi ada lupa. Kau siapa dan aku siapa. Kau darimana dan aku berasal dari keturunan apa. Semua sekat itu lebur tak terkubur. Hilang terbang diantara udara alam yang luas.

Ah, aku tak peduli kau anak siapa. Aku tak peduli, seidealis dan seperfect apa keluarga dan kehidupanmu. Aku tak peduli, aku akan dicerca macam apa saat, kau menjemputku dengan berani mengajakku bertemu Ibu dan Bapak di rumah sejukmu.

Detik ini, jujur saja. Ribuan jarak dan waktu telah kita lalui dalam sekat tanpa kebersamaan. Kita tak lagi saling mendengarkan suara pelipur lara. Bahkan aku sering sesak karena bertanya-tanya pada sang asa. Kabarmu bagaimana? Sedang apa? Dimana? Dan dengan siapa?

Rasa malu dan gengsiku untuk bertanya, sekedar mengalahkan ego rupanya membungkam semua gejolak rasa penasaran dan perhatian terpendamku padamu.

Aku sedih. Aku tertawa bahagia. Aku sepi. Aku terserak dalam angkasa. Aku merintih, memanggil namamu lalu pergi berlari sekencang tenaga mencarimu yang entah dimana. Bahkan kau tak ada janji menemuiku lebih lama, saat kita berpapasan bahagia saat gaun merahku menghiasi pertemuan kita di pertamuan sampai gerbang rumah itu.

Aku melihatmu, dear. Meski hanya sekejap mata. Karena keinginanku untuk berbicara lebih lama dan bersenda gurau lebih tertata, kalah oleh rasa malu dan takutku. Namun, aku berhasil merekam ragamu saat itu.

Kau mengenakan kemeja rapi dan senada. Tampak wibawa, sungguh wibawa dan membuatku bertambah suka dengan senyum malu-malu sambil menyodorkan sebongkah bungkusan kado yang tak kutahu isinya apa.

Ah, aku segera berlalu sebelum kau sempat berpamit rasa. Hari itu adalah hari pertemuan dan pertamuan sampai gerbang muka. Karena aku belum berani mengenalkanmu pada Ibu dan Bapak.

Hari ini, aku terlalu durjana untuk sekedar bersalam sapa. Untuk sekedar membalas rasa lewat pesan aksara yang kau rangkai diantara maya dan media massa.

Engkau di belahan dunia selatan sana. Dan aku berada di bumi utara. Sampai kapankah aku harus terus berteka-teki rasa? Kita adalah dua manusia lugu yang sama-sama saling menunggu.

Aku merindukan saat-saat dimana kita bersama. Berjalan beriringan, lalu saling menggenggam asa tanpa ada sekat yang terasa. Kau dan aku sama. Sama-sama saling menjaga dan merasa suka dan bahagia.

Aku merindukan saat-saat itu. Saat hati tak lagi pilu karena menunggu. Saat darah selalu menghangat karena lengkap dan sempurna. Ya, bersamamu. Berada disampingmu. Tak usah banyak kata dan bermedia sosial ria. Cukup engkau dan aku. Sama-sama tahu dan saling memulia. Kita bersama dan dunia sempurna.

"Jangan kau buka mata. Biarkan aku menatap wajahmu, untuk menebus saat-saat aku kehilanganmu."

Kau adalah dingin saat aku panas membara. Kau adalah hangat saat aku kedinginan menggigil sudah tak berupa. Kau adalah penyempurna.

Detik ini, aku di cerca berbagai macam prasangka. Sama seperti dulu, semua prasangka yang menghujam duka. Tapi, ternyata sembuh dengan sempurna. Saat aku dan kau menjadi kita. Dalam balutan senyum yang berwujud mutiara -permata-.

Ya, kau adalah permata. Semoga aku bisa menjadi permata bahagiamu, bersama di dunia lalu mengabadi di alam sana.

Kau tahu? Aku merindukanmu, lebih dari yang kau tahu!

Kapan kita berdiskusi, bercanda, dan bercengkrama asa dan rasa tanpa sekat tanpa ada nada serak.

Aku menunggumu. Dan sepertinya kita membutuhkan waktu untuk nge-teh bersama. 💚 Semoga engkau membaca curahan rasa tidak biasa dari  perempuan sederhana, ini.💚

Diskusi Rasa

Akan ada masa, terulang kembali. Saat hati tak lagi kelimpungan resah. Saat bathin tak lagi merasakan sesak penantian. Saat bibir tak lagi kelu dan malu-malu mengucap rasa. Saat aku tak usah bebal menahan cemburu dan tanya yang memburu.

Ya, aku percaya dan yakin akan ada masa, saat hal itu akan terulang kembali. Disampingmu. Menemuimu kembali. Menatap wajah sayupmu. Dan bersandar di bahu nyamanmu.

Kamu tahu? Aku pernah kelimpungan luar biasa mencarimu diantara sesak manusia yang masuk ke bis kota itu.

Kamu dimana? Kenapa tak kunjung kulihat muka?

Aku meraih ponsel hendak menghubungi nomor ajaibmu. Setelah beberapa menit berlalu saat engkau menghubungiku, dan berjanji akan menaiki bis yang sama sambil menanyakan nomor flat bis yang kududuki.

Hatiku berdebar tak karuan saat itu. Piluku hilang sejenak berganti bunga harapan yang mekar diantara rimbun mawar merekah. Ah, andai saja kamu melihat?

Niscaya senyumku tak akan terungkap. Merah merona pada pipi, akan kusembunyikan rapat-rapat, bahkan pada angin saja tak akan kuungkap. Bibir yang tak henti merapal syukur dan senyum bahagia tak terkira. Aku bagai anak kecil berlari kegirangan mendapat kebahagiaan luar biasa.

