Rabu, 12 Oktober 2016

Malam ramai detik ini

Jalanan kota meramai remang
Lampu-lampu mobil menyorot tajam
Pada pemandangan yang masih semu untuk diterjemahkan ...

Selamat bertemu dengan sosok yang tak pernah disangka sebelumnya

Dan ini menjadi sejarah bagi pengalaman pertama

Entah, jatuh itu sakit ataupun tidak ...

Tapi, jatuh selalu memberi arti bahwa terbangun kembali
Menunjukkan bahwa kita cukup kuat dan mampu ...

Aku belum menemukan kembali
Obat termujarab yang membuat hidup kita mewarna dan penuh seri

Ia adalah rasa syukur yang tak pernah berhenti
Terpatri ... dalam jiwa dalam
Dan tertanam kuat ...
Dalam setiap kondisi dan sendi

360 sendimu adalah ladang syukur tak terhingga

Dan ia penuh mampu membahagiamu
Dalam wahana alam yang tak terputus sampai disini ...

Hari ini dan seterusnya aku bersyukur

Karena bersaudara itu tak hanya dalam lingkup sederet dan severtikal keturunan saja

Aku selalu menemukan bahwa ia luas dan penuh makna ...

Selamat bersyukur dan berbahagia
Selamat penuh sahabat dan senang bersaudara ...

*tring perjalanan malam menuju sekolah Kaffah Unggul 2

Senin, 10 Oktober 2016

Ia adalah lelaki aneh bin ajaib menurutku.

Hari ini, seperti biasanya. Kami berangkat sekolah dengan menggunakan angkot. Naik dari depan rumah turun di kaum nyebrang dan naik angkot lagi. Tap. Jalan beberapa meter sampai di gerbang sekolah kami tercinta.

Hari ini, aku tidak bertemu dengannya. Padahal, sangat kuharap bertemu dengannya meski hanya sebatas melihatnya dari kejauhan.

Yah, terlalu berlebihan sebetulnya. Tapi, itu betul adanya. Melihatnya dirinya nyata dengan mata kepala sendiri seolah memproklamirkan pada duniaku sendiri bahwa ia benar-benar ada menjadi salah satu penghuni di bumi ini.

Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa bertemu dengannya adalah hal yang mampu membuatku bahagia. Seperti re-charge energi untukku untuk beberapa waktu kemudian. Kebahagiaan sungguh menyala.

Apalagi, kalo kami sudah bertegur sapa dengan gaya kami. Yah, kubilang itu gaya kami. Karena memang cara kami bertegur sapa kurasa sedikit aneh.

Orang aneh, dalihku dalam hati.

Tapi, aku suka dan bahagia dengannya.

Ia adalah energi untuk membuatku bersemangat dan terus ceria sepanjang hari di kelas. Meskipun hari itu, aku harus melewati mata pelajaran yang lumayan menguras otak.
Tapi, ketika bumi mengizinkan ia untuk bertemu tersenyum dan bercanda denganku kala pagi itu. Adalah kurasan energi luar biasa pada otak. Hormon dopamine ku naik drastis.

Kau tahulah, aku kala itu adalah seorang gadis SMK dengan usia masih remaja. Labil dan pastinya penuh khayalan dan mimpi.

Aku mampu menjelma menjadi seorang yang sangat berambusius untuk belajar dan melakukan yang terbaik untuk pendidikanku.

Tapi, di saat yang bersamaan juga aku mampu menjadi orang yang temperamen tenggelam lantah dalam keputusasaan, tak bersemangat, frustasi akan keadaan tapi juga orang paling egois bahkan untuk dirinya sendiri.

Melihat teman-temanku yang lain rasanya mereka adalah orang yang lebih mampu mengatur emosi dan kestabilan dirinya.

Berbeda dengan diriku, yang kadang masih meledak-ledak. Kadang begitu semangat dan ceria kadang juga muram asa dan sulit sekali ditanya.

Aku pun terkadang bingung, dan ingin keluar dari zonaku yang seperti itu.

Namun, hadirnya seperti mampu memberikan suntikan semangat untukku. Dia hadir di balik seringai senyumnya yang khas. Ia unik bagiku. Ia juga adalah damaiku.

Bagaimana tidak, ketika di kelas aku harus menghadapi seorang laki-laki cerdas sih tapi begitu sombong dan angkuh. Tak mampu memahami kami kaum perempuan. Nyebelin pokoknya.

