Selasa, 24 Maret 2015

Sepenggal Kisah Warna Pelangi Meniti Teduh Kehidupan


Sepenggal Kisah sederhana tentang perjuangan hidup seorang gadis yang sederhana dan belum sempurna …



Tuhan pasti terdapat kisah yang luar biasa lainnya di luar sana


Dan baru hanya sebagian yang aku ketahui dan alami sendiri


Tuhan pasti masih banyak terdapat sepenggal kisah perjuangan lainnya


Yang tentunya luar biasa dan patut di teladani


Pastinya masih banyak orang-orang yang lebih cerdas dan lebih beruntung dibandingkan saya


Teman-teman sebaya yang lebih tangguh dan kuat menantang masa menghadapi segala terjangan tantangan demi menggapai harap dan cita kebaikan hidupnya …


Ataupun masih banyak teman-teman yang hidup dengan curahan penuh perhatian kasih sayang orang tua untuk dapat memenuhi keindahan perjuangan episode setiap kehidupannya …


Engkau memang adil Tuhan …


Semuanya terjadi dengan keMaha sempurnaan-Mu


Dengan rencana-Mu yang unik dan indah dan tak tercapai oleh nalar kami yang lemah ini …


Yah, berbagai kisah berbagai cerita …


Yang mesti dilalui masing-masing orang …


Dan Tuhan aku begitu bersyukur atas setiap episode kehidupan yang telah Engkau berikan padaku


Andai dapat kuucap syukur atas semua nikmat-Mu


Tapi aku takkan mampu Tuhan karena begitu banyaknya nikmat yang Engkau berikan …



















Setiap manusia dilahirkan dengan memiliki keunikan dan jalan hidup masing-masing. Ada yang di lahirkan dari orang tua polisi, dokter, guru, pejabat, negarawan, ustadz, kayarawan, dsb masih banyak lagi.


Begitupun saya dilahirkan di tengah keluarga petani. Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa yang sangat luar biasa bagi saya. Ia adalah seorang ibu yang penyabar, kuat, dan tegar mengahadapi tajamnya arus deras kehidupan.  Pun bapak saya adalah seorang petani yang rajin bekerja.


Saya adalah anak ke-5 dari 6 bersaudara. kakak saya hampir  semuanya perempuan, adik saya perempuan, dan hanya satu-satunya kakak laki-laki saya. Ia adalah kakak paling ganteng diantara kami… :D


Saya sangat bersyukur memiliki keluarga sederhana dan saudara seperti mereka. Semuanya memiliki karakter yang berbeda-beda dan menjadikan kami begitu lengkap. Masa kecil dilalui dengan indahnya kebersamaan bersama keluarga. Alhamdulillah, perbedaan usia antara saya dan kakak saya tidak terpaut terlalu jauh. Jadi ketika saya tk kakak saya baru sd kelas 2, 6, ada juga yang smp dst.


Bermain bersama, hujan-hujanan, dan yang paling saya ingat kalau pagi-pagi atau sore hari kami suka berkumpul di dapur demi menunggui mamah selesai memasak untuk kami. Mungkin, namanya juga anak kecil yaa kita suka nyuruh mamah cepat-cepat masaknya dalihnya kami sudah lapar mah. Dan jawaban mamah selalu mendamaikan kami,” Ia nak sebentar lagi nasinya matang … sabar nak.  Alhasil, kami ikut memasak  bersama ada yang membantu menyiapkan nasinya, menunggui tungku nya agar apinya tetap menyala dengan baik. Terkadang karena sudah lapar kita makan nasinya panas-panas.


Tuhan, entah dimanakah lagi saya menemukan sesosok wanita sesabar mamah. Merawat anak-anaknya dengan penuh cinta. Kami semua begitu mencintai mamah. Sering kita membuat getuk kalo dalam istilah sunda nya. Jadi nasi di campur kerupuk khas sunda dan dikasih ulekan bawang, kencur, dan garam. Dan itu begitu nikmat kami makan.


Kemana-mana saya suka ikut mamah, mamah pergi kemana pasti tak pernah terlewat dengan saya. Pernah suatu ketika, shubuh-shubuh mamah dan bapak sudah berangkat ke sawah sedangkan saya tidak ikut karena belum bangun. Dan ketika terbangun melihat tidak ada mamah di rumah. Saya menangis kata kakak  mamah sudah berangkat, saya langsung berlari pagi-pagi menelusuri jalan-jalan di hutan, tanjakan dan turunan berbatu menuju sawah yang di tuju seorang diri. Dan alangkah bahagianya saya ketika sudah sampai melihat mamah sedang menunggui padi agar tidak dimakan burung-burung nakal.