Dear, ini adalah waktumu untuk kembali. Lama nian kita tak jumpa. Lama nian kita tak bersua. Lama nian aku berteka-teki rasa. Aku menyangka kau pun sama denganku. Sama-sama menanti, lalu saling merindui. Dan bercakap dalam bahasa diam paling ajaib. Cuma angin dan aku yang tahu. Bahkan cuma kau dan langit yang tahu.

Aku tak tahu menahu tentangmu. Aku kehilangan berita. Aku kehilangan arah dan nakhoda. Kau seolah menjauh. Aku merasa berdarah. Padahal mungkin tidak?!

Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Di belahan bumi sana, mungkin kau tetap sama. Sama-sama menjaga satu nama, dan mencinta dalam diam yang tak biasa.

Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku merasa kau jauh dan asing. Aku merasa tidak mengenalimu, kecuali setetes air celupan tangan diantara lautan megah. Semenjak kau memutuskan melanjutkan mimpimu di tempat baru.

Entahlah, jangan kau hiraukan daku. Mungkin ini hanya perasaan lemahku saja. Usah kau hiraukan. Meski aku berharap, akan ada waktu dimana kita tak usah berteka-teki lagi. Engkau mengenaliku seutuh tulus yang kau tenun dalam senyum yang mengusap jiwaku.

Dear, kapan terakhir kali kita berdiskusi berbagai macam tema dan problema sambil tertawa renyah menikmati kehangatan hadirnya jiwa satu sama lain. Aku menyerbumu dengan berbagai curahan kata. Kemanjaanku buat kau pusing tujuh keliling. Hingga kau tak sadar sedang ada dalam pelukan sang angin. Saking merasa ringannya jiwamu berada didekatku.

Dear, kapan terakhir kali kau memburuku cepat-cepat agar aku tak ketinggalan bis tua kesayangan, sebelum Bapak kondektur memarahiku lebih tajam. Ah, paling-paling kita akan saling berpaling lalu kembali saling bertatap lalu tertawa ... Hahahha

Setelah, Bapak kondektur itu pergi dan usai menunaikan amarahnya karena keleletanku beberapa menit memasuki pintu. Itu adalah momen, saat aku merasa kita tak ada beda. Kau dan aku benar-benar sama dan satu asa. Saling berkaitan jiwa, hingga tak lagi ada lupa. Kau siapa dan aku siapa. Kau darimana dan aku berasal dari keturunan apa. Semua sekat itu lebur tak terkubur. Hilang terbang diantara udara alam yang luas.

Ah, aku tak peduli kau anak siapa. Aku tak peduli, seidealis dan seperfect apa keluarga dan kehidupanmu. Aku tak peduli, aku akan dicerca macam apa saat, kau menjemputku dengan berani mengajakku bertemu Ibu dan Bapak di rumah sejukmu.

Detik ini, jujur saja. Ribuan jarak dan waktu telah kita lalui dalam sekat tanpa kebersamaan. Kita tak lagi saling mendengarkan suara pelipur lara. Bahkan aku sering sesak karena bertanya-tanya pada sang asa. Kabarmu bagaimana? Sedang apa? Dimana? Dan dengan siapa?

Rasa malu dan gengsiku untuk bertanya, sekedar mengalahkan ego rupanya membungkam semua gejolak rasa penasaran dan perhatian terpendamku padamu.

Aku sedih. Aku tertawa bahagia. Aku sepi. Aku terserak dalam angkasa. Aku merintih, memanggil namamu lalu pergi berlari sekencang tenaga mencarimu yang entah dimana. Bahkan kau tak ada janji menemuiku lebih lama, saat kita berpapasan bahagia saat gaun merahku menghiasi pertemuan kita di pertamuan sampai gerbang rumah itu.

Aku melihatmu, dear. Meski hanya sekejap mata. Karena keinginanku untuk berbicara lebih lama dan bersenda gurau lebih tertata, kalah oleh rasa malu dan takutku. Namun, aku berhasil merekam ragamu saat itu.

Kau mengenakan kemeja rapi dan senada. Tampak wibawa, sungguh wibawa dan membuatku bertambah suka dengan senyum malu-malu sambil menyodorkan sebongkah bungkusan kado yang tak kutahu isinya apa.

Ah, aku segera berlalu sebelum kau sempat berpamit rasa. Hari itu adalah hari pertemuan dan pertamuan sampai gerbang muka. Karena aku belum berani mengenalkanmu pada Ibu dan Bapak.

Hari ini, aku terlalu durjana untuk sekedar bersalam sapa. Untuk sekedar membalas rasa lewat pesan aksara yang kau rangkai diantara maya dan media massa.

Engkau di belahan dunia selatan sana. Dan aku berada di bumi utara. Sampai kapankah aku harus terus berteka-teki rasa? Kita adalah dua manusia lugu yang sama-sama saling menunggu.

Aku merindukan saat-saat dimana kita bersama. Berjalan beriringan, lalu saling menggenggam asa tanpa ada sekat yang terasa. Kau dan aku sama. Sama-sama saling menjaga dan merasa suka dan bahagia.

Aku merindukan saat-saat itu. Saat hati tak lagi pilu karena menunggu. Saat darah selalu menghangat karena lengkap dan sempurna. Ya, bersamamu. Berada disampingmu. Tak usah banyak kata dan bermedia sosial ria. Cukup engkau dan aku. Sama-sama tahu dan saling memulia. Kita bersama dan dunia sempurna.

"Jangan kau buka mata. Biarkan aku menatap wajahmu, untuk menebus saat-saat aku kehilanganmu."

Kau adalah dingin saat aku panas membara. Kau adalah hangat saat aku kedinginan menggigil sudah tak berupa. Kau adalah penyempurna.

Detik ini, aku di cerca berbagai macam prasangka. Sama seperti dulu, semua prasangka yang menghujam duka. Tapi, ternyata sembuh dengan sempurna. Saat aku dan kau menjadi kita. Dalam balutan senyum yang berwujud mutiara -permata-.