Namun, ia hadir memberikan kesegaran baru bagi hidupku. Tentang pandanganku tentang seorang yang bernama kaum laki-laki.
Ia begitu lembut, penyayang, humoris, penyabar, dan baik hati.

Entah sejak kapan awalnya kami bisa saling mengenal dan mulai mencari tahu tentang satu sama lain.

Tapi sejak saat itu, pertemuan kami di beberapa pintu kelas. Tangga-tangga sekolah yang sengaja kami rancang untuk bisa bertemu. Parkiran-parkiran cinta. Haha dan lapangan sekolah yang menjadi saksi bisu kami adalah dua insan yang saling mencintai dalam diam.

Ia adalah sekelumit cerita, yang mampu menetralisir sepenuhnya rasa sepi dan labil yang kadang masih hadir pada bagian diriku.

Ia adalah lelaki aneh tapi ajaib menurutku.

Jumat, 07 Oktober 2016

Pohon kipas, setidaknya itulah yang aku ingat. Pohon yang aku ingat ada dan menjadi bagian masa kecilku.

Letaknya berderet laiknya petani yang menanam sayuran dengan berbaris rapi. Persis,
di depan rumahku.

Rumah sederhana dengan pekarangan yang cukup luas, berisikan pohon pisang, aneka rerumputan dan bunga-bunga melati aneka warni.

Ah, aku senang bermain-main disana. Berlari-lari riang sambil bernyanyi suara khas anak kecil. 😆

"Mah, aku mau ngambil daun kipas yah buat main."seruku pada Mamah.

"Iya, boleh. Ambil sana anakku sayang."Sahut Mamah seraya keluar dari dapur menuju putri kecilnya yang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di ruangan tengah rumahnya.

"Horreeeee, kita boleh ambil dan memetik daun kipasnya."

"Boleh yang banyak ya, Mah. Kan teman-temanku banyak. Nanti kita biar bisa jadi putri kipas. Punya banyak daun kipas. Kita bisa bermain sepuasnya. Horreeee ...." Sambutan riangnya lagi.

"Ayo, Izza Icha kita ambil daun kipasnya sekarang."

"Ayooo .... "Teriak mereka kegirangan.

Pohon kipas tingginya setinggi orang dewasa, di batangnya yang mungil terdapat seperti kulit halus yang membungkus berwarna hitam jarang.

"Nak, mainnya tidak jauh-jauh ya. Di taman pekarangan rumah saja. Itu main kipas sama tumbuk daun pacar boleh."Seru Mamahnya Ufit dari dalam dapur.

Ufit, begitulah ia biasa dipanggil. Putri bungsu dari pasangan Mamah Neng  dan Bapak Ahmad Baneji. 😆

Rupanya, Mamahnya sedang memasak untuk makan sore keluarganya. Beliau sedang berjibaku dengan tungku api dan pernak-pernik dapur sederhana lainnya.

"Iya, Mah. Ufit ga jauh-jauh ko mainnya disini."Jawab Ufit, anak bungsu Mamah yang sedang manja-manjanya di usianya yang masih kurang lima tahun.

Mamah Ufit sambil memandang riang anak-anaknya bermain di taman pekarangan rumah dari bilik dapur yang sudah mulai menghitam akibat asap dari tungku api.

Ah, senangnya melihat mereka bermain dan bahagia seperti itu.

"Tumbuhlah menjadi anak sholehah ya, Nak. Ufit yang cerdas dan penuh riang."Gumam Mamahnya dalam hati.

Menualah bersamaku. Menyaksikan padi-padi tumbuh matang di pesawahan, menguning, dan menyiapkan masa panen bersama.

Menualah bersamaku, tentang menyaksikan bagaimana aku mendewasa bersamamu.

Menyaksikan bagaimana aku menyayangimu, dengan segenap kuat yang aku punya.

Menualah bersamaku,  saling menggenggam tangan menyalakan api rasa yang tidak biasa. Menghangat dalam dingin. Dan menyejuk dalam bara.

Kita bersama.
Menyaksikan bagaimana perubahan diri masing-masing dan itu lucu. Haha

Kamu, adalah alasan senyum dan semangatku menyala di pagi hari saat bangun dari sepertiganya malam ajaib.

Menualah bersamaku, saling menyaksikan dan membimbing bagaimana aku menjadi perempuan yang berusaha menjadi yang terbaik untukmu.