Ada kerinduan mendalam pada hati …


Mamah adalah sosok luar  biasa bagi kami, ia mengajarkan arti kesabaran, keshalehahan seorang wanita, dan ketaatan terhadap bapak sebagai suaminya.


Ketika mamah ataupun bapak sedang sholat, saya suka memandanginya dan ketika selesai saya mendatanginya disambut uluran tangan kasih mereka untuk duduk di pangkuannya bersama dzikir-dzikir syahdu, doa-doa qalbu setelah sholat. Dan itu begitu damai terasa hingga sekarang saya  begitu merindukan kembali suasana seperti itu.


Sebelum shubuh, adalah waktu dimana mamah sudah terbangun untuk sholat dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Sedangkan yang lainnya masih tertidur pulas. Saya masih ingat waktu kecil, saya bangun di sepertiga malam dan turun dari tempat tidur mencari mamah dan beliau muncul dari dapur menyambut saya dengan pelukan hangat kasih sayangnya.


Takdir tak bisa dipungkiri, kebersamaan kami begitu singkat. Sampai Allah memanggil mamah lebih dulu ke pangkuan-Nya. Waktu itu, usia saya 5 tahun dan adik baru 14 hari.


Anak kecil itu dulu tak mengerti apa-apa. Ia masih suci dan mungil ketika beliau dipanggil. Mungkin itulah cara Allah menyayangi beliau. Allah lebih sayang pada mamah dengan mengambilnya lebih cepat dari kami.


 Sewaktu kecil saya sering ikut bapak mengantarkan mamah untuk berobat. Waktu itu saya belum mengerti, entah apa penyakitnya. Yang jelas sampai detik-detik beliau dipanggil ia lebih sering terbaring karena sakit dan saya paling sering di dekat beliau karena kakak yang lainnya sudah bersekolah.


Banyak kisah yang terkenang sampai sekarang, meskipun kebersamaan saya dengannya tak lama.


Ya Rabb … tidak ada kebahagiaan terindah selain mamah berbahagia di syurga-Mu dan kami anak-anaknya bisa menjadi anak-anak yang sholeh-sholehah berbakti serta membahagiakannya di dunia dan akhirat.  Jaga ia dalam cahaya ampunan dan pangkuan damai-Mu.. Ya Rabb …


Mohon maaf  yaa pembaca sekalian, jika tulisan saya kali ini lebih ke cerita pribadi.  Tapi, saya merasa harus mengungkapkan bahwa saya begitu bersyukur pernah hidup bersama mamah walau hanya sebentar.


Setelah mamah meninggal, kami berenam tercerai berai bapak menikah lagi dan membawa adik bersama istri barunya. Saya ikut bibi saya dan disekolahkan disana, serta kakak yang lainnya satu sudah berkeluarga, dan yang 3 nya ikut ua di tempat dan daerah yang berbeda-beda.


Dan itu menjadikan kami sangat sulit untuk berkumpul bersama lagi. Ketika ada liburan sekolah itu waktu emas bagi kami untuk berkumpul dan markasnya di rumah kakak saya yang sudah berkeluarga … Alhamdulillah, kebersamaan yang begitu mahal bagi kami.


Cita-cita mungkin itu hal yang terbersit dalam dada ketika saya sekolah. Sedari SD semangat saya untuk selalu belajar  begitu baik. Dari kelas satu SD sampai kelas 3 SMP Alhamdulillah  saya selalu meraih peringkat pertama.


Terbersit pemikiran, aku ingin menjadi seorang psikolog, menjadi seorang guru, menjadi seorang penulis hebat, pengusaha, dan menjadi seorang perempuan, istri, dan ibu yang hebat untuk keluarga serta memberikan sebanyak-banyaknya kebaikan  dan manfaat bagi sesama.


Melihat keadaan di lingkungan sekitar saya sangat ingin sekali menjadi seorang guru yang mampu menginspirasi anak didiknya, memberikan ilmu dan semangat, dan memberi bekal cerah bagi masa depan anak didiknya  juga masyarakat sekitar.