Ya, kau adalah permata. Semoga aku bisa menjadi permata bahagiamu, bersama di dunia lalu mengabadi di alam sana.

Kau tahu? Aku merindukanmu, lebih dari yang kau tahu!

Kapan kita berdiskusi, bercanda, dan bercengkrama asa dan rasa tanpa sekat tanpa ada nada serak.

Aku menunggumu. Dan sepertinya kita membutuhkan waktu untuk nge-teh bersama. 💚 Semoga engkau membaca curahan rasa tidak biasa dari  perempuan sederhana, ini.💚

Sabtu, 08 April 2017

Betty Berulah Lagi

"Cariin Ibu pembantu, Bet. Buat di rumah. Kasihan kamu, kalau nggak ada pembantu. Mesti sekolah, mesti ngurusin rumah. Belum lagi ngurusin anak-anak."

"Nggak usah lah, Bu. Kan Betty juga bisa kerjain sendiri. Betty udah biasa kok, Bu. Dari zaman sekolah kan Betty kos, udah pahamlah gimana pekerjaan rumah."

"Ya, tapi Ibu nggak biasa Bet. Dari zaman dulu, Ibu nggak pernah nggak pake pembantu.  Udah biasa pake pembantu."

"Aku pusing, Bu sama pembantu. Pembantu kemarin kerjaannya maen hape terus. Kerjaannya nggak beres-beres. Kan bikin emosian."

"Yaudah sih itu terserah kamu."

Ibu berlalu dari ruang keluarga menuju dapur, hendak menyiapkan makan siang untuk cucu-cucu tercinta yang sebentar lagi akan pulang sekolah.

"Bu, Betty jemput anak-anak dulu yaa."

"Iya, hati-hati. Sekalian cari pembantu ya."

Betty tak hirau akan permintaan Ibunya. Menurutnya, untuk apa toh cari pembantu. Dia sendiri juga mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Daripada dipusingkan oleh ulah pembantu yang suka nggak karuan itu.

Sudah beberapa kali dia ganti pembantu. Yang pertama kerjanya lelet, yang kedua maen hape terus, yang ketiga hasil kerjanya nggak beres.

"Ah sudahlah, tak usah aku turutin kata Ibu." Bathinnya sambil terus melaju menggunakan motor matic warna merah menuju sekolah anak-anaknya.

Sekitar tiga puluh menit perjalanan. Sampailah ia di gerbang sekolah anak tercinta. Disana sudah ada dua orang anaknya menunggu.

Si sulung Keisya, gadis cantik nan cerdas yang sekarang tengah menduduki SMA kelas akhir dan sebentar lagi akan kuliah di Jerman. Dan anak kedua si bungsu Talitha, baru kelas dua SMP. Keduanya, anak yang penurut, cerdas, dan baik hati.

Keduanya menyambut kedatangan sang Mamah dengan senyum merekah. Diciumnya kedua tangan betty, lalu mereka naik motor dan duduk di belakang Betty.

"Mah, hati-hati yaa. Sekarang kan jalanan macet."

"Iya, Nak. Tenang saja. Mamah nggak ngebut-ngebut kok."

Motor pun melaju. Melewati jalanan raya yang cukup ramai. Lalu belokan menuju komplek perumahan dimana rumahnya berada.

Bruuuukkkkkkk  ....

"Mah ...."

Kedua anaknya berteriak,  terjatuh tak jauh dari motor. Sementara Betty, sudah terlempar jauh dari motor.

Rupanya, pas belokan komplek. Ada motor yang datang dari arah berlawanan. Entah kehilangan fokus atau bagaimana. Keduanya bertabrakan.

Anehnya, anaknya tidak kenapa-napa. Pengendara motor yang menabrak juga tidak kenapa-napa, malah ia langsung bangkit dan kabur. Mungkin  karena ketakutan.

"Aduuuh, Nak. Tolong Mamah, Nak." Betty jatuh tersungkur, sementara tangan kanannya terlipat dan susah digerakkan.

Sang sulung dan bungsu bergegas menghampiri. Salah satunya menghubungi Papanya di kantor, agar segera pulang.

***

Betty tak dapat menahan sakit di tangannya. Dokter sudah pergi, setelah mengobati dan memberikan resep. Tangan kanannya diperban dan tak boleh digerakkan. Benar-benar memar dan luka parah. Ia hanya bisa terbaring di kasur, dan tinggal di rumah tanpa bekerja.

"Mas, apa ini karena salah aku sama Ibu ya? Kemarin aku nggak nurutin apa maunya Ibu. Dia mau pembantu, buat meringankan pekerjaan rumah katanya. Terus aku tolak, Mas. Orang aku juga bisa ngerjain sendiri."

"Ya Allah, Bet ... Bet .... Itu salah satunya. Mungkin beliau kesal atau sakit hati kamu tolak keinginannya. Minta maaf sekarang sama Ibu, Bet. Mas mau cari pembantu malam ini juga."

"Ii ... yaaa, Mas." Betty menurut, suaminya memang selalu mengajarkan kebaikan dan tegas mengamalkannya. Ia tak pernah bisa mengampuni kesalahan sedikit pun pada kedua orang tuanya. Bagi dia orang tua adalah raja yang harus selalu dimuliakan.

Sementara sang suami, pergi ke luar rumah  mencari pembantu dengan bantuan Pak RT setempat. Betty, memanggil sang Ibu dan hendak minta maaf.

"Bu, maafin Betty ya. Kemarin buat Ibu kesal, sampai-sampai aku kena karma gara-gara nggak nurutin apa mau Ibu."

"Loh, Bet. Kok gitu. Ibu nggak papa kok. Cuma kesel aja sedikit, udah nggak marah lagi kok."