Bagaimana aku, mengabdi dan membersamaimu menjadi pria hebat yang bersedia menyumbangkan sebagian hidupnya demi menjadi pemimpin terbaikku.

Tentang setia dan percaya, aku tak perlu menduga.

Biar aku menyerahkannya pada pemilik hakiki hati. Aku percaya.

Bersamaku, menaiki satu demi satu tangga kehidupan itu.

Menyambut pagi sejuk hangat nan penuh kebersamaan.

Menikmati cerah siang hari, dengan masakan penuh cinta dariku.

Menyemarakkan petang, menyaksikan langit megah berubah memerah rona. Menceritakan segala asa dan kelu mu padaku.

Duduklah disini, disampingku. Menatap wajahmu adalah salah satu alasan bahagiaku. Hei, cinta.

Menutup malam dalam damai nya suara kalam-kalam suci. Menemani mereka buah hati belajar dan mengenal arti kehidupan demi menyongsong hari.

Hari berganti, dan waktu terus bergulir. Aku disini. Menualah bersamaku, dalam irama alunan suci senja.

Dear, ...

And thanks ...

Sampai bertemu di suatu masa yang ketika tak ada lagi jarak antara kita. Karena kita adalah satu. Itu kita. 💚💚💚

~ from ur girl 😊

Edisi Mid Test ... Yuhuuu ...

Sosok-Sosok itu terus saja menghampiriku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap hari ketika kita bertemu selama seminggu ini.

Ah, entah mereka memang begitu penasaran dengan angka-angka merah di deretan daftar itu ataukah mereka hanya senang berbincang dekat saja dengan kami.

Pagi-pagi.
Sejuk.
Dan hawa semangat kebahagiaan menerpa mengingatkan kembali memoar beberapa tahun silam.
Saat aku, masih berada di posisi mereka.

Semangat itu begitu menyala. Terlihat dari seberapa sigap mereka mempersiapkan semuanya untuk pertarungan selama seminggu ini.

Pagi-pagi. Ketika aku baru saja selesai dari kamar mandi, satu dua diantara mereka bintang-bintang kehidupan sudah mulai berdatangan dengan wajah sayup semangatnya.

Ah, kalo aku sih nyantri saja. Wong jarak dari rumah ke tempat laga siap dimulai hanya beberapa langkah saja.

Namun, berbeda dengan mereka. Kulihat ada kelompok-kelompok kecil mereka mendiskusikan beberapa amunisi materi.

Dan ketika melihat kami, aku ataupun rekan-temanku mulai berdatangan ke ruangan tugas. Mereka langsung menyerbu bersalaman dan menyapa dengan pertanyaan,"Bu, gimana nilai UTS saya remed yah bu ? Ah, Ibu soalnya susah-susah sih ? Bu, ?."

Dan aku atau kami, malah menjawabnya dengan nada bercanda hahaha ketika mereka bertanya dengan penuh serius tanda penasaran.

"Hmm ... lumayan, ada yang remid ada yang engga."

Atau ... "yah, pokoknya liat nanti aja deh ya nilainya Ibu pajang di papan pengumuman."

Atau ... "Soalnya, baru sebagian yang diperiksa. Sabar yaaa ... hehehe

Hari ini dan beberapa hari kemarin. Edisi UTS  Di sekolah anak-anak.

Ada wajah puas dan gembira di wajahnya, di waktu pelajaran UTS terakhir hari ini.
"Yeah, Ibu beresss UTS nya ..."

Alhamdulillah, semoga hasilnya memuaskan ya, Nak. Aamiin ... 😊😘😘

Selasa, 04 Oktober 2016

Yang terus berputar tanpa bisa siaran tunda

Sore menyapa, dengan awan yang masih bergelayut basah. Kita sudah sampai disini saja ya. Rasanya baru tadi pagi beranjak, duduk sejenak. Namun, awan tak pernah lupa berganti rupa.

Ah, iya. Waktu memang tak pernah mau diajak kompromi sama kita. Untuk berhenti melambat sebentar saja.

Hari ini, tepat dua tahun yang lalu. Aku adalah seorang siswi fresh graduate dari sebuah SMK di kota santri. Dan ...

Sekarang sudah jadi mahasiswi tingkat 2 saja.
Bukan untuk merutuk waktu.
Tapi, rasanya waktu begitu berteman setia dengan kita.