Saya suka guru dan ingin menjadi seorang guru. Saya juga senang mengamati karakter orang yang unik dan berbeda-beda.


Selalu ada cara Allah untuk mengasihi hamba-hamba-Nya. Waktu itu tahun 2011, pas tahun kelulusan saya dari SMP. Bisa dibayangkan bagaimana kebingungan saya, antara ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan melihat keadaan keluarga. Apalagi di lingkungan saya dulu yang masih pedesaan belum terlalu banyak yang melanjutkan ke SMA/SMK ada yang memutuskan untuk menikah setelah keluar SMP ada juga yang memutuskan untuk bekerja.


Tapi hati saya selalu menangis ketika melihat realita kalau saya harus seperti itu. Karena saya ingin sekolah ingin melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Saya merasa masih banyak sekali yang harus saya pelajari, dalami, dan alami untuk bekal kehidupan  yang lebih baik.


Waktu itu, Alhamdulillah kakak saya yang ke-4 sudah bersekolah di Madrasah Aliyah (MA) dengan beasiswa dari sekolahnya.


Lagi-lagi karunia Allah selalu menghampiriku. Lewat ibu guru idolaku di SMP saya  dipertemukan dengan kepala sekolah baru di SMP ku dan ia bersedia menyekolahkan saya asalkan bersedia tinggal bersama beliau di Tasik.


Dari situ, saya belajar banyak hal.  Mengenal keluarga baru, ada ibu yang cerdas dan begitu profesionalnya menjadi seorang guru. Ada bapak yang penyayang dan kepala sekolah yang hebat dan selalu berprestasi. Ada teteh yang rajin dan gigih belajar demi menggapai cita-citanya. Ada adik laki-laki yang gagah lagi lucu-lucunya masa remaja.


Tinggal bersama mereka di lingkungan baru dan melanjutkan sekolah di SMK.


Adalah nikmat Allah yang tak terhingga saya tinggal bersama keluarga yang penuh kasih sayang, pun di sekolah bertemu teman-teman yang luar biasa. Ada kelas Akuntansi 4, Pelangiku “Rohis Al-Jadid”, dan keluarga besar SMK N RAJAPOLAH.


Dari sana dan dari mereka saya belajar banyak hal tentang kehidupan, kebersamaan, kekeluargaan, dan keindahan ukhuwah.


Sampai ketika kami mau lulus. Itu adalah perjuangan dan sepenggal kisah terindah bersama mereka menggapai harapan diri. Kami berjanji ketika kami bertemu lagi nanti, kami akan membawa warna indah pelangi masing-masing serta memancarkan sinar dan cahyanya untuk alam sekitar.


Dan ketika saya ingin melanjutkan kuliah, tercontreng lagi dari deretan mimpi bahwa saya di pertemukan dengan Yayasan Bait Al-Hasan  lewat tetangga saya di Tasik A Hafidz namanya, bertemu ayah bunda dan teman-teman yang baik serta  unik.


Hijrah kembali dari tempat tinggal asal demi menuntut ilmu meskipun itu sangat jauh dari keluarga.  Bersama ayah bunda dan teman-teman adalah mutiara kehidupan.


Ingin sekali kusampaikan terima kasih yang begitu mendalam untuk mamah dan bapak, keluarga, saudara, Adik dan kakak-kakak  saya, semua Guru-guru saya yang hebat-hebat, Ibu dan Bapak sekeluarga yang telah mau menerima saya menjadi keluarganya, Ayah bunda yang tak kenal lelah mendidik, membimbing, dan menyekolahkan kami hingga sukses, teman-teman SMK, Rohis Al-Jadid, dan masih banyak lagi …


Terima kasih kalian adalah pelangi terindah …


Titipan Allah yang begitu berharga


Tak terbalas kebaikan dengan apapun


Tak ternilai keindahan mutiara dan berlian semahal apapun …


Kalian adalah keluarga


Bersama alam kalian adalah karunia Allah yang luar biasa bagi saya


Terima kasih yaa atas segala kebaikannya


Dan mohon maaf atas segala kekurangan dan ketidaktahuan diri …


Hanya doa-doa, iringan kagum, dan mutiara-mutiara syukur dan terima kasih


Semoga rahmat Allah senantiasa mengiringi kita dimanapun berada …


Alhamdulillah Ya Rabb …


Kini saya sedang melanjutkan pendidikan S1 saya di Universitas Pamulang Fakultas Pendidikan Ekonomi, melanjutkan kembali merajut mimpi  di Yayasan Bait Al-Hasan …