Betty mau mencium tangan Ibu. Tapi, ia malah meringis menahan sakit dan tangannya tak bisa digerakkan.

"Ibu yang harusnya minta maaf, Bet. Padahal Ibu cuma kesal dikit aja lo, Bet. Duh, Ibu harus hati-hati lagi ya kalo bicara. Anak Ibu yang kenal tulahnya."

"Bu ... maaf in Betty ya, Bu. Betty insyaf nggak lagi-lagi bikin Ibu kesal apalagi marah."

"Iya, Bet. Nggak apa-apa. Ibu yang salah nggak menjaga sikap sama anak. Jadinya begini." Ibu dan Betty sama-sama menangis, sadar dan takut bahwa mereka sedang menerima cobaan akibat ulah mereka sendiri.

"Assalamu'alaikum  ... Maaah, ini Papa bawa Mbok Surti untuk membantu pekerjaan rumah kita." Suami Betty datang dengan wajah riang, malam itu ia telah mendapatkan seorang khadimat untuk membantu pekerjaan rumah Ibu dan istrinya.

Ibu dan Betty saling bertatapan. Lalu, mereka saling memeluk. Tak henti kucuran air mata.

"Maafin, Betty ya, Bu."

"Ibu yang minta maaf, Bet."

Kedua anaknya pun datang membawakan makanan dan obat untuk dimakan oleh Ibunya sebelum tidur.

Kamis, 06 April 2017

Kunci itu Patah

Pagi itu, Bapak kurir sudah datang mengirimkan mesin cuci baru. Ia dan temannya meletakkan mesin tersebut tepat di dapur dekat kamar mandi, agar mempermudah ketika akan mencuci. Sambil memasak sambil mencuci, dua tiga pulau terlampaui.

"Bet, Bet sini. Ajaran Ibu dulu gimana ini cara pakainya. Ibu mau nyuci nih, pake mesin cuci baru." Panggil sang Ibu senang mendapati mesin cuci baru bertengger di rumahnya.

"Duh, Ibu. Betty mau berangkat sekolah, Bu. Mau ngajar. Udah kesiangan nih."

"Yaelah, Bet. Bentar doang. Ajarin Ibu cepetan." Ibu tetap memaksa meminta untuk diajari sekarang juga.

Sementara itu, Betty yang notabene seorang guru tengah wara-wiri kesana kemari. Mempersiapkan keberangkatannya untuk mengajar ke sekolah yang cukup jauh dari rumahnya.

Hari itu, tepat pukul 06.45. "Duh, bakal kesiangan nih. Lima belas menit lagi jam tujuh. Ia komat-kamit sambil memakaikan kaos kaki abu-abu pada kakinya yang lenjang.

Ia sudah tak hirau keadaan rumah. Yang ada dalam pikirannya, bagaimana caranya ia tidak kesiangan datang ke sekolah. Mengingat kepala sekolahnya atasan yang cukup killer, tak terkecuali bagi guru pun.

Saat ia sudah menstarter motor matic berwarna merahnya hendak berangkat. Ibu dari dalam berlari dan mencegahnya. "Betty, ayo sih ajarin, Ibu dulu mesin cuci baru. Kok, kamu gitu sih nggak mau ngajarin Ibu."

"Ah, Ibu itu gimana sih, orang gampang kok, Bu. Nanti aja kalo Betty udah pulang sekolah. Abis dzuhur, Betty ajarin. Udah ya, Bu pamit. Assalamu'alaikum." Ia segera berlalu meninggalkan sang Ibu tanpa sempat menorehkan senyum apalagi cium tangan seperti kebiasaannya sebelum berangkat kerja.

Ibu pun tampak menundukkan muka. Lalu masuk kembali ke dalam rumah. Mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan di rumah, melepas penat dan sepi karena penghuni rumah sudah berangkat ke sekolah dan tempat kerjanya masing-masing.

Di perjalanan, Betty menjalankan motor matic kesayangannya dengan hati-hati. Jalanan memang cukup ramai, tapi masih bisa ia lalui dengan lapang hati tanpa macet yang cukup berarti.

Kecepatan motornya paling maksimal tak pernah melebihi angka tiga puluh. Beberapa menit berlalu, ia tiba di sekolah. Memarkirkan motor, lalu bergegas menuju ruang guru di lantai dua sekolah Islam Taruna Jaya.

Menaiki satu persatu tangga yang memiliki kemiringan cukup menantang.

"Glekkk." Betty tiba-tiba terjatuh.

"Aduh, sakit ... " Ia menjerit refleks saat kedua kakinya terpeleset, lalu menyebabkan ia terjatuh. Dan tangannya terkilir sehingga agak sulit digerakkan rupanya.

"Ahhh ... apa banget sih pagi-pagi mana udah buru-buru pake acara jatuh segala lagi. Aduuuuuh ..." Ia menjerit kesakitan saat akan berdiri bertumpu menggunakan tangan kanannya. Rupanya tangan kanannya memar ditambah terkilir pula.

Ia meringis sambil mencoba bangkit, melanjutkan perjalanan yang sedikit lagi sampai di ruang guru.

"Hei, Bett. Ayo cepetan udah mau masuk pelajaran nih." Sapa teman akrabnya sesama guru mengingatkan waktu.

"Iya nih, gue telat, Tih."

"Eh, itu kenapa tangan lu kok dipegangin gitu. Jalan lu juga kayak sakit gitu." Ratih terheran menyaksikan sahabatnya berjalan aneh tak biasanya.

Bahasa mereka memang seperti itu, karena merasa sudah sangat akrab jadi terkesan agak sedikit nyablak.  Tapi, kalau di hadapan murid-muridnya, mereka berbicara dengan bahasa yang lebih baik karena sadar akan menjadi teladan.

"Gue jatuh, Tih. Barusan di tangga sini nih pas mau naik. Tangan gue mana sakit banget lagi, terkilir dan memar kayaknya."