Dulu, tidak pernah terpikir akan merantau kemana. Karena yang aku tau adalah kemanapun, kapanpun, dan dimanapun, aku harus memperjuangkan diriku tentang cita-cita dan kemandirian hidup.

Ah, sang waktu ...

Ia memang paling setia ...
Tidak pernah protes ketika kita melewatkannya dengan gurauan semata ...

Tidak pernah protes ketika kita tak mensyukuri setiap jengkal detik detaknya ...

Tapi, ia hanya tajam dan tegas untuk mengatakan,"waktu tak dapat kembali dan tak dapat diperbaharui. Adakah dari kita yang bisa berhutang waktu ?"

Demi masa.
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal shalih.
Saling menasihati dalam menaati kebaikan, saling nasihat-menasihati dalam menetapi kesabaran.

Kalam Allah menegur kita dengan halus.

Ah, sang pemilik waktu
Semoga kami adalah termasuk kaum yang beruntung
Dengan mampu menjadikan waktu yang diberi menjadi aset berharga mencari bekal bagi keabadian.

Jumat, 30 September 2016

Masih disini

Tentang dua manusia lugu yang sama-sama saling menunggu

Entah pada bagian mana lagi aku akan bercerita tentang malam yang berelimutkan syahdu angka dan detak yang semakin larut

00 : 03, 21 September 2016

Sabtu, 17 September 2016

Pada Rintik Aku Memadu Cerita

Tentang hujan

Ia terkadang menjadi saksi, tentang jalan-jalan yang di lalui malam ini ...

Ia menemani, sudah seberapa jauh aku berjalan
Menapaki hari demi hari
Jam menuju jam
Pergi pada tengah matahari bersinar
Dan pulang ketika ia sudah berganti beremangkan malam dan romantisme rintik hujan ...

Jalan-jalan itu berkisah, tentang seorang gadis yang berusaha menyeruak dari balik hujan
Jilbab hijau nya kehujanan
Pun tentengan kresek putih yang ia bawa
Ikut basah kuyup
Ah, tidak
Gadis itu berusaha melindungi tentengannya yang ia bawa agar tak basah kena hujan
Apa yang ada di kresek putih itu
Teramat berharga
Karena merupakan tugas yang harus dikumpulkannya hari senin
Sebagai bagian dari tugas seorang pengajar
Membuat beberapa administrasi yang harus dirapikan

Antara hujan dan genangan air sungai yang keluar dari air matanya
Bulan pun tengah sulit membedakan romannya
Sungai matanya tengah mengalirkan air yang cukup deras diantara rerimbun rintik hujan yang turun malam ini

"Mah, Pa, A, Teh, De, I am here. Missing u all the time."

Semoga Mamah,  Kakek, dan Nenek, juga semua saudara yang telah Allah panggil lebih dulu senantiasa diampuni segala dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, di selamatkan dari segala siksa-Nya, serta tengah berbahagia di taman-taman syurga-Nya Allah ....

So I do love u, Mah.
Maafkan anak gadismu yang belum sempat memberikan secercah kebahagiaan di selama hidupmu

Kini, aku tengah merindukanmu, Mah
Oh Allah please give the best place for my mom in Jannah😇

I dont know, sampai kapan aku di beri kesempatan hidup oleh Allah

Namun, sebelum Allah mengambil nyawa milik-Nya ini ingin sekali rasanya memberikan kebahagiaan dan kebanggaan bagi keluarga

Bersama mereka, saling bergenggaman tangan erat membangun rumah syurga-Nya di dunia pun di akhirat

Untuk Bapak, Teteh, Aa, dan Dede
Sehat terus ya

Maafkan Fipit belum bisa membahagiakan
Maafkan Fipit belum memberikan yang terbaik
Demi membahagiakan dan menyejahterakan keluarga

Aku disini, tengah berusaha
Meski kadang aku tertatih
Dan ingin sekali pulang menenun kebersamaan bersama kalian
Yang mampu menghangatkan semangat kembali

Terkadang, aku lelah Mah
Berjuang sendiri
Tanpa mereka

Namun, segera kutepis sikap kekanakanku
Aku disini bisa
Berjuang sendiri dan mampu menjadi pribadi yang mandiri juga dewasa