Dari sebuah desa kecil yang jauh dari kota di Ciamis, merantau ke Tasik kota santri, dan sekarang Hijrah ke negeri Tangerang …


It’s all always have fun …


Terima kasih Ya Rabb …


Terima kasih Ibu dan Bapak …


Terima kasih Ayah bunda …


Terima kasih  untuk inspirator-inspirator kehidupan saya yang mungkin tak diketahui orang tapi selalu ada dalam hati …


Kalian adalah idola bagi kebaikan …


Kalian adalah pelangi bagi indah kehidupan …


Satu yang pasti  “ Menuntut Ilmu itu wajib bagi mukmin laki-laki dan perempuan dari dalam kandungan hingga liang lahat”


And There is a will, there is a way ..


You must need to believe …


Bersama jarak yang tercipta berharap kita saling mendoakan selalu ‘agar jalan-jalan setapak yang dilalui dimudahkan menuju tujuan cita dan cahyanya.


Wassalamu’alaikum WR.WB ;)












Senin, 23 Februari 2015

be careful with your heart, guys !

Hai, hati ! apa kabarmu hari ini ? sudahkah ia berdzikir kepada Tuhannya ? atau sudahkah ia memangku lembut cinta dan bersyukur pada-Nya walau hanya sedetik ?
Hai hati, rupanya aku rindu padamu … aku rindu untuk mengenalimu lebih jauh dan dalam …
Terima kasih wahai hati kau selalu ada diantara jarum-jarum kehidupan ….
Kau adalah sedih ketika kami dilanda hal yang tak disuka
Kau adalah bahagia ketika harap bertemu inginnya
Kau adalah raja bagi jiwa, raga, dan seluruh tindak kehidupan diriku ini
Wahai hati apa kabarmu hari ini ? Aku mengakui ketidaktahuanku serta kekurangan diri bahwa  masih ada bagian dari hatimu yang masih belum kutunaikan haknya sebagaimana mestinya
Sebagaimana indah jernih fitrah dari-Nya
Di dalam mu lah tersimpan segala fitrah kesucian manusia sebelum ia ternoda oleh ego dan hawa nafsu
Kasih sayang, kelembutan, Solidaritas yang indah, kesabaran, Penghambaan selalu pada Tuhannya yang hakiki, ia adalah sumber segala kebersihan dan putih suci fitrahnya hatimu …
Ketika engkau dekat dengan-Nya maka engkau akan selalu selamat wahai hati
But, ketika engkau mulai melenceng dan menjauh dari-Nya sepertinya engkau akan mengalami sakit wahai hati …
Dan itu sungguh tidak baik bagimu karena akan menyebabkan ketidaksukaan Allah terhadapmu …


Ok … it was the opening for my writing now and the next page ... on heart and everything that accompanies it ... I try to learn a little about  heart yaa ... yeah ... follow your heart, guys :D

Dalam Hadits riwayat bukhari :
“Dari ‘amir berkata ia aku mendengar nu’man ibn basyir ia berkata aku mendengar rasulullah SAW ia bersabda ingat sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal darah ketika bagus maka baguslah seluruh jasadnya dan ketika rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ingat Ia adalah hati.” (HR: Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari sahabat An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu ,

البر حسن الخلق , و الإثم ما حاك في نفسك و كرهت أن يطلع عليه الناس
“Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka memperlihatkannya pada orang lain.” (HR. Muslim)

Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,
عن وابصة بن معبد رضي الله عنه قال : أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم , فقال: جئت تسأل عن البر؟ قلت: نعم. قال: استفت قلبك. البر مااطمأن إليه النفس واطمأن إليه القلب. والإثم ماحاك في النفس و تردد في الصدر وإن أفتاك الناس وأفتوك.

Dari Wabishah bin ma’bad radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: benar. Kemudian beliau bersabda(artinya): “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292))

Terkadang kita ada dalam posisi yang begitu bingung menurut diri kita. Apakah yang kita lakukan ini baik atau tidak, ataukah manakah yang harus kita lakukan ?