"Euleuh-euleuh ... " Saat Ratih mau membantu Betty mendudukkannya di kursi. Ponsel Betty berbunyi.

Kriiing kriiing ...

"Halo, Mas. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam, Bet." Terdengar jawaban dari seberang, seorang lelaki dengan suara khas. Ia adalah Apriyadi, suaminya yang tengah bekerja di Kalimantan sebagai kontraktor.

"Ada apa, Mas? Tumben jam segini nelponnya.

"Uang kita hilang, Bet. Barusan supir kita baru ambil uang dari Bank. Ia taro tas berisi  uang sebanyak Rp. 35 Jt itu di mobil. Ditinggal sebentar mau beli minum ke warung, deket banget jaraknya. Pas kembali, kaca mobil udah pecah, Bet. Uang kita raib dirampok."

"Astagfirullahal'adziim ..." Betty kaget, lalu Ia teringat hal penting yang cukup mengguncang bathinnya.

"Kenapa Bet, pagi ini kamu bikin kesel Ibu ya?"

"Duh, kok Mas langsung connect aja sih. Tahu aja, pagi ini gue bikin kesel Ibu." Bathinnya menyadari sebuah kesalah besar yang sudah diperbuatnya.

"I ... iya, Mas. Habis tadi pagi aku buru-buru mau berangkat. Eh, Ibu aneh-aneh aja minta diajarin pake mesin cuci pagi-pagi lagi."

"Ya Allah ... Bet, Bet ... kan udah Mas bilang, yang namanya orang tua itu keramat. Jangan sekali-kali bikin mereka kesel. Sekarang tahu kan akibatnya, akibat ulah itu. Allah langsung kasih hukumannya. Orang tua itu raja, Bet. Perlakukan mereka seperti raja. Ibu itu pegang kunci kesuksesan hidup kita, Bet." Suaminya terus berbicara menasihati kekeliruan besar yang sudah dilakukan istrinya.

"I ... iya, Mas ... maaf Betty salah." Ia merendah sambil menahan sakit di tangan yang tak mau ia ceritakan.

"Sekarang juga kamu minta maaf sama Ibu, Bet. Nggak boleh nanti-nanti."

"Iya, Mas ..." Betty mengucurkan air mata, mengakui kesalahan didera penyesalan besar membuat kesal Ibunya.

Rabu, 05 April 2017

Perasaan Paling Menakutkan

Aku masih mengingat setiap detik memori bersamamu. Saat satu persatu langkah kaki diayun seirama meramaikan hari liburan di kampung kerinduan.

Ya, saat itu tentang kita berdua. Kita sama-sama fokus bercerita satu sama lain. Menertawai canda yang menghangatkan darah. Senyummu menghiasi wajahku, yang sempat redup oleh muram. Namun, hadirmu mampu menjelmakan kesenangan pada alam jiwa.

Masih ingatkah kau, kita berdua bergandengan tangan melintasi kampung kenangan, melewati rimbun hijaunya rumput-rumput kebun. Menuruni jalanan di gunung curam, melewati pematang sawah, lalu bernyanyi beriringan. Merekam kenangan pada senja yang masih berkenan menghiasi kebersamaan kita.

Ah, masih ingatkah kau tentang kita. Saat dapurmu rusak parah karena kelakuan kita mengobrak-ngabrik tempat paling keramat itu, meramu masakan hingga berujung keajaiban -masakanmu paling enak sedunia pokoknya-, bathinku tak berkilah.

Tuhan, aku tak ingin setiap cerita tentang kita hanya akan menjadi kenangan semata. Aku ingin setiap kisah tentang kita adalah bahagia yang membawa kita terus bergandengan tangan meski masa sudah pasti akan beranjak, semua akan bereinkarnasi, meninggalkan masa, menggapai asa, dan berubah rasa.

Namun, aku ingin semua tentang kita tetaplah sama. Kamu, mengisi ruang di hati. Di sebuah tempat yang terjaga. Aku merawat, membersihkan, dan menaburi wewangian di ruangan itu setiap hari. Meski dihantui perasaan paling menakutkan dan hal yang paling tak aku inginkan. Yaitu, kehilangan.

Tetaplah disini ya, di sebuah ruangan terang yang terjaga di hatiku. Sampai kapanpun. Meski sampai jasad terkubur tanah. Kamu tetap menjadi alasan bibirku melengkungkan senyuman sayang dan penuh cinta.

Ah, masih ingatkah ketika dirimu tak sungkan memarahiku karena ulah kecerobohan yang membuatmu terheran-heran. Saat di dapur itu, kita bercengkrama bersama meracik masakan penuh harapan untuk kehadiran yang dinantikan.

Saat di meja makan, kita sampai lupa waktu setelah menghabiskan makanan lalu bercerita kesana kemari sampai tak sadar hari. Bersamamu itu menyenangkan. Aku tak akan lupa setiap kisah tentang kebersamaan denganmu. Semua itu adalah harta berhargaku.

Masih ingatkah kau? Di ujung gerbang itu kita saling bertemu lalu berlarian menepiskan ketidakpercayaan. Ternyata, kita masih bertemu kembali dan engkau masih ada untukku. Ketika senyummu di ujung jalan sana. Begitu manis, membuatku tersipu malu. Kalau saja saat itu aku bukan makhluk yang pandai menjaga diri, niscaya sudah kuteriakkan padamu.

"Hei, kamu itu keajaiban dalam hidupku."

Namun, sayangnya lalu lalang kendaraan bising sekali hingga suara hatiku cukup aku yang mendengar.

Aku takut kehilanganmu. Aku takut masa terus menggerus kebersamaan kita. Aku takut hati kita semakin jauh, karena kau semakin sibuk dengan dunia barumu. Aku takut, dirimu tak lagi sama seperti dirimu yang dulu penuh kehangatan menyambut kedatanganku.