Demi menggapai citaku
Menuntut ilmu
Meraup cahaya penerang kehidupan

Hujan pun semakin lebat malam ini,
Bila masih ada usiaku
Hanya Allah yang tau janur kuning dahulu ataukah bendera kuning dahulu yang akan berkibar untukku

Bila itu janur kuning, aku sangat berharap semoga aku mampu dan bisa menjadi kado terindah untuk kekasih yang telah Allah garis kan untukku

Hidupku keras, aku tidaklah berasal dari keluarga yang serba berada maupun terpandang
Kehidupan keluargaku amatlah sederhana
Dengan berbagai macam kondisi

Aku hanya sedang memperjuangkan pendidikan ku
Agar kelak memiliki bekal untuk membangun keluarga yang berpendidikan pun beradab sesuai aturan Islam

Aku sangat berharap Ya Allah
Kelak calon imamku adalah ia yang tangguh dan mau bekerja keras pun cerdas
Membimbing diri dan menahkodai mahligai keluarga kami menuju kebahagiaan yang hakiki

Meski pada awalnya, hidup kami serba harus penuh perjuangan karena memulai segalanya dari nol
Semoga ia adalah orang yang Engkau karuniakan kesabaran luar biasa juga penuh sayang pada ku dan keluargaku

Semoga ia adalah orang yang bersedia menerima keadaanku dan keluargaku apa adanya sembari ikhlas penuh cinta membimbing dan saling mengingatkan membangun diantara kami ke arah yang lebih baik

Semoga ia adalah orang yang sabar, penuh cinta, pemimpin yang tangguh, tegas, pun teladan yang baik bagi kami ...

Semoga ia adalah orang yang bersamanya syurga terasa lebih dekat

Semoga ia adalah orang yang bersamanya selalu damai
Dan ketika jauh pun selalu tetap setia dan dapat dipercaya

Semoga ia adalah orang yang senantiasa taat pada Allah serta takut akan marah-Nya

Semoga kami adalah kami tidak hanya di dunia fana namun juga di akhirat yang kekal kami tetap kami dalam bingkai keluarga yang asmara

Jikapun, bendera kuning lebih dahulu
Semoga Allah mengambilku dalam keadaan yang khusyuk khotimah ...

Semoga, aku tak terlambat memberi yang terbaik dari hidupku ...

Hujan malam ini yang semakin deras
Salamkan pada mereka
Keluarga, saudara, sahabat, dan orang-orang yang aku sayangi Ya Allah ...

Semoga takdir yang baik selalu mengiringi ...

Aamiin ...

#Hujan
#Malam
#17 September 2016
#Jejak. Sampai bertemu di April tahun depan tempat penuh cerita untuk masa depan 😊

Ini ujian pendewasaan

Alhamdulillah, masih di beri rasa sakit. Semoga dengan ini Allah menghapuskan dosa-dosa saya.

Tentang jarak ia akan bercerita tentang kekuatan dan kemandirian

Tentang berjauhan, semoga hati kita tidak berjauhan.

Tetap saling menyapa dan memeluk dalam doa-doa syahdu.

Jauh dari keluarga dan kerabat, dalam keadaan sakit ini
Benar-benar mengajarkan ketegaran
Di tengah banyaknya tugas yang harus segera di selesaikan

Aku yakin, aku tidak pernah sendiri
Aku punya Allah yang selalu menjaga, melindungi, membimbing, serta menyayangi diri dan keluargaku dimanapun mereka berada.

Jumat, 16 September 2016

Tap Yap.

Lebih baik ta'aruf sesuai syari'at, daripada pacaran yang gak jelas juga ujungnya mau kemana kan.

Islam sudah mengatur semuanya dengan indah.

Aku percaya, dengan kita mengikuti aturan-Nya kita tidak akan pernah merugi.

Kamis, 15 September 2016

Memilih

Memilih diantara dua pilihan
Memilih salah satu diantara  itu tidak semudah memutuskan aku mau resign atau enggak 😥

Ini aku

Aku tidak secantik
Aku tidak sesholihah
Sebaik
Secerdas
Sebagus yang kamu kira ...

I'm not perfect
Aku hanya butuh kamu yang engga mempermasalahkan itu, dan bersedia menerima kekurangan ku mensupport kelebihanku, dan bersama membimbingku berjalan beriringan bersamaku

Tanpa mempedulikan itu.
Aku hanya mau kamu yang engga mempedulikan itu. Me that I'm me. Please, biarkan aku bahagia menjadi diriku sendiri.