Hal ini mungkin sering terjadi pada setiap orang yang telah Allah karuniakan hati padanya. Karena dalam hati terdapat God Spot yang merupakan suara hati yang jernih dan berasal dari Allah. Nah, dari situ bisa kita simpulkan bahwa kita sebenarnya sudah mempunyai semacam pedoman dalam kehidupan seperti tertera dalam hadits diatas juga mintalah fatwa pada hatimu.

Akan tetapi tidak semua hati dapat dengan mudahnya mendengar suara hatinya yang benar.
Menurut riwayat dari Abi Sa’id RA, terdapat empat macam hati yang disebutkan oleh baginda Rasulullah SAW. Hadits ini bisa dijumpai juga dalam sebuah buku yang berjudul Kitab al-Kabair, karangan Syeikh Imam Abi al-Hasan Muhammad bin Abdul Wahab.

1.  Qalbun Ajrad (hati yang murni), yaitu hati laksana lentera yang memancarkan cahaya. Hati ini membuka pintu-pintunya untuk mendengar dan menerima kebenaran (alhaq).

Itulah hati orang-orang Mukmin yang menjalankan ketaatan kepada Allah dan RasulNya secara konsisten. Jenis hati ini disebut juga sebagai Qalbun Shaleh (hati yang sehat).  

2.  Qalbun Aghlaf, hati yang keras dan tertutup untuk menerima kebenaran dan petunjuk dari Allah. Ia disebut juga sebagai Qolbun Mayyit (hati yang mati) karena tidak mengenal dan mengakui Allah sebagai Tuhannya.

Ketika diseru pun ke jalanNya, maka seruan itu tidak berfaedah sama sekali disebabkan hatinya sudah tertutup. (QS. Al-An’am [6]:25). Tidak lain, jenis hati ini adalah hatinya orang-orang kafir.

3.  Qalbun Mankus (hati yang terbalik). Yaitu hati orang-orang munafik. Hati ini sebetulnya mengetahui kebenaran Islam sebagai agama samawi, akan tetapi ia berbuat inkar. Bahkan ia memusuhi dan menghalang-halangi orang lain untuk mengikuti kebenaran tersebut.

4. Qalbun Mushaffah. Yaitu, hati yang di dalamnya terdapat dua unsur sekaligus, keimanan dan kemunafikan. Kedua unsur ini saling tarik-menarik sehingga terkadang hati tersebut condong dan dekat kepada keimanan dan terkadang kepada kekufuran, tergantung kepada salah satu yang mendominasinya.
Nah, dari beberapa jenis hati itu kita bisa menentukan termasuk jenis yang manakah hati kita. Hati yang bersih/selamat kah atau hati yang sedang sakit seperti nomor 2,3, dan 4.
Kita harus berhati-hati. Hati kita diibaratkan kertas putih yang lama kelamaan diisi dengan perilaku kita jika itu baik maka hati itu akan semakin putih tapi jika perbuatan jelek yang kita lakukan maka akan banyak spot-spot hitam yang lama kelamaan membuat hati kita menjadi gelap jika tidak segera dan sering untuk dibersihkan. Kita ini manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan akan tetapi sebaik-baik orang adalah yang mampu mengakui kesalahannya dan mau selalu memperbaiki dirinya.
Dengan kita sering mendekatkan diri kepada Allah, melaksanakan kewajiban pada-Nya, rajin menuntut ilmu, berkumpul dengan orang-orang shaleh, akrab membaca surat cinta-Nya Allah, itu akan membuat hati kita sehat, jernih, dan mudah mendapat cahaya dan petunjuk Allah dalam membedakan mana yang baik dan benar.
Hati adalah raja dalam tubuh manusia. Sementara yang lainnya hanyalah pelayannya.  Jadi, yuk mari kita jaga hati kita yang telah Allah anugerahkan kepada manusia dan yang membuat manusia berbeda dan paling mulia di hadapan makhluk-Nya. Jaga hati dari segala penyakit hati yang mengotori dan mengganggu kedekatan kita, kekhusuan kita dengan Allah. Karena hanya dengan hati yang bersihlah kita bisa menghadap Allah dengan tenang.
Hanya dengan mengingat Allah hati kita menjadi tenang. Bukan dengan dekat dengan maksiat dan berharap pada manusia yaa, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Dan ketika hati kita sudah dekat dengan Allah, petunjuk-Nya dalam kehidupan kita pun akan terasa mudah di dapatkan. Karena Allah selalu ingin hamba-Nya berbaik sangka pada-Nya.