Sejujurnya, aku cemburu saat aku tak lagi menjadi orang yang diprioritaskan untuk mendengar cerita bahagia ataupun sedihmu. Namun, tak apa. Ini adalah takdir masa dan kenyataan yang tak bisa dielakkan.

Aku hanya takut kehilanganmu. Seseorang yang mampu menghangatkan kedinginan pada ruang hati yang sudah lekat dengan kenangan tak terlupakan.

Untuk seseorang yang darah dan dagingnya mengalir juga di tubuhku. Untuk seseorang yang sudah kuanggap orang terhormat yang harus selalu kumuliakan. Kita pernah bersama melewati waktu sekian jutaan asa. Bersama, membangun keindahan cita. Maafkan diri jika pernah menggores luka.

Lalu berpisah, melompati satu takdir ke takdir yang lain. Kita akan tetap sama-sama ya, saling mendoakan dan menyayangi satu sama lain.

#ODOP
#Onedayonepost

Karang Tengah, 05 April 2017.
Di sebuah tempat yang ramai oleh kedamaian dan bisingnya kehidupan. 💚

Senin, 03 April 2017

Pagi di Sebuah Pojokan Bumi

Pagi ini, semilir angin menyapaku lekat. Aroma malam yang gulita telah berganti shubuh yang wangi. Sekumpulan makhluk-makhluk bumi, mulai riuh memperbincangkan hari.

Semalam, aku lelap mata ayam saat mendengar ramai sekali perbincangan angin yang mampir di kepala. Ah iya, aku menamainya angin meskipun entah itu ramai percakapan darimana. Teman satu kos sudah tidur. Lampu sudah dimatikan. Suasana sudah hening. Mungkin ini salah satu efek tidur terlalu malam, sehingga pikiranku sudah tak karuan.

Jadi teringat perbincangan suatu sore bersama teman-teman, kita bercerita tentang kisah Uwais Al-Qarni. Tidak dikenal oleh penduduk bumi, tapi ramai diperbincangkan penduduk langit. Hingga saat Rasulullah sedang berkhutbah di suatu majelis di Madinah, merasa terganggu karena beliau dapat mendengar ramainya percakapan di langit.

Rupa-rupanya mereka sedang memperbincangkan seorang Uwais Al-Qarni. Seorang yang papa, tinggal di gubuk tua bersama Ibunya yang buta dan lumpuh. Sangat ingin bertemu Rasulullah, beliau sudah meminta izin kepada ibunya untuk menemui Rasul, diperbolehkan akan tetapi setelah sampai di Mekkah sang Ibu berpesan harus segera pulang.

Malang bukan kepalang, setelah menempuh perjalanan jauh bersama keledainya -yang mati di tengah perjalanan- ia sampah di Mekkah, ternyata Rasulullah tidak ada di tempat karena sedang berhijrah.

Dengan lapang hati, ia ingat pesan sang Ibu. Segera kembali pulang, setelah sampai Mekkah meskipun belum bertemu Rasul.

Penduduk  yang tidak dikenal di bumi, tapi ramai nan harum namanya diantara penduduk langit.

Ah, pagi ini, aku menghirup udara segar diantara riuh tanaman hias di kantin sekolah. Duduk di teras kantin, memandangi keseruan anak-anak berolahraga di lapangan sekolah.

Pagi ini, sambil menikmati aroma pagi seperti biasa, mempersiapkan beberapa hal terkait amanah yang bertambah, lalu bersyukur masih diberi kesempatan menjadi penghuni bumi.

Mungkin saja, semoga saja, kita juga termasuk penduduk bumi yang riuh harum namanya dikenal penduduk langit seperti Uwais Al-Qarni ya. 😁🌷

Minggu, 02 April 2017

Temaram Perjalanan

Hari ini, gadis mungil itu terbangun di waktu malam seperti biasa
Bergegas merapikan diri, mengenakan mukena biru muda
Lengkap beserta peralatan yang akan dibaca selepas menghamba

Melewati jalanan yang sepi
Menuju mushala di depan sana
Sambil sesekali menengadah ke atas mega
Ada bulan yang tengah memancarkan senyuman
Diantara kerumunan awan dan temaram cahaya malam

Tersenyum syukur.
Dan takjub.

"Tuhan
Jika takdir adalah ketentuan dari-Mu
Maka betapa agung ketetapan-Mu
Menguliti setiap inchi dari perjalanan hidupku."

"Hari ini, aku terbangun dengan segar dan sehat
Dengan kesegaran tekad yang terus mengajakku
Bersegera menuju-Mu
Tanpa kurang suatu apapun"

Gumam riuh sang gadis dalam bathin
Sambil lekas memercikan air pada bagian tubuh
Anggota wudhu.

Tak ada pening yang melilit di kepala
Tak ada kram yang melucuti setiap otot menyala
Tak ada lusuh dan lumpuh yang mendera kekekalan tubuh
Semua digjaya dan sempurna
Semua berjalan menebarkan rona bahagia.

Takbir berkumandang, sembahyang tanda semakin  disayang
Mendekat dan bercinta mesra dengan Sang Tuhan
Riuh redam batinnya bergemuruh
Melepaskan jutaan selulit kalut yang mendera
Meminta berganti tenang yang penuh aksara asa

"Ia sedang merafal macam-macam doa
Merayu Tuhannya."
Bisik angin pada daun yang melambai.

Ah gadis itu.
"Glekkkkk.
Pernah jatuh tak berdaya
Bahkan untuk sekedar menegakkan tubuh
Meraung menahan serangan sakit luar biasa
Meronta, benar-benar tak mampu apa-apa."

Memoriku memutar film kenangan masa lalu.

Yah, ia pernah seperti itu
Benar-benar tak mampu apa-apa
Padahal sebelumnya sehat dan riang gembira
Bersiap melaksanakan berbagai acara yang sudah di rencana
Bahkan tubuh pun sudah dijaga sedemikian rupa
Agar sehat penuh semangat senantiasa

Memiliki banyak impian dan tujuan
Terukir dengan rapi pada suatu ruang terkunci dalam bathinnya
Ia rawat dan ia jaga
Oh, ya tak hanya itu
Bahkan ia berjuang sekuat tenaga
Mengerahkan seluruh asa untuk menggapainya dengan paripurna

Hingga tiba masa.
Sakit tak dapat ditunda.
Netra berkunang-kunang tak dapat menerka
Badan limbung tak kuasa.

Apalah daya
Takdir tak dapat ditentang
Seluruh usaha sudah dikerahkan
Namun, masa itu ketetapan adalah ketetapan

Sehat sakit berjaya dan binasa
Alam dunia,akhirat, syurga dan neraka
Kehidupan beserta seluruh unik perjalanannya
Takkan pernah lepas dari yang namanya; takdir

Kita manusia, tak lebih dari sebutir debu
Yang diurus dan dicipta oleh pemilik yang penuh kuasa
Sang Maha Perkasa
Ya, kita hanya dapat berusaha
Sedangkan takdir adalah milik-Nya

Sang gadis lekas mengucap salam
Pertanda sembahyang sudah berakhir
Ia lantas membaca kalam cinta-Nya
Lalu, mengerjakan tugas kuliah dengan gembira

Ya, takdir adalah takdir
Sang gadis hanya sedang berusaha
Melompati satu takdir ke takdir yang lain
Setelah sakit ia sembuh lalu menjaga
Dan mengisi hidup dengan yang berguna

Ya, takdir adalah takdir
Sang gadis hanya sedang berusaha
Melompati satu takdir ke takdir lain
Berharap memperoleh takdir yang lebih baik.
Mengisi hidup dengan yang berguna.

Dan aku masih dengan senang hati menopang tubuhnya yang mungil
Menjadi tempat keningnya bertumpu kala sujud
Diatas badanku, kain merah yang lembut.

Hei, gadis!
Aku senang kembali melihatmu riang diatas gagah hamparanku.

Tangisan dan Pelukan

Kepulangan kemarin adalah kepulangan paling baper. Tepat setelah sholat shubuh, aku bergegas menyiapkan berbagai keperluan untuk kembali ke tanah rantau. Dari mulai pakaian, makanan, juga perbekalan.

Seorang gadis dengan memakai dress biru dongker kesayangan, dengan padanan garis biru langit di lengan dan bawah baju. Wara-wiri dari rumah Teteh lalu ke rumah Ua, yang jaraknya lumayan dekat. Ya, gadis itu adalah aku.

Setelah meminta persetujuan, akhirnya aku akan diantar oleh Kakak ipar menggunakan motor matic kesayangan Teteh guruku ke rumah saudara sebelum ke terminal bis. Dus-dus terikat tali rapi. Tas gendong coklat dan tas selendang siap menemani perjalanan.

Teteh tertuaku datang dari seberang jalan, ia memberikan perbekalan nasi dan lauk-pauk -"supaya nggak usah beli dan aneh-aneh makannya." Katanya

"Teh, pulang ya. Teteh sekeluarga sehat-sehat disini." Aku menyalami tangannya, memeluknya lalu Ia menciumi kedua pipiku denga rapal doa dan nasihat yang ia ramu sehingga terdengar begitu syahdu -dalam menurutku.

Ya, aku memiliki empat orang Kakak. Satu persatu kusalami. Juga tetangga dekat yang sudah seperti keluarga.

Tiba, aku sudah tak bisa menahan isak tangis. Beban di dada serasa memaksa menyeruak keluar. Ia membuncah dalam tangisan sedu sedan, kala aku memeluk Kakak perempuanku yang baru saja menikah. Dan sedang menjadi pengantin baru yang bahagia dan romantis-romantisnya.

"Ah, senang sekali melihatmu sudah memiliki pendamping sholih, Teh. Setidaknya aku lebih tenang, ketika pergi meninggalkanmu merantau." Bathinku melayang.

Tak ada kata. Hanya isak tangis yang terdengar dari mulutku. Merasakan bathin begitu sesak, aku sedikit tau kenapa alasan tangisku begitu dalam seperti itu. Jatuh dalam pelukan Kakak terbaikku ini. Menangis. Dan menikmati setiap waktu, tetes air mata.

Kau tahu, ada rindu yang akan kukubur dalam. Aku bukanlah sosok yang akan panjang lebar bercerita tentang beban pikiran, tekanan pekerjaan, ataupun problema hidup perkuliahan, pekerjaan, dan balada anak rantau dengan senang hati.  Just to share my smile, dan akhirnya meledak juga dalam bahasa tangisan.

"Kenapa nangis sih, ih malu ..." Ucap Teteh meledekku.

Namun, aku masih saja terisak memeluknya erat. "Aku akan merindukanmu, Teh. Aku akan merindukanmu. Aku wanita kuat kan, Teh. Aku akan kuat dan menghebat sepertimu. Meski entah bagaimana kehidupan keras mendidikku. Aku kuat, Teh. Dan hanya ingin menemukan suplemen kekuatan dalam pelukan erat dan tangisan di hadapanmu ini." Terjemahan dari bahasa tangis senduku pada lidah yang tetap kelu.

Ia pun hangat membiarkan jilbab merahnya basah oleh airmata. "Udah ya, aku pamit." Aku segera duduk disamping A Mail yang sudah sedari tadi siap mengendarai motornya mengantarkanku.

Ku tatap sekeliling halaman rumah Ua, Ada Ibu guru cantik, Bu Tita . Tetangga asyik  -Yesi Puspitasari. Dua Kakak hebatku -Teh Erna dan Teh Ika. Mereka mengantarkan kepergianku di teras depan rumah. Mengerling mata satu persatu, sambil membathin. "Semoga Allah selalu menjaga kalian ya."

"Assalamualaikum  ..." Ucapku sambil berlalu diatas motor yang sudah melaju.

Tak ada percakapan antara aku dan Kakak iparku. Aku kelu untuk sekedar berkata. Tak kuat menahan tangis, sesak dari bathin yang terus menyeruak menjadi butiran air mata yang mengalir deras. Mungkin di depan, A Mail bingung untuk menenangkan, mendengar sesenggukanku yang tak kunjung berhenti.

Sepatah dua patah kata, akhirnya bisa kuutarakan -melawan tangis- menemani perjalanan ia mengantarkanku hingga sampai di tempat tujuan.

"Berhenti disini, A." Ujarku sambil menunjuk rumah bercat hijau dan pagar biru. Aku lalu turun dan berlari memasuki rumah, ku temukan De Ozil  -si baby lucu dan gantengnya nggak ketulungan- sedang asyik bermain sepeda ditemani sang Ayah yang notabene juga saudara terdekatku dari Bapak.

Sementara A Mail menurunkan barang bawaanku dari motor, lalu kembali ke rumah. Mataku mengekori kepergiannya. "Jaga Teteh ya, A. Perempuan paling berharga yang aku punya."

Kamu tahu mungkin, sebagai seorang adik ada sedikit kecemburuan dalam bathinku ketika Tetehku sudah menikah. Perhatian dan waktunya untukku pasti akan berbeda, karena ia akan memiliki kehidupan baru, keluarga baru, dan tentunya kewajiban baru -berkhidmat pada suami tersebut cinta. Ah, selamat berbahagia, Teh, A. Semoga pernikahan ini menjadi gerbang segala kebaikan bagi kalian berdua di dunia dan akhirat.

Deru motornya sudah berlalu, kala aku kembali   kedalam rumah. Meminta keponakan sepupu gantengku -Yudhi Maulana Shiddiq- melanjutkan mengantarkanku sampai terminal Bis Banjar. Sementara ia bersiap, aku pamit dan menyalami A Ade (Dia keponakan Bapak) dan juga istrinya. Mereka adalah keluarga terbaik yang aku punya. Kepedulian dan kasih sayang mereka tak pernah pandang bulu.

Entah bagaimana caranya, air mataku ternyata tak mau cepat berhenti mengalir. Ia mengucur deras kembali dengan isak tangisku yang tak bisa disembunyikan.

"Pulang ya, A."

"Iya, hati-hati. Semangat kuliah dan kerjanya. Sehat, lancar, jaga diri."

Aku berdiri mematung. Sambil menutupi muka -mengusap tangis. A Ade mungkin mengerti batinku. Ia memelukku, mengusap kepala sambil merapal nasihat-nasihat ajaib penguat bathin yang sedang lemah oleh tempaan kenyataan kehidupan. Aku bersandar di dadanya. Tangisku semakin menderu. Tak ada kata, untuk sekedar menjelaskan gambaran rasa apa yang menyebabkan tangis buncah kembali.

"Berangkat, semangat, Aa yakin Fitri mah bisa. Mandiri, kuat, apapun yang dihadapi. Sebesar apapun ombak, Fitri adalah karang yang kuat di tepi lautan. Menantang hebat ombak menyerbu." Nasihat yang kuterjemahkan, penguatan, dan pemberian semangat yang sangat sedang aku butuhkan.

Berada di samping seorang lelaki kekar, kuat, dan bertanggungjawab seperti dia. Bersandar di tubuhnya yang kuat dan tenang. Benar-benar menyuntikkan kekuatan pada bathin. Rapal nasihatnya, adalah nutrisi pengusir pilu pelebur semangat juang. Seperti pengganti pelukan, seorang ayah yang entah dimana bisa aku dapatkan. Karena, beliau yang sibuk dengan keluarga barunya. Seperti nyanyian rindu nasihat dan kasih sayang murni seorang Ibu yang entah bisa aku dapatkan darimana. Karena, dimensi yang telah berbeda.

Terkadang, hanya dengan seperti ini. Bersandar di pelukan. Mengeluarkan isak tangis -gumpalan seluruh emosi negatif. Segala gelisah, putus asa, tak kuasa, pasrah, rasa ingin menyerah, rasa tak kuat, sedih, ingin berontak, dan ujung-ujungnya menguatkan diri ikhlas mencintai kenyataan hidup yang indah menempakku menjadi mutiara diantara bebatuan dan karang.

Hanya seperti ini saja, sebetulnya. Merasa bahwa aku tak sendiri menanggung kehidupan ini. Tempat berbagi sekedar suka ataupun duka. Mengerti tangis dan membiarkan lidah mengucap perhatian dan nasihat.

Atau kalian punya, saudara perempuan. Jadilah, pendengar dan sahabat yang baik untuknya. Ia tak butuh kamu membawakan bantuan macam-macam untuk keperluannya. Ia sebetulnya wanita kuat mandiri melakukan semua itu.

Namun, terkadang mereka hanya butuh untuk sekedar merasa bahwa mereka tak sendiri. Peluklah mereka sebagai ungkapan sayang persaudaraan. Biarkanlah isak tangis mereka mengeluarkan segala buncahan emosi negatif yang kadang menerpa jiwa mereka. Dengarkan dan jadilah pendengar, sahabat berbagi terbaik untuknya.

Betapa dengan pelukan dan tangisan, bisa melapangkan emosi karatan yang menyelubungi sukma seorang wanita.

Aku berhenti menangis, lalu pergi diantar kekuatan seorang laki-laki hebat di balik perawakannya yang tinggi kekar namun penyayang. Ia adalah laki-laki yang lebih peduli, melebihi  seorang Bapak sekalipun.